
Malam semakin larut, acara demi acara pun berlalu hingga pada akhirnya pesta ulang tahun sekaligus syukuran pernikahan Abimana dan Sheila pun berakhir. Para tamu undangan pun satu per satu meninggalkan ruangan tersebut. Kini tinggal keluarga termasuk Ferdy dan mamanya.
"Sayang, malam ini nginap di rumah mama, ya ,,," Ucap Mega lembut.
Mendengar kata-kata mama mertuanya yang terlalu lebay kelembutannya membuat wanita muda itu mendengus kasar. Alisha adalah tipe wanita yang kalau bicara ceplas ceplos dan apa adanya. Berbeda dengan sang kakak yang selalu berpikir sebelum berbicara.
"Aku takut tidur di rumah mama, manatau mama membunuhku karena tak ingin mengembalikan uang perusahaanku." Sinis Alisha.
Kali ini Alisha tak dapat lagi menahan amarahnya. Sejak menikahi Ferdy, mama mertuanya itu selalu saja mengatakan hal-hal yang menyinggung perasaannya.
"Lho, kok bisa !!" Kaget Shehzad sehingga tanpa sadar suaranya meninggi.
"Gak usah dibahas malam ini, pa. Besok aja aku yang tangani. Jangan jadikan beban pikiran papa. Aku jamin besok semuanya sudah beres."
"Ok, papa percaya sama kamu." Ucap Shehzad menatap besan dan menantunya secara bergantian.
Sheila hanya membalas dengan anggukan kepala. Pak Kuncoro lalu mengajak besan sekaligus sahabatnya untuk segera beristirahat. Usia mereka tak lagi muda terjaga sepanjang malam bukanlah pilihan yang baik buat mereka.
"Istirahat, yuk ,,," Ajakan Abimana membuat orang tua mereka tersenyum penuh arti.
Mama Kalisha mengantar keduanya ke kamar yang telah dibooking untuk pasangan muda itu.
"Makasih, ma atas pesta kejutannya." Ucap Abimana tulus.
__ADS_1
"Udah, cepetan masuk, terima kasihnya besok aja."
Sementara Alisha sengaja ikut masuk ke kamar kedua orang tuanya agar Ferdy dan mamanya tak mengganggu dirinya. Alisha sangat kecewa dengan sang suami atas perlakuan mamanya itu. Alisha tak pernah menanggapi setiap kata-kata sindiran mama mertuanya tapi kali ini ia tak bisa lagi tinggal diam.
"Lho mas, wangi kamarnya agak beda ya, dengan pengaruh kamar biasanya."
Sheila mengendus-enduskan hidungnya mencoba mengenali jenis pengharum ruangan dalam kamar tersebut. Pengharum ruangan yang memiliki sensasi yang berbeda memenuhi kamar. Keduanya saling berpandangan seolah ingin meminta pembenaran dari indra penciuman masing-masing.
"Mas dulu yang mandi atau kamu, Yang ,,," Abimana tak menanggapi ucapan sang istri karena rasa yang tak biasa akibat indra penciumannya.
Pria tampan itu memiliki pemikiran yang sama dengan sang istri namun rasa gerah dan panas tubuhnya lebih mendominasi sehingga yang ada dalam pikirannya hanya kamar mandi dan berendam.
"Aku duluan mas, wajahku sudah mulai gatal karena terlalu lama pakai make up,"
Tanpa berpikir panjang, Sheila segera meraih handuk dan baju yang telah disiapkan diatas tempat tidur dan menghilang di balik pintu kamar mandi.
Suara teriakan Abimana terdengar berbeda di telinga Sheila sehingga istri yang masih tersegel itu buru-buru membersihkan wajahnya dan berendam secepat kilat. Niatnya ingin merilekskan tubuhnya sejenak harus tertunda karena tak ingin Abimana kegerahan terlalu lama. Namun sesuatu yang aneh ia rasakan saat akan keluar dari bathup.
Sheila tak dapat melukiskan dengan kata-kata apa yang dirasakannya saat ini untuk pertama kali dalam hidupnya. Sheila hanya merasa aliran darah dan jantungnya tidak normal. Tak ingin terlalu lama memikirkan keadaan dirinya, Sheila segera meraih handuk untuk mengeringkan tubuhnya sebelum berpakaian. Namun lagi-lagi ia terkejut bukan main, ternyata bajunya sangat tidak layak untuk dipakai.
