Menggapai Rasa Yang Tersisa

Menggapai Rasa Yang Tersisa
BAB ~ 63. WELCOME TO THE WORLD


__ADS_3

Hari yang ditunggu-tunggu oleh semua anggota keluarga pun tiba. Sejak tengah malam perut Sheila mulai kontraksi namun ia tak membangunkan Abimana. Kebiasaan pria itu setiap kali selesai membajak sawah selalu tertidur pulas. Konsultasi terakhir mereka pada dokter Desi dan beliau menyarankan agar Abimana rajin-rajin menengok bayinya agar segera terjadi kontraksi.


Dan benar saja, seminggu terakhir Abimana tak pernah absen menengok sang jabang bayi dan hasilnya kini sang istri mulai kontraksi. Keringat dingin menahan sakit mulai membasahi baju wanita hamil itu. Walaupun Sheila bukan dokter kandungan namun ia memiliki sedikit pengetahuan tentang tanda-tanda kelahiran.


Perlahan ia turun dari tempat tidur dan mulai berjalan kesana kemari. sambil mengatur napas. Kontraksinya seketika hilang dan detik berikutnya kembali terasa sakit. Hingga terdengar adzan subuh membangunkan umat muslim, Sheila buru-buru masuk ke dalam kamar mandi dan mandi junub. Kontraksinya semakin sering. Ia segera membangunkan Abimana.


"Mas ,,, bangun, perutku sudah kontraksi." Sheila terus menggoyang-goyangkan tubuh Abimana.


Merasa badannya bergoyang dan suara Sheila yang seperti sedang menahan rasa sakit membuat Abimana tersadar. Ia langsung bangun dan menatap sang istri.


"Sudah kontraksi, Yang ? Masih bisa kan kalau mas mandi dulu ?"


"Gak usah banyak tanya mas, cepetan mandi dan bawa aku ke rumah sakit !" Perintah Sheila tak sabaran.


Secepat kilat Abimana berlari ke dalam kamar mandi dan mandi junub seperti halnya sang istri. Tak lama kemudian pria itu keluar dengan wajah segar dan buru-buru memakai bajunya, ia tak ingin sang istri terlambat mendapatkan pertolongan. Abimana langsung menggendong sang istri.


"Lho, Sheila kenapa nak Abi ?!" Tanya mama Rani yang kebetulan baru saja keluar dari kamarnya.


"Sepertinya sudah mau lahiran, ma ,,," Jawab Abimana terus berjalan dengan cepat menuju pintu utama.


Mendengar ucapan menantunya, Rani membalikkan badannya kembali ke kamarnya untuk membangunkan suaminya, setelah itu ia kembali ke,ujar dan menggedor-gedor pintu kamar besannya.


"Ada apa ?!" Tanya mama Kalisha membuka sedikit pintu kamarnya.


"Sheila sudah kontraksi."


"Apa ?! Cepat ambil kopernya ?!" Teriak mama Kalisha heboh.


Teriakan heboh mama Kalisha membuat papa Kuncoro bangun terduduk. Untung ia tak memiliki riwayat penyakit jantung.

__ADS_1


"Pa, cepetan ganti baju. Cucu kita akan segera lahir. " Ucap mama Kalisha heboh sambil mengganti baju tidurnya.


Hal yang sama dilakukan oleh papa Kuncoro. Tak sampai lima menit pasangan yang selalu mesra diusianya yang sudah tak muda lagi itu akhirnya selesai. Mereka keluar kamar secepat yang mereka bisa.


Terlihat mobil Abimana meninggalkan halaman rumah diikuti mobil Shehzad. Untung masih ada beberapa mobil yang terparkir sehingga papa Kuncoro dan mama Kalisha bisa menyusul mereka.


Jalanan masih lengang sehingga Abimana bisa menyetir dengan sedikit diatas rata-rata. Pria itu tak tega melihat istrinya kesakitan. Hingga akhirnya mereka tiba dilobby rumah sakit. Abimana mematikan mesin mobilnya dan bergegas keluar lalu berlari mengatasi mobil kemudian kembali menggendong sang istri.


"Suster ,,, tolong telepon dokter Desi, istriku akan segera melahirkan." Ucap Abimana sambil terus berjalan dengan cepat menuju kamar bersalin.


"Dokter Desi sudah ada kok, pak. Sejak kemarin pasien beliau selalu partus pagi-pagi." Suster tersebut membuka pintu kamar bersalin.


Melihat kedatangan Abimana, dokter Desi tersenyum ramah dan segera memakai sarung tangannya.


