
Saat jam makan siang, Abimana dibuat kelimpungan oleh karena ponsel Sheila tak dapat dihubungi. Untuk pertama kalinya sejak kelahiran Arsheno, Abimana tak menemani Sheila meetimg dengan kliennya karena pekerjaannya sendiri pun menumpuk. Beribu kata seandainya pun meluncur bebas dari bibir seorang Abimana.
Sementara yang dicari kini sedang berbicara serius dengan dokter Desi. Sheila membawa hasil pemeriksaan laboratorium beserta foto rontgennya bulan lalu.
"Sebaiknya kehamilannya jangan dilanjutkan dokter Sheila ,,, ini sangat berbahaya. Berobat dulu hingga sembuh setelah itu dokter bisa program kehamilan berikutnya."
"Usia kandunganku sudah berusia tiga bukan, dok ,,, insya allah aku bisa melahirkan anak ini. Asalkan dokter Desi berjanji merahasiakqn penyakit ini maka semua aman terkendali." Pinta Sheila dengan wajah memelas.
Bagaikan makan buah simalakama, dokter Desi bingung harus berkata apa. Ia sangat menyayangi Sheila dan tak ingin memaksa agar Sheila menggugurkan bayi dalam kandungannya namun disisi lain, nyawa wanita muda itu terancam jika kehamilannya diteruskan.
Dokter Desi masih menatap foto dan hasil pemeriksaan laboratorium yang berada ditangannya. Ia tak menyangka penyebaran kankernya sedemikian hebatnya. Padahal setahun yqng lalu satu melahirkan anak pertamanya, wanita cantik itu masih sehat.
"Dok, tolong aku ,,, nanti saat kami datang tolong periksa aku saja seperti ibu hamil yang lain." Sheila memohon dengan mata berkaca-kaca.
Ia ingin melahirkan anak keduanya agar Arsheno tidak kesepian dikemudian hari. Arsheno harus tumbuh dengan baik bersama adiknya kelak walaupun kemungkinan besar tanpa dirinya sebagai seorang ibu.
"Baiklah, tapi dokter Sheila harus berjanji tetap berobat dan bersemangat melawan penyakitnya." Ucap dokter Desi pada akhirnya.
Entah benar atau tidak anggapan sebagian orang bahwa melawan penyakit kanker selain berobat pun semangat hidup dan optimis sangat diperlukan. Walaupun keakuratannya belum terbukti namun sebagai manusia, yang sehat pun memerlukan hal itu.
"Terima kasih, dok ,,, aku berjanji." Balas Sheila meneteskan airmatanya.
Kedua dokter beda generasi itu kemudian saling berpelukan sebelum Sheila berpamitan. Pelukan dokter Desi kali ini sangat erat seolah tak ingin melepaskan Sheila. Dokter Desi tahu jika pengobatan yang akan dilakukan Sheila tidak mungkin bisa maksimal karena ada janin di dalam perutnya. Makan obat pun kemungkinan besar tidak dilakukan Sheila agar tidak mempengaruhi tumbuh kembangnya janin dalam kandungannya.
"Hati-hati dokter Sheila, jangan terlalu capek."
"Makasih dokter ,,, sampai ketemu lagi. Assalamualaikum." Balas Sheila tersenyum manis.
Waalaikumsalam ,,," Dokter Desi membalas salam Sheila dengan airmata yang tak dapat ia bendung.
Dengan langkah ringan Sheila melangkahkan kakinya menjauhi ruang praktek dokter Desi. Ia berjanji akan melakukan semua hal yang dianggap perlu untuk mempersiapkan kelahiran putranya. Dan membahagiakan semua orang.
__ADS_1
Sebagai seorang dokter, Sheila tahu kankernya yang kini telah menyebar kemana-mana hanya bisa berharap keajaiban dari Sang Pencipta dan hanya berharap semoga tak mempengaruhi janin dalam perutnya. Kanker hati yang di deritanya membuatnya nekat mempertahankan kandungannya setidaknya hingga empat bulan ke depan dimana bayinya berusia tujuh bulan dan siap dilahirkan walaupun harus lahir prematur.
Setelah mobilnya jauh dari rumah sakit, Sheila kembali mengaktifkan ponselnya. Ia yakin saat ini Abimana pasti mencarinya. Dan benar saja saat ini notifikasi pada layar ponselnya tertera panggilan tak terjawab di whattshap dari Abimana hingga ratusan kali. Sheila hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Jangan terlalu bucin, kamu harus terbiasa tanpaku." Gumam Sheila meneteskan airmatanya.
Sheila terus melajukan mobilnya menuju kantor Abimana agar pria itu bisa tenang dan tak uring-uringan. Kebiasaan Abimana saat ia mengabaikan pria itu membuatnya meringis. Sheila tak ingin membayangkan saat akhirnya ia harus pergi.
