Menggapai Rasa Yang Tersisa

Menggapai Rasa Yang Tersisa
BAB ~ 62. ALISHA DAN SHEILA


__ADS_3

Kehidupan pasangan Abimana dan Sheila kembali normal. Bahkan mereka terlihat lebih mesra dari sebelumnya. Namun kedua pasangan muda yang sedang menunggu kelahiran bayi pertamanya itu merasa iba pada sahabat mereka yaitu Shandy yang hingga saat ini belum juga memiliki pasangan. Pria tampan itu seolah menutup diri setelah mengetahui jika gadis pujaannya ternyata adalah milik orang lain.


"Dek, kamu punya pacar gak ?"


Wanita hamil dengan perut yang semakin besar itu mendekati Alisha yang sedang duduk sendirian. Sejak perceraiannya dengan Ferdy, Alisha tak pernah sekalipun terlihat bersama seorang pria.


"Malas ah, kak ,,, semua pria sama aja. Mereka hanya ingin 7qng dan status sosial aja."


Sepertinya Alisha mengalami trauma pada pernikahan. Bisa dimaklumi jika wanita muda itu kapok menjalin hubungan serius dengan pria manapun. Peristiwa buruk yang dialaminya masih membekas dalam ingatannya.


"Gak semua laki-laki seperti Ferdy begitu pun halnya dengan mertua. Jangan terlalu dipikirkan yang lalu jadikan sebagai oengalamqn berharga, masa depanmu masih panjang. " Sheila mencoba memberi semangat pada adik satu-satunya yang ia miliki.


"Nantilah kak, fokus untuk diri sendiri aja dulu. Lagian belum ada pria yang bisa memenuhi kriteriaku." Balas Alisha santai.


Sebagai wanita yang pernah gagal dalam pernikahan, ia tak ingin buru-buru mengakhiri kesendiriannya. Sebuah pelajaran berharga yang ia dapatkan bahwa sesuatu yang dilakukan dengan terburu-buru akan berakibat tidak baik. Biarlah sang waktu yang mengobati rasa traumanya.


Sheila tak bisa berbuat apa-apa , ia hanya menarik napas panjang sembari menatap iba pada adiknya, Entah sampai kapan Alisha akan menutup diri, ia hanya bisa berdoa agar adiknya segera menemukan pasangan dan hidup bahagia.


"Mau gak kakak jodohkan ?!" Sheila tak menyerah mendengar perkataan sang adik.


"Ck, ternyata sejak hamil kakak memiliki banyak perubahan, ya ?!" Sindir Alisha dengan nada datar.


"Perubahan yang baik untuk seseorang yang sangat kakak sayangi, gak apa-apa dong." Balas Sheila terkekeh.


Benar-benar wanita ajaib. Dulu Sheila sangat sibuk dan bahkan tak memiliki sedikit waktu untuk sekedar mengenal calon adik iparnya. Tapi lihatlah kini ia malah mati-matian ingin menjodohkan adiknya. Alisha hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya menatap datar wajah cantik wanita hamil itu.


Ingin rasanya Alisha berteriak agar kakaknya itu berhenti menjkdoh-jodohkan dirinya yang bahkan Alisha sendiri tak tahu pria tersebut. Bagaimana Alisha akan mengatakan iya jika orangnya saja ia tidak kenal.

__ADS_1


"Kak, sudahlah ,,, jika memang masih ada jodoh pasti akan ketemu suatu saat nanti." Ucap Alisha dengan stock terakhir kesabarannya.


Setelah mengatakan hal itu, Alisha buru-buru meninggalkan Sheila. Ia memilih masuk ke dalam kamarnya daripada terus berbicara dengan Sheila yang semakin lama semakin memancing emosinya.


Melihat sang adik menjauh, Sheila mengomel tak jelas hingga menarik perhatian mama mertuanya yang kebetulan akan ke dapur.


"Lho anak kesayangan mama kenapa ? Kok ngomel-ngomel gak jelas ? Nanti bayinya tukang ngomel juga, lho." Ucap mama Kalisha lembut.


