
Semua dikejutkan oleh kedatangan Alisah dan Ferdy. Pasangan pengantin baru itu tiba-tiba pulang lebih cepat satu hari dari yang mereka rencanakan. Beruntung kemarin Sheila dan Abimana sudah sepakat mengenai pernikahan mereka.
“Assalamualaikum ,,, kami pulang ,,,” Teriakan Alisha membuat Rani menghentikan sarapannya dan buru-buru keluar menyambut putri bungsunya.
“Waalaikumsalam ,,, eh pengantin baru sudah pulang, kirain besok ,,, ayo masuk dan langsung sarapan.” Ucap Rani bahagia melihat kedatangan sang putri.
Alisha dan Ferdy mengikuti mama Rani untuk bergabung dengan yang lainnya menikmati sarapan pagi. Sheila hanya mengangkat kepalanya sejenak lalu melanjutkan sarapannya. Berbeda dengan Abimana yang menyambut mereka dengan senyuman singkat.
“Lho, kok ada orang lain ?” Tanya Alisha mewakili sang suami yang ikut bertanya-tanya dalam hati.
“Siapa yang orang lain ?” Sheila balik bertanya sembari menatap mereka satu per satu.
“Hehehe ,,, maaf maksudku tunangan masa kecil kakak.”
“Dia suamiku.” Ucap Sheila santai.
Sontak semua menatap Sheila yang tetap menikmati sarapannya. Rani dan Shehzad bahagia sekaligus tak percaya dengan pendengarannya. Sedangkan Abimana tersenyum sangat lebar mendengar ucapan sang istri. Jangan tanyakan bagaimana bahagianya pria tampan itu.
“Whaattt ?! Kok menikah diam-diam, kenapa kalian gak ngabarin aku ? Kan kami busa pulang secepatnya.” Ucap Alisha kecewa karena melewatkan pernikahan kakak kesayangannya.
“Tenang aja, kami belum pesta baru ijab qabul.” Timpal Abimana tersenyum bahagia.
“Kok bisa sih kalian tiba-tiba menikah ?” Alisha menatap Sheila dan Abimana curiga.
“Om Kuncoro harus kembali bertugas, kamu tahu kan kalau mertuaku itu seorang duta besar. Makanya beliau ingin mempercepat pernikahan kami.” Ucap Sheila berbohong dan sengaja memamerkan jabatan mertuanya pada Ferdy. Sheila seolah ingin menegaskan jika mantannya itu tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Abimana.
Ya kali Sheila akan mengatakan yang sebenarnya. Rani dan Shehzad hanya diam mendengarkan anak-anaknya berbicara. Keduanya tak ingin terlibat dengan pembicaraan para anak muda. Sudah cukup baginya melakukan kesalahan pada Sheila.
Ternyata istri keras kepalanya benar-benar menepati janji. Untung ia berhasil memaksa wanitanya agar mau mengakui pernikahan mereka walaupun awalnya hanya dalam keluarga saja. Lain halnya dengan Ferdy yang begitu terkejut mendengar pernikahan mantan sekaligus kakak iparnya. Ada rasa tak rela mendengar kini gadis yang hingga kini belum sepenuhnya hilang dari dalam hatinya. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa karena statusnya kini telah berubah.
“Wahhh ,,, beruntung banget kak Abi karena bisa menggeser cinta pertamanya kak Sheila.” Ucap Alisha menatap kagum pada kakak iparnya.
“Oh ya ?” Balas Abimana bersemangat.
__ADS_1
Bukan Abimana namanya jika tak memanfaatkan kesempatan. Lagipula tak mungkin Sheila akan mengamuk didepan semua orang apalagi ada anggota keluarga yang baru. Tentu saja wanitanya akan menjaga sikap agar tak mempermalukan diri sendiri.
“Bener ,,, bahkan pernah sekali kakak pacaran namun pada akhirnya mereka harus putus karena orang tua pria bodoh itu tak merestui hubungan mereka hanya karena penampilan kakak terlalu sederhana. Kalian memang berjodoh.”
Ferdy susah payah menelan salivanya mendengar sang istri lagi-lagi menyebutnya pria bodoh. Walaupun kenyataannya memang dirinya adalah pria terbodoh di dunia dengan menyia-nyiakan berlian seperti Sheila.
"Kalau gitu aku harus cari pria itu untuk berterima kasih padanya karena telah menjaga jodohku." Balas Abimana bersungguh-sungguh.
“Yang telah berlalu biarlah berlalu dek, toh gak ada pengaruhnya juga buatku. Malah Tuhan memberikan aku suami yang lebih dari dia.” Timpal Sheila setengah mati menahan diri agar tidak muntah dengan ucapannya sendiri.
Tinggg
Ponsel Abimana berbunyi sebagai tanda sebuah pesan masuk. Melihat notifikasinya dilayar, Abimana segera membuka pesan tersebut.
My Lovely
Jangan besar kepala dengan pujianku.
