
"Ma, nanti makan siangnya bareng Shandy, ya ,,, ada restoran depan kantor mas Abi." Pinta Sheila saat mereka sedang sarapan.
Sontak Abimana menghentikan makannya mendengar permintaan gila sang istri. Terkadang ia berpikir jika Sheila memang sengaja ingin menghabiskan waktunya bersama Shandy dan ngidam hanyalah sebagai alasan belaka.
"Apapun itu sayang, mama akan menemanimu." Balas mama Kalisha tak memperdulikan tatapan tajam putranya.
"Yang, Shandy banyak pekerjaan hari ini, keluar ruangan saja mungkin gak sempat." Ucap Abimana tak sepenuhnya berbohong.
"Tapi mas, aku pingin makan bareng Shandy, kali ini saja. Boleh ya ,,," Mata Sheila kini berkaca-kaca.
Tak tega melihat istrinya seperti itu, walaupun berat hati terpaksa Abimana mengiyakan permintaan wanita yang mengandung anaknya.
"Baiklah tapi mas juga harus bersama kalian."
"Tapi kan ada mama, mas ,,,"
"Yang, ini bukan akal-akalanmu saja, kan ?" Tanya Abimana dengan wajah frustasi.
"Gak usah dibahas lagi. Segera selesaikan sarapannya." Titah mama Kalisha tak ingin membuat menantunya susah hati.
Mama Kalisha benar-benar kesal pada putranya. Menantu kesayangannya sedang ngidam itupun karena perbuatan putranya. Dan lihatlah kini pria itu malah menyalahkan istrinya.
Mama Rani dan Shehzad hanya diam dan tak ingin ikut campur. Mereka tak ingin Abimana merasa jika pasangan itu membela putri mereka. Sarapan berakhir dan Abimana berpamitan ke kantor. Seperti biasa sejak hamil dan ngidam, sang istri tak pernah lagi menyalami ataupun memberikan pelukan hangat pada Abimana.
Sambil meraih tas kerjanya, Abimana menarik napas panjang dan menatap sendu wanita yang semakin cantik dimatanya. Entah sampai kapan situasi ini akan berakhir. Dua bulan sudah ia merasakan penderitaan lahir batin.
Abimana lalu duduk dibelakang supir setelah pintu mobil dibuka. Sejak Sheila hamil dan tak ingin berdekatan dengannya, maka sejak itu pula Abimana memakai supir kantornya. Sedangkan Sheila ke kantor ditemani oleh mama mertuanya dan tanpa supir. Sheila lebih suka menyetir sendiri daripada harus merepotkan supir papanya.
"Ma, apa gak ada obatnya agar rasa mualku hilang saat berdekatan dengan mas Abi ?" Tanya Sheila melirik mama Kalisha yang duduk di kursi penumpang disamping supir.
"Dokter gak kasih obat pereda mual ?"
"Ada ma, tapi gak mempan. Kan aku juga hanya mual ketika dekat dengan mas Abi, ma. Bayiku seolah membenci papanya. Sudah masuk bulan ketiga lho ma, kami seperti orang asing."
Dalam hati kecil Sheila juga tak ingin memperlakukan suaminya seperti itu akan tetapi ia juga tak busa berbuat apa-apa karena rasa mual itu datang sendiri dan Sheila tentunya akan sangat berpengaruh pada kondisinya jika terus-terusan mual dan muntah sedangkan sejak kehamilannya nafsu makannya sangat menurun.
__ADS_1
"Kita hanya bisa bersabar sayang, bukan kemauan kita juga, kan ? Abi pasti mengerti."
Mama Kalisha pun ikut prihatin dengan keadaan putranya saat ini. Namun tak ada yang bisa ia lakukan untuk membantu putranya selain hanya berdoa agar masa ngidam Sheila segera berakhir.
Sheila terus melajukan mobilnya menuju perusahaan sambil terus berbicara berbagai hal dengan mama mertuanya. Hingga akhirnya mobil mereka berbalik memasuki area perusahaan.
Berdampingan dengan mama mertuanya yang masih cantik meskipun sudah tak muda lagi, Sheila dan mama Kalisha melangkah dengan anggun. Kedua wanita beda usia itu menarik perhatian beberapa karyawan yang kebetulan berpapasan dengannya.
"Selamat pqgi bu ,,," Sapa salah satu karyawan dengan sedikit menundukkan kepalanya tanda hormat.
"Selamat pagi ,,," Balas Sheila dan mama Kalisha kompak.
Keduanya terus melangkah menuju lift khusus untuk tamu dan pemilik perusahaan. Setelah mereka menghilang dibalik kotak besi tersebut tak lama kemudian pintu lift kembali terbuka dan mereka telah berada di lantai teratas gedung perusahaan PT. Garda Utama. Seorang sekretaris menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang, bu ,,,"
"Bu Nia sudah datang ?" Tanya Sheila setelah tersenyum ramah sebagian balasan ucapan selamat datang sekretarisnya.
