Menggapai Rasa Yang Tersisa

Menggapai Rasa Yang Tersisa
BAB ~ 33. OMELAN SHEILA


__ADS_3

“Ada masalah dengan perusahaan kita, sayang ?” Tanya Shehzad lembut saat mereka telah berada di dalam ruang kerja.


Ruang kerja Shehzad bergabung dengan ruang kerja Sheila sehingga ruangan tersebut sangat luas. Sheila sengaja menyatukan ruang kerja mereka agar jika menemui kesulitan busa langsung bertanya pada sang papa yang pasti memiliki solusi.


“Bukan pa, tapi perusahaan pria ini. Lagian aku heran deh, kok bisa-bisanya merekrut pencuri dan menempatkan pada bagian keuangan pula. Aku orang baru di perusahaan tapi untuk menempatkan seseorang pada bagian yang akan menentukan nasib perusahaan pastilah aku akan memilih orang-orang yang bisa dipercaya atau untuk sementara pakai orang dari kantor pusat yang bisa dipercaya. Nah ini, laporan aja amburadul mana angka-angkanya juga gak masuk akal.” Omel Sheila panjang kali lebar.


“Sayang, pelan-pelan bicaranya. Dia suamimu lho. Kami gak pernah mengajarkan bicara seperti itu.”


“Gak apa-apa, pa. Santai saja.” Ucap Abimana maklum.


Abimana mengakui kesalahannya yang tak memikirkan kemungkinan seperti ini. Semua yang dikatakan oleh Sheila sepenuhnya benar.


“Makanya itu aku meminta bantuan, Yang ,,, terus terang aku gak paham masalah laporan keuangan. Di kantor pusat asistenku yang selalu memeriksa laporan. Shandy pun sebenarnya bisa tapi entah mengapa saat melihat laporan ini, dia hanya memdengus dan marah-marah gak jelas, katanya bingung melihat laporannya.” Terang Abimana apa adanya.


“Jelas saja pak Shandy gak ngerti.” Balas Sheila masih menyisakan kekesalannya.


“Kalau gitu, mulai besok kamu bantu nak Abi di perusahaannya. Soal perusahaan kita ada Roy yang bisa menanganinya sementara waktu.”


Bukan tanpa sebab Shehzad menyuruh Sheila membantu Abimana. Pria paruh baya itu melihat peluang untuk semakin mendekatkan mereka. Bukankah kebersamaan bisa memperbaiki sebuah hubungan ? Naluri Shehzad mengatakan jika putrinya belum sepenuhnya membuka hati untuk Abimana.


“Baiklah tapi aku gak mau para karyawan tahu identitasku.”


Walau bagaimanapun Sheila tak ingin perusahaan Abimana hancur hanya karena seorang pencuri kecil. Ia pun memikirkan kehidupannya kelak, melihat tak ada celah baginya untuk berpisah dengan pria yang sudah menikahinya.


“Ok. Semua bisa diatur. Nak Abi atur dengan bagian HRD supaya besok Sheila mulai bekerja di perusahaanmu.” Titah Shehzad tak ingin di bantah.


“Kalian lanjutkan saja, papa istirahat dulu. Kasihan mama pasti menunggu. Kalian juga jangan tidur kemalaman agar cepat memberikan kami cucu.” Lanjut Shehzad sebelum keluar dari ruang kerjanya.


Sheila tak menanggapi perkataan sang papa. Ia memilih untuk melanjutkan pekerjaannya sementara Abimana duduk tak jauh darinya. Pria itu menikmati momen kebersamaan mereka untuk pertama kalinya setelah pernikahan. Walaupun tak melakukan layaknya pasangan yang saling mencintai namun bagi Abimana berada dalam satu ruangan dan menatap wanitanya sudah cukup. Setidaknya untuk saat ini.

__ADS_1


Abimana melirik jam pada pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 21.05, tak etis jika ia menelepon bagian HRD malam-malam walaupun belum larut malam. Abimana hanya mengirimkan pesan agar keesokan harinya pak Rinto melaksanakan perintahnya.


“Yang, besok kamu langsung menghadap pak Rinto bagian HRD, aku sudah mengirimkan pesan.”


“Bagaimana dengan sekretarisnya ,,,” Tanya Sheila tanpa mengalihkan pandangannya pada kertas dihadapannya.


“Aku belum mendapatkan gantinya.” Jawab Abimana ragu-ragu.


“O ,,,” Balas Sheila cuek sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


Abimana melongo mendengar ucapan Sheila yang hanya satu huruf. Tak sesuai dengan ekspektasinya. Harapan Abimana, Sheila akan marah dan mencak-mencak layaknya istri yang keinginannya tak dipenuhi oleh sang suami. Sungguh ajaib gadis satu ini. Tak ada drama yang terjadi.


