
Kalisha dan Rani terus bercerita layaknya sahabat lama kembali bertemu. Sheila hanya sekali-sekali menimpali. Gadis muda itu tak bisa mengimbangi kedua wanita paruh baya yang entah sedang membahas apa, cerita mereka campur aduk sehingga membuat Sheila bingung sendiri.
“Nak, malam ini kalian nginap di rumah mama, ya ?” Kalisha mulai beraksi.
“Bener sayang, kasihan mama Kalisha tak ada yang menemani.” Timpal Rani lembut.
Nada lembut sang mama merupakan kode keras bagi Sheila yang tidak boleh ditolak. Tak ada alasan juga bagi Sheila untuk menolaknya karena kenyataannya memang saat ini mama mertuanya akan kesepian tanpa papa Kuncoro.
“Tentu ma, kami gak ada masalah.” Balas Sheila tersenyum lebar.
“Ya sudah kalau gitu, kita makan malam dulu. Sayang panggilin papa sama nak Abi dong.”
“Telepon aja, ma ,,,aku lagi mager nih.”
Kalisha terkekeh mendengar kata-kata menantunya. Jaman sekarang semua kebutuhan berada di ujung jari. Anak-anak semakin ditanyakan oleh teknologi. Baru saja Sheila akan memainkan jarinya, kedua pria itu sudah berjalan kearah mereka. Seperti biasa Abimana mencium pucuk kepala sang istri tanpa rasa canggung. Kalisha menatap remeh putra tunggalnya.
‘Cih, cuman gitu aja bisanya.‘ Batin Kalisha melirik sinis pria tampan itu.
Abimana hanya bisa tersenyum kecut melihat tatapan sang mama. Ia bisa memastikan jika mamanya itu sudah tahu cerita yang sebenarnya tentang pernikahannya. Abimana pada akhirnya hanya bisa menarik napas panjang agar beban batinnya sedikit berkurang.
“Maafkan aku ya, mas ,,,” Ucap Sheila tiba-tiba seraya mencium telapak tangan suaminya.
Entah apa penyebabnya tiba-tiba meminta maaf. Abimana hanya membalasnya dengan senyuman tulus dan kembali memberikan ciuman hangat pada pucuk kepala sang istri.
“Sudah ,,, sudah, gak usah minta maaf, lebaran masih lama. Kita makan malam sebelum kalian pulang.” Rani lalu berdiri diikuti oleh semuanya.
Dengan tatapan bingung, Abimana menatap sang mama meminta penjelasan namun yang ditatap hanya mengangkat bahu acuh. Sungguh Kalisha menyimpan rasa kesal yang menggulung pada putra tunggalnya setelah mendengar cerita besannya. Bisa-bisanya pria itu menahan diri untuk tidak meminta haknya selama ini.
Tanpa banyak drama, mereka makan malam tanpa kehadiran Alisha dan Ferdy. Pasangan itu menginap di rumah keluarga Ferdy. Makan tanpa bicara membuat mereka menuntaskan makanannya dalam jangka waktu tak terlalu lama. Berbincang-bincang sebentar sambil menunggu Sheila menyiapkan baju yang akan mereka pakai untuk beberapa hari ke depan.
“Gak usah bawa baju banyak-banyak, Yang ,,, seadanya aja.” Ucap Abimana saat melihat koper yang Sheila siapkan isinya sudah membludak.
“Kita kan gak tahu berapa lama kita di rumah mama.”
__ADS_1
“Mas tahu, tapi baju-baju mas banyak di sana.”
Sheila menepuk jidatnya sendiri. Bagaimana bisa ia lupa jika di rumah keluarganya baju pria itu pasti banyak dan masih tersimpan rapi. Sheila k3,Bali mengeluarkan baju kerja Abimana dan menggantinya dengan baju miliknya.
“Yuk, kita turun. Kasihan mama menunggu.” Sheila menggeret kopernya keluar kamar.
Melihat sang istri menarik koper besarnya, Abimana langsung merebut koper tersebut. Sekuat dan semandiri bagaimanapun sang istri, ia tak tega membiarkan wanitanya kerepotan.
“Kami sudah siap, ma ,,,” Ucap Abimana kala ia dan Sheila telah mencapai anak tangga terakhir.
“Ok, kalau gitu kita langsung berangkat.” Sambut Kalisha bersemangat.
