Menggapai Rasa Yang Tersisa

Menggapai Rasa Yang Tersisa
BAB ~ 23. SARAN SHEHZAD


__ADS_3

Lima menit sebelum jam pulang kantor, Sheila sudah mandi dan rapi dengan baju yang baru ia beli. Tak ingin telat tiba di rumah sakit karena terjebak macet, Sheila lalu keluar ruangannya dan menuju lift.


“Mbak Nia, kalau pulang tolong kunci ruanganku.”


“Baik bu.” Balas Nia singkat.


Sementara di rumah Shehzad, Abimana pulang kantor lebih cepat dan langasung ke rumah sang mertua menunggu Sheila. Rumah tersebut sunyi dan hanya ada para ART yang tak tahu posisi Abimana yang sebenarnya dalam keluarga majikan mereka. Kebetulan Shehzad dan Rani belum pulang. Sejak siang ia berusaha menelepon Sheila namun ponsel istrinya itu tidak aktif. Abimana tak mungkin mendatangi kantor Sheila karena perjanjian mereka yang tidak saling mengunjungi karena pernikahan mereka yang tidak sewajarnya. Abimanapun sangat menjaga Sheila dari gosip yang tidak mengenakkan hati.


Sebuah mobil memasuki halaman rumah Shehzad, tak lama kemudian nampak pasangan suami istri empunya rumah turun dari mobil. Abimana segera berdiri dan menyambutnya.


“Assalamualaikum pa, ma ,,,” Sapa Abimana mencium punggung tangan keduanya.


“Lho nak Abi, baru datang ya ?” Tanya Rani melihat sang menantu yang masih memakai pakaian kerja.


“Aku lagi nungguin Sheila, ma ,,, sejak siang aku telepon tapi gak aktif.” Balas Abimana apa adanya.


“Sejak pagi memang dia sibuk nak, mungkin saja lupa mengaktifkan ponselnya.” Timpal Shehzad tak tahu persoalan.


“Sheila pulang kantor jam berapa, pa ?” Abimana melirik jam tangannya.


“Pagi tadi katanya langsung ke rumah sakit nak, dia mengambil shift malam karena pagi kan dia kerja.” Ucap Rani apa adanya.


“Bicaranya didalam aja. Papa juga ingin membahas sesuatu dengan nak Abi.” Shehzad merangkul bahu menantunya sambil berjalan masuk ke dalam rumahnya.


Rani langsung menuju kamarnya untuk berganti pakaian sedangkan Shehzad dan Abimana masuk ke dalam ruang kerja. Kedua pria beda usia itu duduk berhadap-hadapan.


“Sepertinya nak Abi dan Sheila harus duduk bersama berbicara dari hati ke hati mengenai nasib pernikahan kalian. Mungkin Sheila yang nak Abi kenal enam tahun lalu sangat berbeda dengan Sheila yang sekarang.” Shehzad memulai pembicaraan dalam mode on serius.


“Iya pa, aku bisa merasakannya. Aku berjanji akan memperbaiki semuanya pa, agar sesuai dengan keinginan para orang tua. Abi mohon doanya aja, pa.” Balas Abimana yakin.


“Ingat pertemuan kalian sebagai pimpinan perusahaan yang akan bekerjasama, papa harap kamu bisa memanfaatkannya untuk berbicara banyak. Setelah pertemuan formal kalian selesai biarkan asisten dan sekretarismu pulang terlebih dahulu.”

__ADS_1


"Baik pa, aku akan melakukan semua saran papa." Balas Abimana bersungguh-sungguh.*


Shehzad pun merasa hanya itu satu-satunya cara agar persoalan hati keduanya selesai kemudian kembali menikahkan mereka agar tak ada cerita miring tentang pasangan itu.


“Oh ya pa, Alisha dan suaminya kapan pulang ?”


“Hari minggu, memangnya kenapa nak ?”


“Gak apa-apa, pa ,,,” Balas Abimana tersenyum paksa.


“Jangan memikirkan mereka, secepatnya papa dan papamu akan meresmikan pernikahan kalian.” Ucap Shehzad menenangkan Abimana.


Setelah menyerahkan perusahaan pada Sheila pagi tadi, Shehzad hanya pulang ke rumah menjemput sang istri kemudian ke rumah keluarga pak Kuncoro untuk membahas tentang kelanjutan pernikahan anak-anak mereka.


Kedua sahabat itu tak pernah menyangka akan serum ini kejadiannya. Mereka sama sekali tak memikirkan akibatnya setelah peristiwa malam itu. Shehzad pun tak menyangka putrinya sekeras batu karang. Selama ini yang ia lihat, hanyalah sisi kelembutan Sheila dan betapa penurutnya putrinya itu.


