
Lagi-lagi mama Kalisha menguasai Sheila, sejak kedatangannya ia terus bersama sang menantu. Walaupun Abimana tak setuju dengan kelakuan sang mama tapi ia tak bisa berbuat banyak. Dirinya anak tunggal, laki-laki pula sedangkan sejak dulu mamanya sangat menginginkan anak perempuan agar bisa menemaninya.
Impian Abimana untuk merayakan ulang tahun bersama sang istri pun harus batal karena sang mama tercintanya tak mau mengerti dengan keinginan putranya.
"Ma, hari ini biarkan aku seharian bersama istriku." Abimana memperlihatkan wajah memelas yang paling menyedihkan.
"Gak bisa Abimana ,,, nanti malam mama akan ke pesta dan menantuku harus terlihat cantik dan glowing makanya seharian ini kami akan perawatan." Balas mama Kalisha tak tergoyahkan.
"Mama mau cucu, kan ?
"Alaaahhh, gak usah janji-janji, kenyataannya ZONK" Balas mama Kalisha meremehkan.
Abimana hanya bisa mengusap wajahnya kasar. Mamanya benar-benar kejam mengalahkan kejamnya ibu tiri. Bisa gak sih ganti mama yang lebih pengertian ? Untuk saat ini hanya itu yang ada dalalm pikiran Abimana.
"Supaya galaumu berkurang, kamu boleh ikut nanti malam tapi jangan rewel, nurut sama mama."
"Diiihhh ,,, anak kecil kali, rewel." Abimana bersungut-sungut namun tak urung sebuah senyuman manis membingkai wajahnya.
"Selamat Ulang tahun, mas." Ucap Sheila seraya ikut bergabung di meja makan.
"Ucapan, doang ? Gak ada kissnya ?"
"Hehe ,,, sorry lupa. Kirain masih pacaran." Balas Sheila terkekeh.
"Pacaran apaan setiap malam digrepe-*****." Gumam Abimana pelan namun masih terdengar oleh mama Kalisha dan Sheila.
'Wah, kemajuan nih, selangkah lagi aku akan memiliki cucu.' Batin mama Kalisha bersorak gembira.
"Nih mulut lemes banget, deh ,,,"
Dengan wajah memerah karena malu, Sheila membekap mulut Abimana namun dasar Abimana tak bisa melewatkan kesempatan sekecil apapun. Pria itu justru menarik tangan sang istri ke samping sehingga wajah keduanya hanya berjarak beberapa sentimeter saja. Dan ,,,,
__ADS_1
Hummmmppptt
"Ini baru ucapan selamat ulang tahun ,,, rasanya manis apalagi pqgi hari." Ucap Abimana santai jangan lupakan wajahnya yang tanpa dosa.
"Kalau ingin lebih, cepat selesaikan dikamar. Jangan di depan mama, papa kalian gak ada." Celetuk mama Kalisha menikmati sarapannya.
"Jam berapa ke salon, ma ?" Sheila sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Setelah sarapan, sayang ,,, banyak rangkaian perawatan yang akan kita lakukan. Mama gak mau menantu mama kucel."
"Astaga ma, tanpa perawatan pun istriku sudah cantik, glowing. Macam akan bermalam pertama aja." Omel Abimana mendengar ucapan mamanya.
Bukannya Abimana tak ingin mengeluarkan uang untuk biaya perawatan kedua wanita kesayangannya itu. Akan tetapi sejak dulu Sheila sudah cantik dan mulus, toh hanya dia yang berhak pada istrinya.
'Memang itulah tujuanku, nak ,,,' Batin mama Kalisha tersenyum lebar.
"Ini urusan para wanita ! Para pria gak usah ikut campur, cukup berikan saja kartumu dan kamu hanya perlu duduk dan pantau notifikasi pengeluaran kami, hanya itu yang perlu kamu lakukan. Jika ingin berbelanja baju untuk nanti malam gak perlu, nanti mama sama Sheila yang belikan."
Pertanyaan Sheila membuat Abimana kesulitan menelan nasi gorengnya. Sejak kedatangan sang mama kehidupannya tiba-tiba berubah dan puncaknya pagi ini, kedua wanita beda usia itu terlalu akrab bahkan terkesan tak memperdulikan keberadaannya.
"Boleh sayang, langsung aja."
"Jangan bengong, mas ,,, aku hanya gak mau digrepe-***** sebelum mandi, Nanti telat berangkat, kasihan mama jika harus menunggu lama." Mulut Sheila pun ikut-ikutan lemes tak disaring dulu kalau berbicara.
Ingatkan Abimana setelah malam ini agar memisahkan mama dan istrinya. Beberapa hari bersama dengan mamanya, terjadi perubahan yang sangat nyata pada istrinya. Terutama jika sedang berbicara.
"Jangan mengajari istriku yang aneh-aneh, ma ,,,"
"Jangan asal nuduh-nuduh mama. Lebih baik kamu masuk kamar, istirahat yng cukup selama kami pergi agar nanti malam kamu tampil prima di pesta putra temannya mama. Gak bagus dong kalau Sheila cantik sedangkan kamu kelihatan jelek."
Mama Kalisha meninggalkan Abimana sendirian. Dengan kekesalan tingkat dewa, Abimana masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu kamar dri dalam.
__ADS_1
Setelah Sheila dan mama Kalisha selesai, mereka berdua meninggalkan rumah dengan Sheila sebagai supirnya. Kedua wanita cantik beda usi itu benar-benar ingin menikmati waktu bersama. Jika saja Rani mengetahui apa yang dilakukan besannya saat ini mungkin akan terjadi perang badar. Bagaimana tidak, Rani dan Shehzad sibuk mengurus ini dan itu tapi Kalisha hanya bersenang-senang.
Sementara di lain tempat Rani dan Shehzad sibuk menyiapkan pesta ulang tahun sang menantu sekaligus pesta kecil-kecilan pernikahan mereka. Semua rekan kerja dan kerabat dekat di undang oleh Shehzad agar kedepannya tak ada yang mempertanyakan status keduanya.
"Pa, Alisha dan Ferdy kok belum pulang ? Sudah beberapa hari lho."
"Mungkin ibu Mega menahan mereka lebih lama." Balas Shehzad tenang.
"Atau sesuatu telah terjadi diantara mereka. Mama kok jad gak tenang."
Percayalah firasat seorang ibu tak pernah salah. Apapun kesulitan yang dialami oleh anak-anaknya pasti akan terasa oleh ibunya.
"Sebelum Alisha meminta bantuan kita, biarkan aja ma. Meskipun lamaran mereka tiba-tiba dan papa sudah berusaha mengulur waktu tapi Alisha sendiri yang langsung menyetujuinya jadi papa gak bisa berbuat apa-apa." Shehzad kembali mengingatkan sang istri agar tak menyalahkannya.
"Alisha terlalu gegabah dan ceroboh sangat berbeda dengan Sheila yang selalu penuh pertimbangan sebelum bertindak." Gumam Rani prihatin.
"Ya sudahlah gak usah terlalu dipikirkan." Ucap Shehzad mengawasi para pekerja yang sebentar lagi akan menyelesaikan pekerjaannya.
Jam terus berputar hingga waktu menjelang sore. Semua persiapan telah selesai seratus persen. Rani dan Shehzad pun kembali ke kamar yang telah mereka booking. Tak lupa mereka mengirim pesan pada putri bungsunya agar datang bersama keluarga suaminya.
Walaupun ada yang mengganjal dalam hatinya tentang rumah tangga putri bungsunya itu namun mereka tetap berusaha berpikiran positif. Rani dan Shehzad tak ingin memberikan citra negatif pada kehidupan pernikahan putri-putrinya. Sebisanya ia akan berbuat adil pada anak-anak dan menantunya.
Dilain tempat Abimana tengah uring-uringan, pasalnya istri dan mamanya tidak pulang ke rumah dan hanya mengirimkan baju yang harus ia pakai serta mengirimkan lokasi pestanya.
"Arrggggghhhh ,,, punya mama kok durhaka gini sama anaknya." Gumam Abimana disela-sela teriakannya. Untung kamarnya kedap suara sehingga tidak terdengar oleh para ART yang berlalu lalang dalam rumah.
Impian Abimana tentang meminta hadiah istimewa di hari ulang tahunnya putus sudah. Tadinya ia masih memiliki harapan bisa melakukan petualangan sebelum berangkat tapi semua itu hanya sebuah angan-angan.
"Tuhan, salah apa aku dimasa lalu sehingga memiliki mama gak pengertian kayak gini." Keluh Abimana memasang kencing jasnya.
🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1