
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit akhirnya Sheila tiba di kantor perusahaan PT. Garda Utama dan berjalan dengan anggunnya memasuki lobby perusahaan. Kata-kata Abimana masih terngiang-ngiang di telinga Sheila seolah pria itu sedang berjalan bersamanya dan terus mengulang kata-katanya. Hingga Sheila mengabaikan sapaan beberapa karyawan yang berpapasan dengannya. Entah mengapa ia merasa kecewa mendengar Abimana akan melepaskan dengan ikhlas jika memang ingin bersama dengan CEO perusahaan Bhi_Lha. Bagaimana bisa semudah itu Sheila mencintai orang yng belum pernah ia lihat ?
“Benar-benar pria sinting.” Gumam Sheila menarik napas panjang lalu menghilang didalam lift yang akan mengantarnya ke lantai dimana ruang kerjanya berada.
Ting
Pintu lift terbuka, Sheila melangkah ke keluar dari lift dan langsung disambut oleh wanita cantik yang tak lain adalah sekretarisnya.
“Selamat pagi, bu ,,,” Sapa Nia sopan.
“Selamat pagi juga, mbak ,,,” Balas Sheila tersenyum ramah.
“Oh ya mbak, tolong bawakan berkas PT. Bhi_Lha.” Pinta Sheila sebelum masuk ke dalam ruang kerjanya.
“Saya sudah siapkan diatas meja bu Sheila.”
Nia memang seorang sekretaris yang handal, ia sudah menyiapkan segala sesuatunya sebelum sang bos meminta.
Sheila duduk di kursi kebesarannya dan mulai membuka berkas perusahaan Bhi_Lha. Ia berusaha untuk fokus pada kertas bertulis dihadapannya namun lagi-lagi suara Abimana terdengar dengan sangat jelas di telinganya, Ucapan pria itu sangat mengganggu konsentrasinya. Bahkan kini wajah pria itu lebih jelas daripada tulisan pada berkas dihadapannya.
‘Mengapa aku merasa tergganggu dengan ucapan pria itu ?’ Batin Sheila mengusap kasar wajah cantiknya.
Perlahan Sheila menutup lalu menggeser map yang berisi berkas perusahaan tersebut. Entah mengapa ia terus memikirkan ucapan Abimana. Ada keinginan untuk benar-benar mendekati CEO perusahaan asing tersebut namun disisi lain ia tak mungkin berselingkuh. Tapi bukankah Abimana sendiri yang memberikan peluang untuk itu ? Artinya Abimana memang ingin membebaskannya dari pernikahan tak wajar mereka.
“Baguslah. Kita memang tak seharusnya bersama, semua hanya karena perjanjian konyol para orang tua.” Gumam Sheila menyandarkan punggungnya pada kursi kebesarannya.
Sekali lagi takdir sedang mempermainkan dirinya. Pria dimasa putih abu-abunya menghilang bak ditelan bumi, lalu berhasil bangkit dan menata hatinya bahkan memiliki pemggantinya namun pada akhirnya ditolak dan malah menikahi adik satu-satunya. Kini ia malah menikah paksa dengan pria yang sempat membuatnya terpuruk dan miring pria itu dengan entengnya mengatakan ikhlas melepasnya jika mencintai CEO perusahaan tersebut. Sheila tersenyum kecut.
__ADS_1
'Mari kita bermain. Manatau CEO itu masih muda dan tampan.' Batin Sheila bertekad.
Bayangan Abimana bersama seorang gadis makan siang ditempat favorit mereka tiba-tiba berkelebat di pelupuk matanya. Sheila menghirup oksigen sebanyak-banyaknya lalu membuangnya dengan kasar.
‘Huffftt ,,, pria dimana-mana sama aja.’ Batin Sheila yakin dengan akal-akalan Abimana seolah ikhlas melepasnya agar pria itu pun bisa bersama kekasihnya.
Sheila kembali fokus memeriksa berkas yang tersusun rapi di hadapannya. Pantas saja papanya setiap hari selalu terlihat sibuk. Kini Sheila pun merasakannya. Ia hanya bisa menghela napas panjang.
Hingga sekretaris Nia masuk sambil membawa makanan barulah Sheila menyadari jika waktunya jam istirahat siang.
“Om Roy ada kan mbak ?”
“Ada bu, tapi sepertinya beliau sibuk menyeleksi asisten untuk ibu.” Jawab Nia apa adanya.
