
Hari kedua Sheila dan bayinya berada di rumah sakit, dua hari pula Abimana menemani sang istri. Siang ini kebetulan hanya ada mama Kalisha yang menemani mereka. Kesempatan bagi Abimana untuk menanyakan sesuatu yang mengganggu pikirannya sejak dua hari yang lalu.
"Ma, emang bener kalau melahirkan normal itunya longgar, ya ?!" Tanya Abimana serius.
Pertanyaan Abimana yang tiba-tiba dan tanpa basa basi membuat mama Kalisha mendelik tajam pada papa muda itu. Sebuah ide jahil terlintas dalam benak mama Kalisha. Kapan lagi bisa menjahili pria yang selalu serius itu.
"Tentu saja bahkan saking longgarnya sampai-sampai gak kerasa jepitannya." Balas mama Kalisha menahan tawa.
Wajah Abimana terlihat frustasi, padahal baru sekali istrinya melahirkan sudah seperti ini bagaimana kalau dua tau tiga kali ? Padahal Abimana berencana memiliki anak dua atau tiga karena tak ingin kelak anaknya kesepian tanpa teman bermain seperti dirinya ketika kecil.
"Tapi ada kan operasi untuk menyempitkan kembali ?"
"Ada tapi dokternya laki-laki. Setahu mama sih gitu, karena dokter laki-laki itu pada umumnya lebih teliti kerjanya dan hasilnya pun lebih bagus." Wajah mama Kalisha terlihat sangat serius padahal dalam hati sudah tertawa jahat melihat wajah putranya.
Lagian istrinya juga baru dua hari yang lalu berjuang mengeluarkan anaknya, pria itu malah sudah bertanya longgar tidaknya sumber kenikmatannya.
"Ya sudahlah gak apa-apa yang penting halal dan milik sendiri." Balas Abimana pasrah.
"Jangan pikir yang ***-*** dulu deh, masa nifas Sheila empat puluh hari lho. Artinya kamu harus berpuasa lagi selama itu." Kali ini mama Kalisha benar-benar serius.
"Harus banget ya, ma ? Kok sepertinya penderitaan gak ada habis-habisnya, Mama gak asal ngomong, kan ?!"
"Ya emang gitu, mau gimana lagi ,,," Balas mama Kalisha acuh.
Tak percaya dengan perkataan sang mama, akhirnya Abimana meraih ponselnya dan mencari informasi di google yqng mengetahui segala hal di dunia ini. Papa muda itu mengetik informasi yang ingin ia ketahui. Sedangkan Sheila hanya menatap datar Abimana yang hanya mempercayai om terpintar sejagat raya.
Dengan serius Abimana membaca huruf demi huruf yang diperlihatkan oleh om seluruh umat manusia. Ia meringis setelah selesai membacanya.
__ADS_1
"Apa aku mampu melewati cobaan ini ? Belum lagi baby Arsheno menguasai milikku, padahal hanya itu harapanku jika bagian bawah tak menerima kunjungan." Gumam Abimana menatap kosong pada putranya yang sedang terlelap.
"Hahaha ,,, emang enak ??" Mama Kalisha tertawa puas melihat wajah frustasi putranya. Untung baby Arsheno baru saja ***** dan tertidur pulas sehingga tak merasa terganggu dengan perbicangan unfaedah antara oma dan papanya.
"Mama kok terlihat bahagia dengan penderitaanku."
"Bukan seperti itu, Bi ,,, hanya saja mama gak habis pikir semua pria hanya memikirkan dirinya sendiri sementara kami kaum wanita yang selalu berjuang untuk kebahagiaan mereka." Mama Kalisha pernah berada pada posisi Sheila dan papa Kuncoro pun sama seperti putranya. Hanya saja waktu itu papa Kuncoro tak mempertanyakan longgar tidaknya wadah penyemprotan bibitnya.
"Maafkan ma, Yang ,,, bukan maksud mas egois hanya takut terjadi kesalahan makanya bertanya sama mama yang lebih pengalaman." Abimana merasa bersalah pada sang istri.
Sheila memang tak menimpali pembicaraan anak dan ibunya, ia hanya diam dan menyimak namun Abimana menangkap sesuatu yang berbeda dari sorot mata isi tercintanya.
"Gak apa-apa mas, aku ngerti kok. Kan yang ada di otak mas memang hanya selang***gan saja." Sindir Sheila tanpa ampun.
