Menggapai Rasa Yang Tersisa

Menggapai Rasa Yang Tersisa
BAB ~ 49. BUKAN MILIK KITA


__ADS_3

Alisha, Sheila dan Abimana berjalan beriringan menuju kotak besi yang akan membawa mereka ke lantai satu. Sheila memberikan kunci mobilnya pada Alisha agar bisa langsung ke kantor sedangkan ia bersama dengan Abimana.


"Kamu ke kantor atau pulang ke rumah, dek ?" Tanya Sheila saat mereka sudah berada di lobby.


"Ke kantorlah, kak."


"Kamu gak apa-apa bawa mobil sendiri ?" Terdengar nada khawatir tersirat dalam nada Sheila.


"Gak apa-apa ,,, jangan terlalu mengkhawatirkan aku, kak. Walaupun tak setangguh kakak tapi akupun harus belajar mandiri."


"Ok, kakak percaya padamu. Hati-hati bawa mobilnya, kalau ada apa-apa segera telepon kakak."


Sheila memeluk hangat adik kesayangannya sebelum mereka berpisah. Perlahan Alisha mengurai pelukannya lalu berjalan kearah mobil Sheila yang terparkir tepat di sisi kiri mobil Ferdy.


"Alisha bukan anak kecil yang harus dikhawatirkan, Yang ,,, biarkan dia belajar menyelesaikan masalahnya sendiri, kita cukup memantaunya dari jauh aja." Abimana menggandeng mesra sang istri menuju mobilnya.


"Iya mas. Aku mengerti." Balas Sheila tersenyum manis.


"Jangan tersenyum gitu, Yang ,,, aku jadi kepengen mengulangi yang semalam."


Sheila mendengus kasar dengan wajah memerah. Mengingat kejadian semalam sangat membuatnya sangat malu. Memikirkannya saja Sheila tak berani. Entah apa yang terjadi dengan dirinya semalam, ia begitu liar membalas setiap sentuhan Abimana pada tubuhnya.


"Buruan jalan, mas. Kasihan mbak Nia."


"Gak jadi balik ke hotel, nih ?"


"Mas, udah deh ,,, aku malu mengingatnya."


Abimana mencubit pipi wanitanya karena gemes dengan sikap malu-malunya. Dengan senyum bahagia membingkai wajahnya, Abimana mulai menginjak gas secara perlahan agar mobilnya melaju menuju jalan raya.


"Karena kantorku lebih dekat, sebaiknya kita mampir dulu, Yang ,,, manatau Shandy membutuhkan. " Ucap Abimana memutar balik mobilnya.


Sheila hanya menurut saja, toh tak ada meeting atau jadwal penting untuk hari ini. Abimana berkali-kali memukul jidatnya pelan karena lupa jika hari ini perusahaan mereka akan kedatangan utusan sebuah perusahaan yang ingin bekerjasama dengan mereka.


"Ada apa sih, mas ,,,"

__ADS_1


"Ini lho, Yang ,,, mas baru ingat kalau hari ini perusahaan kita akan kedatangan utusan sebuah perusahaan yang ingin melakukan kerjasama dengan perusahaan kita."


"Bukan milik kita, tapi milik mas. Aku gak mau perusahaanku dan perusahaan mas menjadi perusahaan kita. Kita memang suami istri tapi perusahaan adalah milik masing-masing." Tegas Sheila yang memang sejak awal tak pernah ingin menyatukan perusahaan mereka.


Semua hal yang tak terduga sudah dipikirkan baik-baik oleh Sheila. Pun segala kemungkinan terburuk dalam suatu hubungan harus dipikirkan dengan matang agar tidak menyusahkan di kemudian hari.


Abimana terkekeh mendengar ucapan sang istri. Ia tak menyalahkan pola pikir wanita yang sangat dicintainya. Sheila tak bisa disalahkan dengan memiliki pemikiran seperti itu mengingat kenyataan yang sering terjadi memang seperti itu. Sejak dulu wanitanya itu tak pernah berubah, wanita mandiri dan tak ingin diusahakan dengan persoalan pelik yang menghabiskan waktu sia-sia.


"Tapi mas memang mendirikan perusahaan itu bertujuan untuk memperjuangkan hubungan kita jika mama masih menentang hubungan kita, Makanya mas memakai nama kita berdua. Bhi_Lha (Abimana_Sheila)."


"Haaa ?! Sebesar itu cinta mas padaku ?!"


Hanya senyuman lebar yang menghiasi wajah Abimana sebagai balasan atas pertanyaan sang istri. Baginya tak perlu dijawab dengan kata-kata cukup dengan pembuktian diri. Mobil yang mereka tumpangi perlahan memasuki area perusahaan yang mulai menampakkan perkembangannya yang pesat.


