Menggapai Rasa Yang Tersisa

Menggapai Rasa Yang Tersisa
BAB ~ 71. MAKASIH YANG


__ADS_3

Kegiatan panas Abimana dan Sheila harus terhenti karena baby Arsheno menangis. Dengan kesal Abimana terpaksa menyudahi penelusuran goa terindahnya.


"Ck, gak pengertian banget sih, nak ,,," Gerutu Abimana seraya turun dari atas tubuh Sheila.


"Mas !! jangan menggerutu gitu sama anak sendiri." Tukas Sheila tak terima dengan gerutuan sang suami.


Sheila memakai asal bajunya dan segera menyu**i baby Arsheno. Bahaya jika terlalu lama menangis dan terdengar oleh oma dan opanya. Ia tak bisa membayangkan dengan keadaannya yang awut-awutan dan kedua mertuanya tiba-tiba mengetuk pintu karena mendengar tangisan cucunya.


"Gak usah buru-buru gitu, Yang ,,,"


"Kalau mama sama papa denger tangisan baby Arsheno bisa bahaya, mas. Kamu gak liat keadaanku mengenaskan kayak gini ?" Sheila benar-benar kesal pada Abimana yang selalu terlihat santai dan terkadang tanpa rasa malu.


"Mereka juga pernah muda, Yang ,,, dan mungkin mereka lebih parah lagi dari kita."


"Jangan harap lagi lebih baik mas tidur. Besok kerja."


"Satu ronde lagi, Yang ,,,," Abimana tersenyum miring dan meraba benda kenyal yang terbebas dari bibir mungil baby Arsheno.


Diam-diam Sheila meringis mendengar kata-kata Abimana. Ayah putranya itu memang seolah memiliki tenaga ekstra jika menyangkut hal yang satu itu . Pria itu tak bisa berhenti sebelum bibitnya tersiram hingga tetes terakhir.


Sheila terus memuaskan rasa lapar baby Arsheno, ia mengganti posisi baby Arsheno agar kedua sumber kehidupan bayi itu tak terbuang percuma. Melihat hal itu lagi-lagi Abimana mencebikkan bibirnya.


"Kamu maaih bayi tapi sudah menyiksa ayah xeperti ini nak ,,,," Abimqna menatap nanar bayi yang tak mengerti keluhan ayahnya.


"Mas, jangan berisik deh. Baby Arsheno juga gak ngerti apa yang kamu katakan." Omel Sheila dengan suara pelan. Ia tak ingin bayinya terusik dan terbangun.


Abimana tak lagi bersuara namun bukan berarti ia terdiam. Melihat bayi kecil yang tak pengertian aksi bibir mungilnya mulai melambat , tangan Abimana kembali bekerja hingga tak sadar suara lucnut meluncur bebas dari bibir wanitanya.


Sheila kembali meletakkan baby Arsheno pada boksnya dan berjalan ke arah kamar mandi, sesuatu yang sejak tadi ia tahan kini mendesak keluar. tak cukup lima menit akhirnya Sheila keluar dari kamar mandi dengan baju yang sama sekali tak terkancing karena dirusak oleh pria yang kini menatapnya dengan tatapan berkabut.

__ADS_1


Sebelum Sheila berbaring, Abimana menahannya dan melepas baju sang istri. Sheila hanya bisa pasrah daripada pria itu tak membiarkannya tidur sebelum keinginannya tercapai.


Merasa tak ada penolakan dari sang istri, akhirnya dengan tersenyum penuh kemenangan Abimana memancarkan aksinya. Melupakan urusan dunia dan hanya fokus pada tujuannya saat ini membuat pria itu bagaikan terbang ke nirwana hingga keduanya mengalami berkali-kali pel**asan.


"Makasih Yang ,,, kamu yang terbaik." Ucap Abimana kembali memeluk sang istri.


Tak ada tanggapan dari Sheila, wanita itu memilih untuk memejamkan matanya. Jam sudah menunjukkan pukul 03.00 dinihari, ia harus mendapatkan tidur nyenyak agar saat di kantor bisa bekerja dengan maksimal.


Hal yang sama pun terjadi di kamar pasangan Shandy dan Alisha. Mereka sepakat untuk segera memiliki momongan agar baby Arsheno memiliki teman bermain.


"Jangan goyang, honey. Biarkan terjadi pembuahan sempurna di dalam sana." Cegah Shandy ketika Alisha ingin bangun.


Shandy pernah membaca salah satu artikel yang mengatakan jika ingin segera hamil, maka si wanita sebaiknya jangan bergerak setelah selesai berhubungan. Entah hal itu benar atau tidak. Yang penting semua dilakukan untuk sebuah hasil yang memuaskan.