“Kamu gak marah, Yang ?”


“Ngapain harus marah, kan semua sudah jelas. Kakak lebih memilih mempertahankan sekretaris itu daripada aku.” Ucap Sheila apa adanya.


Tak ada nada kesal ataupun kemarahan yang terselip dari penuturan Sheila. Pria itu hanya bisa menyandarkan kepalanya pada bahu kursi.


Setelah tiba dikamar, Sheila bergegas masuk ke dalam kamar mandi mengikat gigi dan cuci muka sebelum tidur, walaupun beberapa jam yang mandi dan cuci muka namun begitulah kebiasaan yang tak bisa diubah. Abimana pun melakukan hal yang sama setelah Sheila keluar dari kamar mandi.


Untuk pertama kalinya sejak pernikahan mereka tidur bersama. Jangan ditanya bagaimana gugupnya Sheila harus tidur bersama seorang pria. Jika biasanya Sheila tidur dengan pakaian seadanya namun kini ia memilih aman dengan memakai pakaian lengkap dan celana panjang.


Sebelum Abimana keluar dari kamar mandi, Sheila sudah berbaring dan berusaha menggapai dunia mimpi. Rasa lelah yang tak tertahankan membuatnya segera berlayar ke pulau terindah tanpa batas. Tak lama kemudian Abimana pun selesai dengan urusan kamar mandi. Bergegas ia menyusul sang istri untuk mengistirahatkan tubuhnya.


Melihat sang istri tak ada pergerakan, Abimana memberikan ci**an selamat malam pada wanita cantik itu.


‘Wajahmu terlihat sangat damai, Yang ,,,’ Batin Abimana sebelum akhirnya menutup mata menyusul sang istri.


Alam bawah sadar mereka bekerja hingga saat terbangun posisi keduanya dalam keadaan berpelukan. Sheila yang merasakan kehangatan yang tak biasa serta merta membuka matanya sedangkan Abimana yang sejak tadi terbangun sengaja menutup mata dan berpura-pura terlelap. Secara perlahan Sheila melepaskan tangannya yang memeluk erat Abimana.

__ADS_1


“Huffftt ,,, untung pria menyebalkan ini masih tidur.” Gumam Sheila menarik napas lega.


“Hoaamm ,,, tapi pria menyebalkan ini mampu memberikanmu kehangatan.” Balas Abimana menarik tangan Sheila sehingga gadis itu kembali terjatuh dalam pelukannya.


Rasa kaget dan terkejutnya membuat gadis itu tak bisa berkutik apalagi posisinya kini dalam keadaan yang tidak menguntungkan. D***a mereka saling merapat, jantung keduanya berdetak seirama sehingga satu dengan yang lain seolah menyanyikan sebuah lagu.


“Lepaskan aku, kak ,,,” Ucap Sheila dengan suara bergetar.


“Mengapa wajahmu memerah gini, Yang ,,,” Abimana mengusap lembut wajah merona sang istri.


“Kita gak seharusnya seperti ini, kak ,,,” Sheila meminta sekuat tenaga hingga akhirnya terlepas.


Bukannya Abimana tak memiliki tenaga yang cukup untuk mempertahankan pelukannya. Abimana menguasai beberapa jenis bela diri dan tentu saja tenaganya cukup kuat. Pria itu takut tak bisa mengendalikan diri untuk tidak meminta haknya. Belum waktunya untuk melakukan hal itu. Ia tak ingin sang istri merasa terpaksa melakukan kewajibannya.


Setelah berhasil melepaskan diri, Sheila kemudian berlari ke dalam kamar mandi. Ia menatap dan menyentuh wajahnya yang masih memerah. Sheila merutuki jantungnya yang masih saja berdetak kencang.


“Baru pertama kali berbagi tempat tidur tapi kejadiannya sudah kayak gini, gimana kalau setiap hari? Ini gak boleh terjadi lagi.” Gumam Sheila tak ingin kecerobohannya terulang.


Tok, tok, tok


“Yang ,,, jangan lama-lama, kebelet nih.” Ketukan di pintu disertai teriakan Abimana menyadarkan Sheila.


Istri yang hanya sebatas status itu pun segera mengakhiri kegiatannya di dalam kamar mandi. Ia tak ingin ribut pagi-pagi hanya karena persoalan kamar mandi.


“Gak sabaran banget sih, kak ,,,”


“Kesabaranku cukup hanya menunggu cintamu saja, Yang ,,,” Balas Abimana terkekeh dengan gombalan recehnya.


Sheila hanya mendengus kasar. Ia tak ingin terjebak oleh kata-kata Abimana. Priamitunterlalu lincah memutar balikan kata-kata hingga membuatnya tak berkutik karena kehabisan kata.

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷🌷



__ADS_2