Menggapai Rasa Yang Tersisa

Menggapai Rasa Yang Tersisa
BAB ~ 68. KEKECEWAAN SHEILA


__ADS_3

Sheila dan Abimana berangkat terlebih dahulu menuju rumah keluarganya. Ia tak ingin bayinya keluar rumah malam-malam. Melihat mobil menantunya memasuki halaman rumah, mama Rani bergegas menyambut cucunya.


"Selamat datang di rumah nenek."


"Ma, biasanya kalau anak bayi pertama kali berkunjung di kasih sesuatu damai yang punya rumah." Ucap Sheila mengikuti mama Rqni memasuki pintu utama.


Suasana pernikahan terasa kala mereka memasuki rumah tersebut. Di ruang tamu sudah dihias dengan pernak pernik pernikahan. Tak jauh berbeda dengan mama mertuanya, mama kandungnya pun ternyata genit juga.


"Alisha menikah dua kali dan selalu terasa nuansa pernikahannya sedangkan aku ,,, boro-boro dihias kayak gini malah nikahnya dikamar hotel tengah malam pula." Ucap Sheila sedikit iri.


Mama Rani terdiam begitu pula dengan Shehzad yang kebetulan berada di ruang tamu. Untuk pertama kalinya Sheila terdengar iri pada seseorang dan itu adalah adiknya sendiri. Kedua orang tua itu merasa bersalah pada putri sulungnya. Mereka seperti tertampar hingga tak kuasa mengangkat kepalanya untuk sekedar menatap putrinya.


Sheila kemudian naik ke lantai atas dimana kamarnya berada. Sejak kehamilannya ia tak pernah menengok kamarnya karena tak mampu naik turun tangga dengan perut besar. Tak lama kemudian Abimana pun menyusul dengan tas berisi perlengkapan baby Arsheno ditangannya.


"Assalamualaikum ma, pa ,,," Salam Abimana mencium punggung tangan keduanya secara bergantian.


"Waalaikumsalam ,,," Kompak keduanya.


"Sheila mana ma ? Kok baby Arsheno di tinggal ? Mama kan sibuk."


"Gak apa-apa nak Abi, mungkin Sheila rindu kamarnya." Balas mama Rani berusaha tersenyum.

__ADS_1


Salahkan mata Abimana yang terlalu jeli melihat perubahan wajah seseorang. Ia melihat perubahan wajah kedua mertuanya. Wajah mereka sepertinya sedang memendam sesuatu. Abimana tak ingin bertanya pada keduanya melainkan ia buru-buru menaiki anak tangga menuju kamar sang istri.


Perlahan Abimana membuka pintu kamar dan melihat istrinya sedang berbaring di atas kasur dengan mata menerawang seakan menembus langit-langit kamarnya. Cairan bening dan hidung merah menandakan wanita cantik itu sedang bersedih dan menangis.


"Ada apa, Yang ,,, bilang sama mas." Dengan penuh kelembutan Abimana menghapus airmata sang istri.


Sheila bangun dari tidurnya dan duduk menghadap Abimana. Lagi-lagi airmatanya meluncur bebas membasahi pipi mulusnya. Melihat wanita tercintanya seperti itu Abimana pun merasa sedih. Hatinya sakit melihat sang istri bersedih.


"Yang ,,, ngomong dong, mas gak bisa lihat kamu bersedih seperti ini. Gak enak dilihat sama papa dan mama." Dengan sabar Abimana berusaha agar Sheila bicara.


"Aku hanya sedih dan kecewa sama mama dan papa. Ketika Alisha menikah mama selalu menghias rumah seindah mungkin sedangkan aku jangankan rumah dihias, menikah pun hanya dikamar hotel. Aku merasa seperti anak pungut padahal sejak sekolah aku gak pernah menggunakan fasilitas mereka bahkan sekarang aku bekerja keras mengurus perusahaan, semua dilimpahkan padaku." Sheila tak dapat lagi menahan uneg-uneg yang selama ini ia simpan sendiri.


Abimana tak tahu harus bagaimana menenangkan istrinya. Ia hanya bisa memeluknya menyalurkan rasa nyaman agar kesedihan sang istri berkurang. Mendengar keluhan sang istri tentang pernikahan mereka, Abimana merasa sangat bersalah namun iapun tak bisa berbuat banyak karena dirinya pun tak menyangka akan menikahi gadisnya seperti itu. Siapa yang bisa disalahkan ?