Baju kurang bahan yang super tipis tak mungkin ia pakai. Apa yang akan terjadi pada dirinya setelah keluar dari kamar mandi. Aliran darahnya semakin tak normal membuat Sheila nekad keluar dengan baju lucnut itu. Dengan menggunakan otaknya yang masih sedikit berfungsi, Sheila mengenakan handuk pada bagian luarnya sebelum keluar dengan langkah ragu.
Abimana yang sejak tadi sudah melepas baju luarnya karena tak tahan hawa panas dalam tubuhnya seketika menegang melihat pemandangan yang semakin membuatnya kepanasan dan sesuatu dibawah sana mengagungkan dirinya dengan sempurna.
__ADS_1
"Aku sudah selesai, mas ,,," Ucap Sheila menahan gejolak yang tiba-tiba menguasai seluruh panca indranya.
"Maaf, Yang ,,, mas gak kuat lagi." Abimana langsung memeluk Sheila.
Saat kulit mereka bersentuhan, entah apa yang terjadi sehingga keduanya dengan sukarela melakukan yang seharusnya mereka lakukan sejak tiga bulan yang lalu. Entah sadar atau tidak, kini keduanya sudah berada diatas kasur empuk dan sedang bertempur habis-habisan. Tak ada lagi drama penolakan ataupun aksi malu-malu kucing, pasangan halal itu saling berburu berbagi kenikmatan bahkan jeritan Sheila saat gawangnya berhasil dibobol tak mempengaruhi pertempuran panas keduanya hingga pada akhirnya mereka mencapai puncak bersama mengarungi surga duniawi.
Sebuah keajaiban terjadi setelah mereka melakukannya, rasa panas dalam tubuh Abimana pun hilang begitupula halnya dengan Sheila aliran darah dan jantungnya pun normal kembali.
"Thanks, Yang ,,, hadiah terindah yang pernah aku dapatkan. Dan terimakasih juga karena telah menjaganya untukku." Ucap Abimana mengecup singkat benda kecil yang baru saja memberikannya rasa yang belum pernah ia rasakan selama ini.
"Mas gak mandi ?" Sheila mengalihkan pembicaraan karena malu mengingat aksinya barusan.
"Besok aja deh, meskipun keringatan tapi gak gerah lagi kok." Ucap Abimana menutup tubuh mereka yang sudah full naked.
"Tapi aku mau mandi mas, gak bisa tidur kalau keringanan lengket kayak gini." Sheila berusaha bangun namun seketika berhenti karena rasa nyeri dibagikan intinya.
"Harus dibiasakan, Yang ,,, supaya dapat sensasinya dan agar disini cepat tumbuh kecebong." Abimana mengelus perut rata sang istri sambil berdoa agar mereka segera dipercayakan oleh Sang Pencipta untuk memiliki anak.
Abimana pernah membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa jika ingin segera memiliki anak, si istri jangan banyak bergerak setelah berhubungan agar sp**ma bisa mencapai sel telur dan terjadi pembuahan dengan sempurna (entah benar apa hanya mitos. othornya hanya ngarang).
Setelah mengusap perut sang istri, tangan Abimana perlahan bergerak mencari posisi yang setiap malam tangannya lakukan sebelum tidur. rupanya kebiasaan itu tak bisa lagi berubah, meskipun sudah menikmati rasa yang selama ini ia impikan namun tangannya masih menyukai tempatnya nangkring tiga bulan terakhir ini.
Niat Sheila yang ingin mandi lagi harus pupus karena ia tak mampu untuk berjalan sedangkan pria yang sudah merenggut mahkotanya sudah tertidur dengan pulas. Walaupun kesal namun Sheila tak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa mendengus kasar.
__ADS_1
Karena Sheila pun tak kalah lelahnya dengan Abimana, ia pun menyusul sang suami menggapai mimpi yang indah. Sebuah pengalaman dan rasa yang tak bisa mereka lukiskan dengan kata-kata. Pengalaman pertama kedua pasangan halal itu sangat indah untuk dilupakan.
🌷🌷🌷🌷🌷