Perlahan mobil yang dikemudikan oleh Sheila memasuki area perusahaan PT. Bhi_Lha dan langsung memarkirnya disamping mobil sang suami. Dengan langkah cepat, Sheila memasuki lobby perusahaan dan menuju lift yang selalu ia gunakan sambil membalas sapaan beberapa karyawan yang berpapasan dengannya.
Ting
Lift berhenti dan pintu liftnya pun terbuka. Sheila bergegas menuju ruang kerja Abimana dan menyiapkan diri untuk menghadapi pria yang menjadi belahan jiwanya.
"Assalamualaikum ,,,," Sapa Sheila tersenyum manis.
"Waalaikumsalam kakak ipar ,,," Balas Shandy sumringah.
'Dasar pria !' Batin Shandy mengumpat sahabatnya.
"Jangan mengumpatku !!" Sarkas Abimana tiba-tiba.
"Siapa yang mengumpat ?!" Tanya Sheila dengan wajah bingung.
Wajar saja jika Sheila bingung bin heran karena sejak ia memberi salam dan masuk, tak ada yang bersuara selain Shandy dan itupun hanya membalas salamnya saja.
"Siapa lagi kalau bukan pria tak ada akhlak itu." Abimana menatap tajam asisten sekaligus adik iparnya.
"Sudahlah, kalian gak usah berdebat. Kalian sudah makan belum ?" Sheila menengahi keduanya agar tak memperpanjang masalah umpat dan mengumpat.
Sheila tak ingin mendengar perdebatan. Saat ini ia hanya ingin melewati hari-harinya dengan bahagia bersama orang-orang yang ia sayangi.
__ADS_1
"Aku gak bisa makan tanpamu, Yang ,,," Ucap Abimana apa adanya.
"Gak boleh seperti itu, mas ,,," Balas Sheila menahan perih dalam hatinya. Ia berusaha mati-matian menahan airmatanya agar tak menetes dan membuat suaminya curiga.
"Aku keluar pesan makanan, sementara itu kalian berdua silahkan melepas kangen. Tadi ingat jangan berisik karena aku hanya berada di depan meja sekretaris." Ucap Shandy keluar ruangan.
Abimana berdiri dari kursinya dan mendekati sang istri. Entah mengapa akhir-akhir ini ia ingin selalu memeluk sang istri bahkan jika memungkinkan setiap saat Abimana ingin lakukan hal itu.
"Mas, aku hanya meeting, jangan memelukku seerat ini dong. Aku gak bisa napas nih."
"Maaf Yang, aku hanya takut jika tak melihatmu." Balas Abimana apa adanya.
"Aku hamil mas." Ucap Sheila dan berhasil membuat Abimana tersenyum bahagia.
Sheila sengaja memberitahukan kehamilannya agar bisa mencegah Abimana mengajaknya menemui dokter Desi. Sheila tak ingin membuat Abimana menaruh curiga saat mereka bertemu dengan dokter Desi. Ia ingin mencegah sebisa mungkin agar tak bertemu dengan dokter Desi. Saat ini hanya dokter Desi dan dokter Afnan yang tahu penyakitnya. Dokter Afnan adalah dokter yang terakhir memeriksanya dan menyarankannya agar melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Dan beliau pulalah yang menganalisa dan menemukan penyakitnya.
"Kamu gak bercanda kan, Yang ?" Tanya Abimana dengan kedua tangannya membingkai wajah cantik sang istri.
Pria itu tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya mendengar kabar yang sangat membahagiakan itu. Bahkan saking bahagianya ia tak memperhatikan mata bening sang istri yang sedikit berair.
Sheila buru-buru memeluk sang suami dan menenggelamkan wajahnya agar airmatanya tak meluncur bebas.
"Terima kasih Yang, untuk kabar bahagia ini."
Sheila hanya menganggukkan kepalanya. Ia tak berani bersuara agar tak terdengar aneh ditelinga sang suami. Dengan gerakan halus, Sheila menghapus airmatanya dan mengurai pelukannya.
"Mas, bisa kan menangani perusahaanku ? Aku ingin istirahat sementara waktu, kehamilanku kali ini rasanya melelahkan dan aku bisa mencurahkan kasih sayang seorang ibu sepenuhnya pada Arsheno agar pria kecil itu nantinya tak cemburu saat adiknya lahir." Ucap Sheila masuk akal.
"Kita bahas dengan papa Shehzad aja, ya ? Biarkan beliau yang memutuskan. Toh Shandy juga mampu memimpin perusahaan. Aku dan Shandy memiliki kedudukan yang sama dalam keluargamu maka dari itu biarkan papa Shehzad yang memutuskan." Balas Abimana bijak.
🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1