
Tak terasa usia baby Arsheno sudah memasuki bukan ketiga. Sheila pun kembali aktif di perusahaan. Sebagai seorang ibu dan seorang istri, Sheila tak pernah mengabaikan tugasnya untuk memberikan ASI eksklusif pada putranya dan menyiapkan pakaian kerja sang suami. Setiap bangun pagi yang pertama ia siapkan adalah ASI untuk baby Arsheno. Ia pun selalu membawa pompa ASI nya saat ke kantor untuk berjaga-jaga. Meninggalkan baby Arsheno bersama oma Kalisha membuat Sheila merasa aman. Sang oma sama sekali tak setuju jika cucunya diasuh oleh seorang pengasuh. Banyak hal yang oma Kalisha pikirkan.
Adapun Abimana selalu berhati-hati menghadapi sang istri. Setelah mengetahui kenyataan jika pernikahan mereka masih meninggalkan kekecewaan pada istri tercintanya.
Setelah selesai makan malam, mereka pun berkumpul di ruang keluarga. Kebetulan Shandy dan Alisha diminta oleh mama Kalisha agar menginap di rumah mereka.
"Kamu sudah melakukan ritual malam pertama ?!" Bisik Abimana sangat pelan sehingga tak seorangpun yang mendengarnya.
"Tentu saja dan ternyata istriku masih tersegel." Balas Shandy sumringah
Mata Abimana membulat sempurna mendengar ucapan Shandy. Ia tak percaya jika Ferdy tak pernah meminta haknya. Meskipun pernikahan mereka hanya berjalan kurang lebih tiga bulan tapi sebagai pria normal seharusnya Ferdy sudah melakukannya.
'Apakah Ferdy tidak normal ataukah dia sangat mencintai istriku sehingga tak bisa menyentuh wanita lain ?" Batin Abimana menatap istrinya yang sedang bicara sama mamanya dan Kalisha.
"Kamu kenapa ?" Pertanyaan Shandy mengembalikan kesadaran Abimana.
"Gak kenapa-kenapa, hanya takjub aja. Padahal mereka menikah bukan karena paksaan."
"Itulah rejeki yang sudah di tentukan dan tertakar tak mungkin tertukar." Ucap Shandy bijak.
Meskipun mama Kalisha sedang asyik berbicara dengan kedua menantunya namun matanya tetap mengamati kedua pria muda yang tampak berbicara dengan serius. Mama Kalisha tak suka cara mereka berbicara dengan berbisik-bisik.
"Kalian berdua sedang ngomongin apa ? kok pake acara bisik-bisik segala ?!"
"Urusan pria ma." Balas Abimana terkekeh.
"Iya ma, aku meminta saran sama Abi agar cepat memiliki momongan tapi malah katanya dia sedang atur strategi untuk anak kedua." Timpal Shandy berbohong sepenuhnya.
Tak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya. Bisa-bisa malam ini ia tak bisa membajak dan menanam bibit unggulnya. Sheila mendelik tajam pada sang suami sedangkan Alisha bertemu merah menahan malu.
"Mas, baby Arsheno masih sangat kecil jadi jangan berpikir untuk anak kedua." Tukas Sheila masih dengan tatapan tajam yang membuat nyali seorang Abimana menciut.
__ADS_1
"Gara-gara kamu selalu ngomong asal."
"Jangan marah, kamu sudah sering melaksanakannya dan sudah ada hasil, sedangkan aku kan masih baru, butuh usaha yang maksimal untuk hasil yang nyata."
Plaaakkkk
Abimana memukul lengan Shandy dan di sambut tawa oleh mama Kalisha. Papa Kuncoro yang sejak tadi sibuk bermain dengan baby Arsheno tampak tak terpengaruh dengan sekelilingnya. Begitulah papa Kuncoro jika sedang bersama dengan cucu kesayangannya serasa dunia ini hanya miliknya bersama dengan baby Arsheno.
Malam semakin larut baby Arsheno pun sudah mulai rewel karena mengantuk. Sheila segera menggendong putranya dan berusaha menidurkannya. Sheila tak mungkin membiarkan mertuanya mengurus bayinya karena sepanjang hari mereka berdua sudah menjaga dan mengurus bayinya itu. Walaupun papa dan mama mertuanya tak keberatan jika setiap malam baby Arsheno tidur bersama mereka.
