
Seharian Abimana tak tenang di kantor, ia sudah terbiasa makan siang bersama sang istri dan sangat menikmati hal itu. Akan tetapi hari ini ia tak bisa berbuat apa-apa pasalnya istrinya saat ini sedang dikuasai oleh istri papanya. Sehingga jalanan satu-satunya adalah ia harus segera pulang sebelum jam kerja berakhir.
"Aku pulang ,,, handle aja jika ada yang mendadak kecuali tanda tangan, ya."
Shandy menatap tajam sahabat sekaligus bosnya yang sejak menikah ada saja pekerjaan tambahan untuknya.
"Sekali-sekali tanda tangan napa, bos ,,,"
"Boleh, tapi tanda tangan pembayaran gaji karyawan dan itu pakai uang pribadimu."
Abimana terkekeh melihat ekspresi wajah asisten setianya. Puas rasanya mengerjai pria lajang itu.
"Bisa-bisa aku jadi gembel di kolong jembatan." Gerutu Shandy memperlihatkan kekesalannya.
Ingin rasanya ia melempar vas bunga punggung bosnya itu namun ia masih ingin perlu mengisi pundi-pundinya sebanyak-banyaknya untuk modal nikah. Tau sendiri kan gadis jaman sekarang maharnya selangit. Terkadang Shandy termenung memikirkan betapa beruntungnya jadi seorang gadis. Diberi mahar dan seserahan setelah itu mereka menikah dan malam harinya hanya merem melek doang. Sawah yang digarap juga gak sampai sehektar. Shandy menggeleng-gelengkan kepalanya menyadari pikiran lucnutnya.
Melajukan mobilnya diatas rata-rata dan macet hampir di semua ruas jalan yang akan ia lewati membuat pria tampan itu mendengus kesal. Jalan seperti keong semakin membuat penduduk ibukota semakin bro gas membunyiikan klaksonnyq padahal mereka tahu di depan sana macet. Hingga Abimana menarik napas lega ketika mobilnya perlahan memasuki halaman rumahnya.
"Ma, istriku mana ?"
"Salam dulu, Bi ,,, kebiasaan jelek kok dipelihara." Sang mama mulai model on mengomel.
Inilah yang selalu Abimana rindukan dari sang mama, yaitu Omelannya yang khas yang tak bisa ia temukan pada wanita menampung termasuk istrinya yang sedikit datar dan irit bicara.
"Ok, mamaku sayang ,,,, assalamualaikum ,,, " Dengan menahan kesal, Abimana memberi salam dengan suara selembut mungkin.
"Waalaikumsalam ,,," Kompak Sheila dan mama Kalisha.
Sheila tak bisa menahan tawanya mendengar suara Abimana yang tak jelas jenis ke***innya. Ternyata ia menikahi pria yang bukan hanya pandai meninggalkan orang akan tetapi sedikit komedian. Mengingat peristiwa lalu, Sheila meringis. Ia masih belum busa melupakan sepenuhnya kekecewaannya. Ck, wanita memang ingatannya bagus dan ahli sejarah.
__ADS_1
"Astaga, Yang ,,, mas kok gak liat kamu disitu."
"Itulah salah satu kegunaan salam sebelum masuk rumah, supaya kita tenang dan bisa memperhatikan sekeliling." Ucap mama Kalisha asal.
Tak ingin memperpanjang masalah salam, Abimana melonggarkan dasinya kemudian duduk di samping Sheila. Tanpa pikir oanjang ia lalu menyandarkan kepalanya pada bahu sang istri. Rasa lelahnya sedikit berkurang dengan menghirup aroma tubuh Sheila.
"Kalau mama lihat mesranya kalian, gak nyangka menantu mama belum juga memberikan kabar baik." Mama Kalisha sengaja menyendiri keduanya.
"Mama persiapkan diri dulu jadi oma, pikirkan hadiah apa yang akan mama sama papa berikan untuk anakku nantinya. " Balas Abimana tak mau kalah.
"Kamu gak bengkok, kan Bi ?!"
Pertanyaan tak bermutu sang mama sukses mendapatkan delikan tajam dari putra semata wayangnya. Baru kali ini keperkasaan pria tampan itu dipertanyakan oleh seseorang.
"Mama ngajak perang, nih kayaknya. Masa harus menghamili orang dulu baru diakui kejantanannya." Abimana benar-benar tidak menerima pertanyaan yang lebih menyerupai tuduhan padanya.
