Menggapai Rasa Yang Tersisa

Menggapai Rasa Yang Tersisa
BAB ~ 22. RASA KECEWA


__ADS_3

Setelah Shehzad meninggalkan ruangannya yang kini ditempati oleh Sheila sebagai penggantinya. Perlahan Sheila meraih berkas yang tadi papanya berikan. Ia ingin mempelajari berkas kerjasama perdana kedua perusahaan. Sheila lalu memanggil sekretarisnya untuk menanyakan jadwal pertemuannya dengan direktur perusahaan PT. Bhi_Lha yang terdengar cukup asing.


“Mbak Nia, tolong ke ruanganku.” Ucap Sheila sedikit berteriak.


Posisi meja sekretarisnya tepat berada di depan pintu ruangannya sehingga jika pintunya dalam keadaan terbuka seperti sekarang ini memudahkannya untuk memanggil Nia.


“Ada yang bisa saya lakukan, bu ?”


“Gak usah seformal itu, mbak. Aku hanya ingin tahu jadwal pertemuan dengan perusahaan PT. Bhi_Lha.”


“Sebentar bu, aku lihat dulu jadwalnya.” Nia kini merubah gaya bicaranya dengan menggunakan aku bukan lagi saya.


Sheila terus membuka lembar demi lembar berkas tersebut. Dan ia semakin penasaran saat hanya mendapati tanda tangan direktur perusahaan tersebut tanpa nama mencantumkan nama terang dibawahnya.


‘Kok papa bisa-bisanya setuju bekerjasama dengan perusahaan gak jelas ini. ‘ Batin Sheila mendengus kasar.


“Bapak sudah menyetujui jadwal pertemuannya lusa, pukul 09.00. “ Nia membaca jadwal yang tertera pada benda pipih yang selalu ia bawa.


“Ok. Tolong ingatkan aku dan bilang ke mereka on time ya.”


“Siap bu. Kalau gak ada lagi yang diperlukan, saya ijin keluar, bu.”


Sheila hanya menganggukkan kepalanya kemudian kembali menekuri map yang tersusun rapi di hadapannya. Ia memeriksa dengan sangat detil seperti yang diajarkan oleh om Roy, asisten papanya.


‘Dimana aku harus cari asisten ?’ Batin Sheila menatap mbak Nia yang juga sibuk dengan pekerjaannya.


Sheila memutuskan akan mendiskusikannya dengan papanya dan om Roy. Ia tak ingin salah memilih asisten.


“Bu, waktunya jam istirahat mau dipesankan makan siang ?” Tanya mba Nia saat melihat bos barunya belum juga ada tanda-tanda istirahat.


“Gak usah mbak, aku makan diluar aja, ada janji sama teman.”

__ADS_1


Sheila bersama kedua sahabatnya memang janjian untuk makan siang bersama. Walaupun mereka bertugas di rumah sakit yang sama namun mereka sangat jarang bertemu shift mereka berbeda. Kecuali dengan Rara dan Sheila sering tugas pada shift yang sama.


Setelah merapikan meja kerjanya, Sheila lalu keluar dan berjalan tergesa-gesa menuju lift. Ia tak enak jika kedua sahabatnya menunggu terlalu lama.


“Mbak Nia, tolong ruanganku dikunci ya.” Ucap Sheila saat melewati meja sekretarisnya.


Sheila segera masukmkedalam kotak besi yang akan membawanya hingga di lobby perusahaan. Dengan cepat Sheila masuk kedalam mobil dan melarikannya menuju jalan raya. Hingga akhirnya tiba di sebuah restoran Jepang, Sheila segera masuk dan mencari meja yang telah direservasi oleh Shania. Restoran tersebut merupakan tempat favorit mereka sekedar nongkrong jika lelah dengan rutinitasnya. Selain itu restoran tersebut berada pada zona nyaman ketiganya.


Teriakan Rara dan Shania melambaikan tangan saat melihat sahabat mereka berjalan kearah kedua wanita cantik itu. Sheila tak harus clingak clinguk mencari nomor meja saking hafalnya situasi restoran tersebut.


“Maaf membuat kalian menunggu.” Ucap Sheila merasa bersalah.


“Kami juga baru tiba kok. Lagian kami ngerti kok kesibukan kamu saat ini.” Balas Shania penuh pengertian.


“Gak usah bahas kesibukan deh, kita kesini kan untuk bersantai dan bersenang-senang.” Ucap Sheila enggan membahas pekerjaan.


Bagi Sheila cukup ia serius saat berada di kantor dan berhadapan dengan berkas-berkas yang seolah tak ada habisnya. Saat ini ia hanya ingin bersantai sejenak dan menikmati waktu bersama para sahabatnya. Sheila tak memiliki banyak teman karena dulu saat kuliah hanya orang-orang tertentu yang ingin berteman dengannya karena kesederhanaannya.


