
"Mas, tolong panggilkan kedua orang tua kita." Pinta Sheila dengan suara pelan hampir tak terdengar.
Melihat kondisi sang istri membuat Abimana tak lagi menentang ucapan wanita yang mengabaikan penyakitnya demi melahirkan putrinya. Dengan wajah lesu, Abimana keluar dari ruangan ICU dan memanggil orang tua dan mertuanya.
"Bagaimana dengan putri kami nak ?!"
"Sheila memanggil kalian." Ucap Abimana mengabaikan pertanyaan mama mertuanya.
Abimana tidak bermaksud berlaku tidak sopan pada mertuanya, hanya saja ia tak tahu harus memilih kata yang tepat untuk menjelaskan kondisi sang istri saat ini. Melihat tak ada reaksi dan wajah pria muda itu lesu tak bersemangat maka kedua pasangan paruh baya itu menerobos masuk menemui Sheila yang terbaring lemah.
Mendengar derap langkah kaki mendekat, perlahan Sheila membuka matanya dan memberikan senyuman manis pada kedua pasangan paruh baya yang selalu menyayanginya tanpa pamrih. Mama Rani tak dapat lagi menahan diri dan langsung memeluk putri sulungnya sambil menangis sementara papa Shehzad berusaha menarik tubuh sang istri sambil menahan tangis.
Mama Rani dan papa Shehzad tak pernah menyangka jika putrinya yang selalu mandiri dan tidak banyak menuntut ternyata menyembunyikan sebuah penyakit yang parah.
"Maafkan Sheila, ma ,,, semua Sheila lakukan karena memang tak ada harapan lagi."Ucap Sheila dengan tegar.
Dalam hidup ini kita selalu dihadapkan pada sebuah pilihan dan Sheila memilih melanjutkan kehamilannya dan bertahan sekuat tenaga semampunya. Dan ternyata ia hanya bisa bertahan selama tujuh bulan.
__ADS_1
Airmata kedua orang tua kandungnya dan kedua mertuanya tak dapat lagi di tahan. Pasangan paruh baya itu semakin terisak manakala melihat Sheila yang terlihat semakin lemah.
±"Istirahat dulu, sayang ,,, jangan terlalu lelah." Ucap mama Kalisha tak ingin menantunya semakin lemah.
"Gak ma, aku harus mengatakan sebelum waktunya tiba." Sheila tetap ngotot ingin berbicara.
"Ma, aku gak bisa terus menemani mas Abi membesarkan putra putri kami, jadi tolong nikahkan mas Abi dengan wanita yang benar-benar menyayangi anak kami dan anak-anak pun menyukainya."
Dengan napas tersengal-sengal, Sheila berusaha menyelesaikan ucapannya dengan sempurna. Sementara Abimana yang kembali masuk hanya bisa memejamkan mata tak kuasa melihat keadaan wanita yang sangat ia cintai.
Rupanya Abimana mendengar pembicaraan para orang tua dengan Sheila. Entah bagaimana perasaannya saat ini. Beruntung Alisha mengalah dan mau menjaga Arsheno di depan ruangan ICU walaupun sudah diperingatkan sangat berbahaya untuk anak kecil berada di depan ruangan tersebut. Akhirnya Alisha mencoba memakaikan masker pada Arsheno.
"Maafkan aku mas, selama ini aku sudah berusaha walaupun tidak maksimal karena sedang mengandung anak kita tapi takdir kita sudah tertulis hanya sampai disini."
Sheila berusaha meraih tangan kokoh suami yang sangat ia cintai. Melihat hal itu, Abimana langsung mendekat dan segera menyambut tangan wanitanya. Abimana berulang kali mencium tangan yang kini tak bertenaga.
"Masss ,,, ber ,,, jan ,,, jilah ,,, ke ,,, lak ,,, jika ,,, sa ,,,lah sa ,,, tu a ,,, nak kita menyu ,,, kai seorang wa ,,, nita, maka me ,,, nikahilah deng ,,,annya." Suara Sheila semakin pelan dan terbata-bata.
__ADS_1
"Jangan berkata seperti itu, Yang ,,, aku gak akan sanggup." Balas Abimana tergugu dengan tangannya masih menggenggam erat tangan sang istri.
"Tenang nak Abi, berjanjilah agar Sheila bisa pergi dengan tenang." Papa Shehzad berusaha bersikap tenang meskipun airmatanya tak urung membasahi wajahnya yang sudah mulai tampak kerutannya.
Kondisi Sheila semakin memprihatinkan dan alat patient monitor pun menunjukkan tanda-tanda vital yang semakin lama semakin menurun pertanda pasien sedang dalam keadaan kritis. Papa Shehzad segera membunyikan bel sedangkan papa Kuncoro menghampiri menantu kesayangannya dan membimbingnya mengucapkan kalimat syahadat.
Mama Rani dan mama Kalisha saling berpelukan dan saling menyalurkan kekuatan satu sama lainnya agar mereka bisa tabah dan sabar menerima takdir yang memilukan. Tak lama kemudian seorang dokter datang dan memeriksa keadaan Sheila. Melihat wajah sang dokter membuat anggota keluarga mengerti apalagi layar patient monitor menampilkan garis lurus.
"Maaf pak, bu ,,, kami sudah berusaha melakukan yang terbaik buat dokter Sheila namun kami tak mungkin bisa melawan apa yang telah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa." Ucap dokter tersebut dan memberikan kode pada susternya agar melepas kabel yang menempel pada tubuh jenazah.
Abimana terduduk lemas, dinginnya lantai tak lagi ia rasakan. Matanya yang penuh dengan airmata hanya menatap tubuh sang istri yang kini telah ditutup oleh suster sebelum keluar. Hingga papa Kuncoro menyentuh pundaknya untuk mengembalikan kesadarannya.
"Papa menyelesaikan administrasi dulu." Pamit papa Kuncoro pada putranya.
Sebenarnya itu hanya alasan papa Kuncoro saja. Ia tak ingin Abimana tenggelam dalam kesedihannya. Jika Sang Khalik sudah berkehendak maka kita sebagai manusia biasa hanya bisa menerima dan menjalaninya saja. Hidup terus berputar dan kita tak boleh larut dalam kesedihan karena masih banyak hal yang harus kita lakukan.
🌷🌷🌷🌷
__ADS_1