Menggapai Rasa Yang Tersisa

Menggapai Rasa Yang Tersisa
BAB ~ 66. BIARKAN KAMI SALING MENGENAL


__ADS_3

Setelah tiga hari masa pemulihan akhirnya Sheila dan bayinya pulang ke rumah. Sesuai dengan kesepakatan keluarga kecil itu pulang ke rumah mama Kalisha dan papa Kuncoro karena masa kehamilan Sheila lewati di rumah keluarganya. Walaupun berat hati namun papa Shehzad dan mama Rani tak busa berbuat apa-apa.


"Kalian boleh tinggal disini, kita rawat bayi mungil ini bersama-sama." Ucap papa Kuncoro santai.


"Gak bisa begitu, Alisha masih sendiri dan masih butuh perhatian kami." Balas papa Shehzad apa adanya.


"Ya sudah, kalian boleh datang kapan saja kalian mau. Pintu rumah kami selalu terbuka setiap saat."


"Kamu larang pun kami akan tetap datang. Kita memiliki hak yang sama pada bayi ini." Balas papa Shehzad tak mau kalah.


Rumah keluarga papa Kuncoro yang biasanya sepi tiba-tiba ramai karena perdebatan kedua pria paruh baya itu. Hingga para istri hanya bisa gelang-gelang kepala melihat keduanya.


"Ada apa dengan kalian ? Sejak dulu hingga kemarin kalian selalu kompak dalam segala hal tapi mengapa hari ini kalian bagaikan Tom & Jerry ?!" Kali ini mama Rani tak tinggal diam.


"Tau nih, si opa ,,," Ucap papa Shehzad terkekeh dan di sambut dengan kekehan oleh papa Kuncoro.


Satu hal yang mereka sadari bahwa kini mereka bukan hanya seorang papa tapi sudah memiliki cucu dan memiliki panggilan baru yaitu opa dan kakek. Kehadiran baby Arsheno merubah panggilan semua orang.


Seolah mendapatkan mainan baru, ooa dan kakek terus saja merangkul cucu mereka secara bergantian. Sheila memilih masuk ke dalam kamar beristirahat sejenak karena baru saja baby Arsheno meny**** dan akan terbangun saat kembali lapar atau pokoknya bermasalah.


"Assalamualaikum ,,," Suara nyaring Alisha membuat mama Rani dan mama Kalisha saling menatap.


"Waalaikumsalam ,,," Balas keduanya kompak.


"Duduk sini, sayang ,,," Mama Kalisha menepuk-nepuk kursi disampingnya.


Alisha pun duduk tanpa curiga. Maksud kedatangannya ingin bermain bersama ponakannya namun tak mungkin pula ia mengabaikan nyonya rumah itu.


"Mama nginap disini ?" Tanya Alisha pada mama Rani yang sudah berganti dengan baju rumah.

__ADS_1


"Iya sayang, malam ini aja kok."


" Kalau gitu aku juga nginap disini deh, gak enak rumah sepi." Ucap Alisha antusias.


Pucuk di cinta ulampun tiba. Bagai gabung bersambut, keinginan mama Kalisha tercapai sebelum meminta.


"Tentu saja boleh, sayang." Balas mama Kalisha dengan tak kalah antusiasnya.


"Makanya cepat cari calon suami dan menikah, gak baik juga kan kalau terlalu lama sendiri apalagi dengan statusmu yang sekarang." Ucap mama Rani lembut


"Ma, akupun pingin cepat-cepat menikah tapi aku gak mungkin memilih pria dengan asal kan ? Aku ingin pernikahanku kali ini bahagia seperti pasangan yang lain. Tapi dengan statusku akan sangat sulit menemukan pria yang cocok. Mungkin saja pria itu gak mempermasalahkan statusku yang seorang janda tapi keluarganya pasti akan mempertimbangkan statusku ini. Kita bukan negara barat yang tidak memperdulikan status seseorang." Balas Alisha panjang lebar.


Benar yang dikatakan Alisah, penduduk yang sekian banyak menghuni negara tercinta ini sebagian besar memang masih mengutamakan hal itu walaupun ada segelintir orang yang tak lagi memperdulikan status kegadisan seorang wanita.


"Tapi jika mama menjodohkanmu dengan pria baik-baik dan tak memperdulikan status, Alisha mau kan ?" Tanya mama Kalisha pelan dan hati-hati.


