
Hari ini giliran Sheila yang bekerja dari kantor Abimana setelah tiga hari bekerja dari kantor Sheila. Pasangan ini sepakat bekerja dari kantor mereka secara bergiliran. Abimana yang tak bisa jauh dari sang istri mengatur sedemikian rupa agar mereka selalu bersama.
Kini mereka telah berada di ruang kerja Abimana dan Shandy. Mereka bertiga bekerja di ruangan yang sama sehingga suasana hangat dan penuh canda tetap terjaga.
"Sepertinya aku dan Alisha harus mengikuti cara kerja kakak ipar ,,," Shandy menatap pasangan suami istri itu secara bergantian.
"Maksudnya ?!" Abimana menaikkan alisnya tak mengerti. Sedangkan Sheila menghentikan pekerjaannya.
Keduanya kompak menatap Shandy dengan tatapan meminta penjelasan. Melihat keduanya tertarik membuat Shandy cengengesan tak jelas dan membuat Abimana mendengus kesal. Mimik wajah Shandy sangat menjengkelkan bagi Abimana.
"Maksudku, kami pun ingin bekerja dalam satu ruangan seperti kalian, aku gak mau setiap hari jadi penonton. "
"Suruh saja Alisha yang bekerja dari sini tapi kamu gak boleh ke kantor Alisha. Pekerjaanmu bejibun !" Tegas Abimana merasa terancam.
Abimana memang tipe bos yang egois, ia sangat tergantung oleh Shandy yang memang selalu bisa diandalkan di setiap suasana. Shandy adalah segalanya bagi Abimana.
Shandy tersenyum dan kembali bekerja dengan penuh semangat. Sejak ritual malam pertamanya dengan Alisha, ia tak bisa berpisah dengan sang istri. Rasa rindunya pada Alisha selalu membuatnya ingin cepat pulang.
Ketiganya kini kembali sibuk dengan urusan pekerjaan masing-masing. Jika sedang dalam kondisi seperti ini tak seorangpun yang bersuara. Mereka ingin mempercepat pekerjaannya agar bisa memiliki waktu yang cukup saat jam istirahat siang.
Waktu yang mereka tunggu pun akhirnya tiba. Shandy tak membuang-buang waktu dan segera melesat keluar ruangan. Walaupun jarak antara perusahaan PT. Bhi_Lha dan kantor cabang perusahaan PT. Garda Utama milik Alisha tak terlalu jauh namun kemacetan khas ibukota tak dapat dihindari.
"Astaga pria itu terlalu bucin." Abimana hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya menatap punggung sahabat, asisten dan sekaligus saudara angkatnya.
"Biarkan saja mas, toh bucinnya sama istri sendiri." Balas Sheila merapikan mejanya.
Perutnya sudah keroncongan dan meminta haknya. Sejak kelahiran baby Arsheno, Sheila tak bisa menahan rasa laparnya apalagi setiap pagi ia harus menguras ASInya sampai habis untuk persediaan baby Arsheno.
__ADS_1
"Sudah selesai kan ? Yuk, makan siang ,,, istriku yang cantik ini pasti sudah lapar kan ?!" Abimana menggandeng mesra pinggang Sheila yang sudah mulai kembali ke ukuran awalnya.
Sejak melahirkan, kondisi tubuh Sheila sedikit lebih besar dari ukuran semasa ia masih gadis. Menurut Abimana istrinya itu terlihat seksi dengan tubuh yang sedikit berisi namun sebagai seorang wanita, Sheila sangat menginginkan tubuhnya kembali ke ukuran semasa gadisnya dulu yang ramping. Itulah wanita yang selalu ingin tampil sempurna walaupun sudah memiliki anak.
Saat keluar dari lift dan melewati beberapa karyawan yang akan ke kantin, keduanya cukup menarik perhatian karena perlakuan mesra sang bos pada istrinya. Para kaum hawa sontak baper dan berharap kelak memiliki suami seperti bosnya. Tampan, tajir dan sangat mencintai pasangannya.
Sejak pengusiran sekretaris yang dulu tak ada lagi yang berani berkomentar tentang bos dan istrinya. Mereka tak ingin berakhir seperti nasib sekretaris songong yang entah dimana rimbanya saat ini.
Abimana membuka pintu untuk sang istri kemudian ia mengitari mobil lalu duduk dikursi belakang kemudi. Perlahan Abimana menginjak gas melajukan mobilnya menuju tempat favorit mereka.