Yah, mama Kalisha tak pernah meninggalkan Sheila sejak kedatangannya beberapa bulan lalu, hanya papa Kuncoro yang sering datang berkunjung jika sedang kangen pada istrinya.


"Alisha ma, masa iya betah sendiri. Mana masih muda dan cantik, kan mubadzir."


Mama Kalisha terkekeh mendengar ucapan menantunya yang memang ada benarnya. Seketika sebuah ide cemerlang muncul pada otaknya yang sepertinya memang hanya berisi ide-ide ekstrim.


"Kamu pingin menjodohkan Alisha ?" Tanya mama Kalisha dengan wajah serius.


"Iya ma." Jelas dan padat membuat mata mama Kalisha berbinar.


"Kok mama tahu, sih ,,," Balas Sheila penasaran.


"Apa sih yang mama gak tahu." Mama Kalisha sedikit sombong dengan kelebihannya.


Sheila menatap sang mama mertua dengan tatapan yang tak terbaca. Ada sesuatu yang menggelitik pikirannya namun untuk sementara ia urungkan untuk mencari tahu. Akan ada waktunya, pikir Sheila tenang.


"Mama punya cara ?!"


"Tentu saja tapi tunggu sampai kamu lahiran." Balas mama Kalisha percaya diri.

__ADS_1


"Diiihhh ,,, masih dua minggu lagi, ma ,,, lama !"


"Disitulah seninya, sayang ,,," Ucap mama Kalisha meyakinkan.


"Terserah mama deh, aku sih ikut aja, yang penting hasilnya memuaskan."


"Tenang sayang, hasilnya bukan lagi memuaskan tapi dijamin 100 % berhasil. Mama jaminannya." Tukas mama Kalisha yakin.


Mama mertua dan menantu itu kemudian beralih ke taman di samping rumah. Mereka melanjutkan cerita ngalor ngidulnya disana. Mama Rani dan Shehzad sejak pagi keluar berbelanja perlengkapan cucunya yang perkiraan lahirnya sisa dua minggu ke depan namun bisa lebih cepat. Abimana pun belum pulang.


"Mama sama papa kok bisa menjodohkan kami padahal waktu itu kami kan masih kecil. Bahkan aku gak ingat sama sekali sama mama sekeluarga." Rasa penasaran Sheila tentang kisah perjodohannya tiba-tiba menyeruak.


"Ide papamu sama papa Kuncoro tuh ,,," Ucap mama Kalisha apa adanya.


Memang benar kedua pria itu sebagai pencetak ide perjodohan sebagai sebuah tantangan apalagi kalau itu Abimana dan Sheila tak pernah akur. Bahkan setiap kali mereka ketemu selalu bertengkar bahkan semasa Sekolah Dasar mereka bersaing walaupun berbeda tingkatan kelas. Abimana lebih tua satu tahun.


"Kalian yakin banget jika kami akan hidup bersama ?!"


"Yakin dong, buktinya kan kalian bersama dan sebentar lagi akan memiliki bayi." Ucap mama Kalisha terkekeh.


Wanita paruh baya itu mengingat bagaimana ia berusaha mempersatukan putranya dan Sheila saat itu. Untungnya hingga saat ini kelicikannya tidak terungkap dan semoga hal itu tidak diketahui oleh Sheila.


"Tapi pernikahan koboiku saat itu masih menjadi teka terima buatku hingga saat ini, ma." Gumam Sheila pelan namun masih di dengar oleh mama Kalisha.


"Gak usah dibahas sayang, mungkin seperti itulah takdir kalian agar ikatan pernikahan semakin kokoh." Balas mama Kalisha 3nggan membahas lebih lanjut.


Sheila terdiam memikirkan ucapan mama mertuanya. Ada benarnya apa yang dikatakan mama Kalisha namun Sheila bukanlah wanita kebanyakan yang akan puas begitu saja. Ada banyak pertanyaan memenuhi otaknya namun untuk sementara ia diamkan saja.

__ADS_1


'Suatu saat semua akan terungkap.' Batin Sheila mencoba meredam rasa penasarannya.


🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2