“Whaattt ?! Aku gak butuh asisten mbak, tapi butuhnya sekretaris.” Ucap Sheila setengah berlari ke ruangan asisten Roy.
Braaakkkk
“Maaf pak Roy ,,,” Ucap Sheila tak enak hati membuka kasar pintu ruangan pria paruh baya itu.
“Tidak apa-apa bu, apa ibu ingin terlibat langsung memilih asisten ?”
“Aku ingin mbak Nia yang jadi asistenku, pak Roy. Jadi yang aku butuhkan seorang sekretaris untuk menggantikan mbak Nia.”
“Baik bu ,,,”
“Silahkan di lanjut, permisi. “ Ucap Sheila sopan.
__ADS_1
Walaupun saat ini dirinya adalah bos perusahaan namun om Roy adalah orang tua dan orang kepercayaan sang papa. Bagaimanapun juga ia tetap menghormati om Roy sebagai orang tua apalagi beliau turut serta mengajarinya berbagai hal.
“Maaf bu, apakah saya ada salah ?” Tanya sekretaris Nia ketika Sheila berjalan melewati meja kerjanya.
Mendengar pertanyaan sekretaris Nia, Sheila pun menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya menatap sekretarisnya itu dengan dahi berkerut bingung.
“Maksud mbak Nia ?!”
“Barusan bu Sheila mengatakan butuh sekretaris, berarti saya akan segera dipecat.” Balas sekretaris Nia sendu.
Sheila seketika tertawa terpingkal-pingkal mendengar ucapan sekretaris kesayangannya. Rupanya wanita cantik itu salah paham dengannya. Hingga airmatanya keluar saking lucunya wajah sendu sekretaris Nia.
“Bener mbak, karena yang akan menjadi asistenku adalah mbak Nia. Atau mbak mau rangkap pekerjaan ? Sebagai asisten sekaligus sekretaris, lumayan kan bisa menghemat gaji karyawan.” Gida Sheila di ujung tawanya.
Seketika sekretaris Nia kembali cerah secerah mentari pagi. Seolah tak percaya dengan pendengarannya.
“Beneran gak dipecat, bu ?!” Tanya sekretaris Nia dengan wajah berbinar.
“Tentu saja, aku gak ada alasan untuk melakukannya. Justru aku hawatir gak bisa bekerjasama dengan asisten pilihan om Roy.” Balas Sheila jujur kemudian melanjutkan langkahnya memasuki ruang kerjanya.
Sheila memang sangat gampang bergaul namun untuk sebuah hubungan yang melibatkan kepercayaan sangat sulit bagi gadis cantik itu. Ia tak bisa mempercayai begitu saja seseorang yang baru dikenalnya apalagi menyangkut perusahaan. Risikonya sangat besar dan Sheila harus berhati-hati.
Pekerjaan Sheila seolah tak ada habisnya membuat Sheila sedikit kelelahan. Menyadari hal itu, ia segera menghentikan pekerjaannya dan memilih berbaring di kamar khusus yang ada di dalam ruang kerjanya. Sheila tak ingin jatuh sakit karena kelelahan, ia masih menyayangi tubuhnya. Apalagi pulang kantor ia harus ke rumah sakit. Entah sampai kapan Sheila akan melakukan dua pekerjaan yang sangat bertolak belakang.
Umtuk mengurangi atau bahkan menghilangkan rasa lelahnya, Sheila berusaha memejamkan matanya. Bagi seorang Sheila Kamila, tidur tidak harus lama walaupun tidur itu hanya sebentar namun nyenyak mala tenaganya akan kembali prima.
Hingga dua puluh menit kemudian, Sheila terbangun dengan perasaan segar. Jam sudah menunjukkan pukul 15.10. Sheila segera melakukan ritual mandinya. Seperti biasa, ia akan pulang satu jam sebelum jam pulang kantor.
__ADS_1
Tak jarang para karyawan menatapnya penasaran karena setiap hari Sheila selalu pulang lebih cepat dan dengan baju yang berbeda. Jika pagi -pagi ia tiba dikantor dengan pakaian formal maka ketika ia keluar di jam seperti saat ini, Sheila berganti pakaian dengan bawahan celana panjang atau kulot agar pergerakannya tidak terganggu saat menangani pasien di rumah sakit. Apalagi akhir-akhir ini pasien kecelakaan lalu lintas sering terjadi di malam hari.
🌷🌷🌷🌷🌷