Menggapai Rasa Yang Tersisa

Menggapai Rasa Yang Tersisa
BAB ~ 58. MASIH DERITA ABIMANA


__ADS_3

Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Mama Kalisha dengan hebohnya masuk kedalam rumah mencari menantu kesayangannya. Rumah besan sama saja dengan rumah miliknya sendiri.


"Sheilaaa ! Kamu dimana sayang ,,," Teriak mama Kalisha memenuhi ruang tamu keluarga Shehzad.


Mama Kalisha memang tahu jika selama masa kehamilan, menantunya itu kembali ke rumah orang tuanya. Wanita hamil membutuhkan perhatian dan perawatan yang ekstra apalagi pada kehamilan pertama. Inilah enaknya jika berkesan dengan sahabat sendiri.


"Mama ??!!" Sheila langsung berdiri menyambut mama mertuanya.


"Sayang ,,, gimana kabar cucuku ?" Mama Kalisha mengusap lembut perut Sheila yang sedikit membuncit dari biasanya.


Mendengar suara ribut-ribut, mama Rani keluar dari kamarnya demikian pula Shehzad pun keluar dari ruang kerjanya. Mereka menyambut besan sekaligus sahabatnya.


"Alhamdulillah ma, dia sehat kok. Hanya saja aku gak busa dekat-dekat dengan mas Abi." Jujur Sheila meringis.


Sebagai seorang istri, Sheila merasa iba setiap kali Abimana ingin mendekatinya namun terlihat ragu. Jadilah pria itu hanya menatapnya dari jauh.


"Hahaha ,,, gak masalah sayang. Mungkin bayimu memang gak suka dengan papanya." Balas mama Kalisha asal seraya tertawa membayangkan wajah putranya.


Mama Kalisha sangat mengenal putranya yang bucin parah pada istrinya. Dan tak bisa jauh dari menantunya tapi kini keadaan berbalik. Mama Kalisha membayangkan wajah frustasi putranya masih dengan tawanya.


"Eh, sudah datang ? Kok gak ngabarin kan busa dijemput." Mama Rani memeluk hangat mama Kalisha.


"Alaaahhh, gak usah dijemput segala, merepotkan saja." Balas Mama Kalisha mengurai pelukannya.


"Kuncoro gak ikut ?" Timpal Shehzad menanyakan sahabatnya.


"Nanti aja nyusul, toh bentar lagi juga dia bebas tugas."


"Bener, sudah waktunya pria itu menikmati masa tuanya apalagi beberapa bulan ke depan cucunya sudah lahir."


Mama Rani ke dapur meminta ART menyiapkan minuman dan cemilan untuk besannya yang baru saja tiba. Tak lama kemudian mama Rani keluar dengan ART yang membawa nampan yang berisi minuman dan cemilan.


Mereka larut dalam pembicaraan seputar kehamilan hingga waktu terus bergeser tanpa mereka sadari. Seperti biasa Abimana pulang untuk makan siang, sejak kehamilan Sheila ia tak pernah lagi makan siang diluar karena sang istri sedang istirahat beberapa minggu.


"Assalamualaikum ,,," Terdengar suara Abimana memberi salam.

__ADS_1


"Waalaikumsalam ,,," Kompak penghuni rumah membalas salam pria yangbterus berjalan memasuki rumah utama.


"Mama ?! Kok gak bilang-bilang, kan Abi bisa jemput mama." Abimana menyalami mamanya kemudian memeluknya.


Wanita yang sangat bersejarah dalam hidupnya dan selalu memberinya kasih sayang yang melimpah walaupun terkadang membuatnya kesal.


"Ck, mama belum setua itu untuk selalu diantar jemput." Balas mama Kalisha menatap datar putranya.


Abimana duduk disisi kiri papa mertuanya, posisi teraman untuknya agar tak diusir oleh sang istri. Sheila akan muntah jika posisi mereka sangat dekat dan wangi parfum Abimana terdiam olehnya.


"Shandy gak ikut mas ?" Tanya Sheila tiba-tiba.


Abimana mendelik tajam mendengar sang istri justru menanyakan pria lain. Bukan tanpa sebab Abimana seperti itu, ia tahu jika dulu Shandy menaruh hati pada istrinya.


"Biasanya kan memang Shandy di kantor, Yang." Balas Abimana menekan kekesalannya.


"Telepon dong, aku kok tiba-tiba pingin lihat wajahnya." Pinta Sheila dengan wajah tak berdosa.


Abimana mendengus mendengar permintaan Sheila yang terdengar aneh ditelinganya. Suami di depan mata tapi malah menginginkan pria lain. Siapa yang tak kesal.


