
Jam istirahat siang, Sheila, Abimana dan Alisha pergunakan untuk ke rumah sakit memeriksa kandungan Sheila. Kemarin wanita hamil itu sudah mengatur jadwal dengan dokter kandungan pada rumah sakit Medical Care.
Abimana melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang membeli jalan raya menuju rumah sakit swasta terlengkap diibukota. Sheila mulai gemes dengan cara Abimana menyetir mobil yang sangat pelan sementara Alisha hanya terkikik geli melihat ekspresi sang kakak.
"Mas, kencang dikit kan bisa. Kapan sampaikan kalau kayak gini ,,, mending jalan kaki. "
"Aku memilih aman, Yang ,,, mas gak mau sesuatu terjadi pada calon bayi kita. Cepat atau lambat yang penting kitatiba dengan selamat. "
" Ck, kayak kemana aja."
"Sabar kak, jangan suka uring-uringan nanti anaknya juga suka unring-uringan." Timpal Alisha menengah pasangan suami istri itu.
Tak ingin terus berdebat dengan Abimana yang mendadak berubah possesif, Sheila memilih menyandarkan kepalanya sambil menutup mata. Beradu argumen dengan Abimana membuat kepalanya sedikit pusing. Suasana mobil kembali hening hingga Abimana perlahan memarkirkan mobilnya tak jauh dari lobby rumah sakit.
"Pelan-pelan turunnya, Yang ,,," Ucap Abimana menatap Sheila yang kini sudah berdiri disamping mobil.
Baru saja Abimana mematikan mesin mobilnya, Sheila sudah keluar dan berdiri di samping mobil. Wanita itu ingin segera membebaskan tubuhnya yang duduk dalam waktu yang cukup lama.
Sheila dan Alisha berjalan beriringan menuju poli kandangan. Sheila yang pernah bertugas di rumah sakit tersebut sudah hapal di luar kepala jalan ke poli kandungan.
"Apa sebaiknya pake kursi roda aja, Yang ,,, mas takut kamu kelelahan jalan."
"Mas, aku ini hanya hamil dan itupun belum kelihatan. Bukannya sakit parah yang tak bisa jalan. Udah deh, berhenti mengkhawatirkanku. " Ka,i ini Sheila benar-benar tak dapat lagi menahan kekesalannya.
Sejak mengetahui kehamilannya, Abimana selalu melarangnya ini itu. Sheila merasa frustasi karena merasa pergerakannya mulai dibatasi.
"Kalian jangan debat terus, aku pusing mendengarnya. Dan kak Abi, gakmoerlu terlalu khawatir gitu, kak Sheila yang punya tubuh dan hanya dia yang bisa merasakan dan mengukur kemampuan dirinya." Alisha mencoba menenangkan kakak iparnya yang terlihat sangat mengkhawatirkan istrinya.
__ADS_1
Tak ada salahnya mengkhawatirkan calon bayinya akan tetapi jika berlebihan juga bisa memancing emosi. Alangkah lucunya jika pasangan tersebut setiap hari ribut hanya karena persoalan calon bayi mereka. Bayangin aja belum juga keluar dari perut namun ayah bundanya sudah ribut duluan.
Pasangan tersebut akhirnya diam dan mereka pun akhirnya tiba di poli kandungan. Kebetulan pasien dokter Desi tersisa satu orang sehingga Sheika tak harus menunggu lama.
"Nyonya Sheila Kamila ,,," Terdengar suara suster memanggil nama Sheila.
"Ya sus ,,," Balas Sheila bergegas berdiri.
"Yang, pelan-pelan ,,,"
"Mas !! Tolong jangan mulai lagi ,,," Sheila sedikit mengembangkan suaranya membuat Alisha terkekeh.
Tanpa memperdulikan Abimana, Sheila bersama Alisha masuk ke dalam ruangan dokter Desi, disusul Abimana.
"Selamat siang, dok ,,," Sapa Sheila tersenyum ramah.
Wanita yang membuat jadwal periksa dengannya hanya ibu-ibu hamil atau yang ingin program kehamilan. Untuk kasus Sheila dokter Desi bisa menebak jika wanita cantik itu sedang hamil.
"Mau periksa kehamilan dok. Oh ya kenalkan, suami aku dok dan adikku Alisha." Sheila memperkenalkan kedua orang yang menemaninya.
