
Dengan langkah gontai Abimana masuk ke dalam ruangannya. Shandy menatapnya bingung. Tidak biasanya pria itu kehilangan semangat hidup seperti sekarang ini.
“Abi ?! Kamu kenapa ?” Tanya Shandy menatap lekat sahabatnya.
“Aku bingung ,,,” Jawab Abimana dengan tatapan kosong.
“Bingung ?! Apa telah terjadi sesuatu ?! Tadi kamu kemana ?!” Shandy mencecar pertanyaan pada sahabatnya. Kali ini ia bertindak sebagai sahabat.
“Kamu ingat kan gadis pernah aku ceritakan ?”
Abimana menatap Shandy tanpa berkedip. Banyak hal yang akan ia katakan hari ini. Semoga saja sahabatnya itu bisa memberikan solusi. Abimana tak enak hati jika harus menghentikan Arumi sebagai sekretarisnya. Ia pun tak mungkin mengirimnya ke kantor pusat karena dengan demikian maka kesempatan untuk bertemu dengannya masih ada bahkan terbuka lebar. Sementara Sheila tak ingin hal itu terjadi.
Disisi lain Abiman bahagia karena ternyata sang istri cemburu walaupun tidak tampak daripada dan cara bicaranya akan tetapi dengan keinginannya itu mencerminkan isi hatinya.
“Ayo ngomong, jangan menatapku seperti gadis yang sedang jatuh cinta. Aku akui jika aku menarik tapi kita sesama batang dan aku masih normal.”
Bukkkkk
“Najis !!!” Abimana melempar kunci mobil yang ia pegang mendengar kata-kata tak bermoral sahabatnya.
“Makanya ngomong, kalau menatapku terus masalahmu gak akan selesai.” Balas Shandy mulai mengeluarkan tanduknya.
“Jangan berusaha mendekati Sheila.” Ucap Abimana singkat dan padat.
Mata Shandy membola. Ia tak terima Abimana seenaknya jidatnya tiba-tiba melarang mendekati dokter cantik itu. Sejak bertemu pertama kali, Shandy sudah menyimpan rasa pada gadis itu.
“Enak saja, kita bersaing secara sehat dong.” Balas Shandy semakin kesal.
“Pokoknya jangan, kamu akan sakit hati dan menyesal.”
“Aku akan tetap berusaha mendapatkan hatinya. Usaha tidak akan menghianati hasil.”
“Terserrraaahhh !!” Abimana pun emosi, sahabatnya tak mau mendengarkan kata-katanya.
__ADS_1
“Kamu kenapa sih, kayak suami yang gak pernah dapat jatah dari istri.” Tebak Shandy memang benar adanya.
“Seseorang meminta agar aku mengganti Arumi sebagai sekretaris.” Ucap Abimana mengalihkan pembicaraan.
“Pasti orang itu merasa terganggu dengan tatapan Arumi padamu. Keliatan banget jika dia memiliki perasaan yang lebih padamu. Siapa gadis itu yang memintamu mengganti sekretarismu ?”
“Tapi menurutku biasa aja, kita hanya berteman tidak lebih. Kamu sendiri tahu kan jika aku sangat mencintai seorang gadis.” Balas Abimana tak menanggapi tebakan Shandy.
“Iya, aku tahu dan Arumi pun tahu hal itu. Tapi selama gadismu itu belum berdiri disampingmu maka jangan salahkan Arumi jika terus berharap padamu.”
“Apa cincin ini belum bisa mewakilinya ?” Abimana mengangkat tangannya memperlihatkan cincin yang melingkar di jari manisnya.
Shandy menarik tangan Abimana dan memperhatikan sebuah cincin berbentuk setengah hati. Entah sejak kapan Abimana memakai cincin tersebut dan siapa yang memakai pasangan cincinnya.
by pinterest. Gini nih cincin mereka menurut outhor.
“Kamu telah menemukannya ? Dan sudah pula menikahinya ? Tapi kenapa gak ada beritanya ? Anda utang penjelasan pak Abimana.” Ucap Shandy kesal.
“Maafkan aku belum sempat bercerita. Dan untuk saat ini aku belum bisa mengatakan yang sebenarnya. Aku hanya ingin meminta saranmu tentang Arumi.”
“Tinggal cari aja penggantinya dan ngomong sama dia, susah amat sih. Disini kamu yang bos jadi terserah kamu gak ada yang bisa melarangmu.” Ucap Shandy masih menyisakan kekesalannya.
“Gak semudah itu, Shandy ,,, aku gak enak sama Arumi yang telah membantuku sejak awal dibukanya cabang perusahaan.”
“Ya sudah, gak usah minta saranku. Jika kamu selalu melibatkan perasaan maka suatu saat Arumi akan merasa jika kamu memang menyimpan rasa untuknya.”
Mendengar kata-kata sahabat sekaligus asistennya membuat Abimana menjambak sendiri rambutnya karena frustasi. Memang benar dan masuk akal apa yang dikatakan oleh Shandy tapi Abimana tak tega jika memberhentikannya begitu saja tanpa ada alasan yang jelas.
Braaakkkk
“Maaf mengganggu kalian tapi aku harus memberikan laporan dari divisi keuangan.”
__ADS_1
“Kenapa harus kamu yang serahkan ? Bukankah itu tugas divisi keuangan ? Lagian kalau ada yang ingin pak Abi diskusikan atau tanyakan soal laporan itu, kan gak bisa dengan kamu. Lakukan saja tugasmu sebagai sekretaris dan jangan mengambil alih pekerjaan orang.” Sinis Shandy.
Sejak awal Shandy memang tak pernah pelan jika berbicara dengan Arumi. Entah mengapa Shandy tak menyukai sikap Arumi yang terlihat sangat berlebihan bahkan terkesan dibuat-buat.
“Maaf pak, saya hanya tidak ingin jika kalian berdua merasa tergganggu dengan kedatangan ibu Linda.” Ucap Arumi tertunduk.
“Lalu jika kamu yang masuk seperti ini kami gak terganggu gitu ?” Sarkas Shandy memberi kode pada Abimana agar tidak membantu Arumi.
“Maaf pak ,,,”
“Gak usah minta maaf, sekarang panggilkan Linda.” Titah Shandy melebihi titah Abimana.
Dengan gerakan cepat, Arumi segera melesat keluar dari ruangan CEO. Setiap kali Arumi berbicara dengan asisten Shandy, hatinya mengkerut. Pria itu selalu menaikkan nada suaranya hingga beberapa oktaf maka sedang berbicara dengannya. Jangan lupa wajahnya yang tidak bersahabat.
“Jangan terlalu kasar padanya, kasihan dia seorang wanita.” Ucap Abimana tak tega melihat ekspresi Arumi.
“Astaga, kenapa sih kamu kok gak peka ? Sebagai sahabat aku hanya bisa mengingatkan agar jangan terlalu memberi hati pada gadis itu. Suatu saat kamu akan menyesal.” Balas Shandy kembali duduk di belakang meja kerjanya.
Tak ada lagi pembicaraan diantara mereka. Niat awal Shandy ingin mencari tahu wanita yang dinikahi olehnya sahabatnya tak kesampaian gara-gara membahas Arumi. Abimana pun memeriksa laporan yang tadi dibawa oleh Arumi. Pria itu berulang kali membuka lembaran kertas berisikan angka-angka untuk memastikan nilai yang tertera disana.
Dahi Abimana mengernyit bingung. Walaupun ia tidak terlalu menguasai laporan keuangan namun Abimana menyadari ada yang salah dalam laporan tersebut. Abimana meraih ponselnya dan mulai memotret lembar demi lembar lalu mengirimkannya pada seseorang yang bisa membantunya.
Drrrrttttt drrrrtttt
“Halo Yang, tolong bantu aku periksa laporannya.” Ucap Abimana tanpa basa basi.
Shandy menghentikan pekerjaannya mendengar Abimana menyapa mesra seseorang yang bisa dipastikan seorang wanita. Menyadari Shandy memperhatikannya, Abimana mendelik tajam. Sungguh kepo sahabatnya itu.
Hingga Abimana meletakkan kembali ponselnya, Shandy masih menatap bos sekaligus sahabatnya dengan wajah meminta penjelasan.
“Gak usah kepo dengan teleponku. Lihat ini, ada sesuatu yang ganjil dalam laporan ini. Aku gak terlalu mengerti dan aku rasa kamu pun sama denganku makanya meminta bantuan pada seseorang.
Shandy menuruti kemauan Abimana. Sesaat alisnya mengkerut memperhatikan deretan angka-angka yang membuatnya pusing. Sejak jaman sekolah Shandy tak pernah tertarik dengan mata pelajaran yang berhubungan dengan angka-angka.
__ADS_1
“Keputusanmu meminta bantuan sudah tepat karena sampai linggis terapung pun aku tak bisa membantumu. “ Ucap Shandy adalah adanya.
🌷🌷🌷🌷