Mama Kalisha tak ingin kelak jika cucunya lahir kedunia ini selalu ileran karena keinginannya saat dalam kandungan tak dipenuhi. Alangkah memalukannya jika cucu seorang mantan duta besar ileran. Memikirkannya saja mama Kalisha bergidik ngeri.


Dengan berat hati Abimana menghubungi asisten tampannya itu. Shandy memang memiliki paras yang tampan dan impian setiap wanita.


"Halo ,,, cepat ke rumah sekarang !" Perintah Abimana ketika panggilannya tersambung.


Belum hilang kebingungan Shandy, panggilan kembali dimatikan sepihak oleh bos lucnutnya. Menghindari amukan sang bos, Shandy segera melesat ke rumah keluarga Sheila. Sepanjang perjalanan, Shandy terus memikirkan panggilan sahabatnya. Sejak Sheila hamil bos sekaligus sahabatnya itu setiap hari uring-uringan. Shandy hanya menerimanya dengan pasrah sembari berdoa agar semuanya berakhir dan keadaan bosnya kembali seperti dulu.


Mobil yang dikendarai oleh Shandy perlahan memasuki pintu gerbang rumah mewah itu. Dengan hanya memarkirkan mobilnya asal, Shandy bergegas keluar dari mobil dan masuk kedalam rumah utama.


"Bos ,,, aku datang !" Setengah berteriak Shandy terus berjalan memasuki rumah tersebut.


Bagi Shandy rumah keluarga Sheisudsh seperti rumahnya sendiri karena seringnya ia berkunjung ke rumah tersebut. Dan kedua raja serta ratu rumah itu pun sudah mengenalnya dengan baik.


"Shandy ?! Boleh kan aku memelukmu ?!" Tanya Sheila yang berdiri menyambutnya.

__ADS_1


Abimana terlihat syok mendengar permintaan sang istri. Untuk pertama kalinya ia mendengar wanita hamil itu meminta pelukan dari pria lain.


'Apq bener ini kemauan bayinya ? Atau jangan jangan hanya akal-akalan Sheila saja agar busa memeluk Shandy.' Batin Abimana menatap tak percaya kearah istrinya.


"Bolehntapi Shandy harus membelakang." Sarkas Abimana.


Ia tak bisa membayangkan jika Sheila memeluk Shandy sambil berhadapan seperti ketika ia dan Sheila berpelukan. Posisi berhadapan sangat rawan dan tak mungkin dilakukan maka bukan dengan pasangan. Shandy laki-laki normal dan pernah menaruh hati pada istrinya.


Mama Kalisha, mama Rani dan Shehzad tertawa terpingkal-pingkal mendengar ucapan Abimana. Sedangkan Shandy hanya menurut dengan wajah bingung. Mau tak mau Sheila menuruti keinginan suaminya, yang penting baginya bisa memeluk Shandy yang entah mengapa ingin sekali dilakukannya.


"Jangan lama-lama, Yang ,,," Ucap Abimana sendu.


Dua minggu terakhir ini ia sangat menderita akibat kehamilan sang istri. Sepertinya setelah kelahiran anaknya, Abimana akan berpikir beribu-ribu kali untuk membuat sang istri hamil lagi.


"Makasih Shandy ,,," Ujar Sheila dengan mata berbinar.


Bahagia rasanya bisa memeluk pria setempat dan sebaik Shandy. Semoga kelak anaknya bisa sebaik asisten suaminya itu.


"Telepon aja jika ingin meluk aku lagi, bu bos." Ledek Shandy melirik sahabatnya yang sedang menatapnya tajam.


"Ck, jangan berharap banyak ! Cukup satu kali ini saja. Gak ada kata lain kali !" Timpal Abimana tajam.


"Astaga cemburuan amat." Ledek mama Kalisha disambut derai tawa oleh mama Rani dan Shehzad.


"Lumayan tante, gak setiap hari bisa dapat pelukan dari wanita hamil. Cantik pula." Seloroh Shandy terkekeh.


Shandy sudah menganggap Sheila seperti saudaranya sendiri. Sejak mengetahui status wanita itu, rasa yang pernah ia miliki pun berubah. Perlahan Shandy menyadari jika rasa yang selama ini diyakini sebagai rasa cinta ternyata hanyalah rasa kagum saja.


Buggghhh


"Dasar sahabat tak berakhlak. " Abimana melemparkan bantal kursi dan mendarat dengan sempurna tepat diwajah Shandy.


Sheila hanya bisa tersenyum menatap dalam-dalam ke arah Abimana. Sheila ingin sekali memeluk erat sang suami namun ia harus menahannya agar perutnya tetap normal dan tak mengeluarkan makanannya.


🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2