
Sesuai dengan kesepakatan, Sheila kini berada di ruangan HRD lalu pak Rinto pun membawa Sheila ke divisi keuangan untuk memulai pekerjaannya. Sheila ditempatkan pada bagian akhir pembuatan laporan keuangan. Setelah laporan keuangan disusun dan sebelum diserahkan pada CEO untuk ditandatangani tangani maka tugas Sheila adalah memastikan kebenaran laporan tersebut.
“Perkenalkan karyawan baru yang akan bergabung mulai hari ini. Namanya Kamila dan dia yang akan memeriksa laporan sebelum diserahkan pada CEO.” Pak Rinto memperkenalkan Sheila dengan memakai nama Kamila sesuai permintaan Abimana
Merasa sudah cukup memperkenalkan Sheila, pak Rinto kembali ke ruangannya. Dan asisten manajer yang sejak tadi menatap tak suka pada Sheila segera beraksi.
Tentu saja kedatangan Sheila sebagai karyawan baru dan menempati posisi yang membahayakan bagi mereka yang culas merasa tidak senang. Apalagi melihat paras Sheila yang berkilau membuat para wanita merasa tersaingi. Termasuk manajer dan asistennya.
“Hei, karyawan baru ,,, perkenalkan dirimu !” Bentak asisten manajer.
“Maaf bu, tadi kan pak Rinto sudah memperkenalkan namaku.” Balas Sheila sabar.
“Jangan kira kamu masuk kerja disini karena orang dalam sehingga kamu bebas melakukan apa saja, disini ada aturannya !” Lagi-lagi Rima berkata masih dengan nada tinggi.
Sheila setengah mati menahan amarahnya mendapatkan perlakuan kasar seperti itu. Rupanya suasana kantor PT. Bhi_Lha sedemikian tak menyenangkannya dan hal itu tak diketahui sama sekali oleh CEO mereka. Beberapa karyawan dan karyawan menatapnya prihatin namun mereka tak bisa berbuat apa-apa.
Sheila tak menggubris asisten manajernya itu. Ia mulai fokus pada pekerjaannya, Sheila hanya ingin segera menyelesaikan pekerjaannya dan segera angkat kaki dari ruangan terkutuk ini.
“Kurang ajar juga nih, karyawan baru !” Rima mendekati Sheila dengan kesal.
Braaakkkk
Rima memukul meja kerja Sheila. Walaupun amarah Sheila sudah sampai di ubun-ubunnya namun ia tetap menahan sekuat tenaga agar emosinya tak tersulut. Tugasnya baru saja akan ia mulai, jika saat ini ia tak bisa menguasai diri maka semuanya akan sia-sia. Ingatkan saja nanti ia qkan meminta ganti rugi karena karyawan PT. Bhi_Lha berani merundungnya.
“Maaf bu, aku harus menyelesaikan pekerjaanku, jika terlambat dan CEO bertanya, apa harus aku jawab jika semua gara-gara ibu ?” Balas Sheila sopan namun tersirat sebuah ancaman.
Rima tak berkutik, tadinya ia ingin memberikan tanda ucapan selamat datang pada Sheila yang kini memakai nama belakangnya seperti karyawan baru sebelumnya, namun ia tunda untuk sementara waktu. Rima pun tak ingin menerima amarah bos besar perusahaan tempatnya bekerja.
Dengan tekun Sheila menekuri kertas-kertas dihadapannya. Ia ingin segera menyelesaikan tugasnya dan meninggalkan tempat yang tidak ada kenyamanan sama sekali yang bisa membuatnya betah berlama-lama.
“Mbak, angka-angka ini kok gak sesuai, ya ? Yang memegang kendali selain manajer siapa, ya mbak ?” Sheila mulai mencari informasi.
Memang tidak seberapa uang yang dimainkan akan tetapi setiap item dan selalu seperti ini maka bisa dipastikan perusahaan akan gulung tikar.
__ADS_1
“Manajer, asisten manajer dan sekretaris. Mereka bekerjasama dan kami tak bisa berkutik karena sekretaris adalah calon istri CEO.” Bisik Melan pelan.
Mata Sheila terbelalak mendengar penuturan teman satu divisinya. Fakta baru tentang Arumi membuatnya terkejut setengah mati. Pantas saja selama ini ia tak menyukai Arumi.
“Memangnya sekretaris dan CEO kita adalah pasangan kekasih ?” Sheila mulai memancing Melan.
Sebagai bukti, Sheila tak lupa merekam pembicaraan mereka. Bukannya Sheila ingin mengkambinghitamkan rekan kerjanya, hanya saja Abimana terlalu mempercayai Arumi.
“Yah, begitulah rumor yang beredar. Apalagi setiap jam istirahat sekretaris dan CEO selalu pergi bersama.” Balas Mega masih dengan suara pelan.
Mereka terus membicarakan kejadian yang janggal pada divisi mereka. Mega yang merasa kasihan melihat Sheila karena dibullying pada hari pertama bekerja terus memperingatkan batasan yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Macam pernikahannya saja memiliki aturan.
