Menggapai Rasa Yang Tersisa

Menggapai Rasa Yang Tersisa
BAB ~ 78. CERITA ABIMANA


__ADS_3

Seolah tak ingin mengusik tidur sang istri, Abimana hanya terdiam memandang wajah tenang wanita yang sangat dicintainya. Ia membiarkan Sheila tertidur pulas. Hingga akhirnya Sheila meringis kesakitan.


"Yang, kamu kenapa ? Bagian mana yang sakit ?!" Tanya Abimana panik. Ia mengingat pembicaraan mereka semalam.


"Bawa aku ke rumah sakit mas, tolong kirim pesan ke dokter Desi dan jangan bilang apa-apa sama mama dan papa." Titah Sheila menahan sakit.


Tanpa banyak tanya, Abimana melakukan semua permintaan Sheila. Setelah itu dengan cepat ia menggendong tubuh sang istri keluar kamar dan bergegas menuju mobil yang terparkir rapi di garasi.


"Nak Abi ,,, ada apa dengan Sheila ?!" Tanya mama Rani panik.


"Sheila kesakitan ma, tolong jagain Arsheno." Jawab Abimana terus bergegas keluar pintu utama.


Mama Rani panik dan memanggil suaminya agar segera keluar kamar. mendengar keributan yang ditimbulkan oleh sang istri, sang kepala keluarga keluar kamar masih memakai pakaian sholatnya.


"Ada apa sih, ma ,,, masih pqgi sudah teriak-teriak."


"Cepxt ganti baju pa, kita nyusul ke rumah sakit tadi Sheila nampak sangat kesakitan." Ucap mama Rani berlari masuk kedalam kamar putrinya karena Arsheno menangis. Rupanya pria kecil itu terbangun mendengar teriakan neneknya.


"Hai sayang, cucu nenek yang pintar ,,,, jangan nangis ya, kita nyusul ayah dan bunda." Mama Rani meraih botol susu dan mengisinya dengan air hangat berikut susu formulanya.


Sementara itu Abimana melarikan mobilnya bagaikan orang kesetanan. Beruntung jalanan masih sepi karena masih pagi-pagi. Berbagai macam pikiran buruk menguasai otaknya. Ia menyesal terlalu sibuk bekerja hingga menganggap perubahan tubuh sang istri yang semakin kurus hanyalah bawaan janin di dalam perutnya.


Tiba di lobby rumah sakit, beberapa suster sudah menunggu mereka dengan brangkarnya. Abimana tak ingin meletakkan sang istri di brangkar, ia terus berlari menggendong tubuh wanita tercintanya mengikuti langkah suster menuju ruang operasi dimana dokter Desi sudah menunggu.

__ADS_1


"Tolong selamatkan istri saya, dok ,,, lakukan yang terbaik untuknya." Pinta Abimana memelas dengan airmata yang tak dapat lagi ia tahan.


Setelah meletakkan sang istri diatas meja operasi, beberapa suster membawanya keluar dan selanjutnya suster yang lain melakukan tugasnya mempersiapkan Sheila untuk menjalani operasi. Dokter Desi dan beberapa dokter pun siap dengan pakaian khas mereka.


Airmata Abimana mengalir dengan deras tanpa memperdulikan orang-orang yang menatapnya iba. Tak lama kemudian papa Shehzad bersama mama Rani dengan Arsheno dalam gendongannya disusul mama Kalisha dan papa Kuncoro bagaikan pasangan yang saling berkejar-kejaran.


"Ma ,,,, hiks hiks hiks." Abimana memeluk sang mama dengan airmata yang takterkendali.


Saat ini hanya pelukan seorang ibu yang sedikit bisa menghibur hatinya. Ia tak mampu mengeluarkan kata-kata untuk mengungkapkan kesedihan hatinya. Mama Kalisha memeluk hangat dan mengusap punggung putra tunggalnya. Wanita paruh baya itu dan yang lainnya penasaran dan bingung dengan kejadian yang begitu tiba-tiba. Namun untuk bertanya, mereka tak bisa melakukannya saat ini. Semua hanya diam menunggu Abimana tenang dan menjelaskan kejadian yang sebenarnya.


"Sayang, jangan nangis terus ,,, lihat pria kecil itupun ikut menangis melihat ayahnya seperti anak kecil. " Mama Kalisha berusaha mengembalikan kesadaran Abimana yang hanya bisa menangis.


Sontak Abimana menghentikan tangisnya dan menatap putranya. Kemudian beralih menatap satu per satu mertua dan orang tua kandungnya.


"Pa, ma ,,, maafkan aku yang tak bisa menjadi suami yang baik." Abimana menatap mertuanya dengan rasa bersalah.


"Apa yang terjadi sebenarnya, mengapa tiba-tiba Sheila dicarikan ke rumah sakit apalagi langsung dipersiapkan seperti ini." Timpal mama Rani tak sabar.


"Selama ini Sheila menyembunyikan penyakitnya dan berusaha bertahan hingga bayi dalam kandungannya siap untuk dilahirkan."


Kemudian Abimana melanjutkan ceritanya sesuai dengan yang ia ketahui. Abimana tak mungkin ikut-ikutan menyembunyikan penyakit yang di derita oleh sang istri. Ia tak ingin disesali oleh mertua dan orang tuanya.


Tak ada seorangpun yang bersuara saat Abimana menyelesaikan ceritanya. Para orang tua itu seolah tak percaya dengan pendengarannya. Mereka bagaikan sedang bermimpi hingga akhirnya dokter Desi keluar dari ruangan operasi.

__ADS_1


"Selamat pak, putrinya sangat cantik namun harus diinkubator karena lahir prematur." Ucap dokter Desi tersenyum ramah.


"Bagaimana istri saya, dok ?!" Tanya Abimana khawatir.


"Kami akan berusaha melakukan yang terbaik. Untuk itu kami akan membawa dokter Sheila ke ruang ICU." Jawab dokter Desi tak berani menjanjikan kesembuhan untuk Sheila.


Abimana terduduk lemas, sedangkan mama Rani hampir saja jatuh jika saja papa Shehzad tak menopang tubuhnya. Beruntung sebelumnya mama Kalisha mengambil alih Arsheno kedalam gendongannya.


Tak lama kemudian Sheila keluar dari kamar operasi. Tampak suster mendorong brangkarnya menuju ruangan ICU. Abimana mengikutinya sambil menggengam tangan sang istri. Hingga tiba di ruangan ICU, Abimana memakai baju khusus sebelum masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Hai, Yang ,,," Sapa Abimana mencium pucuk kepala sang istri.


Sheila hanya membalasnya dengan senyum manis yang sengaja dibuat-buat. Airmata Abimana menetes tanpa bisa dicegah melihat senyuman sang istri.


"Maafkan aku mas, tak bisa ikut membesarkan anak-anak kita." Ucap Sheila lemah hampir tak terdengar.


"Kamu harus semangat, Yang ,,, aku akan membawamu berobat kemanapun, asalkan kamu bisa sembuh."


"Mas, kelak nikahilah gadis yang benar-bemar tulus dan merupakan pilihan anak-anak." Balas Sheila tak memperdulikan ucapan Abimana.


Tampak papa Shehzad membimbing mama Rani mengikuti Abimana. Karena aturan rumah sakit yang membatasi pembesuk ruangan tersebut, maka mama Rani dan papa Shehzad duduk menunggu Abimana keluar.


🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2