Menggapai Rasa Yang Tersisa

Menggapai Rasa Yang Tersisa
BAB ~ 26. MEETING


__ADS_3

Pagi hari seperti biasa Sheila buru-buru pulang karena akan ke kantor apalagi jam 09.00 pagi ia akan melakukan meeting dengan CEO perusahaan asing yang sedang mengembangkan perusahaannya di tanah air. Kali ini ia tak kaget lagi melihat Abimana yang tertidur pulas diatas tempat tidur miliknya, toh ia selalu shift malam. Anggaplah pria itu tak memiliki rumah.


Abimana tersenyum melihat Sheila yang begitu datang langsung masuk ke dalam kamar mandi tanpa mengusiknya.


‘Sepertinya gadis itu sudah mulai terbiasa dan menerimaku.’ Batin Abimana percaya diri.


Padahal setelah shalat subuh Abimana sengaja tidak tidur karena tak ingin kembali dikagetkan seperti kemarin saat Sheila melihatnya. Abimana duduk sambil memperhatikan ponselnya. Membaca email yang dikirim oleh sekretarisnya.


Gemericik air di dalam kamar mandi berhenti. Tak lama kemudian Sheila keluar dengan pakaian lengkap. Tanpa memperdulikan Abimana yang memperhatikan gerak geriknya, ia langsung menuju meja rias. Sheila lalu mengaplikasikan beberapa jenis benda yang ada diatas meja riasnya.


“Tumben dandannya lama, Yang ,,,” Tanya Abimana sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Ia pun tak ingin terlambat ke kantor. Ada beberapa hal yang harus ia selesaikan.


“Manatau CEO perusahaan Bhi_Lha jatuh cinta padaku ,,,”Balas Sheila terus mempercantik diri.


Abimana hanya tersenyum tipis menanggapi kata-kata sang istri. Ia lalu menutup pintu kamar mandi secara perlahan. Sheila pun memilih dan menyiapkan baju kerja yang akan dipakai Abimana. Sheila tak memiliki maksud tersembunyi saat menyiapkan baju kerja pria tersebut. Hanya saja ia tak kuasa mendengar pertanyaan ibu ratu yang selalu mengingatkannya agar menyiapkan baju kerja untuk pria itu.


Pagi ini Sheila tak ikut sarapan bersama. Ia tak ingin terlambat dan memberi kesan buruk pada CEO perusahaan asing tersebut. Sheila hanya berpamitan pada kedua orang tuanya.


“Maaf pa, ma ,,, aku buru-buru.” Ucap Sheila seraya menyalami dan mencium punggung tangan papa dan mamanya.


“Tiba di kantor suruh Nia siapkan sarapan, kalau kamu sakit siapa yang ngurus perusahaan. “


“Oh ya ma, pa ,,, dua hari lagi Alisha dan suaminya pulang, tolong beritahukan pria yang sudah mengambil alih kamarku agar segera pulang ke rumahnya.” Ucap Sheila lalu membalikkan badannya melanjutkan langkahnya menuju mobil yang telah disiapkan oleh pak Usman sopir pribadi papanya.


Tak lama berselang, Abimana pun turun dan bergabung dengan mama dan papa mertuanya untuk sarapan. Abimana tampak santai menikmati sarapannya hingga tuntas. Setelah itu ia lalu berpamitan pada mertua yang sangat menyayanginya. Dalam beberapa hari terakhir ini Abimana tinggal dirumah mereka namun tak sekalipun sahabat papanya itu memperlihatkan rasa kesalnya sebaliknya yang ia rasakan hanyalah kehangatan sebuah keluarga. Walaupun putrinya selalu menatapnya sinis.


“Pa, ma ,,, aku berangkat dulu.” Pamit Abi menyalami dan mencium punggung tangan mereka secara bergantian.


Meskipun hidup sekian lama diluar negeri namun adat dan kebiasaan yang menjadi ciri khas orang Indonesia tak pernah Abimana lupakan.


“Semoga sukses nak ,,,” Ucap Shehzad tersenyum hangat.


“Insya Allah, pa ,,,” Balas Abimana sebelum akhirnya keluar rumah.


Sebelum menjalankan mobilnya Abimana menelepon Shandy sang asisten yang terkadang lebih bos darinya. Abimana melajukan mobilnya membelah jalan raya menuju perusahaan.

__ADS_1


Drrrrttttt drrrrttttt


“Halo, kemana aja sih ,,, kami menunggu sampai kering di sini ,,,” Omel Shandy diujung telepon tanpa basa basi.


“Kalian jalan aja, kita bertemu di perusahaan mereka. Jangan lupa bawa semua berkas yang di perlukan.” Perintah Abimana dengan gaya bossynya.


Dengan perasaan dongkol Shandy langsung mematikan panggilan sepihak. Bukannya marah, Abimana malah tertawa membayangkan ekspresi wajah asisten sekaligus sahabatnya. Shandy adalah teman seperjuangannya membangun perusahaan hingga seperti sekarang ini.


Seolah berburu dengan jarum jam yang terus berputar, Shandy melarikan mobilnya dengan kecepatan sedikit diatas rata-rata membuat gadis cantik disampingnya ketakutan.


“Jangan khawatir, kamu gak akan mati muda, Rumi ,,,” Ucap Shandy terus melarikan mobilnya.


