Menggapai Rasa Yang Tersisa

Menggapai Rasa Yang Tersisa
BAB ~ 50. LEBIH CEPAT LEBIH BAIK


__ADS_3

Selain kompak berteriak, mata keduanya pun kompak melotot melihat gadis yang ternyata adalah tamu yang mereka tunggu.


"Duh, senangnya berada diantara kalian berdua. Jadi ingat masa kuliah kita." Seru Sari sangat antusias.


"Oh ya, kenalin istriku namanya Sheila." Abimana buru-buru memperkenalkan Sheila agar Sari tak seenaknya bicara.


Sheila menghentikan kegiatannya sejenak lalu tersenyum ramah pada tamu suaminya. Namun jangankan membalas senyumnya menatap Sheila saja tidak. Sheila hanya angkat bahu cuek dan kembali sibuk dengan urusannya. Melihat hal itu, Abimana berinisiatif menanyakan tujuan utama Sari berkunjung.


"Jangan buang-buang waktu, sekarang katakan tujuanmu datang kemari." Ucap Abimana kembali ke kursinya.


"Ck, bahas pekerjaan nanti-nanti sajalah, sekarang kita bernostalgia dulu. "


"Masih jam kerja, Sari ,,, nostalgia itu bisa dilain waktu jika ada kesempatan."


"Ok, papaku akan membuka cabang di tanah air dan perusahaanmu adalah salah satu yang terpilih sebagai awal kerjasama kami dan setelah itu perusahaan kami akan menawarkan pula kerjasama dengan PT. Garda Utama. Sebagai pertimbangan, aku bawa berkas yang diperlukan." Sari memberikan map yang berisi dokumen yqng dimaksud.


Abimana membolak balik kertas dalam map tersebut. Bukan karena membaca isi kertas bertulis tersebut melainkan Otaknya bekerja dan memikirkan baik buruknya jika ia menerima segala tawaran kerjasama tersebut.


"Baiklah aku pelajari lebih lanjut dulu, ya." Ucap Abimana pada akhirnya.


"Kapan kamu menemui perusahaan PT. Garda Utama ? Butuh teman ?" Pancing Shandy.


Sheila mengangkat kepalanya dan memberi kode pada Shandy dan Abimana agar tak mengatakan siapa dirinya yang sebenarnya. Biarlah wanita itu mengenalnya sebagai istri seorang Abimana.


"Asistennya berjanji akan mengusahakan secepatnya." Balas Sari percaya diri.


"Untuk merayakan pertemuan kita, gimana kalau aku traktir makan siang ? Seperti dulu ya, manatau kan cerita yang dulu bisa terulang dan Abimana jatuh cinta padaku."

__ADS_1


"Enak saja, jika dulu saja aku bak pernah jatuh cinta padamu apalagi sekarang, aku sudah memiliki istri." Tegas Abimana.


"Dimana-mana seorang CEO bis bermain cantik bahkan memiliki wanita-wanita di luar sana, kan bosan juga jika setiap hari hanya melihat satu wanita."


Kali ini Sheila benar-benar menghentikan kesibukannya dan fokus menatap wanita yang bernama Sari itu. Jangan ditanya bagaimana perasaan Abimana melihat wajah tenang sang istri.


"Wah, mbak kok terkesan enteng banget, ya. Berbicara seolah mengisyaratkan untuk dijadikan yang kesekian di depan istri orang. Apa mbak gak merendahkan diri sendiri ?!" Dengan nada santai Sheila menyerang mental wanita itu.


"Namanya juga usaha, mbak. Bukankah semua halal dalam cinta ?"


"Mbak yakin kalau Abimana memiliki rasa yang lebih sehingga anda kepedean ?"


"Setelah perusahaan kami bekerjasama dan perusahaanku pun bekerjasama dengan PT. Garda Utama maka semuanya pasti berjalan lancar dan anda yang harus hati-hati agar suaminya tidak berpaling. Apalagi dulu kami sangatlah dekat. " Sari benar-benar menggali lubangnyq sendiri. Rupanya ia secara tidak sadar ingin bunuh diri.


Abimana dan shandy mendelik tajam mendengar kata-kata Sari. Perlahan Abimana mengambil kembali map yang diberikan oleh Sari. Lebih baik kehilangan teman dan kerjasama yang akan menjadi duri dalam rumah tangganya suatu saat nanti.


"Yakinlah, perusahaan kami bukan perusahaan kecil walaupun tidak sebesar PT. Garda Utama tapi bisalah dijadikan partner kerja oleh perusahaan sebesar PT. Garda Utama."


Shandy tertawa terpingkal-pingkal mendengar keyakinan diri teman kuliahnya itu. Gadis ini ternyata belum berubah dan tak pernah bisa membaca situasi. Sementara Abimana memilih diam melihat tingkah Sari. Abimana ingin melihat bagaimana Sheila menghadapi temannya yang sebentar lagi akan menjadi mantan teman.


"Sebentar ya mbak, aku menelepon dulu. Aku ingin lihat apakah keyakinan anda masih sebesar saat ini." Sheila tersenyum licik seraya menekan nomor kontak asistennya, ia tak lupa menyalakan loudspeakernya.


drrrrttttt drrrrttttt


"Assalamualaikum bu ,,, kok belum ke kantor ? Ibu baik-baik saja kan ?"


"Waalaikumsalam mbak Nia, setelah jam istirahat aku ke kantor. Oh ya mbak sudah membuat jadwal ketemu dengan PT. Rakafance ?" Tanya Sheila melirik Sari.

__ADS_1


Sheila bisa menebak jika perusahaan Sari adalah PT. Rakafance karena hanya itu perusahaan baru ditelinganya yang beberapa waktu lalu dibicarakan oleh mbak Nia. Apalagi sejak tadi Sari selalu menyinggung rencana kerjasamanya dengan perusahaan yang ia pimpin saat ini.


Mendengar pembicaraan Sheila membuat Sari menatap Abimana dan Shandy secara bergantian seolah meminta penjelasan. Namun kedua pria itu pura-pura tak melihatnya.


"Lusa bu, tapi kalau bu Sheila ingin menunda pertemuannya, aku bisa menghubungkan sekarang." Terdengar dengan jelas suara mbak Nia diujung telepon.


"Aku bukan ingin menundanya, tapi mbak Nia harus meneleponnya sekarang dan mengatakan jika perusahaan menolak bertemu dengan mereka dan apapun yang akan mereka bicarakan. Sekarang mbak, gak usah tutup teleponnya. Pakai telepon dalam ruanganku aja. Aku tunggu mbak Nia." Titah Sheila tak ingin dibantah.


Tak lama kemudian ponsel Sari berbunyi dan terdengar suara mbak Nia berbicara seperti yang dikatakan oleh Sheila. Sontak Sari terduduk lemas menatap sendu Abimana. Berbeda dengan Sheila yang langsung mematikan panggilannya setelah mbak Nia selesai menelepon Sari. Perlahan Abimana menyodorkan kembali map yang diberikan oleh Sari.


"Maaf Sari, akupun tak bisa bekerjasama dengan perusahaanmu karena jelas akan memberikan masalah bagiku dikemdian hari." Ucap Abimana tegas.


" Maafkan aku, Abi, mbak ,,, mari kita mulai dari awal." Pinta Sari penuh harap.


"Mungkin Abimana bisa, tapi perusahaan kami tidak pernah memberikan kesempatan dua kali pada orang yang sama yang telah melakukan kesalahan apalagi sudah memperlihatkan karakternya yang kurang baik. Kami hanya berbisnis dan bekerjasama dengan orang yang memiliki attitude dan karakter yang baik." Tandas Sheila tak memberikan celah sedikitpun.


"Kita adalah suami istri, Yang ,,, jika kamu menolak akupun sama. Tak ada tempat untuk seseorang yang sudah jelas-jelas ingin merusak rumah tangga kami. Katakanlah aku gak profesional yang mencampur aduk dengan urusan pribadi tapi jika kehidupan rumah tangga yang dipertaruhkan maka biarlah aku gak profesional. Masih banyak perusahaan lain yang lebih baik dalam segala sisi."


"Nah sekarang sudah jelas, kan ? Dua perusahaan sudah menolakmu, pintu keluar ada disebelah sana. Silahkan keluar dan jangan pernah muncul lagi di perusahaan ini karena mulai saat ini dan kedepannya kita tidak lagi saling mengenal." Shandy berdiri dan membuka pintu lebar-lebar.


Dengan langkah gontai Sari keluar dari ruang kerja Abimana. Tanpa ada kata perpisahan wanita itu berjalan sambil menundukkan kepalanya. Shandy kembali menutup pintu lalu duduk di depan Sheila yang masih terlihat santai.


"Wah bu bos ternyata sangat hebat. Tak perlu waktu lama untuk mendepak belakang itu." Seru Shandy antusias.


Abimana menatap takjub pada istri ajaibnya. Biasanya wanita akan mencak-mencak jika menghadapi wanita seperti Sari namun ber da haknya dengan Sheila yang terlihat tenang akan tetapi tak pernah menunda untuk menghentikan wanita sejenis Sari.


"Untuk apa menunda-nunda jika bisa diselesaikan saat itu juga. Mengulur waktu bukanlah keputusan yang tepat. Aku penganut paham LEBIH CEPAT LEBIH BAIK." Ucap Sheila memberikan penekanan diakhir kalimatnya.

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2