
Matahari kembali menyinari bumi dan segala isinya dengan demikian jam dinas Sheila pun berakhir, ia pun telah menyelesaikan tugasnya sebelum meninggalkan rumah sakit. Semalam istirahatnya lumayan membuatnya kembali segar. Sheila bergegas meninggalkan rumah sakit, ia harus pulang ke rumah mandi dan berganti baju sebelum ke kantor. Entah sampai kapan Sheila akan kuat melakukan pekerjaan rangkap yang bertolak belakang. Beruntung pak Roy masih mendampinginya sehingga ia tak terlalu kerepotan.
Sebelum Sheila membunyiikan klakson mobilnya, satpam yang bertugas lebih dulu membuka gerbang karena melihat mobil anak majikannya lewat layar CCTV. Perlahan Sheila memasuki halaman rumah dan memarkir mobilnya asal. Ia tak bermaksud lama karena harus buru-buru ke kantor. M
Keadaan rumah masih lengang, Sheila pun langsung menaiki anak tangga menuju kamarnya. Karena terburu-buru, Sheila meraih handuk dan kimono handuknya kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Setelah lima belas menit Sheila keluar dengan rambut terbungkus handuk, wangi tubuhnya memenuhi ruang kamarnya. Bersamaan dengan Abimana terbangun dari tidurnya.
“Aaaaaaaa ,,, !!!” Teriakan Sheila mengagetkan Abimana yang masih berusaha mengumpulkan nyawnya.
“Apa yang kakak lakukan dikamarku, ha ?!!” Lanjut Sheila masih dengan nada tinggi.
Sheila hanya berdiri dan berteriak dekat meja rias. Ia tak ingin lagi mengulang kesalahan yang sama seperti yang terjadi saat malam pesta pernikahan Alisha.
“Jangan teriak-teriak, Yang ,,, nanti kedengaran papa sama mama.”
“Kakak belum menjawabku, ngapain kakak tidur di kamarku ?!”
“Kan memang seharusnya aku tidur disini, Yang . Kita suami istri kalau kamu lupa. “ Balas Abimana setenang lautan.
“Aku tahu tapi pernikahan kita tak wajar, apa kata Alisha dan suaminya jika tahu pernikahan kita karena kegep oleh kedua orang tua kita. Lagian semua kesalahan kakak. “
“Gak usah mikirin orang lain, lagipula semua ini salah kamu, Yang ,,,” Balas Abimana masih dengan wajah tenang.
“Enak aja, kalau saja saat itu kakak gak naik tangan aku maka semua ini tidak akan tejadi !”
Sheila tak terima jika dirinya disalahkan. Jelas-jelas Abimana yang menarik tangannya. Wajah Sheila memerah menahan amarah bercampur rasa malu manakala melihat mata pria yang berstatus sebagai suaminya itu menatapnya dengan tak berkedip. Sheila tahu arah tatapan pria itu.
“Emang bener kok. Semua salahmu, Yang ,,, karena setelah enam tahun namamu masih terluka dengan indah di dalam sini.” Jujur Abimana menyentuh da**nya.
“Sinting !!” Ucap Sheila membuka lemari dan mengambil bajunya.
__ADS_1
Abimana terkekeh mendengar ucapan istrinya itu. Ia tahu Sheila malu dan salah tingkah dengan tatapannya. Ternyata wanitanya masih seperti dulu. Enam tahun lalu jika Abimana menatap Sheila tanpa berkedip maka gadis itu akan merona karena malu, benar-benar menggemaskan.
Sejenak Sheila menatap bingung lemari besar disamping lemarinya, ia menghentikan tangannya yang akan membuka pintu lemari. Sejak kapan lemarinya bertambah ? Perasaan kemarin hanya ada satu lemari ? Pikir Sheila bingung.
“Gak usah bingung, semua itu papa yang siapkan. Beliau sangat mengerti jika istriku tak peduli dengan hal yang tak penting seperti itu.” Ucap Abimana bercanda namun mampu membuat hati Sheila merasa bersalah.
Walaupun Abimana terdengar bercanda dan santai namun Sheila tahu ada nada kecewa terselip dalam candaannya. Sheila menghela napas panjang dan membuangnya kasar berharap rasa bersalahnya ikut terbuang seiring dengan napasnya. Sheila kembali melanjutkan kegiatannya mengambil baju. Ia harus segera ke kantor.
Sedangkan Abimana pun bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Abimana harus tiba di kantor untuk mempersiapkan berkas yang diperlukan. Abimana tak ingin ada kesalahan ketika besok bertemu dengan direktur perusahaan PT. Garda Utama yang tak lain adalah istrinya sendiri.
