
Nyanyian merdu burung-burung menyambut pagi mengusik sepasang anak manusia yang sedang terlelap. Sheila perlahan membuka matanya, wajah gadis itu memerah karena malu menyadari tangan sang suami masih dengan posisi semalam.
“Morning, Yang ,,,” Ucap Abimana merasakan pergerakan sang istri.
“Mas, jangan kayak gini ,,, “ Sheila berusaha mengeluarkan tangan besar Abimana dari dalam bajunya.
“Yang, kamu gak bosan jadi gadis ?” Tanya Abimana tiba-tiba.
“Maksudnya ?!” Sheila balik bertanya dengan wajah bingung.
“Pernikahan kita sudah tiga bulan lho, Yang ,,, dan kamu masih gadis.” Ucapan Abimana yang lebih mirip sebuah keluhan membuat hati Sheila tercubit.
“Sanaan dikit Mas, aku mau mandi.” Sheila sengaja mengalihkan pembicaraan.
Gadis itu sendiri bingung bagaimana merespon ucapan sang suami. Walaupun ia seorang dokter namun Sheila tetap merasa risih setiap kali Abimana berbicara seperti itu. Selama ini Sheila sangat menjaga dan menghindari bahasa orang dewasa keluar dari bibirnya.
Abimana menarik napas panjang melihat sang istri melenggang memasuki kamar mandi. Entah sampai kapan ia bisa menahan diri untuk tidak menerkam istrinya. Ia pria normal dan setiap malam tidur dengan wanita yang menjadi idaman para kaum adam. Abimana meraup wajahnya kasar, entah sampai kapan ia bisa bertahan.
Selesai membersihkan diri, Sheila dan Abimana turun ke bawah untuk sarapan bersama. Hari libur seperti ini mereka berkumpul, menjelang siang Alisha dan Ferdy akan mengunjungi mertuanya demikian pula halnya jika orang tua Abimana kebetulan berada di tanah air. Namun untuk saat ini pak Kuncoro dan istri masih mengemban tugas negara.
“Nak Abi, setelah sarapan papa ingin bicara empat mata.” Ucap Shehzad saat Abimana dan Sheila baru saja duduk dan bersiap untuk sarapan.
“Aku gak diajak, pa ?” cicit Sheila menatap sang papa.
“Urusan pria , sayang ,,,” Balas Shehzad lembut.
“Tapi jangan lama, pa ,,,”
“Jangan khawatir, Yang ,,, mas segera menemuimu jika urusan dengan papa selesai.” Abimana mengedipkan sebelah matanya pada sang istri.
Ia sengaja memperlihatkan kemesraannya dengan sang istri terutama di depan Ferdy. Sejak hubungan keduanya membaik sepertinya Sheila sudah mulai nyaman dengan keberadaan sang suami di sampingnya.
“Setelah sarapan aku dan mas Ferdy mengunjungi mama Mega, ya pa, ma ,,, kami sengaja berangkat lebih cepat agar bisa bersama mama Mega lebih lama.” Ucap Alisha apa adanya.
__ADS_1
“Biar lebih adil harusnya kalian bagi waktu, dek ,,, biar mertuamu itu gak kesepian.”
Alisha tersenyum paksa kala mendengar saran sang kakak. Hal yang menarik perhatian Sheila. Selama ini adiknya selalu tersenyum manis dan terlihat bahagia dengan mata selalu berbinar. Namun pagi ini, Sheila melihat kebalikannya.
“Nantilah kak, setelah mas Ferdy tidak sibuk.” Balas Alisha masih dengan senyum yang sama.
Ekspresinya itu semakin menguatkan dugaan Sheila. Terlebih lagi Ferdy berubah sangat pendiam padahal seingat Sheila pria itu bukanlah tipe pria pendiam.
“Yang, jangan melamun. Lanjutkan makannya, aku ke ruang kerja papa dulu. “
“Ok. Cepat kembali mas ,,,”
“Tentu.” Balas Abimana seraya mencium pucuk kepala sang istri.
Sheila sengaja memperlambat makannya berharap sang mama dan Alisha menuntaskan sarapannya terlebih dahulu. Ia harus memperingatkan Ferdy. Pucuk dicintai ulampun tiba, rupanya semesta mendukung Sheila. Alisha ke kamarnya mengambil tasnya sedangkan sang mama beranjak ke taman. Tinggallah Ferdy dan Sheila.
“Jangan pernah menyakiti adikku, Fer ,,, fisik ataupun mentalnya. Masih untung aku gak mengatakan yang sebenarnya pada papa dan mama.” Ucap Sheila dingin.