“Sepertinya kamu tahu banyak tentang kisah kakakmu.”
“Tentu saja, bahkan aku mengira jika kakak sedang menunggu cinta pertamanya hingga kak Abi datang dan mematahkan perkiraan.”
“Cukup dek. Masa lalu bukan untuk diingat melainkan hanya sebuah peristiwa yang tak penting. Untuk dijadikan sebuah sejarah pun tak layak. Jika kita terus-terusan mengingat masa lalu maka kita tidak akan pernah maju.”
“Bicaranya nanti aja, lanjutkan dulu sarapannya.” Timpal Rani menghentikan pembicaraan mereka.
“Bener kata mama, oh ya dek, nanti malam sepertinya kita harus bicara banyak agar aku mengetahui apa yang istriku sembunyikan.”
“Bicara dengan wanita sudah bersuami malam-malam pula, itu bisa membuat suaminya salah paham.” Ucap Sheila tak suka.
“Ferdy tahu kok kalau aku bukanlah pria bodoh yang meninggalkan berlian seperti kamu.” Abimana terkekeh diujung kalimatnya.
Sementara Ferdy sejak tadi merasa tertampar dengan kata-kata mereka. Seandainya saja semua yang berada dimeja makan itu tahu jika dirinyalah pria yang meninggalkan Sheila maka sudah bisa dipastikan akhir dari hidupnya. Entah sampai kapan Ferdy betah berada di rumah mewah tersebut.
__ADS_1
“Aku berangkat ,,,” Pamit Sheila berdiri mendahului semuanya.
Seperti biasa, Sheila menyalami kedua orang tuanya seraya mencium punggung tangan keduanya. Selanjutnya ia meraih tangan Abimana dan mencium punggung tangannya.
“Jangan ge-er, semua yang kulakukan hanya untuk menyempurnakan sandiwara kita.” BisikSheila pelan agar tak ada yang mendengarnya.
Abimana hanya tersenyum manis membuat Sheila setengah mati menahan kekesalannya. Semua ia lakukan demi menutupi kisah mereka yang sebenarnya namun ternyata Abimana menikmati setiap perlakuan manisnya. Walaupun semua hanya kepulsuan belaka.
“Hati-hati. Yang ,,,” Abimana lagi-lagi memanfaatkan kesempatan. Ia menc**m dahi Sheila cukup lama. Setelah puas barulah ia menyudahi ci**annya.
Tak ingin memperlihatkan perasaan dongkolnya, Sheila segera berjalan keluar dan langsung masuk ke dalam mobilnya kemudian menyalakan mesin mobil dan tanpa ragu iapun menginjak gas sehingga mobil melaju diatas rata-rata. Beruntung jalan masih sepi sehingga perjalanan Sheila lancar hingga tiba di kantor.
Sheila bukanlah wanita yang pandai menyembunyikan perasaannya Saat memasuki lobby perusahaan, beberapa karyawan yang baru tiba menyapanya dengan ketakutan. Pasalnya wajah sang bos terlihat keruh dan tidak baik-baik saja walaupun kecantikannya tetap mampu menggoyahkan iman kaum adam.
“Selamat pagi, bu ,,,” Sapa Amanda pelan.
“Selamat pagi juga, Manda ,,,” Balas Sheila tersenyum tipis.
Walaupun kekesalannya pada Abimana belum hilang dan wajahnya masih terlihat kesal namun saat seseorang menyapanya maka Sheila akan berusaha untuk membalasnya selembut mungkin. Tidak adil jika ia menimpakan kekesalannya pada karyawan yang tak tahu apa-apa.
Kemudian Sheila melanjutkan langkahnya dengan anggun menuju lift khusus pemilik perusahaan. Tanpa harus berdiri antri, Sheila masuk dan menutup pintu kotak besi tersebut. Dan kembali melangkahkan kaki jenjangnya menuju ruang kerjanya saat pintu lift tersebut terbuka.
“Selamat pagi dan selamat datang bu ,,,” Sapa sekretaris Nia menyambut Sheila.
“Pagi juga, mbak Nia. Oh ya jadwalku hari ini apa mbak ?” Tanya Sheila sambil berjalan memasuki ruangannya.
“Gak ada bu, hanya saja semalam pak Shandy meminta agar memasukkan dalam jadwal ibu undangan makan siang beliau. Tapi aku belum memberikannya kepastian bu.”
Sekretaris Nia tidak berani mengiyakan dan memasukkannya sebagai jadwal penting yangbharus dihadiri oleh direkturnya bukan karena Shandy adalah orang asing namun karena Shandy hanyalah seorang asisten lain halnya jika yang mengundang adalah CEO mereka. Jika CEO yang mengundang makan siang maka sudah pasti ada pembicara bisnis di dalamnya.
“Ya sudah, gak apa-apa ,,, aku pernah menolongnya dulu, mungkin beliau ingin berterima kasih padaku walaupun sebenarnya tidak perlu karena memang sudah menjadi tugas seorang dokter.”
🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1