Menggapai Rasa Yang Tersisa

Menggapai Rasa Yang Tersisa
BAB ~ 40. TEROMPET PERANG BELUM BERBUNYI


__ADS_3

Seakan berlomba dengan mentari pagi, Sheila kini telah bangun dan selesai menunaikan kewajibannya sebagai muslim. Setelah itu ia membangunkan sang suami lalu segera keluar kamar untuk menyiapkan sarapan. Ia tak ingin di cap sebagai wanita malas oleh mertuanya. Maka di rumahnya sendiri, ia busa bersantai dan tinggal menikmati masakan ART tapi di rumah Sheila harus bekerja. Meskipun ART juga bertebaran. Bukan ingin mencari muka pada mama mertuanya akan tetapi Sheila belum mengenalnya dengan baik.


Sheila bertekad harus mengenali mama mertuanya agar kedepannya tidak terjadi perseteruan antara mertua dan menantu seperti cerita novel.


“Selamat pagi, bi ,,,” Sapa Sheila ramah


“Selamat pagi nona ,,,” Balas bi Nuni kaget. Pasalnya si bibi tak menyangka jika menantu majikannya bangun selagi ini.


“Apa yang bisa aku bantu, bi ?”


Sheila memperhatikan tangan bi Nuni yang lincah menyiapkan bahan masakannya.


“Gak usah, non ,,, bibi sudah biasa.”


“Jangan sungkan bi, aku biasa kok bantu mama masak.” Sheila benar-benar gadis yang penting menyerah.


Akhirnya dengan berat hati bi Nuni membiarkan Sheila membantunya memasak. Keduanya bercerita sambil memasak bagaikan orang yang telah lama kenal. Sheila yang gampang akrab dengan semua orang membuat bi Nuni merasa nyaman. Keduanya tak sadar jika sejak beberapa menit yang lalu nyonya rumah sedang memperhatikan mereka dan ikut tersenyum mendengar guyonan receh ART dan menantunya.


‘Pantas aja putraku cinta mati padamu.’ Batin mama Kalisha memperhatikan interaksi keduanya.


“Astaga mama ,,,” Sheila kaget melihat kehadiran mama mertuanya saat berbalik ingin menata sarapqn diatas meja makan.


“Kalian aja yang keasyikan cerita makanya gak sadar dengan kehadiran mama.”


“Iyalah, secara mama seperti makhluk tak kasar mata.”


Bukan Sheila yang mengatakan hal itu melainkan Abimana yang juga ikut bergabung. Sheila menatap datar pria yang berstatus sebagai suaminya mendengar kata-kata tak sopan menurutnya.


“Dasar anak durhaka ! Mau mama kutuk ?!”


“Jangan dong ma, belum dikutuk aja hidupku miris gini apalagi kalau dikutuk.” Balas Abimana dengan wajah memelas yang dibuat-buat.


Sheila hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat drama pagi anak dan ibunya. Untuk pertama kalinya Sheila melihat bagaimana jahilnya Abimana pada mama Kalisha.

__ADS_1


Sarapan sudah tertata rapi dimeja makan, bi Nuni pun tak terlihat lagi. Tanpa aba-aba ketiganya segera menikmati sarapannya. Tak ingin terlambat ke kantor, Abimana menuntaskan sarapannya dengan cepat.


“Sayang, bisa gak temani mama hari ini ?”


Mama Kalisha menatap Sheila dengan lembut. Sesaat Sheila terdiam, pagi ini pekerjaannya lumayan banyak, kemarin ia belum selesai memeriksa berkas-berkas yang menumpuk di meja kerjanya jika hari ini ia tidak masuk kantor maka bisa dipastikan tumpukan berkas bertambah. Tapi mama mertuanya meminta ditemani untuk pertama kalinya. Melihat sang istri terdiam, Abimana angkat suara. Ia tahu bagaimana sibuknya wanita itu.


“Gimana kalau setelah jam istirahat ma ,,,”


“Gak apa-apa mas, aku bisa kok. Hari ini gak ada jadwal yang mengharuskan aku datang.” Ucap Sheila secepat kilat mengiyakan ajakan mama Kalisha.


Bagaimanapun sibuknya Sheila, keluarga tetap yang utama. Lagipula pria yang telah menikahinya adalah anak tunggal.


“Kali ini mas berangkat sendiri, gak apa-apa kan ?” Sheila tersenyum sangat manis pada Abimana.


Seandainya saja Kalisha belum mendengar cerita kehidupan pernikahan mereka, Kalisha akan sangat bahagia karena mengira pernikahan putranya baik-baik saja.


“Gak apa-apa, Yang ,,, tapi temani aku makan siang.”


“Kalian gak capek hanya saling melempar senyum, saling perhatian padahal inti dari sebuah pernikahan belum dilakukan.” Kalisha tak dapat lagi menahan diri.


“Nanti mama jelasin, sekarang kamu ke kantor. Kasihan Nanti anak istrimu gak bisa shopping jika perusahaanmu bangkrut.”


“Gak gitu juga, ma ,,, masa hanya terlambat ke kantor perusahaan jadi bermasalah.”


Sheila memilih diam dan menikmati sarapannya. Jika keduanya bertemu pasti akan berdebat tak memilih waktu dan tempat. Melihat menantu kesayangannya sarapan dengan hikmat, Kalisha pun melakukan hal yang sama hingga sarapan mereka tuntas.


“Mama siap-siap dulu.”


“Masih pagi-pagi, ma.” Teriak Abimana karena pergerakan sang mama terlalu cepat.


“Jangan teriak-teriak mas, kita tidak sedang di hutan. Lagian kan mama bilangnya siap-siap.”


Cup

__ADS_1


“Bawel banget sih istriku. Dah cocok nih jadi ibu.” Ucap Abimana mengusap lembut pucuk kepala wanitanya.


Untuk kesekian kalinya Abimana memberi kode pada Sheila. Bukannya Sheila tidak peka hanya saja ia menunggu waktu yang tepat. Ia juga ingin merasakan menjadi seorang wanita yang sempurna dengan menjadi ibu dari anak-anak yang lucu-lucu.


Sheila tak ingin melakukannya tanpa rasa cinta. Sejujurnya selama tiga bulan pernikahannya, ia berusaha menumbuhkan kembali rasa yang dulu pernah ada. Dengan selalu menerima perlakuan manis Abimana, ia berharap masih ada rasa yang tersisa diantara mereka.


“Maafkan aku, mas ,,, sabar ya ?!” Ucap Sheila sendu.


“Hei ,,, jangan kayak gitu dong, mas juga sedang berusaha membantumu.” BALAS Abimana yang mengerti dengan baik perasaan istri tercintanya.


Sebagai seorang pria, Abimana pantang menyerah untuk berusaha menggapai rasa yang ia yakini masih ada yang tersisa untuknya. Dengan Sheila tak menolak setiap sentuhannya, Abimana tak henti-hentinya mengucap syukur.


“Aku merasa bersalah mas tapi akupun tak bisa berbuat apa-apa daripada kita melakukannya dengan terpaksa.”


“Gak usah dipermasalahkan. Kita hadapi bersama. Yuk, ah ,,, siapkan baju kantor mas.” Abimana tak ingin membahas hal-hal yang bisa merusak moodnya di pagi hari.


“Bentar mas, aku bereskan dulu mejanya. Kasihan bi Nuni jika harus dikerjakan sendiri.”


“Bukan hanya bi Nuni, ya. Mama gak sepelit itu mempekerjakan orang.” Abimana menarik tangan Sheila menuju kamarnya.


Dengan wajah cemberut, Sheila mengikuti Abimana yang terus menarik tangannya. Tiba di kamar, tanpa berkata-kata Abimana langsung membuka bajunya hingga membuat Sheila menutup mata. Meskipun Abimana selalu menggodanya seperti itu namun Sheila tetap saja merasa risih.


“Jangan tutup mata, Yang ,,, gak dosa kok kalau dilihat, kan sudah halal bahkan dipegang juga gak apa-apa.” Abimana menahan tawa sengaja menggoda istrinya yang masih per***n ting ting.


“Sinting !!”


“Mas sinting karena hanya bisa meraba itupun hanya sekwilda (sekitar wilayah dada).” Balas Abimana tak mau kalah.


Sheila tak lagi menanggapi perkataan Abimana. Ia memilih untuk segera menyiapkan bajumkerja pria itu. Sheila memilih mengamankan diri dengan tidak menanggapi setiap pria itu menyinggung soal hubungan suami istri. Melihat sikap diam istrinya membuat Abimana mendengus halus. Selalu seperti itu padahal dengan saling menggoda bisa mempercepat timbulnya rasa cinta wanita itu.


‘Sabar ya, belum waktunya bertempur. Jika nanti terompet peperangan telah berbunyi maka kita akan beraksi hingga tetes darah penghabisan.’ Batin Abimana bermonolog menatap inti tubuhnya.


Abimana terkekeh di dalam kamar mandi seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Bener kata Sheila, dirinya sudah mulai sinting.

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2