Berbeda dengan Sheila yang bekerja sambil mengorek informasi, Abimana justru gelisah ingin menemui sang istri yang pasti sedang bekerja layaknya karyawan pada umumnya. Demi dirinya dan perusahaannya, wanitanya rela bekerja sebagai karyawan biasa padahal istrinya itu adalah pengendali salah satu perusahaan terbesar di tanah air.
“Bos, katanya ada karyawan baru dan cantik.” Ucap Shandy bersemangat.
“Tau darimana ?”
“Para karyawan pria ramai-ramai membicarakannya. Katanya gadis itu cantiknya luar biasa. Aku jadi penasaran.”Mata Shandy berbinar-binar kala membicarakan karyawan baru yang tak lain adalah istri bosnya sendiri.
Peringatan keras disertai tatapan tajam dari sang bos membuat nyali Shandy menciut. Jika sahabat sekaligus bosnya itu sudah berkata seperti itu maka mau tak mau Shandy harus menunda keinginannya. Kepentingan perusahaan lebih utama.
“Baiklah ,,, baiklah ,,, mungkin inilah takdirku saat akan mencari pasangan selalu saja ada penghalang.” Gerutu Shandy berjalan kearah meja kerjanya.
Perasaan Abimana semakin gelisah mendengar informasi asistennya. Jika seperti ini bukan tidak mungkin Arumi juga sudah mendengarnya dan maka sekretarisnya itu melihat Sheila maka segalanya akan runyam. Penyamaran Sheila bisa saja gagal dan koruptor yang sebenarnya bebas.
Abimana meraih dan mengetik sesuatu pada ponselnya. Tak mungkin ia menelepon sang istri dan membicarakan tugasnya sementara Shandy sedang berada di depannya. Telinga sahabatnya itu terlalu peka walaupun tampak sedang sibuk namun telinganya tetap bisa mendengar yang lain. Abimana sendiri heran dengan kemampuan sahabatnya yang sedikit berbeda.
Tringggg
Ponsel Sheila berbunyi tanda pesan masuk. Tanpa membuang-buang waktu Sheila segera membuka pesan whattshapnya dan ternyata pria menyebalkan.
Pria menyebalkan👻👻
__ADS_1
Yang, segera selesaikan pekerjaanmu, Shandy penasaran denganmu
^^^Me
^^^
^^^Penasaran ?
^^^
Pria menjengkelkan👻👻
Penasaran ingin menemuimu
Sheila tak lagi membalas pesan Abimana. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Bagaimana bisa ia menemukan pelakunya secepat itu ? Apa ia harus terang-terangan mempertanyakan laporan yang kemarin diberikan oleh Abimana ?
‘Jika Shandy sudah mendengar tentang karyawan baru itu maka pasti Arumi pun sudah mendengarnya, wahh gawat gimana kalau wanita itu datang dan mengenalinya ?’ Batin Sheila mulai panik.
“Apa boleh buat, tidak ada jalan lain. Aku juga gak bisa tahan berlama-lama disini.” Gumam Sheila segera membuka tas yang berisi laporan yang diberikan oleh Abimana.
Lima menit sebelum jam istirahat siang, Sheila berdiri dan menghampiri meja asisten manajernya kemudian menyerahkan laporan ditangannya. Sesuai dengan pembicaraannya dengan Mega bahwa semua laporan atas persetujuan manajer dan asistennya. Kebetulan manajer belum datang maka Sheila harus berhadapan dengan asisten arogan tersebut.
“Maaf bu, laporan kemarin sepertinya ada sedikit kekeliruan dengan angka-angkanya. Nominalnya tak satupun sesuai dengan proposal awal yang diserahkan pada PT. Garda Utama.” Ucap Sheila sesopan mungkin.
“Kamu itu siapa, hah ?! Berani-beraninya mengoreksi laporan kami. Jangan ngelunjak ya !! Mentang-mentang masuk lewat orang dalam. Kamu tuh gak tahu apa-apa, disini kamu orang baru tahu apa kamu tentang laporan keuangan !!” Rima berdiri dengan angkuhnya seraya menunjuk-nunjuk wajah Sheila.
“Pelan-pelan ngomongnya bu, ntar orang lain liat bu Rima bisa malu memarahi karyawan baru sepertiku.” Ucap Sheila pelan.
“Alaaa ,,, bukan aku yang malu tapi kamu ! Kamu akan menyesal setelah ini.” Teriak Rima tak terkendali.
Rima bagaikan orang kesurupan berteriak-teriak tak terima dengan kelakuan Sheila yang telah berani mempertanyakan laporan yang telah mereka buat. Sebaliknya Sheila menghadapinya dengan sangat tenang namun tetap memperhatikan gerak gerik Rima. Sheila tahu sejak tadi wanita itu ingin memukulnya namun tertunda. Ia yakin wanita itu hanya menunggu kesempatan saja.
🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
Dua bab cukup ya ,,,
Jangan lupa jejaknya