Meeting kali ini sangat penting bagi perusahaan. Beberapa hari yang lalu sekretaris perusahaan tersebut meneleponnya dan menekanankan agar on time. Bos mereka sangat tepat waktu dan sangat menghargai waktu.


Baru saja Shandy memarkir mobilnya, Abimana pun tiba dan memarkir mobilnya asal. Benar-benar cari masalah, pria itu memarkir mobilnya seolah sedang berada di perusahaan sendiri. Secara beriringan ketiganya masuk dan Arumi pun menghampiri meja resepsionis.


“Selamat pagi, mbak ,,,” Sapa Arumi sopan.


“Pagi mbak ,,, ada yang bisa saya bantu ?” Tanya resepsionis tak kalah sopan.


“Kami ada janji dengan direktur perusahaan. “


Resepsionis bername tag Amanda lalu menghubungi sekretaris direkturnya. Kemudian gadis itu mempersilahkan Arumi menuju lantai empat karena disanalah ruang meeting perusahaan berada. Abimana, Shandy dan Arumi berjalan menuju lift diantar oleh resepsionis tersebut.


“Silahkan pak ,,,” Amanda mempersilahkan mereka masuk.


Tak ada yang bersuara dalam lift. Shandy dan Abimana masing-masing sibuk dengan ponselnya sedangkan Arumi hanya diam menatap angka yang menunjukkan setiap lantai yang dilewati oleh kotak besi tersebut.


Ting


Pintu lift terbuka dan ketiganya pun keluar. Selanjutnya Amanda kembali menekan angka satu agar ia bisa kembali ke tempatnya. Ketiganya disambut oleh Nia.


“Silahkan pak, mbak ,,, sebentar lagi ibu direktur datang.” Sekretaris Nia berjalan lebih dulu kemudian membuka ruang meeting.


Dengan lincahnya, Sekretaris Nia mempersiapkan segala keperluan rapat. Bahkan minuman serta cemilan sudah ia siapkan. Dari luar ruangan terdengar langkah kaki yang semakin mendekati ruangan. Ketiga tamu perusahaan kompak menoleh ke arah pintu. Abimana memasang senyuman manisnya.

__ADS_1


Saking seriusnya Sheila berbicara dengan asistennya, ia sama sekali tak menyadari jika CEO yang akan meeting bersamanya adalah suaminya sendiri.


“Lho, dokter cantik ?!” Mata Shandy berbinar sekaligus melotot sempurna melihat keberadaan dokter yang pernah menolongnya.


Sheila pun menghentikan obrolannya dan mengalihkan pandangannya pada suara yang mengenalinya. Tubuh Sheila seketika membeku melihat pria yang telah mengubah jalan hidupnya berdiri dengan tenang di samping pria tampan yang menyapanya.


“Selamat pagi, silahkan duduk.” Ucap Sheila setelah berhasil menguasai perasaannya.


“Ntar dulu. Kok bisa sih dokter cantik jadi direktur perusahaan sebesar ini. Ternyata dunia benar-benar sempit dan kita bertemu lagi .” Ucap Shandy bersemangat.


Shandy tak dapat melupakan Sheila yang menolongnya saat mengalami kecelakaan tunggal ditengah malam buta. Dokter cantik itu terus menemaninya hingga tersadar dan dipindahkan ke ruang perawatan. Saat ini kedua orang tua dan adiknya sedang berlibur keluar negeri, entah mengapa saat itu ponsel orang tua dan adiknya tak bisa dihubungi. Shandy tak bisa melupakan kebaikan dokter cantik itu.


“Tanya jawabnya nanti aja, meeting ini lebih penting.” Balas Sheila tersenyum ramah pada Shandy.


Merawat Shandy selama dua hari membuat Sheila akrab dengan pria kocak itu. Mulut bawelnya selalu mengomentari apapun yang dilihatnya bahkan dalam keadaan sakit sekalipun. Abimana merasa terpanggang melihat senyum Sheila pada Shandy dan sapaan asistennya itu pada istrinya.


“Sebelum kami memulai persentasi, sebaiknya kita berkenalan mengingat saat itu pak Shehzad yang menyetujui dan menandatangani kerjasama kedua perusahaan “ Ucap Abimana dan langsung disetujui oleh om Roy.


“Betul sekali, agar ke depannya pimpinan kedua perusahaan bisa lebih akrab “ Timpal om Roy.


Tak ingin memperlihatkan kekesalannya, Sheila pun menyambutnya dengan antusias dan memberikan senyuman palsu pada semua orang.


“Perkenalkan CEO PT. Bhi_Lha yang akan membuka cabang di tanah air.” Ucap Shandy memperkenalkan Abimana.


“Sheila ,,,”


“Abimana ,,,” Balas Abimana menyambut hangat ukuran tangan istrinya. Sheila kemudian menjabat tangan mereka satu persatu.


Acara perkenalan yang tak penting pun selesai. Rapat kembali dilanjutkan. Dengan lancar sekretaris Abimana berusaha meyakinkan pihak Sheila untuk meneruskan kerjasama yang sebelumnya telah disetujui oleh direktur terdahulu.


“Beri kami waktu untuk mempelajari lebih lanjut.” Ucap Sheila datar.


🌷🌷🌷🌷🌷


Ayo mana yang minta dua bab ,,,

__ADS_1


Jangan lupakan dukungannya (vote, kopi, bunga, like)


Terima kasih sebelumnya.


__ADS_2