Tanpa diketuk, pintu ruang perawatan Sheila tiba-tiba terbuka dan menampilkan sosok mama Rani, papa Shehzad dan papa Kuncoro. Ketiganya tersenyum lebar dan langsung mendekati cucunya.
"Stop !! Cuci tangan dulu !!" Teriakan Abimana mengagetkan para orang tua dan sukses mendapat pelototan dari sang istri.
Ketiganya menuangkan sanitizer ke tangan masing-masing sebelum menyentuh cucu mereka. Terlihat rona bahagia menghiasi wajah mereka.
"Bulan depan aku tak lagi bertugas dan kami akan kembali menetap di tanah air. Untungnya sudah punya cucu." Papa Kuncoro menggendong baby Arsheno dan menciumi pipi gembulnya.
"Jadi kalian gak usah berpikir untuk tinggal di rumah milik kalian. Cukup di rumah kami atau di rumah kakek Shehzad." Ucap mama Kalisha tak ingin di bantah.
"Sebahagianya mama aja deh." Balas Abimana pasrah dan disambut tawa oleh orang tua dan mertuanya.
Inilah susahnya jika menjadi anak tunggal, tak ada yang bisa menjadi teman orang tua dan Abimana bersama Sheila memahami hal itu. Sheila tak mungkin bersikeras hidup mandiri sementara suaminya memiliki tanggung jawab pada kedua orang tuanya. Sebagai seorang istri, Sheila memahami perjuangan mertuanya dalam mendidik dan membesarkan putra tunggalnya.
__ADS_1
"Tentu ma, kami gak mungkin membiarkan mama Kalisha dan papa Kuncoro kesepian. Kalau mama sama papa kan ada Alisha yang bisa menemani." Timpal Sheila tulus.
"Terima kasih Rani tlah mendidik dengan baik menantu kami." Ucap mama Kalisha terharu.
"Tapi sekali-sekali kalian juga harus nginap dirumah kami karena kamipun ingin merasakan punya cucu." Balas Shehzad apa adanya.
"Sepertinya Alisha harus segera dinikahkan." Mama Kalisha menatap mertua putranya.
"Jangan asal ngomong, sejak perceraiannya dengan Ferdy, anak itu mah betah dengan kesendiriannya." Balas Rani serius.
"Kita jodohkan dengan Shandy. Aku mengenal anak itu dengan sangat baik." Mama Kalisha meyakinkan pasangan suami istri itu.
Sheila diam-diam menyimak pembicaraan para orang tua, rasa penasaran akan pernikahannya yang aneh masih menguasai otaknya. Ia yakin ada sesuatu dibalik pernikahannya. Bukan ingin mencari kambing hitam atas pernikahannya hanya saja rasa ingin tahunya yang semakin tak terbendung.
"Biarkan mereka berdua menjalani prosesnya, kita cukup mengarahkn saja." Ucap Shehzad bijak.
"Tentu saja, setelah Sheila keluar dari rumah sakit kita akan memperkenalkan mereka." Balas mama Kalisha antusias.
"Tugas kalian adalah bicarakan pelan-pelan dengan Alisha. Soal Shandy aku yang urus." Lanjut mama Kalisha bersemangat.
Sheila menatap kedua orang tuanya yang manggut-manggut setuju dengan setiap perkataan mama mertuanya. Terlihat dengan sangat jelas dominasi mama Kalisha pada rencana pejodohan tersebut.
"Maaf ma, tanyakan dulu pada Alisha manatau diam-diam dia memiliki pilihan sendiri." Timpal Sheila ikutan nimbrung.
Sebagai seorang kakak, Sheila tak ingin adiknya mengalami kegagalan untuk kedua kalinya. Sudah cukup sekali melihat kegagalan rumah tangga sang adik karena perjodohan. Walaupun tidak semua perjodohan berakhir dengan kegagalan namun butuh perjuangan keras untuk menyatukan dua hati yang tak memiliki rasa yang sama.
"Tentu saja sayang, mama akan berbicara dari hati ke hati dengan Alisha. Usulan mama Kalisha memang ada benarnya. Daripada menikah dengan orang yang kita kenal sesaat lebih baik menikahi orang yang memang kita kenal dengan baik." Balas mama Rani tersenyum bijak.
__ADS_1
Berbeda halnya dengan dua pria paruh baya yang tak tertarik dengan pembicaraan para wanita, mereka malah sibuk mengganggu baby Arsheno yang sedang tertidur pulas.
🌷🌷🌷🌷🌷