“Aku tahu, La ,,, aku selalu berusaha untuk selalu membuatnya bahagia.”
Dengan susah payah Ferdy menelan salivanya mendengar ucapan Sheila. Apakah kakak iparnya itu memata-matai mamanya selama ini ? Ataukah Alisha sudah menceritakan semuanya pada Sheila ? Seketika Ferdy gelisah dan khawatir akan mamanya.
Setelah meninggalkan meja makan, Sheila segera menghampiri mamanya yang sedang menikmati mentari pagi di gazebo yang terletak di tengah-tengah taman.
“Nikmat banget hidup mama ,,, aku jadi iri.” Ucap Sheila mendudukkan bo**ngnya tepat disisi kiri sang mama.
“Dulu seusiamu, mama pun sibuk mendampingi papamu kesana kemari. Jadi wajarlah jika diusia senja mama sedikit bersantai.”
“Oh ya,,, mumpung hanya kita berdua, mama pingin ngomong sesuatu sama kamu.” Lanjut Rani serius.
“Tentang apa, ma ?”
“Alisha. Selama ini aku sering melihat adikmu itu melamun bahkan terkadang matanya terlihat sembab. Mungkinkah Ferdy dan Alisha sedang menghadapi persoalan ?”
__ADS_1
“Nanti aku coba berbicara dengan Alisha. Mama gak perlu mengkhawatirkan mereka. Bukankah Alisha sendiri yang menyetujui perjodohan mereka ?” Ucap Sheila mencoba menenangkan sang mama.
“Gimana hubunganmu dengan nak Abi ?” Kali ini mama Rani tak ingin melewatkan kesempatan untuk mengetahui kehidupan pernikahan putri sulungnya.
“Ya, gitu deh ,,, gak ada yang istimewa.” Balas Sheila santai.
“Jangan menunda kehamilan, sayang ,,, ingat, nak Abi putra tunggal papa Kuncoro. Sudah pasti mereka menginginkan seorang cucu secepatnya, begitupula dengan kami.”
Kata-kata sang mama membuat Sheila tersenyum kecut. Walaupun jarang bertemu dengan mertuanya namun ucapan mama Rani mewakili kedua mertuanya. Mama Kalisha dan papa Kuncoro memang tidak pernah mempertanyakan kehadiran cucu buat mereka namun kali ini sepertinya Sheila harus memikirkannya.
“Tenang ma, kami gak menunda kok.” Ucap Sheila kikuk.
Pembicaraan kedua wanita cantik beda usia itu terus berlanjut. Sama seperti wanita-wanita pada umumnya, semua dibahas mulai A sampai Z. Sementara kedua pria di ruang kerja pun tampak serius.
“Kalian sudah saling menerima, kan ?” Tanya Shehzad tanpa basa basi.
“Sejak dulu aku selalu menerimanya, pa ,,, tapi Sheila mungkin masih membutuhkan waktu.” Jawab Abimana tersenyum kikuk.
“Nak Abi harus tegas pada wanita itu. Jika sampai sekarang dia belum menjadi istri seutuhnya maka kamu jangan tinggal diam.”
“Pelan-pelan aja, pa. Aku juga tak mau jika Sheila melakukannya secara terpaksa. Biarlah seiring berjalannya waktu.”
“Kamu tak boleh selalu mengalah sekali-sekali kamu harus berbuat licik agar bisa mendapatkan hakmu. Atau biar papa yang meminta matamu agar pulang ketabahan air untuk sementara waktu.” Pungkas Shehzad kehabisan akal melihat menantunya.
“Lho, kok mama sih, pa ?!” Tanya Abimana bingung.
“Ck, kayak tak tahu saja siapa mamamu ? Masalah rumah tanggamu hanya mamamu yang memiliki solusinya.
Diam-diam Abimana menarik napas panjang. Benar kata papa mertuanya, mamanya yang panjang akal pasti akan memiliki segudang cara agar Sheila secara sukarela mengandung keturunannya.
‘Kenapa aku tak memiliki secuil pun kelicikan mama ?’ Batin Abimana tersentak.
Mengingat bagaimana banyaknya kejadian secara kebetulan pada awal pertemuan hingga pernikahannya dengan Sheila. Abimana menatap intens papa mertuanya. Banyak hal yang ingin ditanyakan oleh Abimana pada papa mertuanya namun ia Mengingat pesan Sheila agar jangan berlama-lama di ruang kerja.
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷🌷