
Usia kandungan Sheila dan Alisha hanya selisih empat minggu. Alisha dan Shandy sangat antusias menunggu kelahiran anak pertama mereka. Sedangkan Sheila pun berusaha bertahan dan menikmati kebersamaannya bersama suami tercintanya dan Arsheno yang kini telah berusia satu tahun enam bulan.
"Yang, besok usia kandunganmu memasuki bukan ke tujuh. Kandunganmu gak ada masalah kan ?!" Tanya Abimana untuk kesekian kalinya.
"Gak ada masalah kok mas, hanya saja memang kehamilanku yang kedua ini sedikit melelahkan dan hal itu wajar, Mama pun mengalami hal yang sama saat mengandung Alisha." Balas Sheila berdalih.
"Tapi aku perhatikan semakin hari kok tubuhku semakin kurus dan matamu terlihat sedikit aneh. Kelakuanmu pun beberapa bulan ini terlihat aneh dimataku." Abimana menatap mata bening sang istri yang tak lagi sebening dulu.
Ada banyak rahasia yang tersembunyi dibalik mata indah wanita tercintanya namun tak satupun bisa diungkap oleh Abimana. Sheila sejak dulu hingga kini selalu menjadi wanita yang tak terbaca dan sangat misterius baginya.
"Ck, jangan terlalu dipikirkan. Hal seperti ini sering terjadi pada ibu hamil, apalagi akhir-akhir ini aku gak bisa makan banyak padahal anak dalam kandunganku butuh nutrisi." Balas Sheila tersenyum sangat manis.
Jantung Abimana berdesir aneh melihat senyuman manis sang istri. Terkesan sangat manis namun manis yang berbeda. Abimana tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata.
"Ada yang ingin kamu ceritakan, Yang ?!" Pancing Abimana serius.
"Gak ada mas. Lagian setiap hari kita ketemu dan berbicara kan ,,, hanya saja jika seandainya anak kita harus lahir prematur gak masalah kan mas ?!"
"Ya gak masalah jika memang harus lahir prematur. Itu kan bukan maunya kita." Balas Abimana tak mengerti.
__ADS_1
"Terima kasih mas. Aku sangat mencintaimu selamanya." Tiba-tiba Sheila memeluk erat Abimana sehingga pria itu bingung dengan perlakuan sang istri.
Perubahan Sheila pada awalnya dianggap oleh Abimana sebagai hal yang wajar dan merupakan bawaan janin dalam kandungan sang istri namun semakin hari Abimana perhatikan ternyata perubahan istrinya itu sedikit aneh dan itu cukup mengganggu pikirannya.
"Hei, ada apa ini ,,, kok aku merasa sedih dengan ungkapan cintamu, Yang, kayak kita akan berpisah aja" Abimana membalas pelukan Sheila tak kalah eratnya.
'Kita memang akan berpisah mas, aku sudah gak mampu bertahan.' Batin Sheila terisak pelan.
Mendengar isakan sang istri dan pundaknya yang basah membuat Abimana perlahan mengurai pelukannya dan menatap wanita tercintanya dalam-dalam. Sheila bukan wanita manja dan cengeng. Sejak pernikahan mereka ibu dari anaknya itu sangat jarang meneteskan airmata. Berbeda dengan akhir-akhir ini, wanitanya itu sangat gampang mengeluarkan airmatanya.
"Yang, ada apa ? Ngomong sama aku, kita suami istri dan kalau ada masalah akqn kita hadapi bersama, jangan dipendam sendiri." Ucap Abimana lembut.
Bukannya berbicara, tangis Sheila semakin kencang. Untungnya Arsheno sedang bersama kakek dan neneknya. Sejak usia kandungannya memasuki bulan kelima, Sheila meminta agar mereka tinggal dirumah mama Rani dan papa Shehzad tanpa alasan yang jelas.
Tangan Abimana gemetar membaca isi amplop tersebut. Walaupun ia kurang paham istilah kedokteran namun ia dapat membaca dengan jelas kesimpulan dan analisis dokter pada kertas putih itu.
Abimana terduduk lemas, kakinya seperti jely dan tak mampu menahan bobot tubuhnya. Pria itu terlihat sangat frustasi dan mengusap kasar wajahnya. Ia tak mampu berkata-kata hanya airmata yang mengalir dengan bebas membasahi wajah tampannya.
"Maafkan aku mas." Ucap Sheila dengan suara hampir tak terdengar.
__ADS_1
"Sejak kapan, Yang ? Kenapa gak ngomong padahal mas bisa membawa berobat kemanapun." Balas Abimana tak kalah sedihnya.
"Maaf mas, gak ada yang bisa kita lakukan karena akupun mengetahuinya setelah penyebarannya sudah kemana-mana. Aku hanya harus bertahan agar bayi kita bisa dilahirkan walaupun harus prematur." Jelas Sheila berusaha tersenyum.
"Kamu harus sembuh, Yang ,,, Arsheno dan bayi dalam kandunganmu sangat membutuhkan kasih sayang bundanya."
Sheila menggelengkan kepalanya sambil berusaha memperlihatkan senyum terbaiknya.
"Itu sudah kulakukan sejak enam bulan lalu mas, makanya aku busa bertahan hingga saat ini. Besok temani aku menemui dokter Desi, ya ,,,"
"Kedua orang tua kita sudah mengetahui hal ini, Yang ?"
"Tolong jangan katakan apapun pada mereka. Aku gak ingin mereka bersedih."
Abimana meraih tubuh kurus sang istri dan memeluknya sangat erat. Ia tak ingin kehilangan wanita yang ia cintai kini dan selamanya. Pria itu terus menangis dalam diam, ia tak bisa membayangkan hidupnya bersama anak-anaknya tanpa belahan jiwanya itu.
Malam semakin larut dan merekapun saling berpelukan seolah dengan berpelukan keduanya tak akan terpisahkan. Abimana tak bisa memejamkan matanya sedangkan Sheila berusaha untuk tidur agar besok ia bisa sedikit segar saat bertamu dengan dokter Desi.
Sejak mengetahui penyakitnya yang tak mungkin bisa disembuhkan, Sheila dan dokter Desi sudah sepakat untuk melahirkan saat bayinya siap dilahirkan secara prematur. Sheila rutin memeriksa kandungannya untuk mengetahui perkembangan janinnya dan untuk menjaga agar bayi dalam perutnya sehat maka ia tak mengkonsumsi obat-obatan.
__ADS_1
Berbeda dengan Sheila yang sudah terlelap dengan tenang, pikiran Abimana justru masih bekerja hingga adzan subuh terdengar. Mata elangnya terus menatap wajah sang istri dan akan menyimpan dalam benaknya agar tak melupakan wajah itu suatu saat nanti.
🌷🌷🌷🌷🌷