"Mas, pelan-pelan jalannya." Bisik Sheila saat mereka mulai melangkah memasuki lobby perusahaan.


"Masih sakit ?" Balas Abimana pun berbisik.


"Sakit sih, enggak hanya rasanya sedikit aneh saat berjalan, kayak ada yang ngeganjal."


"Makanya harus sering-sering melakukannya agar rasa aneh itu hilang dan ,jalanmu kembali normal."


"Jangan bahas lagi, Yang ,,, kepalaku atas bawah jadi cepat cenut." Lanjut Abimana sebelah tangannya menggandeng mesra sang istri dan tangan yqng lainnya memijit kepalanya.


Entah mengapa membahas masalah itu seketika membuat kepalanya migren. Berusaha menghilangkan sakit kepalanya, Abimana meremas lembut pinggang ramping sang istri sambil terus melangkah menuju lift.


"Selamat siang,pak, bu ,,,, selamat berbahagia." Sapa beberapa karyawan dengan sopan.


"Selamat siang juga dan terima kasih doanya, mbak ,,," Balas Sheila tersenyum ramah.


Pasangan yang semalam menikmati indahnya malam pertama yang tertunduk kini berada dalam lift. Kondisi dimana hanya ada mereka berdua membuat Abimana kmemancarkan aksinya.


Tanpa permisi, Abimana menarik Sheila ke dalam pelukannya dan mence**p bibir ranum sang istri. Ia harus mengurangi rasa sakit kepalanya sebelum bertemu dengan utusan perusahaan.


Ting

__ADS_1


Pintu lift terbuka bersamaan dengan selesainya aksi memalukan Abimana. Sejak merasakan indahnya perjalanan menuju puncak kenikmatan, pria itu seolah ingin terus mengulangnya lagi dan lagi tanpa henti.


"Wihhh ,,, seger banget, bos." Sapa Shandy menatap bosnya dari ujung rambut sampai ujung kaki.


Plaaakkkk


"Aku pria normal, jangan menatapkuseperti itu. Kamu mau istriku salah paham ?" Abimana memukul lengan sahabatnya yang menatapnya seolah menagih hutang padanya.


"Ya kali, aku tertarik ,,, asistenmu ini pun pria normal dan sedang mencari betinanya untuk dikaruniai."


"Nikah mas Shandy ,,," Timpal Sheila meralat kata-kata Shandy.


"Sama aja bu bos, kan pada akhir dikawinin juga." Balas Shandy tertawa terpingkal-pingkal.


"Sudah ,,, sudah, bercandanya dihentikan dulu, sekarang fokus kerja." Tegas Abimana tak suka mendengar istri dan asistennya terdengar akrab.


Shandy mendengus kasar mendengar ucapan bosnya yang sejak dulu selalu saja serius jika jam kerja. Sedangkan Sheila memilih sofa dam duduk dengan santai. Tangannya mulai sibuk dengan ponselnya. Sejak dalam perjalanan ke kantor Abimana, ia merasakan ponselnya terus bergetar karena sengaja ia silent saat akan ke kantor Ferdy.


Dan benar saja, surel yang dikirim oleh mbak Nia memerlukan perhatiannya. Satu per satu ia periksa dengan teliti. Memeriksa surel harus benar-benar teliti agar tak terjadi kesalahan.


Ketiga manusia dalam ruangan kerja Abimana tampak serius dengan pekerjaan mereka masing-masing, hingga ketukan di pintu menarik perhatian ketiganya. Secara bersamaan kepala mereka terangkat dan tatapan ketiganya fokus ke arah pintu setelah Abimana mempersilahkan masuk.


"Maaf pak, tamunya sudah datang." Ucap sekretaris Boy setelah pintu ruangan terbuka.


"Langsung aja suruh masuk, Boy." Perintah Abimana berdiri.


Shandy pun ikut berdiri sedangkan Sheila kembali sibuk dengan ponselnya. Bukan tamunya dan bukan pula urusannya. Ia tak ingin terlibat dalam urusan perusahaan sang suami. Selama semua berjalan sesuai dengan norma dan aturan dalam berumah tangga baik yang tersirat ataupun tersurat maka Sheila tak akan ambil pusing.


"Selamat siang ,,, lho Abi ?!" Ucap tamu tersebut heran sekaligus senang.


"Sari ??!!" Kompak Abimana dan Shandy melihat tamu mereka.


🌷🌷🌷🌷🌷


Nah lho ,,,,

__ADS_1


__ADS_2