Menggapai Rasa Yang Tersisa

Menggapai Rasa Yang Tersisa
BAB ~ 48. INILAH DUNIA BISNIS


__ADS_3

"Kamu tuh, ya ,,, terlalu manja sampai ngelunjak seperti ini. Sebagai istri dan menantu seharusnya kamu tidak mempersoalkan uang segitu. Toh perusahaanmu tetap baik-baik saja." Sinis Mega tak tahu diri.


Abimana menatap tante Mega tak percaya, bisa-bisanya menganggap remeh uang perusahaan. Kecil atau besar tetap berarti bagi sebuah perusahaan dan yang namanya pencuri tetap saja pencuri.


"Maaf tante, perusahaan itu memang bagian untuk Alisha tapi saat ini perusahaan itu masih merupakan bagian dari PT. Garda Utama yang berarti Alisha bertanggung jawab pada kantor pusat. Jadi tolong jika memang tante menyelesaikan dengan baik-baik maka tante harus bekerjasama dan memperlihatkan itikad baik tante ataupun Ferdy." Ucap Sheila tenang.


Sheila tak ingin pernikahan adiknya yang masih seumuran jagung bermasalah hanya karena masalah uang. Sebisa mungkin Sheila berusaha menempuh jalan damai.


"Kamu juga, tante tahu kamu pasti sakit hati karena penolakanku dulu dan mau balas dendam, ya kan ?!!" Tante Mega sudah melewati batasannya dan menyerang Sheila yang hanya ingin permasalahan berakhir dengan baik.


"Stop, ma !!" Teriakqn Ferdy menggelegar memenuhi ruangan tersebut bahkan sekretarisnya terkejut karena mendengar teriakan bosnya.


"Kamu membela mereka ?! Mau jadi anak durhaka ?!"Balas tante Mega dengan mata berkaca-kaca.


"Sudahlah Ferdy, kami kesini bukan mau menonton drama tapi kami ingin uang perusahaan kami kembali sekarang. Tadinya aku masih bisa memberi mamamu waktu tapi sepertinya hal itu jadi mustahil saat ini. Sekarang hanya ada dua pilihan. Berurusan dengan pengacaraku atau mengembalikan uang tersebut." Tandas Sheila tanpa ampun.


"Berikan aku waktu, Pasti uang tersebut akan aku kembalikan." Ucap Ferdy berusaha mengulur waktu.


"Baiklah dengan syarat, kami memegang dokumen kepemilikan perusahaan kalian dan sebuah surat perjanjian dengan tenggang waktu hanya tiga hari jika lewat dari waktu yang ditentukan maka perusahaan kalian akan menjadi milik kami."

__ADS_1


"Dasar wanita licik, apa orang tua kalian memang mendidik kalian menjadi wanita licik ?" Sarkas Mega berapi-api.


"Papa sama mama mendidik kami dengan sangat baik, bahkan ajaran beliau yang selalu kami ingat adalah "hargai dan nikmati hidupmu yang hanya sekali, menjauhlah dari masalah dan buang orang-orang yang menyusahkan dan membuat masalah dalam hidupmu." Balas Sheila tenang.


"Daripada tante Mega bicara gak jelas menghabiskan waktu , ini aku bawa fotocooy surat perjanjian pranikah kita, mas ,,,, agar tante mengerti dan berhenti menyalahkan didikan orang tua kami." Alisha mengubah panggilannya dan memberikan map yang sejak tadi ia pegang.


Perubahan panggilan Alisha membuat Ferdy terhenyak. Sebuah alarm berbahaya bagi kehidupan rumah tangganya karena perbuatan wanita yang melahirkannya.


Tante Mega meraih map yang di sodorkan oleh Alisha dan membacanya dengan teliti. Nyalinya menciut tatkala menyadari isi surat perjanjian tersebut.


"Maaf tante jika aku ikut berbicara. Istriku dan adiknya datang hanya ingin meminta agar uang perusahaan mereka dikembalikan dan mengenai hubungan mereka dimasa lalu gak perlu diangkat lagi toh istri saya sudah menikah dengan cinta pertamanya yang tak pernah pergi dari hatinya. Adapun alasan tante menikahkan Ferdy dengan Alisha itu sama sekali tak ada hubungannya dengan uang yang tante ambil. Ibarat kata sesuatu yang diawali dengan niat yang salah maka akan berakhir dengan kesalahan pula. Sekarang yang tante harus lakukan adalah memikirkan nasib perusahaan tante yang saat ini sedang dipertaruhkan."