"Sudah bu ,,," Balas Wanti sang sekretaris.
Sheila kemudian masuk kedalam ruang kerjanya bersama dengan mama Kalisha. Wanita paruh baya itu berdecak kagum melihat interior ruang kerja menantunya. Didominasi dengan dinding warna putih bersih dengan furnitur dari bahan kayu jati tampak elegan dan berkelas. Mama Kalisha duduk dengan santai sambil membaca majalah yang ada dimeja tamu.
Kemana pun Sheila pergi, ia selalu menemani menantunya itu, ia tak ingin sesuatu terjadi pada ibu dan cucunya. Mama Kalisha saat ini bagaikan bayangan Sheila yang selalu bersama kemana-mana saat keluar rumah.
Tok
Tok
Tok
"Masuk !!" Teriak Sheila mempersilahkan orang tersebut masuk ke dalam ruangannya.
"Permisi bu, ada yang ibu perlukan ?" Tanya mbak Nia formal.
"Sudah berapa kali sih mbak, aku bilang,,, jangan memanggilku ibu saat tak ada orang lain. Aku juga gak setua itu dipanggil ibu." Kesal Sheila
__ADS_1
"Oh ya kenalkan mama mertuaku tersayang." Lanjut Sheila memperkenalkan mama Kalisha.
"Saya Nia, bu ,,," Mbak Nia menghampiri mama Kalisha seraya meraih tangan mama Kalisha kemudian mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.
Mama Kalisha tersenyum lebar menatap mbak Nia dengan tatapan yang sulit diartikan. Tanpa basa basi, mama Kalisha melakukan tugasnya sebagai seorang ibu dari seorang anak bujang.
"Nak Nia sudah punya suami atau kekasih ?" Pertanyaan mama Kalisha membuat Sheila menganga tak percaya.
"Belum bu, masih fokus karir dulu." Jawab mbak Nia apa adanya.
Nia bukanlah tipe gadis yang manja dan hanya akan tergantung pada pria yang kelak akan menjadi suaminya. Sebelum memikirkan pendamping hidup, ia lebih baik mengisi pundi-pundinya dengan rupiah agar jika saatnya tiba ia bisa memiliki usaha walaupun kecil-kecilan yang penting bisa menopang kehidupannya.
"Oh nya mbak Nia, nanti siang kita makan siang diluar. Kita gak ada jadwal kan setelah jam istirahat ?" Pertanyaan Sheila membuat senyuman mama Kalisha semakin lebar.
"Gak ada ,,, pak Abi meminta semua jadwal diatur sebelum jam istirahat agar Sheila gak kecapean." Mbak Nia kini merubah cara bicaranya. Ia tak ingin membuat wanita hamil itu kesal. Bisa panjang urusannya.
"Ok. Hanya itu yang ingin aku sampaikan."
"Kalau gitu aku kembali bekerja." Pamit mbak Nia pada keduanya.
Perlahan pintu tertutup dan suasana hening sejenak. Merasa jika Nia sudah tak ada lagi, mama Kalisha mulai membicarakan asisten menantunya itu. Mama Kalisha paling ahli dalam menilai seseorang walaupun interaksinya hanya sekejap. Mungkin seperti inilah naluri seorang ibu yang selalu ingin yang terbaik bagi anak-anaknya.
"Nia cantik dan baik, menantu idaman banget." Ucap mama Kalisha tersenyum penuh arti.
"Mama mau menikahkan mas Abi sama mbak Nia ?!" Mata Sheila kini mengeluarkan caranya bening.
Dasar wanita hamil, yang bawaannya sensitif. Perkataan mama Kalisha benar-benar membuatnya sakit hati. Kenapa saat dirinya hamil mama mertuanya berpikiran untuk menikahkan lagi putranya. Apa ia hanya dijadikan sebagai alat untuk melahirkan keturunannya ? Sedangkan untuk kesenangan putranya, mama Kalisha ingin menikahkan Abimana dengan wanita lain.
Melihat menantu kesayangannya menangis, mama Kalisha panik dan segera menelepon Abimana.
"Halo ma, aku lagi sibuk."
"Tinggalkan pekerjaanmu, cepat ke kantor Sheila gak pake lama !!" Perintah mama Kalisha panik dan langsung mematikan panggilannya.
Mendengar suara panik sang mama, Abimana menarik tangan asistennya agar mengikutinya. Walaupun bingung dengan kelakuan sahabatnya, Shandy mengikuti Abimana tanpa banyak bicara.
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷🌷