Menggapai Rasa Yang Tersisa

Menggapai Rasa Yang Tersisa
BAB ~ 52. GODAAN PAGI HARI


__ADS_3

Matahari pagi mulai terasa hangat menerpa permukaan kulit, pertanda Matahari mulai bergeser. Perlahan Sheila mendorong tubuh sang suami yang masih berada diatasnya. Rupanya semalam Abimana tak sempat lagi memisahkan pernyataan mereka.


"Astaga mas, bangun ,,, udah siang nih." Ucap Sheila dengan napas berat.


Bobot tubuh Abimana yang berada diatasnya sangat mengganggunya. Belum lagi dibawah sana terasa sesak mengganjalnya.


" Maaf, Yang ,,, lagi ya ,,," Balas Abimana dengan mata berkabut.


Kembali pria itu melakukan tugasnya sebagai seorang suami. Mungkin karena selama tiga bulan ia hanya bisa melihat dan meraba sehingga ketika kesempatan itu datang tanpa ada perlawanan maka ia melampiaskan semuanya.


"Ternyata sensasinya berbeda jika kita olah raga pagi. Harus jadi referensi nih Yang, setiap malam kita berolah raga agar tidur kita nyenyak dan pagi saat bangun tidur pun kita olah raga juga agar semangat bekerja seharian."


"Ck, mas gak bosan ? Rasanya kan sama aja."


"Rasanya emang sama dan akan selalu sama tapi mas gak akan pernah bosan justru mas semakin tertantang untuk melakukannya dengan berbagai gaya." Balas Abimana tak mau kalah.


"Mas dulu yang mandi atau aku ?" Sheila mengalihkan pembicaraan.


Jika berbicara masalah yang satu ini, suaminya pasti gak akan berhenti dan akan semakin gila. Sheila harus segera mengalihkan pembicaraan sebelum pria itu menyenangkan lagi.


"Kita mandi bersama, Yang ,,, kan belum pernah mandi sama-sama." Abimana mengedipkan matanya menggoda sang istri.


"Gak ada mandi bersama. Lain kali aja, mama sama papa sudah menunggu kita sarapan."


"Mama sama papa mengerti jika kita telat keluar toh mereka juga berharap ada hasil dari kenikmatan ini." Abimana masih berusaha agar keinginannya terpenuhi.


"Ok, kita mandi bersama tapi seminggu mas harus puasa total. Tak boleh ada sentuhan baik itu tangan atau yang lainnya."

__ADS_1


"Ya sudah, mas yang mandi lebih dulu. "


Sheila tersenyum penuh kemenangan, awalnya ia hanya iseng mengancam suaminya namun siapa sangka jika pria itu tak bisa berkutik. Dengan langkah gontai, Abimana mengambil handuknya dan masuk ke dalam kamar mandi.


Suara gemericik air beradu dengan lantai kamar mandi menandakan Abimana sedang melakukan ritual mandinya. Dengan hanya memakai baju seadanya Sheila memutuskan untuk menyiapkan baju kerja untuk sang suami dan baju untuk dirinya.


Pintu kamar mandi pun terbuka dan menampilkan Abimana yang hanya menutupi bagian bawahnya dengan handuk terlihat sangat seksi oleh Sheila. Dada bidang dan perut kotak-kotak seolah melambai untuk disentuh. Sedangkan Abimana yang melihat pakaian sang istri yang super tipis tanpa dalamnya membuat hasratnya kembali memuncak.


"Kamu sengaja menggodaku, Yang ?" Tangan Abimana kini bertengger tepat di kedua gunung kembar milik sang istri.


"Hentikan mas, kerjaanku banyak. Kasihan mbak Nia makan hari ini aku gak masuk lagi." Sheila menghentikan pergerakan tangan pria yang berstatus sebagai suaminya.


Tak ingin melepaskan tangannya begitu saja, Abimana sedikit mer***s dan mendapatkan bibirnya. Setelah itu ia tersenyum dan melenggang tanpa rasa bersalah meraih baju yang disiapkan oleh Sheila.


Dengan wajah memerah, Sheila berjalan kearah kamar mandi. Tubuhnya terasa sangat lengket akibat pertempuran semalam dan pagi ini. Suaminya benar-benar memiliki stamina yang sangat kuat. Ingatkan ia untuk mencari cara agar suaminya tidak selalu meminta jatah.


Dengan terburu-buru Sheila memakai baju kerjanya tanpa memperdulikan tatapan sang suami. Bukankah sejak dulu pria itu suka memandangnya lagipula tak ada yang istimewa dari caranya menatapnya.


"Jangan selalu memancingku, Yang ,,, bisa-bisa kita batal ke kantor." Ucap Abimana mendekati Sheila yang baru saja selesai berpakaian lengkap.


"Situ aja yang otaknya ngeres. Aku pakai baju juga seperti biasanya gak ada niat menggoda." Sheila menyelesaikan urusannya dengan cermin.


Sheila memilih berdandan di mobil daripada di rumah dengan resiko diganggu oleh Abimana, yang entah mengapa otaknya seolah tak berfungsi dengan baik. Sheila segera meraih tasnya kemudian bergegas keluar dari kamar.


"Assalamualaikum ma, pa ,,," Sapa Sheila melihat kedua mertuanya di ruang keluarga sedang menikmati teh panas.


"Waalaikumsalam sayang ,,,, wiihhh rambut basah, wajah cerah dan lambat keluar kamar, pasti pagi-pagi ngadon cucu buat kami, ya ,,," Ledek mama Kalisha terkekeh.

__ADS_1


Tak sampai disitu, papa Kuncoro pun ikut menggoda menantunya sehingga wajah Sheila memerah karena malu. Saat keduanya ramai-ramai menggoda Sheila, Abimana pun ikut bergabung hingga suasana pagi semakin ramai.


"Hei, jangan menggoda istriku, dong. Kami ini kelaparan dan harus sarapan sebelum berangkat." Seru Abimana duduk di samping sang istri.


"Ck, kamu merusak suasana aja." Keluh mama Kalisha merasa terganggu.


"Gimana rasanya menikah ?"


"Gak usah ditanya pa, pokoknya menikah itu sesuatu pake banget." Balas Abimana tersenyum penuh arti.


Sheila menyuap Abimana nasi goreng agar berhenti membahas pernikahan. Ia tahu kearah mana pembicaraan Abimana dan mertuanya. Bagi Sheila, hal yang seperti itu bukan untuk diumbar cukup mereka berdua saja yang merasakannya.


"Bicaranya nanti aja mas, nanti telat. " Kesal Sheila dan ditempati dengan tawa oleh kedua mertuanya.


Tak ada lagi percakapan diantara mereka. Walaupun mama Kalisha dan papa Kuncoro baru saja menikmati cemilannya namun melihat anak dan menantunya sarapan akhirnya mereka pun ikut bergabung.


Abimana dan Sheila segera menyelesaikan sarapannya. Hari ini Abimana memutuskan untuk bekerja dari kantor Sheila, ia belum bisa berpisah lama dengan sang istri. Abimana ketagihan untuk selalu menyentuh sang istri walaupun hanya saling memegang tangan saja.


"Kami berangkat ma, pa ,,,," Pamit Sheila dan Abimana.


"Hati-hati dijalan sayang ,,," Balas mama Kalisha dan papa Kuncoro kompak.


Abimana dan Sheila mencium punggung tangan keduanya sebelum akhirnya keluar rumah. Dengan bersemangat Abimana mela m ujan mobilnya menuju kantor Sheila. Mereka memutuskan untuk tidak menggunakan sopir karena tak ingin kebersamaan mereka tergganggu.


Sepanjang perjalanan tangan mereka saling bertaut. Wajah keduanya menyiratkan kebahagiaan dengan berhiaskan senyum kebahagiaan. Sejak Sheila memutuskan untuk menjadi istri seutuhnya hubungan merekapun semakin mesra.


🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2