Kali ini Alisha memilih untuk menuruti kedua wanita cantik meskipun usianya tak lagi muda. Saat pertama ka,i melihat Ferdy, ia tak mendengar nasehat papa dan mamanya karena ia jatuh cinta pada pandangan pertama namun siapa sangka ternyata ia melakukan kesalahan besar. Alisha percaya naluri seorang ibu tak pernah salah. Walaupun mama Kalisha bukan mama kandungnya akan tetapi Alisha percaya dengan ketulusan mertua kakaknya.


"Kalian sudah saling kenal kok hanya saja belum akrab." Ucap mama Kalisha gembira.


"Assalamualaikum ,,," Terdengar suara berat khas pria yang tak lain adalah laki-laki yang menjadi topik pembicaraan ketiga wanita itu.


"Waalaikumsalam ,,," Kompak mereka bertiga.


"Abi mana, ma ? Ada berkas yang butuh gorengan tangannya." Ucap Shandy mencari sahabatnya.


"Di kamar lagi peluk-pelukan sama istrinya." Balas mama Kalisha terkekeh.


Shandy hanya menatap datar ibu angkanya yqng selalu bicara ceplas ceplos tanpa disaring. Beruntung tak ada anak dibawah umur yang mendengarnya.

__ADS_1


"Ck, mama sukanya asal deh, kasihan aku yang masih jomblo."


"Makanya cepat nikah supaya cucu mama bertambah, kan enak kalau rumah ini dipenuhi suara anak-anak. Mama dan papa siap menjaga anak-anak kalian." Pungkas mama Kalisha melirik Alisha yang hanya diam menyimak.


Entah mengapa setiap bertemu dengan Shandy jantung Alisha selalu bermasalah. Denyut jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Untuk pertama kalinya ia merasakan jantungnya seperti ini. Dulu saat melihat Ferdy untuk pertama kalinya jantungnya pun berdetak tapi tak segila ini.


"Gadis-gadis pasti berpikir menikah dengan anak yatim piatu sepertiku, ma." Balas Shandy tersenyum kecut.


Manusia memang tak ada yang sempurna dan selalu memiliki masalah dalam hidupnya. Manusia hidup di dunia ini butuh perjuangan agar busa bertahan di tengah hindari bingarnya kehidupan. Pun halnya dengan Shandy, memiliki wajah rupawan dan kekayaan hasil kerja kerasnya bersama Abimana namun sangat sulit memilih pasangan hidupnya. Walaupun ia terlihat santai dan apa adanya serta ceplas ceplos namun tak ayal iapun memiliki rasa minder jika menyangkut pendamping hidup.


"Gimana kalau kalian kami nikahkan ?" Kali ini mama Rani yang bersuara dan sukses membuat jantung Alisha semakin berdetak kencang.


"Kami setuju ,,,," Timpal kedua pria paruh baya yang ternyata ikut menyimak pembicaraan mereka.


Entah sejak kapan mereka berada disana tanpa baby Arsheno dalam gendongan mereka. Pantas saja keduanya ikut nimbrung ternyata mainan mereka sudah diambil oleh pemiliknya.


"Baby Arsheno mana ?!" Tanya mama Kalisha.


"Diambil pawangnya." Jawab opa Kuncoro apa adanya.


"Makanya kalian cepat menikah agar kami tidak hanya memiliki satu cucu." Kali ini sang kakek yang angkat suara.


Baik Alisha maupun Shandy terdiam. Mereka hanya busa saling menatap. Jantung Alisha semakin tak bersahabat sedangkan Shandy biasa saja. Tak sama ketika ia melihat mbak Nia untuk pertama kalinya.


"Biarkan kami saling mengenal dulu, ma ,,," Ucap Shandy setelah beberapa saat terdiam.


Ia memikirkan banyak hal sebelum mengatakan setuju. Alisha tak memperlihatkan ketertarikan padanya pun halnya dirinya yang tak memiliki getaran dihati kala menatap Alisha. Biarlah mereka saling mengenal. Pernikahan bukanlah sebuah permainan yang akan disadari ketika sudah bosan. Bagi Shandy pernikahan adalah ikatan seumur hidup yang harus ia jaga selama hayatnya.


🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2