Dokter Desi menyalami keduanya satu per satu sebelum meminta Sheila agar naik dan berbaring diatas brangkar. Abimana ikut berdiri disamping sang istri begitupula dengan Alisha. Keduanya sangat antusias ingin melihat wujud calon anggota keluarga baru mereka.
Tanpa disuruh, suster pendamping dokter Desi mengoleskan gel pada perut Sheila yang masih tampak rata. Setelahnya dokter Desi mulai menempelkan alat yang akan mendeteksi kehamilan Sheila.
"Selamat ya dok, usia kandungannya sudah memasuki minggu ketiga. Jangan terlalu lelah karena usianya masih rawan. Tapi rahim dokter Sheila insya allah kuat kok."
Senyum diwajah dokter Desi tak pernah pudar saat berbicara. Suaranya yang lembut menandakan wanita itu baik hati, usianya yang hanya beberapa tahun diatas Sheila membuat keduanya cukup akrab sebagai rekan sesama dokter.
__ADS_1
"Boleh saya konsultasi dengan dokter ?" Tanya Abimana tiba-tiba.
"Tentu saja boleh pak. Suster silahkan keluar dulu dan nona juga." Ucap dokter Desi pelan.
Tanpa menunggu perintah dua kali, suster tersebut keluar diikuti oleh Alisha. Sheila menatap bingung Abimana. Bukankah yang sedang hamil dirinya ? Tapi kenapa pria itu yang ingin konsultasi ? Belum hilang kebingungan Sheila, kini ia terbelalak mendengar pertanyaan suaminya.
"Apa yang ingin bapak tanyakan ? Kandungan dokter Sheila gak ada masalah sejauh ini dan mudah-mudahan kedepannya akan terus seperti itu."
"Bukan masalah kandungan istri saya, dok ,,, tapi mengenai hubungan suami istri." Balas Abimana menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Mas !!! Ada-ada aja deh pertanyaannya." Kesal campur malu Sheila sedikit berteriak.
Ingin rasanya Sheila masuk ke dalam perut bumi saat ini juga. Ia tak pernah menyangka Abimana akan menanyakan masalah pribadi seperti itu.
"Gak apa-apa dokter Sheila. Hal yang wajar jika kaum pria menanyakan hal itu karena para pria tak mungkin bisa menahan hasratnya apalagi jika istrinya sedang hamil karena dimata mereka istri yang sedang hamil terlihat lebih seksi dimatanya."
Abimana tersenyum lebar mendengar ucapan dokter Desi. Jangankan saat hamil, melihat istrinya saja tidur terbentang membuatnya ingin langsung menerkamnya.
"Pada trimester pertama bisa saja bapak melakukannya hanya saja harus pelan-pelan dan jangan terlalu menekan perut istrinya. Lagipula kandungan dokter Sheila kuat dan tak ada masalah. Intinya bapak pelan-pelan saja dan jangan terlalu sering dulu. Kalau biasanya setiap hari, untuk trimester pertama dikurangi jadi dua kali seminggu, nanti trimester kedua boleh tiga kaki seminggu dan pada bulan kelahiran boleh setiap hari agar mempercepat proses kelahiran." Ucap dokter Desi panjang lebar.
Wajah Abimana berubah murah mendengar penjelasan dokter Desi. Dua kali seminggu sangat kurang. Apa ia bisa menahan sakit kepalanya jika jatuhnya sesedikit itu ? Abimana menarik napas panjang.
"Baik dok, terima kasih. Kami permisi ,,," Pamit Abimana tak ingin berlama-lama.
Sheila menjabat tangan dokter Desi dan mengingatkan agar Sheila rutin memeriksa kandungannya setiap bulan. Sedangkan Abimana sudah berjalan terlebih dahulu. Suasana hatinya kurang baik karena perkataan dokter Desi.
Tak ada yang bersuara selama perjalanan menuju perkiraan. Melihat kakak iparnya lebih banyak diam membuat Alisah bingung dan memberi kode pada sang kakak namun dibalas dengan mengedikkan kedua bahunya pertanda kakaknya pun tak tahu persoalan. Hingga mobil kembali membelah jalanan ibukota tak ada yang bersuara. Sheila pun tak ingin memancing dikirim yang keruh.
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