Menggapai Rasa Yang Tersisa

Menggapai Rasa Yang Tersisa
BAB ~ 75. PERTANYAAN ABIMANA


__ADS_3

Menghadapi Sheila yang semakin penasaran cerita dibalik pernikahannya membuat mama Kalisha benar-benar kehabisan akal. Sheila yang kritis dan terlatih menghadapi manusia banyak akal seperti mama Kalisha menjadikan Sheila semakin bersemangat.


Mama Kalisha menatap papa Kuncoro meminta bantuan agar tak terjadi masalah sedangkan Abimana dan Shandy duduk dengan tenang menunggu penjelasan mama. Baik Abimana maupun Shandy, keduanya pun penasaran. Walaupun demikian hati Abimana gelisah dan khawatir jika saja ada kesalahan yang dilakukan oleh sang mama pada pernikahannya dengan Sheila.


"Sayang, kisah dibalik pernikahan kalian sebaiknya kita lupakan saja. Saat ini lebih baik kita fokus pada pertumbuhan baby Arsheno dan calon adiknya." Ucap papa Kuncoro bijak.


"Apa papa sama mama menyembunyikan sesuatu ? Kok aku merasa ada yang kalian sembunyikan. Ketika aku bertanya pada kakek dan nenek baby Arsheno, mereka selalu mengalihkan pembicaraan pun begitu halnya dengan kalian membuat aku semakin yakin jika pernikahan kami sudah direncanakan dengan sangat licik." Balas Sheila sedikit emosi.


Emosi Sheila mulai sedikit terpancing dan melancarkan tuduhan pada kedua mertuanya karena saat ini yang ada di depannya hanya mereka berdua. Sheila berjanji dalam hati jika kedua mertuanya tersebut masih juga menyembunyikan rahasia dibalik pernikahannya. Sheila bukannya merasa di rupiah dengan pernikahannya akan tetapi sangat tidak wajar jika pernikahannya terjadi begitu saja.


Lagi-lagi untuk beberapa saat papa Kuncoro dan mama Kalisha saling memandang dalam diam seolah saling berharap siapa yang akan berbicara.


"Maafkan kami, sayang ,,, jika proses pernikahan kalian mengganggu pikiranmu, akan tetapi percayalah mama sama papa gak memiliki maksud apa-apa. Semua terjadi begitu saja."


Memang benar apa yang dikatakan oleh papa Kuncoro. Mereka memang hanya ingin menikahkan putranya dengan tunangan masa kecilnya. Kebencian Sheila pada Abimana yang membuat para orang tua memilih jalan pintas.


"Sebenarnya aku pun penasaran kisah dibalik pernikahan kalian tapi menurutku gak perlu lagi dibahas. Kalian sudah bahagia dan memiliki baby yang sangat tampan perpaduan kalian berdua. Melihatnya tumbuh dengan limpahan kasih sayang daari ayah bundanya serta opa dan omanya sudah merupakan kebahagiaan tersendiri. Jangan pernah nodai rasa bahagia ini dengan secuil kisah dibalik pernikahan kalian. "

__ADS_1


Kali ini Shandy menjadi penolog bagi mama Kalisha dan papa Kuncoro. Perkataannya masuk akal bqgi semua orang kecuali Sheila.


'Maaf ma, hari ini kamu lolos lagi tapi kali berikutnya mungkin nasib baik tak lagi berpihak padamu.' Batin Sheila menatap sendu suami, mama dan papa mertuanya.


Entah mengapa Sheila sangat ingin mengetahui kisah dari sejarah hidupnya yang hanya akan terjadi sekali seumur hidupnya. Melihat sang istri yang sangat penasaran membuat Abimana bertanya-tanya. Sheila bukanlah tipe wanita pemaksa akan tetapi untuk hal yang satu ini wanitanya terlihat ngotot dan memaksa.


Setelah suasana menegangkan kini suasana kembali hangat seperti biasanya. Inilah salah satu kelebihan keluarga ini yang ketika tak mencapai kesepakatan akan suatu masalah, mereka pun akan kembali pada kondisi awal yang penuh dengan kehangatan.


"Kapan kalian mengunjungi dokter Desi ?!" Tanya papa Kuncoro serius.


"Semoga istri kalian isi dan rumah kita semakin ramai dengan suara-suara bayi." Timpal mama Kalisha antusias.


"Aamiin Yaa Rabbal Alamin." Kompak semua mengaminkan dengan hati yang tulus.


Konon doa yang tulus dari hati yang paling dalam akan diijabah oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.


Ada kegelisahan yang terpancar dari sorot mata Sheila ketika mengetahui jika ternyata suaminya dan Shandy sudah mengatur jadwal dengan dokter Desi. Wanita yang melahirkan baby Arsheno berusaha mencari cara agar sebelum mereka ramai-ramai mengunjungi dokter Desi, ia bisa berbicara empat mata dengan dokter kandungannya.

__ADS_1


Meskipun Sheila tak lagi berkecimpung di dunia kedokteran namun sebagai seorang dokter, ia masih rajin mempelajari dengan banyak membaca buku-buku tentang kedokteran. Mungkin sudah panggilan jiwanya.


Dari hasil membaca pulalah sehingga ia menyadari sesuatu terjadi di dalam tubuhnya sejak sebulan terakhir ini. Hanya saja ia belum memiliki waktu untuk memeriksakannya lebih lanjut.


"Ada apa, Yang ?! Kok kelihatan gelisah ?!" Tanya Abimana menatap sang istri.


Mendengar pertanyaan Abimana, sontak semua mata tertuju pada Sheila. Namun bukan Sheila jika ia tak mampu mengendalikan diri. Sheila wanita tangguh dan tak terbaca walaupun Abimana sempat melihat kegelisahannya akan tetapi detik berikutnya ia kembali menguasai keadaan.


"Mas yang terlalu khawatir ,,," Balas Sheila seenteng kapas.


"Iya nih, ayahnya Arsheno terlalu cinta." Timpal mama Kalisha terkekeh.


"Namanya juga cinta pertama dan akan seperti itu selamanya." Balas Abimana santai.


Pria itu benar-benar sangat mencintai sang istri sehingga setiap detik ia seolah tak ingin melepaskan tatapannya pada sang istri yang hari ini terlihat berbeda. Tatapan matanya tak seperti kemarin-kemarin. Walau mulut tak berbicara namun pendar-pendar bola matanya menyiratkan sesuatu.


🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2