Sheila mengurai pelukan Abimana dengan sisa-sisa tangisnya. Kesedihan tak dapat ia sembunyikan. Dan satu hal yang Abimana sadari bahwa ternyata wanitanya masih belum sepenuhnya menerima pernikahan mereka walaupun kini telah memiliki anak.


"Rombongan mama sebentar lagi tiba, aku ke bawah dulu mengambil baby Arsheno. " Lanjut Abimana melirik jam yang melingkar manis pada pergelangan tangannya.


Setelah Abimana keluar kamar, Sheila bergegas masuk ke dalam kamar mandi membersihkan diri. Menatap pantulan dirinya di cermin membuatnya meringis, matanya sembab dan sedikit bengkak. Ia mempercepat ritual mandinya kala mendengar pintu terbuka dan suara Abimana yang bercanda dengan bayi berusia tiga puluh lima hari.


Sepuluh menit kemudian Sheila keluar dengan kimono handuk membalut tubuhnya yang sedikit berisi. Maklumlah belum bisa berolah raga seperti biasanya karena belum cukup empat puluh hari pascasarjana melahirkan.

__ADS_1


Sheila mengambil baju yang ia bawa dari rumah karena baju lama pasti tidak bisa masuk di badannya untuk saat ini. Melihat Sheila melewatinya begitu saja, Abimana bergegas masuk ke kamar mandi. Situasinya tidak pas untuk sekedar menggoda sang istri.


Sebelum berpakaian rapi, Sheila menggantikan popok dan baju baby Arsheno kemudian meny***nya karena si baby sudah mulai rewel dan memasukkan semua jari-jarinya ke dalam mulut.


Urusan dengan baby Arsheno telah selesai dan bayi itupun sudah anteng. Sekarang giliran Sheila berpakaian dan bersiap turun ke bawah menunggu kedatangan rombongan mama. Rasa kecewa masih terasa memenuhi rongga da**nya namun Sheila berusaha menguasai perasaannya. Sementara Abimana tak tahunharus berbuat apa.


Saat mereka sudah berkumpul di ruang tamu bersama seorang pria yang Sheila tebak jika pri tersebut adalah pak penghulunya. Dan makanan sudah di tata dengan rapi diatas meja makan, terdengar suara mobil memasuki halaman rumah dan tak lama kemudian mama Kalisha, papa Kuncoro dan Shandy terlihat di depan pintu rumah utama.


Semua menyambut kedatangan mereka dengan antusias. Mama Rani segera memanggil Alisha setelah semua duduk.


"Gimana kabarnya cucu oma ?" Mama Kalisha mendekati baby Arsheno dan menciumnya.


Sungguh ia sangat merindukan cucunya walaupun hanya beberapa jam saja berpisah. Mama Kalisha melirik putranya yang hanya diam disisi sang istri. Bukan tipe Abimana yang bisa diam jika sedang bersama keluarga. Mama Kalisha menebak ada sesuatu yang tidak beres.


"Nah, pemeran utamanya sudah keluar. Sebaiknya kita segera melakukan proses lamaran dan pernikahannya sebelum larut malam." Usul papa Kuncoro dn langsung disetujui oleh semua anggota keluarga.


Shandy segera melakoni perannya sebagai pria sejati. Ia melamar Alisha di depan semua orang dengan memantapkan diri. Dan Alisha pun menerimanya dengan suka cita. Debarqn jantungnya saat bertatapan dengan Shandy semakin tak beraturan.


Akhirnya papa Shehzad pun menikahkan mereka. Sheila memilih sibuk dengan beberapa surel yang di kirim oleh sekretarisnya. Mama Rani yang mendengar langsung ungkapan kekecewaan putri sulungnya hana bisa menatap sendu wanita muda itu.


Kini ia merasa sangat bersalah pada putri sulungnya itu. Seandainya dulu ia tak mengikuti kegiatan wanita paruh baya yang kini menjadi besannya mungkin Sheila tak sekretaris saat ini. Beribu-ribu seandainya berkelebat dalam kepala mama Rani. Ia sangat mengenal putrinya yang selalu mandiri dan tak pernah mengeluh. Adapun beberapa saat lalu terdengar sangat kecewa padanya sebagai orang tua, hal itu menandakan jika putri sulungnya itu telah berada pada puncak kekecewaan sehingga tak bisa lagi menahannya dalam hati.

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2