
"I ,,, ini beneran, dek ?" Ferdy berusaha untuk tidak langaung mempercayai kertas di depannya.
Beberapa bulan lalu memang perusahaannya mengalami kemunduran dan sang mama memberikan suntikan dana yang berasal dari teman sosialitanya. Tapi kini kenyataan dihadapan Ferdy sungguh membuatnya malu dan kecewa.
"Tentu saja bener, apa mas mengetahui hal ini ? Atau mas memang terlibat ?!" Kali ini nada Alisha sudah menuduh.
"Tenang dek, kita bisa bicarakan dengan tenang." Ferdy berusaha menenangkan istrinya yang tampak emosi.
"Mas bisa ngomong begitu tenang karena bukan perusahaan mas yang diperlakukan seperti ini, coba kalau posisi kita dibalik, apa mas masih bisa tenang ?!!" Alisha benar-benar tak bisa lagi menahan diri melihat sikap Ferdy yang seolah tak prihatin dengan keadaannya.
Ada banyak karyawan yang menggantungkan hidup pada perusahaannya. Walaupun perusahaannya tak sebesar milik sang kakak namun tetap saja ia harus memikirkan nasib para pejuang ekonomi keluarga.
"Aku kasih waktu sama mas selama 3 hari untuk menyelesaikan hal ini. Terserah bagaimana cara mas Ferdy yang penting dana perusahaanku harus kembali utuh, jika tidak maka perjanjian pra nikah kita berlaku. Dan satu lagi sebaiknya mas jangan pulang ke rumah sebelum masalah ini selesai demi kebaikan mas Ferdy." Ucap Alisha panjang lebar kemudian keluar ruangan tanpa permisi.
Sikap Alisha sudah menunjukkan keadaan hatinya saat ini. Kekecewaan yang selama ini ia pendam kini bertumpu dan menggunung, siap untuk meledak.
Alisha sedikit banyak bisa menebak mertuanya yang keliru menikahkan putranya. Setelah beberapa bulan menikah, mama Mega seringkali mengungkapkan penyesalannya menikahkan mereka yang tak sesuai dengan harapan. Berkali-kali mama mertuanya meminta sejumlah dana dengan nominal besar pada Alisha namun tak diberikan olehnya, bukan karena Alisha tak memiliki uang akan tetapi sangat tidak mungkin ia memberikan uang pribadi pada mertuanya, bukankah seharusnya meminta pada anaknya ? Apalagi sejak menikah Ferdy sama sekali belum memberikannya apa-apa.
"Mari bu, kita kembali ke kantor." Ajak Alisha tanpa menghentikan langkahnya.
Bu Lia memasukkan ponselnya ke dalam tas dan mengikuti langkah kaki Alisha menuju lift yang akan membawa mereka turun ke lantai satu dimana pintu masuk dan pintu keluar berada.
"Apa aku keterlaluan ya, bu ,,, jika menekan mas Ferdy agar menyelesaikan persoalan ini dan mengembalikan dana yang sudah di curi oleh mamanya ?!"
"Gak juga sih, bu ,,, karena ini menyangkut perusahaan yang dengan susah payah di bangun oleh pak Shehzad hingga sebesar sekarang ini. Ibarat kata badan boleh bersaudara akan tetapi bisnis tak mengenal persaudaraan begitupula halnya dengan uang." Jawab bu Lia apa adanya.
Bisnis memang seperti itu terkadang sangat kejam sehingga tak mengenal arti kata saudara. Sama halnya sikap Sheila yang menekankan pada sang adik agar memisahkan perusahaan mereka jika tak bisa menyelesaikan persoalan perusahaannya.
__ADS_1
Terjun i dunia bisnis harus tangguh lahir batin. Jika selalu mengedepankan hubungan darah dan kekeluargaan maka perusahaan akan terlindas dan menghilang begitu saja.
"Setelah masalah ini selesai sepertinya aku akan mengundurkan diri deh, bu. Aku gak sekuat kakak." Ucap Alisha lebih menyerupai keluhan.
Sejak awal ia memang tak ingin terjun ke dunia bisnis akan tetapi papa memaksanya dan agar bisa menjalankan sendiri perusahaannya. Bukan selalu mengandalkan orang lain. Tapi kini lihatlah apa yang terjadi, hanya dalam jangka waktu dua bulan perusahaan sudah kebodohan dan itu adalah mertuanya sendiri. Bagaimana ia akan menghadapi papanya ?
Mobil yang dikendarai oleh Alisha kini memasuki area perusahaan. Setelah memarkir mobilnya, ia dan bu Lia lalu keluar dan berjalan beriringan memasuki perusahaan. Ternyata waktunya jam istirahat sehingga para karyawan berlalu lalang menuju kantin untuk mengisi perut mereka.