"Mas, udah ,,, gak ada salahnya kan mama bertanya seperti itu. Jangan durhaka sama orang tua mas. Ingat suatu saat kita juga akan berada pada posisi mama sebagai orang tua dari anak-anak kita kelak. Mas mau di bantah, dimiliki sama anak sendiri ? Gak kan ?"
"Oh ya, Bi ,, tadi mama ketemu tante Retno." Mama Kalixha sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Pasti menawarkan putrinya lagi. Ck, dasar perabot gak laku."
Diantara semua teman mama Kalisha, tante Retnolah yang paling dibenci oleh Abimana. Selain sifatnya yang sombong wanita itu juga kepedean dan selalu membangga-banggakan putrinya yang tak seberapa cerdas.
"Tadinya sih gitu tapi menantu mama ternyata sangat handal. Hanya menantu mama seorang yang bisa membungkam mulut tante Retno." Ucap mama Kalisha terkekeh.
Sebuah hiburan bagi mama Kalisha siang tadi. Retno yang sok akrab dan tak bosan mempromosikan putri tunggalnya harus terdiam setelah Sheila berbicara.
"Beneran, Yang ? Wah patut dirayakan nih, pencapaian istriku." Abimana memeluk Sheila dan menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher sang istri membuat wanita itu merinding.
__ADS_1
Untung saja mama Kalisha memukul lengan putranya sehingga leher Sheila seketika terbebas dari terpaan napas Abimana. Leher merupakan salah satu titik sensitif Sheila. Ia memilih berkelahi daripada harus di sentuh bagian lehernya.
"Bukankah memang seharusnya seorang istri seperti itu ? Melindungi suami dari pelakor ataupun calon pelakor. Karena para pria tak akan bisa melindungi diri dari wanita seperti itu."
"Bener, sayang ,,, mama setuju dengan sikapmu dan jika kamu sudah melakukannya tapi putra mama masih saja meladeni pelakor itu maka cukup beritahu mama dan tinggalkan dia. Nanti mama yang akan cariin pria baik-baik." Ucap Mama Kalisha berapi-api.
"Ma !!! Kok ngajarin istriku gak bener sih. Mama tega lihat putra sendiri menduda ?"
Abimana sungguh tak mengerti dengan sikap mamanya yang senang sekali merusak perasaan bahagianya.
"Kenapa kamu marah-marah gak jelas ? Mama kan hanya mengatakan jika seandainya kamu seperti itu. Ck, gini nih kalau belum pernah merasakan lemahnya goa terindah di dunia." Balas mama Kalisha terkikik geli di ujung kalimatnya.
Wajah Sheila memerah mendengar kata-kata absurd mama mertuanya yang ajaib dan unik. Ia adalah wanita dewasa dan seorang dokter, istilah-istilah seperti itu sudah biasa baginya. Sedangkan Abimana menatap sang mama bingung, otak pria itu kurang peka pada kata-kata perumpamaan seperti itu.
"Kenapa wajahmu memerah, Yang ?!" Tanya Abimana polos.
"Maksud mama apa sih, emang ada ya goa seperti itu ?" Lanjut Abimana dan dibalas dengan tawa oleh mama Kalisha.
"Ck, apa gunanya sekolah tinggi, pimpinan perusahaan, tampan dan mandiri tapi gitu aja gak ngerti. Pantesan aja menantu mama semakin cantik." Balas Mama Kalisha asal seraya menatap remeh putra kesayangannya.
Sheila tak lagi ikut nyambung berbicara, ia berusaha setengah mati agar wajahnya kembali normal. Malu, sudah pasti ia merasa malu membahas hal seperti itu secara terbuka.
"Mama jadi ragu, apa benar kamu itu keturunan papa ?! Tapi seingat mama hanya pak Kuncoro seorang yang melakukannya." Gumam mama Kalisha lagi-lagi terkikik geli.
"MAMAAAAA !!!" Kekesalan Abimana benar-benar tak dapat lagi ia kendalikan.
Baru saja kejantanannya dipertanyakan kini mamanya lagi-lagi mempertanyakan darah yang mengalir dalam tubuhnya. Ingin rasanya Abimana mencabik-cabik mamanya jika tak ingat dosa. Sementara mama Kalisha menatap datar wajah putranya sambil tersenyum jahat. Jangan lupa Sheila yang setengah mati menahan tawa melihat ekspresi sang suami.
"Sssttt ,,,, jangan teriak-teriak, buktikan sama mama jika kamu memang jantan dan keturunan papa." Balas mama Kalisha sebelum meninggalkan keduanya.
__ADS_1
"Kamu denger kan, Yang ,,, apa kata mama."
🌷🌷🌷🌷🌷