Saat itu para mahasiswa kedokteran hanya mencibir melihat Sheila yang sederhana nekat masuk fakultas paling bergengsi itu dengan hanya mengandalkan beasiswa. Kecuali Shania yang tak mempermasalahkan keadaan Sheila. Sedangkan dokter Rara bersahabat dengan Sheila setelah bergabung di rumah sakit Medical Care.


“Woiii ,,, makan. Keburu jam istirahat habis.” Ucap Sheila mengusap wajah Shania.


“Apa sih, ganggu orang aja.” Balas Shania mendelik tajam pada sahabatnya.


Melihat wajah lucu Shania membuat Rara menutup mulutnya menahan tawanya. Shania semakin kesal karena ekspresi Rara sedangkan Sheila kembali menikmati makanannya.


“Kita kesini untuk makan dan sedikit bersenang-senang kan lumayan lama kita gak ketemu. Jadi please ,,, abaikan yang lainnya.” Ucap Rara menuntaskan makan siangnya.


“Aku hanya menikmati ciptaan Tuhan, kan sayang kalau dilewatkan. Cuma natal doang kok.” Balas Shania cengengesan.


“Gini nih, kalau jomblo akut ,,, gak bisa lihat yang bening-bening, ingat umur.” Timpal Sheila terkikik geli.

__ADS_1


“Aku belum setua itu kali, baru juga mau 27 sama aja kan dengan kamu. Umur segitu belum dikatakan tua tapi dewasa dan matang.” Bantah Shania tak terima.


“Bener ,,, dewasa mendekati tua dan matang yang bentar lagi akan bonyok.” Balas Rara disambut derai tawa oleh Sheila.


Ketiganya terus saja melemparkan candaan hingga akhirnya Sheila terdiam beberapa saat mendengar suara yang amat dikenalnya. Ia pura-pura menjatuhkan kunci mobilnya kemudian mengambilnya sembari mencuri pandang pada meja dibelakangnya. Beruntung kedua sahabatnya tak menyadari perubahan Sheila.


“Jangan tegang gitu, Rumi ,,, santai saja, toh kita akan sering-sering makan bersama.” Ucap Abimana tersenyum.


Yah, orang yang duduk dimeja persis dibelakang Sheila adalah Abimana. Pria itu juga yang dilihat oleh Shania.


Kesadaran Sheila kembali pulih dan berhasil menguasai perasaannya. Walaupun ia tidak mengakui pernikahan mereka namun ada rasa kecewa yang ia rasakan. Abimana sudah mengikatnya dalam sebuah pernikahan kilat namun ternyata diluar malah makan bersama wanita lain tanpa sepengetahuannya.


‘Untung aku gak ketipu dengan kata-kata manisnya.’ Batin Sheila tetap tenang.


“Pulang yuk, aku gak mau kena teguran dari direktur.” Ucap Rara yang saat ini sedang shift pagi.


Saat ketiganya berdiri, secara tak sengaja Abimana mengangkat wajahnya dan melihat Sheila yang menatap sekilas padanya. Sheila tak ambil pusing, ia seolah-olah tak mengenali Abimana. Berbeda dengan Abimana yang memanggilnya.


“Sheilaaa !!!” Teriakan Abimana menghentikan langkah Rara dan Shania.


“Kamu mengenalnya ?” Tanya Rara menahan langkah Sheila.


“Enggak, mungkin dia salah orang.” Jawab Sheila singkat


“Tapi dia memanggil namamu.” Timpal Shania penasaran.


Abimana kini berdiri di hadapan ketiga dokter cantik itu. Ia menatap Sheila seolah ingin berbicara namun langsung dihentikan oleh Sheila.


“Maaf pak, anda salah mengenali orang. Namaku memang Sheila tapi aku tak mengenal anda.” Ucap Sheila dingin.


Setelah itu Sheila meneruskan langkahnya keluar restoran tersebut. Abimana hanya bisa menatap punggung istrinya yang semakin menjauh. Tak mungkin pula ia memburu Sheila dan meninggalkan Arumi yang sedang makan siang bersamanya. Arumi adalah teman Abimana dan juga sekretarisnya yang baru. Abimana sengaja merekrut sekretaris baru karena tidak mungkin ia membawa serta sekretarisnya yang lama, kantor pusat perusahaannya membutuhkan Melinda.

__ADS_1


Ketiga dokter cantik itu lalu berpisah diparkiran, masing-masing masuk ke dalam mobilnya. Sheila tak langsung kembali ke kantor melainkan mampir ke sebuah mall membeli baju ganti. Akan memakan waktu lama jika harus pulang hanya untuk mandi dan berganti baju.


🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2