Menggapai Rasa Yang Tersisa

Menggapai Rasa Yang Tersisa
BAB ~ 57. DERITA ABIMANA


__ADS_3

Sambil bersungut-sungut Shandy meninggalkan rumah keluarga Sheila. Pria itu kesal tak terima dengan tuduhan bosnya.


Sementara itu Abimana mengikuti Sheila masuk ke dalam kamar setelah keluar dari kamar mandi untuk tamu. Abimana butuh penjelasan mengapa secara tiba-tiba wanitanya tak ingin berdekatan dengannya.


"Yang, mas ing ,,,"


"Stop mas, jangan dekat-dekat ,,,," Sheika berteriak sambil berlari masuk kedalam kamar mandi.


Hoek hoek hoek


Abimana tak menyelesaikan kata-katanya karena Sheika lagi-lagi memuntahkan isi perutnya. Abimana buru-buru keluar kamar mencari mama mertuanya. Ia ketakutan melihat reaksi sang istri manakala berdekatan dengannya.


Sementara mama mertuanya terlihat sedang sibuk di dapur memberikan perintah pada ART yang sedang memasak untuk makan malam.


" Ma ,,, boleh bicara sebentar ?" Abimana menghampiri mama Rani dengan wajah khawatir.


Pria tampan itu sangat mengkhawatirkan perubahan istrinya. Sheila yang dulu sangat mesra dengannya namun kini berbanding terbalik. Wanita hamil itu tiba-tiba membencinya.


"Ada apa nak Abi ? Kok keliatan sangat khawatir ?" Mama Rani meminta ART melanjutkan pekerjaannya kemudian menghampiri menantunya.


"Sheila ma ,,, dia sangat berubah." Ucap Abimana sendu.


"Berubah ??! Berubah gmana maksudnya nak ?" Mama Rani ikut-ikutan khawatir.


"Setiap kali aku mendekat, Sheila selalu menolakku dan yang lebih parahnya lagi dia muntah-muntah, ma."


Mama Rani tertawa mendengar penjelasan Abimana. Ia mengira sesuatu yang buruk telah terjadi. Ternyata pengaruh ngidam.


"Gak apa-apa nak Abi. Sheila seperti itu karena sedang ngidam. Wanita hamil memang pada umumnya mengalami masa ngidam." Jelas mama Rani lembut.


"Sampai kapan, ma ?"


"Beda-beda sih, nak ,,, namun pada umumnya wanita hamil mengalami masa ngidam pada trimester pertama ."


Abimana menatap mama mertuanya dengan tatapan sendu. Ia tak bisa membayangkan istrinya akan menjauhinya selama tiga bulan. Satu jam saja ia tak mampu jika tak berdekatan dengan sang istri. Sudah jatuhnya dibatasi kini sebuah kenyataan baru yang harus ia terima. Serasa dunia Abimana sudah kiamat.

__ADS_1


'Semua salah para orang tua yang menuntut mereka agar segera memiliki momomgan.' Batin Abimana merutuki para orang tua.


"Masa iya sih ma sampai tiga bulan."


"Bahkan ada yang sampai melahirkan nak. Berdoa saja agar masa ngidam Sheila tak lama." Ucap mama Rani menenangkan.


Inilah yang Abimana sukai dari mama mertuanya yang selalu memberikan rasa tenang saat membicarakan sesuatu. Sangat berbeda dengan mama kandungnya sendiri yang selalu membuatnya sport jantung dan ujungnya selalu berdebat setiap kali berbicara.


"Apa aku harus tidur di kamar lain, ma ?" Tanya Abimana polos.


"Nak Abi harus pasang strategi. "


Ada-ada aja mama Rani, memangnya mau perang ? Pake pasang strategi segala. Kebanyakan nonton film nih kayaknya mama Rani.


"Maksudnya ma ?" Tatapan polos Abimana membuat mama Rani gemes.


"Nak Abi masuk ke kamar jika wanita ngidam itu sudah tidur. Nah, saat dia tertidur nak Abi bisa memeluknyq, menciumnya."


Mata Abimana berbinar sejenak mendengar ide bilang mama mertuanya. Namun detik berikutnya tatapan sendu kembali menghiasi mata tajamnya. Abimana teringat dengan jatuhnya yang hanya seiprit.


"Nak Abi kenapa ? Ada masalah ?" Mama Rani khawatir melihat perubahan menantu kesayangannya.


"Gak ada apa-apa, ma ,,, aku ke kamar dulu liat keadaan Sheila." Pamit Abimana seraya berdiri dari kursinya.