Saat Abimana keluar dari kamar mandi, sebuah senyuman menghiasi wajah tampannya. Rupanya gadis itu masih memperdulikannya dengan menyiapkan baju kerja untuknya.
“Terima kasih Yang ,,, ternyata dugaanku benar masih ada rasa yang tersisa untukku.” Gumam Abimana semakin yakin dengan kata hatinya.
Tanpa membuang-buang waktu, Abimana memakai baju yang disiapkan oleh Sheila. Hatinya berbunga-bunga karena perhatian sang istri. Setelah berpakaian rapi, Abimana sekali lagi menatap pantulan dirinya di cermin. Warna biru kesukaannya apalagi disiapkan oleh orang yang ia cintai membuat Abimana bahagia. Merasa sudah cukup rapi, Abimana pun segera turun ke bawah untuk sarapan bersama.
“Selamat pagi ma, pa ,,,”
“Selamat pagi nak, ayo langsung aja sarapan.“ Ucap mama Rani melirik putrinya namun yang didirikan tetap fokus pada makanannya.
Abimana menarik kursi di sebelah kanan Sheila. Ia duduk tanpa berniat mengambil makanan untuk dirinya. Rani lalu menegur wanita muda di depannya setelah selesai mengambilkan makanan untuk sang suami.
“Sayang, ambilin makanan dong untuk nak Abi.” Titah Rani selembut mungkin.
Sheila buru-buru menelan makanannya. Sekilas ia menatap Abimana lalu menatap mama dan papanya.
“Punya tangan, kan ?” Dengus Sheila kembali menyuap nasi gorengnya.
“Sayang, jangan kasar gitu dong. Nak Abi itu bukan oranb lain tapi suamimu dan harus kamu terima itu.” Timpal Shehzad pelan. Ia menjaga agar Sheila tidak kesal.
__ADS_1
Satu kejelekan Sheila ketika sedang kesal maka tak ada kata yang bisa ia cerna dengan baik. Semua akan menjadi salah menurutnya.
“Jangan manja ! Apa gunanya Allah ciptakan dengan anggota tubuh yang lengkap jika tak digunakan !” Ucap Sheila cuek.
“Gak apa-apa pa, suatu saat istriku akan melayaniku dengan tulus dan ikhlas. “ Balas Abimana mengambil sendok dan menarik piring Sheila ke depannya.
Dengan santainya Abimana melahap nasi goreng Sheila yang kini berada di depannya. Shehzad dan Rani menahan tawa melihat ekspresi wajah Sheila yang kesalnya bukan main. Karena malas mengambil makanan yang baru akhirnya Sheila menyudahi sarapannya. Sheila masih duduk di tempatnya menunggu mama dan papanya selesai sarapan. Kebiasaan pada keluarga Shehzad setiap selesai makan maka mereka akan menunggu anggota keluarga yang belum menuntaskan sarapannya.
Satu per satu ketiganya menuntaskan sarapannya. Melihal hal itu, Sheila bergegas berdiri lalu meraih dan mencium punggung tangan papa dan mamanya secara bergantian lalu berjalan melewati Abimana begitu saja.
“Yang, aku antar ya ,,,”
“Gak usah aku buru-buru.” Balas Sheila menghentikan langkahnya.
“Aku nyetirnya cepat kok, Yang.” Ucap Abimana tak mau kalah.
“Maaf tuan, aku gak mau moodku hancur jika satu mobil denganmu. Besok ada pertemuan dengan perusahaan asing dan aku harus mempelajari berkasnya. Mana tau aku bisa menarik perhatiannya dan menikah dengannya.” Balas Sheila asal.
Abimana terkekeh mendengar ucapan ngawur wanitanya. Bagaimana bisa wanita keras kepala itu dengan berterus terang berharap akan menikah dengan pengusaha asing itu.
“Pa beritahukan pada pria ini agar jangan pernah tidur di kamarku apalagi jika Alisah kembali. Aku gak mau ada cerita yang tidak baik di belakangku.” Ucap Sheila sebelum benar-benar menghilang.
Abimana pun melakukan hal yang sama pada papa dan mama mertuanya sebelum keluar rumah. Adat kesopanan yang diajarkan oleh kedua orang tuanya tak pernah ia lupakan. Abimana bergegas menyusul Sheila.
“Jika kamu benar-benar mencintai CEO perusahaan Bhi_Lha maka aku akan melepaskanmu dengan ikhlas, Yang.” Ucap Abimana pasrah.
Sheila batal menutup pintu mobilnya saat mendengar kata-kata Abimana. Semudah itukah pria yang menikahinya secara tiba-tiba itu melepaskannya dengan ikhlas ? Secepat itukah Abimana menyerah ? Pikir Sheila menarik napas panjang kemudian menutup pintu dan melajukan mobilnya.
🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1