Berbaur dengan pengendara lain dan kemacetan yang tak dapat dihindari, akhirnya Abimana membelokkan mobilnya memasuki area parkiran sebuah restoran. Sambil bergandengqn tangan keduanya memasuki restoran dan mencari tempat duduk agar secepatnya bisa mengisi perut yang tak bisa lagi diajak kompromi.
"Selamat siang pak, bu ,,, silahkan dipesan." Ucap pelayan dengan sopan seraya menyodorkan buku menu.
Sheila menyambar buku menu tersebut dan memesan beberapa menu makanan. Seafood yang menjadi menu favoritnya langsung mengisi catatan pelayan tersebut.
"Sebentar ya bu, kami siapkan pesanannya."
"Yang, kamu bisa habiskan segitu banyaknya ?!" Tanya Abimana heran.
Untuk pertama kalinya Abimana melihat istrinya memesan makanan sebanyak itu. Padahal sang istri sedang berusaha menurunkan berat badannya. Sebuah senyuman menghiasi bibirnya, tiba-tiba ia berharap istrinya berbadan dua. Bukan hal yang mustahil kan, mengingat ia rutin membajak sawah dan menyiramkan benihnya.
'Apa mungkin baby Arsheno akan segera memiliki adik ?' Batin Abimana tersenyum senang.
"Ada apa senyum-senyum sendiri ? Kayak manusia agak-agak lho, mas."
"Agak-agak gimana maksudnya ?!" Balik tanya Abimana dengan wajah bingungnya.
__ADS_1
Sheila memberi kode dengan menarik garis lurus pada jidatnya. Mengerti maksud sang istri, mata Abimana melotot tajam dan sukses membuat sang istri tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan agar suara tawanya tidak keluar sehingga mengganggu pengunjung yang lain.
"Tiba di rumha akan ada hukumnya, Yang. Karena orang gila ini akan melakukan sesuatu yang akan membuatmu merem melek tak terkendali dalam waktu yang lama." Ucapan Abimana membuat Sheila merinding.
Abimana tak pernah menarik kata-katanya. Sheila bisa membayangkan aksi sang suami yang selalu membuatnya kewalahan setiap kali melakukan petualangan bersama. Terkadang Sheila termenung memikirkan stamina suaminya yang tak pernah menurun. Sejak mereka pertama kali berpetualang hingga menghasilkan baby Arsheno, stamina pria muda selalu stabil dan tak pernah kendor.
Sheila tak menggubris kata-kata Abimana, ia lebih tertarik untuk menikmati makanan yang sudah terjadi di depannya.
"Waktunya makan, hal yang seperti itu gak perlu dibahas lagi." Ucap Sheila mulai memindahkan lauk ke piringnya.
"Ternyata makan berdua gak ngajak-ngajak." Ucap Shandy dan Alisha yang tiba-tiba telah berdiri di depan mereka.
"Pesan sendiri makanan, jangan mau enaknya saja !" Balas Sheila galak.
"Astaga ,,, kenapa kakak ipar galak bin pelit ?" Ucap Shandy dengan wajah kaget yang dibuat-buat.
"Sudahlah, duduk boleh gabung tapi makanannya sendiri-sendiri." Balas Sheila melotot.
"Jangan diganggu, mas ,,, kalau dia ngamuk siapa yang rugi ? Dia itu tipe wanita yang sulit ditebak." Bisik Alisha tak ingin membuat kakaknya uring-uringan.
Alisha sangat mengantuk Sheila yang tak bisa menahan emosinya jika diganggu pada saat makan atau melakukan sesuatu yang sangat disukainya.
Shandy akhirnya melakukan permintaan istrinya. Memanggil pelayan dan memesan beberapa menu makanan. Sementara Abimana dan Sheila terus menikmati makan siangnya tanpa memperdulikan kehadiran pasangan di depannya. Melihat hal itu Shandy hanya mendengus kasar.
"Ck, dasar !!" Ucap Shandy jengah.
"Jangan memancing emosi saat makan, pamali !!" Ketus Abimana mendengar ucapan Shandy.
__ADS_1
Ingin rasanya ia menggelar kepala asisten tak berkahlaknya namun apa daya tangannya kotor dan sedang asyik-asyiknya menikmati makan siang bersama sang istri tercinta.
🌷🌷🌷🌷🌷