Menggapai Rasa Yang Tersisa

Menggapai Rasa Yang Tersisa
BAB ~ 51. PERASAAN UNTUK ABI


__ADS_3

Kini mereka telah berada di rumah keluarga Abimana. Niat awal mereka masih ingin kembali ke hotel namun mama Kalisha dan papa Kuncoro meminta agar malam ini kembali ke rumah. Di hotel, mereka tak bisa menghabiskan waktu bersama karena tempat terbatas. Pokoknya papa Kuncoro merasa tidak sebesar jika berada di rumah sendiri. Sedangkan Shehzad dan Rani lebih dulu pulang ke rumah mereka bersama Alisha. Putri bungsunya itu membutuhkan perhatian mereka.


"Gimana perusahaan kalian ?"


Untuk pertama kalinya papa Kuncoro bertanya tentang perusahaan. Pria paruh baya itu sejak dulu tak pernah tertarik untuk terjun ke dunia bisnis namun di saat ia mulai memikirkan untuk pensiun dari pekerjaannya, pria paruh baya itu sedikit kepo dengan dunia yang menurutnya terlalu menguras otak, tenaga dan waktu.


"Alhamdulillah pa, perusahaanku semakin berkembang dan bisalah menghidupi anak istriku dengan layak."


"Tapi ingat, jangan pernah kamu mencoba bermain api. Diluar sana para perempuan-perempuan tak ada yang bisa di percaya, teman bahkan keluarga sekalipun. Jaga jarak dengan para wanita yang gak jelas. Maka suatu waktu kamu ada perjalanan bisnis ataupun pertemuan bisnis maka kamu harus mengajak istrimu."


Mama Kalisha menasehati putranya berdasarkan oengalamqn pribadinya. Saat awal pernikahannya meskipun papa Kuncoro saat itu masih meniti karier tapi godaan wanita-wanita cantik tak dapat dihindari apalagi putranya yang selain tampan juga tajir. Sudah pasti menjadi incaran para wanita.


"Tadi udah kejadian kok, ma. Di depanku temannya dengan terang-terangan mengatakan ingin menjadi simpanan mas Abi padahal sejak awal mas Abi sudah memperkenalkan aku sebagai istrinya," Sheila kembali kesal mengingat kelakuan Sari.


"Oh ya ? Kok bisa ? Siapa wanita itu ? Gimana ceritanya ?" Mama Kalisha mencecar putranya dengan pertanyaan dan tatapan tajamnya tak pernah lepas dari wajah tampan putra tunggalnya.


"Astaga ma, pelan-pelan aja. Semua beres dan aku pastikan dia tak akan pernah lagi datang menemuiku. Kalaupun dia datang tiba-tiba ada Shandy yang menemuiku sebelum istriku datang. Aku pasti langsung meminta Sheila ke kantor jika dia datang lagi."


Abimana kemudian menceritakan kronologisnya tanpa menambah ataupun mengurangi. Semua ia ceritakan pada sang mama begitupula hubungan pertemanan mereka di masa lalu. Abimana yakin jika sebenarnya Sheila pun penasaran dengan hubungan pertemanan antara dirinya, Shandy dan Sari. Tak ada yang seharusnya Abimana sembunyikan, hubungan dengan sang istri semakin membaik dan ia tak ingin terjadi kesalahpahaman.


"Memang harus begitu, sayang. Mama mendukungmu sepenuhnya. jika suatu saat kamu kewalahan menghempaskan para pelakor atau suamimu menghilang maka beritahu mama. Mama akan secepatnya pulang ke tanah air atau tinggalkan saja pria ini, banyak pria yang lebih dari dia diluar sana." Bukannya menenangkan mama Kalisha justru membuat Abimana kesal.

__ADS_1


"Mama kalau ngomong jangan asal gitu dong. Kan akunya kena mental kalau gini."


Papa Kuncoro tak dapat menahan tawanya mendengar kata-kata jiplakan dirinya di masa mudanya. Papa Kuncoro kini benar-benar yakin jika Abimana sangat mencintai istrinya. Semoga mereka hidup bahagia hingga ajal memisahkan mereka.


"Maksud mama bukan seperti itu nak. Itu hanya sebuah bentuk peringatan jika kamu mulai aneh-aneh. Tahu kan mama memang seperti itu." Timpal pak Kuncoro disela-sela tawanya.