Akhirnya Alisha dan Shandy pun tertidur pulas setelah menguras seluruh tenaga untuk menikmati surga dunia bersama.


"Yang, kamu ngerasa gak, setelah kelahiran baby Arsheno kita gak pernah lagi melakukan ritual pagi." Ucap Abimana memperhatikan gerak gerik sang istri yang telaten mengurus putra mereka.


"Lebih baik mas mandi agar otaknya fresh dan tidak berpikir yang aneh-aneh." Balas Sheila menggantikan popok baby Arsheno.


"Kamu semakin gak asyik, Yang ,,, besok-besok biarkan baby Arsheno tidur di kamar mama." Ucap Abimana tanpa beranjak dari posisinya.


"Jadi anak jangan egois gitu dong. Mama sudah mengurus mas sejak bayi masa harus ngurus cucunya juga. Syukur-syukur beliau mau dititipin anak seharian. Itupun aku merasa sangat berat dan berdosa."


Sejak awal Sheila ingin mempekerjakan seorang pengasuh untuk baby Arsheno namun baik mama Kalisha maupun papa Kuncoro sama sekali tak setuju dengan berbagai pemikiran. Mama Kalisha tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada rumah tangga putranya.


Saat ini sedang viral pengasuh anak bermain api dengan majikannya disaat sang nyonya rumah sedang sibuk di luar rumah. Dan mama Kalisha tak ingin hal itu terjadi. Bukan ia tak mempercayai putranya akan tetapi laki-laki laksana kucing yang walaupun kenyang namun jika terus-terusan ditawarkan ikan tetap saja dilahapnya.


"Hehehe ,,, maaf Yang." Abimana cengengesan tak jelas.

__ADS_1


Memang benar apa yang dikatakan oleh istrinya tercinta. Abimana merasa sangat bahagia dan beruntung memiliki istri sebaik Sheila walaupun pada awalnya sangat sulit menggapai kembali rasanya yang masih tersisa.


Tak ingin membuat sang istri mengomelinya pagi-pagi, Abimana bergegas ke kamar mandi. Sementara Sheila menyiapkan baju kerjanya dan baju kerja Abimana setelah selesai mengurus baby Arsheno.


Seolah mengerti kesibukan bundanya di pagi hari, baby Arsheno tenang setelah disu**i dan digantikan popoknya. Baby Arsheno setiap hari dimandikan oleh sang oma setelah Sheila dan Abimana berangkat ke kantor.


Setelah Abimana keluar dari kamar mandi, Sheila pun bergegas masuk ke dalam kamar mandi menggantikan Abimana. Dua puluh menit kemudian, Sheila keluar dengan rambut terbungkus handuk. Sejak baby Arsheno berumur empat puluh lima hari, hampir setiap pagi Sheila harus keramas karena perbuatan sang suami.


"Kamu terlihat se**i jika rambutmu seperti itu, Yang ,,," Ucap Abimana sambil bermain dengan baby Arsheno.


Sheila tak menimpalinya dan secepatnya memakai baju kerjanya. Setelah berpakaian rapi, ia kemudian mengeringkan rambutnya dan meriah diri. Merasa sudah cukup rapi, Sheila menggendong baby Arsheno keluar kamar.


"Assalamualaikum anak ganteng ,,," Sambut mama Kalisha ketika melihat keluarga kecil itu keluar kamar. Ternyata sang oma sudah menunggu cucunya keluar kamar.


"Waalaikumsalam oma cantik ,,," Balas Sheila menirukan suara anak kecil.


"Kalian sarapan aja, biar bayi tampan ini sama mama."


Mama Kalisha mengambil alih baby Arsheno kemudian duduk di sofa ruang keluarga. Mama Kalisha sudah tenggelam dengan dunia baby Arsheno. Hingga kedua orang tua bayi itu berangkat mama Kalisha tetap asyik bermain dengan cucu kesayangannya.


"Aku kok kayak anak tiri, ma ,,," Keluh Abimana karena berpamitan sama sang mama namun tak digubris


"Jangan ngajak perang pagi-pagi, lebih baik berangkat sana cari duit yang banyak agar kehidupan cucuku terjamin." Sinis mama Kalisha.


Sheila terkekeh mendengar ucapan mama mertua kesayangannya sedangkan Shandy dan Alisha tersenyum mengejek papa muda itu.


"Kami berangkat ma ,,, titip salam sama papa." Kompak Shandy dan Alisha.


🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2