"Sepertinya kalian berdua harus segera memberikan adik buat baby Arsheno agar rumah kita semakin ramai." Celetuk papa Kuncoro tiba-tiba.
"Shandy dan Alisha aja, pa. Kalau kami sepertinya satu anak sudah cukup, perusahaan akan terbengkalai kalau aku terus-terusan melahirkan." Ucap Sheila dan langsung ditolak mentah-mentqh oleh Abimana.
Abimana sudah merasakan menjadi anak tunggal. Sangat tidak enak dan ia tak ingin putranya mengalami hal yqng sama dengan dirinya.
"No, Yang ,,,, mas akan bantu mengurus perusahaan jika kamu hamil lagi."
"Justru lebih bagus ma, setelah berdebat ran**ng akan terasa lebih panas." Timpal Shandy mengedipkan sebelah matanya ke arah Alisha.
"Dasar pria mesum. Gini nih dampaknya kalau telat kawin." Ledek Abimana.
"Gak masalah telat tapi dapatnya kualitas nomor satu." Shandy benar-benar tak pernah kehabisan kata.
Akhirnya ruang keluarga tersebut ramai dengan ledekan dan candaan mereka. Hal inilah yang paling disukai oleh papa Kuncoro dan mama Kalisha. Rumah selalu ramai dan dipenuhi dengan kehangatan keluarga. Tak sabar rasanya menunggu kehadiran cucu-cucu mereka.
"Yang, tidur yuk, baby Arsheno sudah tidur tuh." Ucap Abimana mengambil alih baby Arsheno dari gendongan Sheila.
Melihat putranya berdiri, papa Kuncoro pun mengajak lalu menggandeng mama Kalisha memasuki kamar mereka.
"Ma, kita jangan kalah sama yang muda. Manatau masih bisa memberikan adik buat mereka."
__ADS_1
"Pa !!!! Kami gak mau adik !!!" Kompak Abimana dan Shandy.
Papa Kuncoro dan mama Kalisha memang memperlakukan Shandy layaknya anak kandungnya sendiri sehingga diantara mereka tak ada lagi perbedaan antara anak kandung dan anak angkat.
Mama Kalisha dan papa Kuncoro seolah tak mendengar teriakan kedua pria dewasa itu. pasangan yang selalu tampak mesra diusianya yang sudah tak muda lagi terus melangkah memasuki kamar tidur mereka yang tak seberapa jauh dari ruang keluarga.
"Kami juga butuh waktu berdua, manatau malam ini adonan adik buat baby Arsheno sukses dan berbentuk." Ucap Shandy menggandeng mesra tangan Alisha.
Pernikahan mereka yang masih tergolong baru ternyata sudah saling membuka diri dan semakin mesra. Benar kata para orang tua bahwa cinta bisa hadir seiring dengan waktu asalkan kedua belah pihak berusaha dan membuka hati untuk menerima pasangan mereka secara utuh.
Tanpa berkata-kata, Abimana dan Sheila pun mengikuti jejak pasangan baru itu. Perlahan Abimana meletakkan baby Arsheno pada boks bayi agar tidurnya tidak terusik.
Sheila langsung membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya sebelum baby Arsheno kembali menangis karena lapar.
"Yang, ganti baju dong." Abimana mendekatkan tubuhnya pada tubuh istrinya.
"Aku capek, mas. Ini juga sudah bagus kok." Sheila tak membuka matanya.
"Tapi gak bagus buatku, Yang ,,, sudah dua hari lho. Apa gak kasihan gitu." Abimana sedikit merengek dan sengaja meniup leher jenjang istrinya saat berbicara.
Merasa geli, Sheila membuka matanya dan menggeser tubuhnya agar sedikit menjauh namun tertahan oleh tangan Abimana yang memeluknya dengan erat.
"Pakai baju yang ini, Yang ,,, kan bentar lagi baby Arsheno ***** biar lebih gampang." Lanjut Abimana meraih baju tidur yang biasa dipakai oleh Sheila.
"Aku lagi gak mood mas ,,,"
"Dosa lho, Yang menolak permintaan suami. Atau gak usah pakai baju."
Abimana membuka baju Sheila hanya dengan sekali tarik. Saat ini Sheila memang memakai baju dengan kancing bukaan depan sehingga dengan kekuatan Abimana yang hanya sekali tarik semua kancing baju Sheila terlepas dari bajunya.
🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1