"Oh ya, kapan kalian akan menempati rumah pemberian papa ? Sebelum kami pulang sebaiknya kalian pindahan dulu."


"Nanti-nanti ajalah, ma. Untuk sementara kami disini aja. Lagian kami berdua sibuk, pergi pagi pulang sore atau bahkan malam."


Abimana dan Sheila memang telah membicarakan hal itu sebelumnya dan memutuskan bersama jika untuk sementara waktu tinggal di rumah keluarga Abimana saja.


"Tentu ma, aku dan Sheila sudah membahasnya. Karena perusahaan kami tidak mungkin digabung maka kami berdua sepakat setiap hari bekerja bersama, entah aku yang ke kantor Sheila dan mengerjakan pekerjaanku disana atau Sheila yang ke kantorku dan menyelesaikan pekerjaannya di kantorku."


"Jadi maksudnya gini ma, jika pekerjaanku di kantor banyak dan membutuhkan kehadiranku maka kami berdua akan bekerja dari kantorku, artinya mas Abi membawa pekerjaannya ke kantorku begitupula sebaliknya."


Penjelasan Sheila lebih bisa dicerna oleh mama Kalisha. Yah begitulah wanita terkadang ucapan sesama jenisnya lebih bisa dimengerti.


"Kenapa kalian gak satukan aja kantornya ? Kan lebih mudah." Timpal papa Kuncoro serius.


"Jangan dong pa, kesannya aku nebeng perusahaan istri. Dimana harga diriku sebagai pejantan tangguh. Lagian perusahaan Sheila adalah milik keluarga dan Alisha pun sebagai salah satu pemiliknya."

__ADS_1


"Kantor pusat milik papa sedangkan beberapa kantor cabang itu milik aku dan Alisha. Papa sudah membaginya dengan adil. Adapun milikku sedikit lebih berkembang daripada milik Alisha karena cara penanganannyq yang berbeda. Hanya saja papa mempercayakan aku untuk memimpin kantor pusat." Kali ini Sheila menjelaskan semuanya agar tak terjadi kesalahpahaman tentang perusahaan milik papanya.


Papa Kuncoro dan mama Kalisha kini mengerti. Sejak pertama melihat Sheila mereka sudah yakin jika wanita itu istimewa dan beruntung ternyata adalah gadis yang mereka jodohkan dengan putranya. Keputusan Shehzad memilih Sheila sebagai penggantinya semakin membuat keduanya kagum pada menantu kesayangannya.


Malam semakin larut, udara dingin mulai menusuk hingga ke tulang. Musim hujan memang sudah mulai menyapa penduduk bumi. Ras kantuk sudah menyerang kedua orang tua pun demikian halnya dengan Abimana dan Sheila.


"Pa, ma ,,, sudah larut nih. Kami tidur lebih dulu."


"Hmm ,,, kamipun mengantuk." Papa Kuncoro menarik tangan mama Kalisha meninggalkan Abi dan Sheila.


Saat papa dan mamanya sudah menutup pintu kamar, Abimana langsung menggendong Sheila ala bidang style masuk ke dalam kamar.


"Mas, aku bisa jalan sendiri ,,," Teriak Sheila tertahan.


"Lama, Yang ,,, kalau kayak gini kan kita bersamaan masuk ke kamar." Balas Abimana sedikit melu**t bibir Sheila yang sudah menjadi candu baginya.


Suasana malam yang dingin mengundang pergumulan sengit bagi keduanya. Abimana yang sejak siang menahan hasratnya dan Sheila yang merasa sudah siap untuk menjadi seorang ibu mengikuti permainan panas sang suami. Sheila sudah sangat yakin dengan perasaannya yang dulu hilang kini hadir kembali dan hanya untuk Abimana.


Petualangan panas keduanya tak bisa dilakukan dengan kata-kata. Berbagi keringat kenikmatan didalam hari memang tak bisa dihentikan apalagi mereka adalah pasangan halal dan masih muda. Sudah pasti tenaga mereka pun kuat hingga beronde-ronde. Entah berapa jam mereka melakukannya hingga akhirnya keduanya terkulai kelelahan hingga membuka mata saja sudah tak sanggup.


🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2