Mama rani menatap prihatin punggung menantunya yang semakin menjauh. Seandainya saja Ferdy sebaik Abimana tentu putri-putrinya akan hidup bahagia dengan pasangan masing-masing.


'Semoga saja Alisha menemukan jodoh yang baik.' Batin mama Rani berharap dengan sepenuh hati.


Bagi Rani dan Shehzad kebahagiaan kedua putrinya adalah yang utama. Mereka tak pernah membedakan status ekonomi seseorang . Yang terpenting bagi mereka adalah orang itu baik dan tidak aneh-aneh.


"Apa yang mama lihat ?" Pertanyaan Alisha memutuskan lamunan mama Rani.


"Sejak kapan kamu disitu ?" Mama Rani balik bertanya.


"Baru saja ma, aku bukan tipe wanita yang suka nguping pembicaraan orang kecuali kepepet." Jawab Alisha terkekeh.

__ADS_1


Alisha memang tipe wanita yang cuek sama halnya dengan sang kakak. Mungkin hanya itu satu-satunya persamaan mereka sebagai saudara kandung.


"Ma, memang harus melewati waktu tiga bulan sebelum memiliki kekasih ?" Tanya Alisha serius.


"Memang seperti itu ketentuan dalam agama, sayang ,,, karena ditakutkan kamu hamil dan masa tiga bulan itu bisa ketahuan jadi anak dalam kandungan bisa ketahuan siapa ayahnya." Jelas mama Rani pelan.


"Tapi saat ini kan aku lagi dapat tamu bulanan, ma. Artinya aku gak hamil kan ?"


"Ketentuan dari agama itu bersifat umum, sayang. Dan itu sudah berlaku dalam masyarakat kita. Bersabarlah sedikit, jangan sampai menjadi omongan orang-orang. Kehidupan seorang janda itu gak mudah, sayang apalagi kamu cantik dan masih sangat muda. Walaupun pada kenyataannya perceraian terjadi karena kesalahan pria namun pada kenyataannya selalu pihak wanita yang disalahkan."Jelas mama Rani panjang lebar.


Alisha hanya menarik napas panjang mendengar kata-kata sang mama. Kali ini ia harus lebih mendengar setiap nasehat dari kedua orang tuanya. Dulu ia selalu mengedepankan perasaannya sendiri sehingga tidak memperhatikan nasehat papanya.


Sementqrq itu Abimana membuka pintu kamar dengan sangat pelan dan melongokkan kepalanya menbntip situasi dalam kamar. Jika seseorang yqngbtak dikenal melihatnya pastilah menganggap Abimana seorang pencuri. Melihat sang istri sedang tertidur, Abimana melangkah dengan pelan mendekati tempat tidur. Ia sangat merindukan wangi tubuh istri tercintanya.


Abimana mulai beraksi dengan sangat hati-hati agar wanitanya tak terusik. Ia tersenyum lucu dengan kelakuannya yang seperti pencuri. Merasa kurang greget jika melakukannya perlahan maka pria itu mulai sedikit mempercepat aksinya hingga tak sadar pekerjaan tangannya mengusik wanita hamil itu.


"Mas !!! Apa yang kamu lakukan ?!"


Hoek hoek hoek


Sheila mendorong tubuh Abimana agar menjauh darinya dan berlari masuk ke dalam kamar mandi. Ia tak memperdulikan kencing bajunya yang sudah terbuka semuanya. Sheila hanya fokus pada kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya.


Abimana terduduk diam diatas kasur. Matanya menatap nanar pintu kamar mandi. Ia sangat ingin membantu sang istri namun iapun tak berani mendekat.


"Mas, tolong jangan dekat-dekat, aku gak kuat jika terus-terusan muntah." Ucap Sheila dengan mata memerah.


"Maafkan mas, Yang ,,, tapi mas juga ingin selalu dekat dengan calon bayi kita."


"Tapi saat ini calon bayi kita masih menolakmu, mas. Pleaase aku gak kuat mas. Nutrisi yang masuk kedalam tubuhku tak sebanding dengan yang aku muntahkan." Balas Sheila memelas berharap suaminya itu bisa mengerti.


"Baiklah Yang ,,," Balas Abimana lesu.


Sesungguhnya Abimana pun tak tega melihat kondisi istrinya yang selalu muntah jika berdekatan dengannya. Tadi ia hanya mencoba melakukan ide mama mertuanya namun siapa sangka itupun tak berhasil. Abimana menggeleng-gelengkan kepalanya mengingat asisten sekaligus sahabatnya yang pasti akan meledeknya jika ia menceritakan penderitaannya.


🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2