
Setelah mengurus administrasi, jenazah Sheila dipulangkan ke rumah duka tepatnya di rumah kedua orang tuanya. Alisha bersama Arsheno telah pulang terlebih dahulu. Para pelayat pun sudah mulai berdatangan. Kabar duka atas kepergian Sheila mengejutkan semua orang termasuk para karyawan PT. Garda Utama dan karyawan PT. Bhi_Lha sertarelasi kedua perusahaan tersebut. Kedua perusahaan besar itu berduka cita. Sheila terkenal sebagai pribadi yang menyenangkan dan wanita pekerja keras.
Abimana hanya diam bagaikan mayat hidup. Menatap tubuh wanita tercintanya yang kini terburuk kaku dihadapannya. Dunia pria muda itu seolah hancur dan semangat hidupnya pun seakan ikut terbujur kaku bersama jenazah sang istri.
Ucapan bela sungkawa pun seolah tak terdengar oleh netranya. Beruntung papa Shehzad duduk menemaninya sehingga ada yang membalas ucapan turut berduka cita dari para pelayat yang berdatangan.
Papa Shehzad perlahan membantu Abimana berdiri saat jenazah Sheila akan dimandikan. Abimana tak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti papa mertuanya keluar dan duduk bersama yang lain di tenda. Shandy yang sedang menggendong Arsheno bergeser ke kursi yang lain agar papa Shehzad dan sahabatnya bisa duduk berdampingan.
Abimana mengusap pelan punggung putranya yang tertidur dalam gendongan Shandy.
'Sungguh malang nasibmu, nak.' Batin Abimana berlinang airmata.
"Sssttt ,,, jangan diganggu mumpung mumpung dia masih tidur." Shandy menepis tangan Abimana.
Sejak kemarin Arsheno rewel dan hingga semalam tak bisa tidur sama sekali. Batin pria kecil itu sangat peka walaupun belum bisa mengungkapkan apa yang dirasakannya dan hanya bisa menangis dan gelisah sepanjang hari hingga malam bahkan hingga keesokan harinya.
"Nasibku kok seburuk ini ,,, dosa apa aku dimasa lalu sehingga harus menghadapi kenyataan hidup sepertinya ini." Keluh Abimana dengan tatapan kosong.
"Bukan nasibmu yang buruk ataupun dosa dimasa lalu, tapi ini adalah takdir dari Yang Maha Kuasa yang harus kita hadapi. Kisah Sheila didunia ini sudah selesai dan harus kembali pada-NYA. Ada kebahagiaan lain dimasa datang bersama anak-anakmu. Tetap semangat demi anak-anak." Shandy yang biasanya ngomong suka asal kini tiba-tiba berubah bijak.
Nasehat Shandy terhenti saat dari dalam rumah mama Rani memanggil papa Shehzad dan Abimana serta papa Kuncoro. Rupanya jenazah Sheila telah selesai dimandikan dan dikafani. Jenazah harus segera disholati sebelum diantar ke peristirahatannya yang terakhir.
"Honey, tolong pangku Arsheno, mas ingin ikut menshalati kakak ipar untuk terakhir kalinya." Alisha mengambil alih Arsheno kedalam gendongannya dengan bersimbah airmata.
Kepergian kakak satu-satunya yang ia miliki sangat membuatnya terpukul. Bagaimana tidak, selama ini almarhumah tak pernah mengeluh soal penyakitnya bahkan tampak selalu bersemangat dan ketika tiba-tiba drop langsung pa4ah dan pergi untuk selamanya.
__ADS_1
Tak lama kemudian keranda diusung keluar dan memasuki mobil ambulance yang sejak tadi terparkir di depan rumah duka. Diiringi dengan tangis oleh mama Rani dan mama Kalisha mengantar kepergian ambulance tersebut. Bunyi sirine ambulance terdengar meletakkan telinga. Mama Rani dan mama Kalisha berada di mobil yang dikendarai oleh Shandy sedangkan papa Shehzad, Abimana dan papa Kuncoro ikut di mobil ambulance. Sedangkan Alisha tak dibiarkan ikut karena sedang hamil dan agar ada yang menemani Arsheno.
Tiba di pekuburan, para pelayat sudah banyak yang menunggu kedatangan jenazah. Rupanya selain keluarga, tetangga dan beberapa rekan bisnis pun ikut mengantar almarhumah ke peristirahatannya yang terakhir. Suasana sedih sangat terasa, apalagi Abimana sepertinya tak ada niatan untuk meninggalkan kuburan yang masih basah tersebut.
"Pa, kalian pulanglah lebih dulu, aku akan pulang dengan Abi." Shandy memberikan kunci mobil pada papa Kuncoro.
"Kalian pulang dengan apa ?" Tanya papa Kuncoro menerima kunci tersebut sambil mengedarkan pandangannya.
"Gampang, pa ,,, ada taksi online."
Akhirnya para orang tua memutuskan untuk pulang dan beristirahat sesuai dengan keinginan Shandy. Jika dulu mereka tak pernah merasa capek saat beraktifitas seharian namun kini tubuh mereka tak lagi sekuat dulu ketika masih muda.
Abimana masih terisak diatas pusara belahan jiwanya. Shandy pun merasa iba melihat sahabat sekaligus kakak iparnya namun ia hanya bisa diam menunggu pria itu mengajaknya pulang. Shandy sangat memahami kesedihan pria itu dan betapa besar rasa cintanya pada wanita yang kini tertimbun tanah.
Tanpa mereka sadari seorang gadis belia berdiri tak jauh dari mereka sedang menatap sinis. Perlahan gadis itu menghampiri mereka dengan langkah tanpa suara.
Mendengar kata-kata gadis itu membuat Abimana mengangkat wajahnya dan menatap tajam pada gadis yang tak dikenalnya. Berbeda dengan Shandy yang menatap takjub pada gadis itu. Usia boleh muda namun kata-katanya terdengar sangat dewasa dan bijak.
"Tahu apa kamu !!" Bentak Abimana dengan mata nyalang.
"Diiihhhh ,,, dikasitahu yang bener malah marah." Balas gadis itu acuh kemudian meninggalkan area pemakaman.
Menyadari kendaraan yang lewat hampir tak ada dan hanya terlihat satu buah mobil yang diyakini Shandy sebagai kendaraan gadis itu maka buru-buru Shandy menghentikan gadis itu dan menyeret paksa Abimana agar meninggalkan makam Sheila.
"Dek, tunggu !!" Teriak Shandy menarik dengan keras Abimana sehingga pria itu berjalan terseok-seok mengikuti Shandy.
__ADS_1
"Aku belum mau pulang !!" Abimana mencoba melepaskan angan Shandy.
"Hari sudah hampir gelap, lihat sekeliling kita, mana ada kendaraan yang lewat. Hanya gadis itu harapan kita semoga saja dia mau mengantar kita ke rumah."
Gadis muda itu menghentikan langkahnya dan menatap kedua pria dewasa yang saling tarik menarik bagaikan pasangan yang sedang bertengkar. Senyuman lebar gadis itu kian menambah kecantikan wajahnya yang diterpa cahaya matahari senja.
" Ada apa, om ? Mau nebeng ?!"
"Tahu aja, dek ,,," Balas Shandy tersenyum simpul.
"Tahulah ,,, disini hanya ada mobilku dan om menghentikanku. Apalagi kalau bukan meminta tumpangan."
"Dasar cerewet ! Mau gak memberi kami tumpangan ?!" Sarkas Abimana tajam.
"Seandainya om pemakai ini yang meminta tumpangan sudah pasti aku tolak! Tapi untungnya om tampan ini yang memintanya."
"Jangan keganjengan !! Istrinya bentar lagi melahirkan !!" Lagi-lagi Abimana menyarkas gadis itu.
"Diihhh ,,, siapa yang ganjeng ,,, aku ngomong sesuai kenyataan, om ini memang tampan dan aku bukan memujinya." Balas si gadis tak mau kalah.
Jelas saja gadis itu emosi dituduh yang tidak-tidak. Dalam kamus percintaan si gadis kedua pria itu bukanlah tipenya. Ia memang pemuda wajah tampan namun bukan pria yang lebih tua darinya apalagi jika diperhatikan mereka berdua seumuran dengan abangnya yang jomblo abadi.
🌷🌷🌷🌷🌷
Jangan lewatkan seasion duanya ya ,,,
__ADS_1
Judulnya "CINTA DUDA KUTUB"