Sheila mengerutkan alisnya ketika sepintas melihat sesuatu yang aneh dibalik sikap bersemangatnya sang mama mertua. Firasatnya mengatakan ada yang tidak beres dengan tingkah sang mama. Tak ingin larut dalam prasangka buruknya, Sheila menyalami kedua orang tuanya d3ngan mencium punggung tangan mereka secara bergantian dan diikuti oleh Abimana. Sedangkan mama Kalisha dan mama Rani cipika cipiki khas perpisahan ibu-ibu.
“Doakan semuanya lancar.” Ucap mama Kalisha sebelum meninggalkan Rani dan Shehzad.
“Mama kayak mau mengurus proyek besar aja.” Gumam Abimana pelan namun masih terdengar oleh Sheila dan mama Kalisha.
“Dasar anak durhaka ! Selalu saja curigaan bawaannya sama mama.” Sarkas mama Kalisha. Jangan lupakan tangannya yang memukul lengan putranya.
Pertengkaran antara anak dan ibu terus berlangsung mengiringi perjalanan mereka. Sheila hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat suami dan mertuanya bagaikan Tom & Jerry. Ada-ada saja bahan mereka berdebat. Hingga tak terasa mobil yang dikemudikan oleh Abimana memasuki sebuah rumah dengan pagar tinggi.
Beberapa ART menyambut kedatangan mereka. Seorang pria mengeluarkan koper milik Sheila dari bagasi. Dengan langkah anggun mama Kalisha berjalan di depan bersama Sheila sedangkan Abimana sedang berbicara dengan salah satu security yang sedang bertugas.
“Ayo sayang, langsung masuk aja ke kamarmu. Mama juga pengen istirahat.” Mama Kalisha tersenyum lembut.
Wanita paruh baya itu memang tampak kelelahan terlihat dari wajahnya dan Sheila memaklumi mama mertuanya yang pasti masih sangat terasa.
“Makasih ma ,,,” Balas Sheila memasuki kamar Abimana sebelum mereka menikah.
Sheila tak perlu bingung mencari kamar sang suami karena setelah mereka menikah, sebelum papa dan mama mertuanya kembali bertugas, ia menginap di rumah tersebut.
Baru saja Sheila merebahkan tubuhnya, Abimana masuk ke dalam kamar dan langsung mengambil posisi tidurnya seperti biasa.
__ADS_1
“Mas cuci tangan dan kaki dulu deh.” Sheila sedikit mendorong tubuh kekar sang suami.
Beginilah susahnya menikah dengan seorang dokter, terlalu kaku dan takut pada yang namanya virus padahal hanya ngobrol sama pak Dayus itupun tak lama.
“Iya ,,,” Abimana berjakan menuju kamar mandi menuruti perintah sang istri.
Ia tak ingin membuat wanitanya kesal di malam hari, bisa-bisa tangannya menganggur sampai pagi jika gadis itu marah.
“Yang, gimana kalau setelah mama pulang, kita menetap disini aja.”
“Mas gak nyaman tinggal di rumah papaku ?”
“Bukan gitu, Yang. Tapi sayang kan rumah segede ini gak ditinggali.”
“Iya juga sih, tapi jika kita tinggal disini gimana dengan Alisha ? Terus terang aja mas, aku gak bisa menjamin Ferdy akan bersikap baik pada Alisha. Aku takut dia dan mamanya bersekongkol untuk menguasai perusahaan Alisha.” Sheila benar-benar mengkhawatirkan adik satu-satunya.
“Apa perusahaan Alisha berdiri sendiri ?”
“Belum. Perusahaannya masih merupakan cabang PT. Garda Utama. Aku takut jika milik Alisha bersekolah akan mempengaruhi yang lain.”
“Kalau gitu susunan orang yang bisa di percaya pada perusahaan Alisha dan tempatkan pada bagian yang vital dalam perusahaan.”
“Gimana kalau Alisha mengetahuinya dan mengatakan pada Ferdy ?”
“Jangan diberitahulah. Tarik salah seorang karyawan dari cabang milik Alisha dan gantikan dengan orang kepercayaanmu.”
Sheila menengadahkan wajahnya menatap sang suami. Bagaimana bisa ia tidak memikirkan hal itu. Tanpa ragu Sheila mencium pipi Abimana sebagai ungkapan terima kasihnya.
Cup
“Thanks honey ,,, love you. “ Ucap Sheila setelah aksi cium sekilasnya.
Abimana tersenyum bahagia mendengar ungkapan cinta sang istri. Sejak pernikahan dadakan mereka baru kali ini wanitanya itu menyatakan cintanya. Abimana memeluk sang istri dan menarik pelan tengkuknya agar wajah sang istri terlihat. Dengan penuh kelembutan Abimana me***at bibir manis wanitanya.
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷🌷