Menggapai Rasa Yang Tersisa

Menggapai Rasa Yang Tersisa
BAB ~ 54. KESEDIHAN DAN KEBAHAGIAAN


__ADS_3

Alisha sengaja tak menghadiri sidang perceraiannya dengan Ferdy dan hanya diwakili oleh pengacaranya. Walaupun persidangan mereka tak memakan waktu yang lama namun rasa lelah tetap mendera batin Alisha.


Tak ada drama perceraian antara Ferdy dan Alisha, keduanya sepakat untuk berpisah secara baik-baik. Alisha pun tak menuntut nafkah selama masa iddahnya apalagi harta gono gini, yang penting bagi Alisha hanya perpisahan.


"Sabar ya, dek ,,, kamu akan mendapatkan pria yang tepat." Ucap Sheila memeluk adiknya dengan penuh kasih sayang.


" Gak apa-apa kak, begini lebih enak dan lebih plong. Dan maafkan aku dimasa lalu."


"Tak ada yang perlu dimaafkan karena tak ada yang salah, semua suratan takdir." Balas Sheila bijak.


Shehzad dan Rani bersyukur karena kedua putrinya saling mendukung dan saling menyayangi. Kebahagiaan orang tua yang sesungguhnya adalah ketika anak-anaknya akur dan saling mendukung.


Sheila dan Abimana sengaja tak ke kantor hari ini dan hanya berkunjung ke rumah papa dan mamanya semata-mata untuk memberikan dukungan pada adiknya.


"Kalian berdua gak ke kantor ? Kasihan lho asisten kalian yang bekerja ekstra." Ucap Shehzad pada anak dan menantunya.


"Gak apa-apa, pa ,,, bentar lagi Shandy akan datang membawa berkas yang harus aku tanda tangani." Balas Abimana apa adanya.


Ia tak bisa berpisah dari Sheila walau hanya sekejap. Mereka selalu bersama bagaikan amplop dan prangko. Bahkan jika Sheila masuk ke kamar mandi pun Abimana dengan sukarela berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Kalian kok terlihat aneh. Secinta-cintanya suami pada istrinya tapi tak sampai seperti kalian berdua. Setiap pasangan berhak mengekspresikan rasa cintanya tapi gak seperti kalian juga yang bener-bener gak bisa berpisah."


"Hehehe ,,, maaf ma, aku juga sedikit heran dengan kelakuanku yang ingin selalu mencium wangi parfumnya tapi gak apa-apa juga kan istri sendiri." Balas Abimana jujur.


"Bener tuh kak, kan berabe kalau sukanya parfum wanita lain. Bakalan panjang urusannya." Timpal Alisha terkikik geli membayangkan ucapannya.


"Haidnya lancar kan, sayang ?" Tanya mama Rani tiba-tiba.


Deg


Sheila terkejut mendengar pertanyaan sang mama. Setiap malam dan pagi hari mereka berolah raga tak kenal lelah yang artinya ia belum pernah haid hingga saat ini. Sheila memukul jidatnya menyadari kebodohannya. Sebulan terakhir ini Sheila memang merasakan perubahan dalam dirinya namun pikirannya tak sampai pada dugaan kehamilan.


"Sejak pesta ulang tahunku, Sheila gak pernah haid tuh ma." Kali ini Abimana yang menjawabnya dengan santai.

__ADS_1


"Bener itu sayang ?" Mama rani ingin memperjelas pada putri sulungnya.


"Masa Abi bohong sih, ma ,,, setiap hari kan kami berusaha menghadirkan cucu untuk mama sama papa." Balas Abimana polos.


Shehzad dan Rani tersenyum bahagia mendengar kata-kata menantunya. Mereka yakin, seorang cucu akan segera hadir di tengah-tengah mereka yang akan melengkapi kebahagiaan keluarganya. Sementara Alisha menghilang entah kemana setelah mendengar ucapan kakak iparnya.


Tak lama kemudian, Alisha kembali dengan sebuah kantong plastik bertuliskan nama sebuah apotek ditangannya.


"Kakak gunakan ini dulu, gih ,,, agar kami tidak hanya menduga-duga saja." Alisha memberikan beberapa alat tes kehamilan pada Sheila.


Rupanya Alisha menghilang untuk membeli alat tersebut di apotik yang tak jauh dari rumah mereka. Kesedihan karena perpisahan Alisha dan Ferdy tertutupi dengan dugaan kehamilan Sheila.


Tanpa membuang-buang waktu, Sheila segera membawa alat tersebut ke dalam kamar mandi. Untuk lebih meyakinkan hasilnya, Sheila menggunakan semuanya dan senyuman kebahagiaan merekah menghiasi bibirnya. Semua alat yang ia gunakan hasilnya sama, dua garis yang artinya ia memang sedang mengandung.


Saat pintu kamar mandi terbuka, semua pasang mata menatap kearah wanita cantik yang kini sedikit berisi pada bagian-bagian tertentu. Selain karena pengaruh kehamilannya juga karena hasil tangan Abimana yang selalu berperilaku disetiap kesempatan dimanapun mereka berada.


"Gimana hasilnya, Yang ??" Abimana tak sabar ingin mendengar bukti keperkasaannya.


"Ya gitu deh ,,," Balas Sheila cuek.


Alisha memang wanita yang tak sabaran dan paling membenci orang yang berbicara berbelit-belit dan bikin penasaran.


"Sayang, gimana hasilnya coba mama lihat." Mama Rani pun tak sabaran menunggu.


"Kalian akan menjadi oma dan orang serat aunty." Ucap Sheila tersenyum lebar.


"Berarti aku akan jadi papa, dong. Thanks Yang ,,," Abimana menggendong Sheila saking bahagianya.


Usaha memang tak pernah menghianati hasil. Terbukti kini setelah berusaha tak kenal lelah pagi dan malam kadang siang disela-sela sakitnya kepala karena pekerjaan yang banyak ternyata hasilnya sangat memuaskan.


"Besok kalian ke dokter untuk memastikan usia calon cucu kami." Ucap Shehzad bahagia.


"Aku ikut ya, kak ,,, kan pingin lihat ponakan untuk pertama kalinya." Timpal Alisha ikut bahagia dengan kebahagiaan kakaknya.

__ADS_1


"Kabari mama Kalisha dan papa Kuncoro, mas." Titah Sheila.


"Papa sudah mengabari mereka." Balas Shehzad menghentikan pergerakan tangan Abimana.


Baru saja Abimana akan mengabari kedua orang tuanya namun ternyata papa mertuanya telah bergerak lebih cepat. Mereka benar-benar soulmate yang tak pernah menyembunyikan apapun.


drrrrttttt drrrrttttt


Ponsel Abimana berteriak meminta perhatian darinya. Terpampang jelas panggilan video dari sang mama tercinta. Abimana segera menggeser tombol hijau agar panggilan video tersambung.


"Assalamualaikum sayang ,,, mama tuh bahagia banget akhirnya akan memiliki cucu setelah sembilan bulan." Wanita cantik itu berbicara dengan wajah bahagia.


"Iya ma, Alhamdulillah akhirnya hamil juga." Timpal Sheila tersenyum lebar.


"Kamu mau hadiah apa untuk bagimu, sayang ??"


"Gak usah ma, yang penting mama datang pas aku lahiran. Itu aja yang Sheila inginkan."


"Itu keinginan ibunya doang ma, kalau keinginan bayi kami gak muluk-muluk hanya minta tabungan aja setelah keluar nanti, jadi hidup dan pendidikannya terjamin." Timpal Abimana secepat kilat.


"Lalu apa gunanya kamu sebagai papa ?!" Hardik mama Kalisha mendengar permintaan putranya.


"Papa mana, ma ?" Tanya Sheila menengah pertengkaran keduanya sebelum memanas.


"Biasa, lagi kerja untuk calon cucunya." Balas Mama Kalisha terkekeh.


"Salam kangen buat papa, semoga beliau selalu sehat."


"Amin. Ya sudah, mama tutup dulu teleponnya. Minggu depan mama akan pulang." Ucap mama Kalisha mematikan sambungan teleponnya.


Mama Rani memutuskan ke dapur untuk memaksa makanan kesukaan mereka. Kebahagiaan dan rasa syukurnya tak dapat ia sembunyikan. Untuk awal kehamilan putrinya ia akan menemani dan merawat putri sulungnya itu. Walaupun belum menampakkan tanda-tanda ngidam namun mama Rani sudah siap untuk membantu menantunya.


"Yang, kamu harus banyak-banyak istirahat, jangan terlalu capek." Ucap Abimana mulai protektif.

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷


__ADS_2