Walaupun hanya perusahaan cabanb namun perusahaan tetap menyediakan kantin gratis bagi para karyawan seperti pada kantor pusat. Kantor pusat sangat memperhatikan keadaan karyawannya. Dengan mengadakan kantin gratis maka mereka tak perlu lagi keluar mencari makan yqng hanya akan menghabiskan waktu di jalan dan agar karyawan bisa menghemat biaya makan karena telah disiapkan oleh perusahaan.
🌟🌟🌟🌟
Di waktu yang sama ditempat berbeda, Sheila bersama mama Kalisha sedang menikmati makan siang bersama sebelum berbelanja. Sheila hanya mengikuti apa yang akan dilakukan oleh wanita yang masih menyisakan kecantikan dimasa mudanya.
"Makan yang banyak, sayang ,,, jangan takut bodymu akan rusak hanya karena makan banyak."
"Latihan ?! Bukannya olah raga ?!" Mama Kalisha menautkan alisnya bingung.
Sungguh ia belum terlalu mengenal menantunya Untuk itulah mama Kalisha sengaja meminta agar ditemani oleh sang menantu. Mama Kalisha ingin mengenal Sheia dengan baik sebelum memulai rencananya.
"Latihan bela diri, ma ,,, sejak dulu aku mandiri dan tak mengenal yang namanya pengawal makanya papa mengharuskan agar aku bisa bela diri, berbeda dengan Alisha yang hidupnya selalu dikelilingi pengawal walaupun tak diketahui oleh orang-orang." Sheila tersenyum manis di akhir kalimatnya.
Mama Kalisha terhenyak mendengar cerita menantunya. Satu fakta yang mencengangkan bagi seorang Kalisha bahwa menantunya benar-benar unik dan spesial. Jika wanita pada umumnya senang dengan olah raga Yoga maka menantunya ini justru menyukai olah raga yang banyak diteliti oleh kaum pria.
"Itu juga bagus tapi sebaiknya pelan-pelan dikurangi agar bisa segera melahirkan seorang cucu buat kami."
Uhuk uhuk uhuk
__ADS_1
Sheila tersedak dengan makanan yqng baru saja ia telan. Bukan karena kata-kata mama Kalisha yang menginginkan seorang cucu karena hampir setiap hari mamanya pun mengatakan hal itu. Akan tetapi gaya bicara mama Kalisha yang membuatnya tersedak. Mata sang mama mertua seperti menyimpan sebuah rencana besar untuknya.
"Yang diatas belum mempercayakan kami, ma." Balas Sheila asal setelah tersedaknya hilang.
"Ya sudah, gak usah dibahas lagi. Sekarang kita nikmati hari ini berdua."
Keduanya kemudian melanjutkan makan siang tanpa ada yang bersuara. Makan siang yang penuh dengan keakraban antara menantu dan mertua. Setelah makan siang, kini mereka menuju ke pusat perbelanjaan.
Mama Kalisha dan Sheila mulai asyik memilih sesuatu yang akan dibelinya. Sejak menikah dan memimpin perusahaan penampilan Sheila pun sedikit berubah. Walaupun baju-baju yang dikenakannya tampqk sederhana namun percayalah harganya tak sesederhana penampakannya baju tersebut.
"Hei, jeung Kalisha kan ?" Seorang wanita paruh baya yang tampak berkelas menegur mama Kalisha dengan sangat akrab.
"Jeung Retno ? Apa kabar ? Lama gak ketemu ,,," Balas mama Kalisha.
Mereka saling berpelukan menandakan keduanya adalah teman lama. Sheila hanya mengangkat wajahnya sejenak kemudian melanjutkan kegiatannya. Hingga perkataan jeng Retno itu mengganggu netranya.
"Gimana kalau kita besanan aja, jeung ,,, putriku baru menyelesaikan pendidikannya di luar negeri dan sebentar lagi akan menggantikan papanya mengurus perusahaan. Maklum anak tunggal jadi siapa lagi yang mewarisi semuanya."
"Wah, sayang sekali jeung, putraku sudah menikah tiga bulan yang lalu dan kenalkan ini adalah menantuku." Balas mama Kalisha menarik lembut tangan Sheila memperkenalkan dengan temannya itu.
"Cantik, tapi untuk apa kalau hanya modal wajah cantik, jeung. Hari gini wanita itu harus mandiri jangan hanya tahunnya belanja ngabisin duit suami." Jeung Retno benar-benar sedang menguji kesabaran Sheila.
"Modal wajah cantik kayaknya lebih bagus deh, tante ,,, daripada banyak duit, mandiri tapi ditawar-tawarkan pada teman yang memiliki anak laki-laki, malah terkesan gak laku."Balas Sheila tersenyum manis.
Mama Kalisha berusaha menahan tawa mendengar ucapan menantunya. Fakta baru lagi bagi mama Kalisha ia temukan dari sikap menantunya. Mempertahankan apa yang sudah menjadi miliknya dan tak kenal takut membalas orang yang merendahkannya.
'Abimana tak salah memilih istri.' Batin mama Kalisha tersenyum puas.
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷🌷