
Kehidupan pernikahan Sheila dan Abimana semakin hari semakin harmonis. Cinta mereka semakin bersemi setiap harinya. Setiap hari mereka bersama dan saling menjaga hati dan perasaan pasangannya.
Berbeda halnya dengan Alisha yang masih dilema dengan kehidupan rumah tangganya. Mama Ferdy terlalu mendominasi putranya sehingga Alisha tak ingin lagi bersama sang suami.
"Kamu busa gak sih sedikit ngerti mama ? Hanya aku yang dia punya." Ucap Ferdy memelas.
"Mas, tolong ngertiin aku juga dong. Aku ini seorang istri bukan saingan mamamu." Balas Alisha tak kalah memelasnya.
"Lalu mas harus apa ? Gak mungkin kan mas jadi anak durhaka dengan membiarkan mama hidup sendiri."
"Apa aku pernah meminta agar mas meninggalkan mama ? Enggak kan ? Aku hanya minta xupaya mas jangan terlalu membela mama. " Sarkas Alisha.
Sejak menikah, mama mertuanya selalu saja menyindirnya padahal wanita paruh baya itu sendiri yang datang melamarnya kala itu. Salahkan dirinya yang langsung menerimanya karena lebih mengutamakan ketampanan Ferdy kala itu.
"Mas gak tahu harus gimana lagi." Ferdy mengusap wajahnya kasar. Ia benar-benar tak ada jalan keluar bagi kedua wanita itu.
"Kita pisah aja, mas. Hutang mama juga sudah kamu lunas, kan ? Kak Sheila juga sudah menyerahkan kembali dokumen perusahaan kalian, kedepannya kita tak saling berkaitan. Lagipula aku tahu kok tujuan mama melamarku waktu itu. Hingga sekarang pun aku gak tahu perasaanku padamu apakah cinta atau hanya menyukai saja." Jujur Alisha.
Sejak mama mertuanya keceplosan mengenai pernikahan mereka, sejak saat itupula rasa yang dimiliki Alisha seketika hilang bagaikan asap yang tersapu angin. Ia tak membenci kakaknya karena disini dirinyalah yang menjadi perabot kekasih sang kakak. Apalagi Sheila tak pernah sekalipun menatap Ferdy dengan tatapan yang mendalam.
__ADS_1
"Maafkan aku yang tak bisa menolak permintaan mamaku. Mas bukannya ingin memperalatmu, mungkin awalnya mas memang hanya mengikuti permintaan mama tapi seiring dengan waktu, mas sudah mulai menyayangimu."
"Maaf mas tapi aku justru sebaliknya. Awalnya aku memang menyukaimu tapi semakin lama rasa suka itu menghilang. Mumpung kita belum memiliki anak, mari kita akhiri pernikahan tak sehat ini. Setelah ini kita komunikasi melalui pengacara saja. Permisi."
Alisha tak ingin lagi berada lebih lama dalam ruang kerja Ferdy. Kekecewaan dan kemarahannya tak dapat lagi ia bendung sehingga hanya perpisahan yang menjadi jalan satu-satunya. Urusan papa dan mamanya biarlah menjadi urusannya. Kedua orang tuanya pasti mendukung dan menerima setiap keputusannya.
'Maafkan aku dek, tak bisa membahagiakanmu.' Batin Ferdy menatap punggung wanita yang sebentar lagi akan menjadi mantan istrinya.
Mungkin ini adalah karya baginya atas segala perbuatannya pada Sheila dimasa lalu. Walaupun pada kenyataannya Sheila ternyata tidak mencintainya sepenuh hati dan bahkan kini telah bahagia bersama kekasihnya dimasa lalu. Ferdy pun tak menyalahkan sang mama karena inilah takdir yang harus ia jalani. Ferdy hanya berharap ke depannya ia bisa memajukan perusahaannya.
Alisha melajukan mobilnya menuju rumah keluarganya. Tak ada airmata kesedihan menghiasi wajahnya. Ia hanya ingin menumpahkan segala kekecewaannya pada mama dan papanya. Ia hanya butuh sandaran sesaat sebelum memulai hidup baru dengan status yang baru pula.
"Assalamualaikum, pa, ma ,,," Sapa Alisha pada kedua orang tua yang telah berjasa pada keberadaannya didunia ini.
" Waalaikumsalam ,,," Kompak keduanya.
"Lho, kok pulangnya cepat, sayang ? Gak ada kerjaan ?" Tanya mama Rani mengernyitkan dahinya.
"Aku baru saja dari kantor mas Ferdy, ma setelah itu langsung pulang."
__ADS_1
"Ada masalah ?" Tebak Shehzad jitu.
Alisha menatap papa dan mamanya secara bergantian kemudian menarik napas dalam-dalam sebelum menceritakan persoalannya.
"Ma, pa ,,, aku ingin bercerai dengan mas Ferdy." Ucap Alisha dengan tenang.
"Ada masalah apa ? Bicarakan dulu dengan baik-baik, semua permasalahan pasti ada jalan keluarnya. Jangan terburu-buru memutuskan sesuatu apalagi mengenai perceraian. Dalam rumah tangga memang sering terjadi silang pendapat antara suami dan istri tapi itu semua bisa kita lewati jika dibicarakan baik-baik dan mencari solusinya bersama. Jangan mengedepankan ego, mengalahkan jika memang itu jalan yang terbaik." Mama Rani menasehati putri bungsunya panjang lebar.
"Bukan itu masalahnya ma, masalah kami sudah ada sejak awal menikah. Tujuan mertuaku melamarku dan menikahkan kami hanya semata-mata demi nama perusahaannya. Kami menikah tanpa cinta, mas Ferdy tak mencintaiku sama sekali semua karena keinginan mamanya saja. Dan asal kalian tahu orang tua pria yang menolak kakak waktu itu adalah mama mertuaku."
Baik mama Rani maupun Shehzad sama-sama terkejut mendengar kenyataan itu. Sulit untuk dipercaya tapi Alisha tak pernah berbohong dan selalu jujur pada keluarga sepahit apapun faktanya.
"Papa sama mama hanya bisa mendukung yang terbaik menurutmu, sayang. Kamu sudah dewasa dan berhak atas kehidupanmu." Ucap Shehzad memeluk erat putri bungsunya.
Shehzad tahu saat ini putri yang selalu ia manja dengan berbagai kemewahan dan se ia besarkan dengan limpahan kasih sayang, kini sudah waktunya memutuskan sendiri persoalan yang dihadapinya. Shehzad tak ingin terlalu jauh mencampuri urusan rumah tangga putrinya karena yang merasakan adalah Alisha. Ia dan Rani hanya melihat luarnya saja.
"Terima kasih ma, pa ,,," Alisha membalas pelukan papanya tak kalah erat.
Hanya pelukan sang papa dan mamanya yang ia butuhkan saat ini. Dengan berada dalam pelukan mereka, hati dan perasaannya tenang. Memang betul yang dikatakan oleh orang bijak bahwa keluarga adalah tempat kita pulang. Sejauh apapun kita melangkah dan semangat apapun yang kita dapatkan diluar sana tetap keluargalah yang bisa memberikan segalanya tanpa pamrih.
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