"Silahkan menunggu diluar pak ,,," Ucap dokter Desi masih dengan senyumnya yang ramah dan secerah mentari pagi.


Tak terlihat kelelahan diwajah dokter tersebut. Pantas saja jika rumah sakit Medical Care terkenal selain dengan fasilitasnya yang lengkap ternyata juga pelayanannya yang prima.


"Bagaimana Sheila dan bayinya ?!" Kompak pasangan papa Shehzad dan mama Rani.


"Menantu kami baik-baik aja, kan ?!" Kali ini mama Kalisha dan papa Kuncoro pun tak kalah kompaknya bertanya.


"Baru juga nyampe, ma ,,, dokter Desi sedang memeriksanya." Jawab Abimana mondar mandir di depan pintu.


Ingin rasanya Abimana menerobos masuk ke dalam ruangan dimana istrinya sedang berjuang melahirkan bayinya namun ia tak ingin mengganggu dokter yang sedang membantu istri tercintanya. Tak henti-hentinya Abimana berdoa dalam hati agar bayi mereka segera keluar dan agar rasa sakit sang istri segera menghilang.


"Ma, kok gak caesar aja sih, Abi gak bisa bayangkan sakit yang dirasakan Sheila." Ucap Abimana khawatir karena sudah lima belas menit namun belum terdengar suara bayi menangis.


"Wanita sempurna itu adalah wanita yang melahirkan secara normal. Meskipun operasi caesar juga akan ada rasa sakitnya namun sensasinya berbeda." Balas mama Kalisha sedikit kesal.

__ADS_1


"Benar nak Abi, jika bisa melahirkan secara normal kenapa harus cara lain. Toh Sheila juga menginginkan persalinan normal. Jangan khawatir Sheila wanita yang kuat." Timpal mama Rani menenangkan sang menantu.


"Tapi kan longgar ma kalau sudah melahirkan. Bayangin aja lubang kecil dilewati oleh bayi ,,," Kali ini Alisha yang bersuara dan langsung diplomatik oleh kedua wanita paruh baya. Sedangkan dua pria paruh baya lainnya hanya busa menahan senyum.


Berbeda halnya dengan Abimana yang sepertinya sedikit terganggu dengan ucapan adik iparnya.


Oek oek oek


Terdengar suara nyaring seorang bayi menangis. Abimana dan yang lainnya kompak berdiri di depan pintu yang masih tertutup rapat. Tak lama kemudian dokter Desi keluar dengan wajah dihiasi senyuman.


"Selamat ya pak Abi ,,, dokter Sheila berhasil melahirkan dengan selamat seorang putra yang sehat dan tampan. Silahkan pak Abi mengadzani putranya." Ucap dokter Desi sebelum meninggalkan mereka.


Tanpa membuang-buang waktu Abimana melesat masuk menemui istri dan banyak boy. Melihat suster sudah membersihkan bayi mungil itu, ia segera meminta pada suster agar bisa menggendongnya. Selanjutnya Abimana mengadzani telinga sang baby boy. Setelah itu ia menghampiri sang istri yang masih terbaring lemah dan sedang dibersihkan oleh suster.


"Terima kasih Yang ,,, sudah berjuang melahirkan anak kita." Ucap Abimana menc**mi seluruh wajah istrinya.


Seolah hanya ada mereka berdua di dalam ruangan itu, Abimana terus mengekspresikan rasa bahagianya. Hingga suster menyelesaikan pekerjaannya.


"Maaf pak, kami akan memindahkan dokter Sheila ke ruang perawatan." Ucap suster bersiap memindahkan Sheila pada kursi roda.


Abimana langsung mengangkat Sheila memindahkannya ke kursi roda lalu mendorongnya sendiri. Suster tersebut hanya bisa saling memandang melihat tingkah Abimana. Seorang suster menggendong baby boy dan seorang lagi berjalan lebih dulu membuka pintu ruang persalinan agar Abimana dan Sheila bisa lewat.


Saat mereka telah keluar, para orang tua menyambut dengan bahagia. Bahkan mama Kalisha meminta agar ia menggendong cucunya.


"Suster, biarkan saya yang menggendong cucuku." Pinta mama Kalisha dengan wajah memelas.


Wanita paruh baya itu tak sabaran ingin merasakan menggendong cucu yang telah ia tunggu sejak lama. Proses keberadaan sang baby boy sangat panjang dan berliku. Penuh perjuangan dan intrik.


"Welcome to the Word baby boy ,,," Alisha menyelesaikan pipi halus kemerahan ponakannya.

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2