“Aku pamit dulu pa, sudah malam.”


“Jangan pa, nanti Sheila semakin marah jika tahu aku tidur di kamarnya.”


Sungguh Abimana tak ingin istrinya itu semakin membencinya jika ia menginap bahkan tidur di kamarnya. Suatu saat Abimana memang akan sekadar dengan istrinya tapi bukan sekarang. Sheila belum bisa menerima dirinya.


“Gak akan nak. Papa yang akan menjadi jaminannya. Bagaimanapun proses pernikahan kalian, Sheila harus menerima kenyataan bahwa nak Abi adalah suaminya.” Tegas Shehzad.


“Baiklah pa.”


Abimana pasrah jika memang Sheila nantinya mengamuk. Ia tak ingin mengecewakan pria yang sedang menatapnya dengan tatapan bersalah akibat kelakuan putrinya.


“Jangan dijadikan beban pikiran, pa ,,, suatu saat Sheila pasti akan menerima pernikahan kami. Aku tahu dia masih memiliki rasa untukku karena kesalahanku maka rasa itu tenggelam jauh di dalam hatinya. Tugas utamanya saat ini adalah berusaha untuk menggapai kembali rasa yang tersisa itu.”


Bukannya menenangkan malah ucapan Abimana semakin membuat Shehzad merasa bersalah pada pria muda itu. Tak salah jika Shehzad menginginkan Abimana untuk menjadi menantunya, anak muda itu sangat bijaksana.

__ADS_1


“Ya sudah, ganti baju dikamar Sheila saja. Papa sudah mengisi baju-baju untuk nak Abi. Setelah makan malam kita lanjutkan lagi bincang-bincang kita.”


“Baik pa. Abi ke kamar dulu.” Perlahan Abimana berdiri lalu melangkah keluar dari ruang kerja papa mertuanya.


Melihat Abimana berdiri, Shehzad pun segera mengikuti menantunya itu. Ia pun sudah merasa gerah hingga hampir jam makan malam namun belum mandi dan berganti baju.


Sementara itu di rumah sakit Medical Care, Sheila mulai bertugas. Keadaan rumah sakit sangat sepi, hanya keluarga pasien yang berlalu lalang melewati lorong rumah sakit. Sheila mengaktifkan ponselnya yang ia pakai untuk berselancar di dunia maya dan yang selalu dihubungi oleh keluarga serta teman-temannya. Sebuah nomor asing terlihat 50 kali panggilan tak terjawab.


“Suster ,,, bisa pinjam ponselnya ?”


“Buat apa dok ? Tumben minjem ,,,”


“Cuma mau ngecek nomor doang soalnya ada nomor asing yang meneleponku.”


“Mungkin salah satu fansnya dokter Sheila.” Ucap suster Lina menyodorkan ponselnya.


“Makasih suster cantik ,,,”


Sheila langsung beraksi menekan nomor asing tersebut. Ia penasaran dengan nomor tersebut, pasalnya ia tak sembarangan memberikan nomor ponselnya pada orang tak dikenal.


“Assalamualaikum ,,,” Sapa seorang pria diujung telepon.


Sheila tak bersuara, ia memasang telinganya dengan baik agar bisa mengenali suara diseberang sana. Salam kedua dari pria tersebut sontak membuat Sheila melotot sempurna. Ia mengenali suara tersebut yang merupakan suara pria yang siang tadi bersama seorang wanita cantik. Yah, suara itu adalah suara Abimana. Dengan sigap Sheila langsung memutuskan panggilan selulernya.


‘Pasti papa yang ngasih nomerku.’ Batin Sheila kesal.


Kekesalan Sheila selalu saja memuncak jika berhubungan dengan Abimana. Pria yang telah menikahinya secara tiba-tiba karena kesalahpahaman. Sheila sendiri bingung dengan semua peristiwa yang terjadi dalam hidupnya akhir-akhir ini. Bermula dari pertemuannya kembali dengan Abimana, pria yang berhasil menorehkan rasa kecewa yang mendalam. Setelah berhasil menata kembali hati dan kehidupannya, kini pria itu kembali bahkan dengan mudahnya menikahi dirinya layaknya pernikahan koboy.


Malam semakin larut, pasien UGD nampaknya tak ada masalah. Sheila memanfaatkannya dengan memejamkan matanya sejenak. Rasa lelah lahir batin dengan takdir hidup yang seolah mempermainkan dirinya membuat Sheila terlelap dalam sekejap. Suster Lina hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat dokter cantik itu terlelap.


🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2