Abimana menimpali dengan panjang lebar dan sengaja mematahkan keinginan tante Mega untuk menghancurkan hubungan kakak berada itu. Walaupun Abimana tahu jika adik iparnya tak pernah mempermasalahkan hubungan Sheila dan Ferdy di masa lalu namun Abimana berusaha agar hal itu tak menjadi pemicu pertengkaran mereka. Dirinya saja yang mendapati Ferdy masih menatap dalam istrinya merasakan kecemburuan yang dahsyat apalagi jika Alisha pun menyadari hal itu.


Untuk pertama kalinya Ferdy berkata tegas pada wanita yang selama ini ia hormati dan sayangi melebihi apapun didunia ini. Rasanya sudah cukup buat pria muda itu untuk selalu memenuhi keinginan mamanya. Bukan ingin menjadi anak yang durhaka akan tetapi ia hanya merasa lelah dengan segala perbuatan sang mama yang pada akhirnya selalu mengorbankan dirinya


"Aku meminta maaf pada kalian atas nama mamaku. Aku berjanji akan mengembalikan uang yang telah mamaku ambil tapi tolong berikan aku waktu dan biarkan aku menjalankan perusahaanku seperti biasa kasihan para karyawan yang menggantungkan hidup keluarganya pada perusahaan ini. Sebagai langkah awal aku akan mengembalikan sebagiannya. Dan mengenai rumah tangga kami selanjutnya, aku akan menerima segala konsekuensinya dan keputusan akhirnya aku serahkan pad Alisha."


"Baiklah kami setuju tapi karena uang tersebut milik perusahaan maka kami berharap agar tidak lebih dari dua minggu semua sudah dikembalikan dan untuk berjaga-jaga maka serahkan dokumen perusahaan kalian. Maaf maka kami terkesan tidak percaya pada kalian tapi inilah dunia bisnis. " Ucap Sheila pada akhirnya.

__ADS_1


Tak ada gunanya memaksa Ferdy untuk mengembalikan uang tersebut secara utuh pada saat ini. Perusahaan yang tak seberapa besar bahkan nama perusahaannya pun tak pernah terdengar membuat Sheila sedikit prihatin dan melonggarkan waktu pengembaliannya.


"Semua sudah selesai, kan ? Yuk, kak ,,, kita pulang." Alisha melenggang keluar tanpa melihat suami dan mertuanya.


Bagi Alisha tak ada yang perlu dilihat pada keduanya. Pria yang berstatus sebagai suaminya itu hanya bisa hidup dibawah ketiak mamanya. Ferdy tak bisa tegas pada mamanya dan selalu dengan sukarela menjadi objek penderita bagi mamanya.


Abimana melingkarkan tangannya pada pinggang ramping sang istri lalu mengikuti Alisha keluar dari ruang kerja Ferdy setelah berpamitan. Pasangan yang semalam melewati malam pertama yang tertunda tetap memperlihatkan keramahan dan kesopanannya.


Setelah tamunya pergi, Ferdy terduduk lemas di kursi kerjanya dengan mata tertutup dan kedua tangannya menutup wajahnya. Pria muda itu berusaha meraih ketenangan agar otaknya bisa berpikir dengan baik.


"Maafkan mama, nak ,,, hiks hiks hiks."


"Sudahlah ma, tolong jangan lagi menangis. Semua sudah terjadi dan mama berhasil menghancurkan segalanya." Balas Ferdy tetap dengan posisi yang sama.


Ia berusaha mengobrol emosinya agar tak melukai perasaan sang mama. Marah, kecewa dan kesal terhadap perilaku sang mama kini sudah menumpuk dalam diri Ferdy. Selama ini ia selalu menerima segala perbuatan sang mama karena tak ingin menjadi anak yang durhaka namun semakin kesini perbuatan mamanya semakin menjadi-jadi.


"Kamu pasti kecewa sama mama, ya kan ?"


"Tentu ma, bahkan Ferdy teramat sangat kecewa sama mama. Tapi untuk apa ,,, semua sudah terjadi. Mama sudah berhasil menghancurkan segalanya. Untuk kali ini Ferdy mohon pada mama, tolong jangan mengganggu Ferdy agar aku bisa berpikir dengan tenang. Perusahaan kita pasti akan menghilang jika uang mereka tidak dikembalikan tepat waktu. Sekarang lebih baik mama pulang dan istirahat." Ucap Ferdy terdengar frustasi.

__ADS_1


Mega menangis sesungguhnya mendengar kata-kata putra tunggalnya. Biasanya Ferdy akan memeluk dan menenangkan mamanya jika sedang menangis namun kali ini wanita paruh baya itu tak lagi mendapatkan pelukan hangat yang menenangkan dari putranya.


🌷🌷🌷🌷


__ADS_2