Menggapai Rasa Yang Tersisa

Menggapai Rasa Yang Tersisa
BAB ~ 32. KECURIGAAN ABIMANA


__ADS_3

Sheila memperhatikan laporan yang dikirim oleh Abimana. Matanya melotot tajam melihat angka-angka yang tertera disana. Sangat tidak masuk akal.


‘Bagaimana bisa pria itu merekrut seorang pencuri ?’ Batin Sheila kesal akan keteledoran seorang Abimana yang tak pernah berubah.


Belum juga tuntas tugas yang diberikan oleh Abimana, jam sudah menunjukkan 17.30. Sheila menarik napas panjang, karena serius memeriksa laporan perusahaan Abimana hingga ia melupakan waktu. Beruntung malam ini dirinya off jadi tidak terlalu terburu-buru untuk pulang.


Walaupun Abimana sangat menjengkelkan dimatanya namun Sheila tak tega melihat perusahaan pria itu dalam masalah.


Senja semakin merayap saat Sheila keluar dari ruangannya. Sekretaris Nia sudah pulang sejak jam kerja berakhir. Sebagai seorang direktur, Sheila tak pernah mengharuskan sekretarisnya lembur jika dirinya masih ada pekerjaan. Kecuali jika memang pekerjaan sekretarisnya itu menumpuk dan deadlinenya mepet.


Menembus kemacetan ciri khas ibukota membuat Sheila sedikit kesal namun kekesalannya itu hanya sampai ditenggorokan saja karena bukan hanya dirinya yang terjebak macet. Berderet mobil dibelakangnya bagaikan seekor ular yang tak terlihat ujung ekornya.


Hingga menjelang makan malam barulah Sheila memasuki gerbang rumahnya. Terlihat mobil sang suami dan mobil adik iparnya terparkir rapi. Sheila menghentikan mobilnya asal kemudian bergegas masuk kedalam rumah melewati pintu utama dimana semua anggota keluarga berkumpul.


“Assalamualaikum ,,,” Sapa Sheila sebelum masuk ke dalam rumah.


“Waalaikumsalam ,,,” kompak mereka membalas salam gadis tangguh itu.


“Tumben pulang cepat, kak ,,, gak dinas ?” Tanya Alisha heran.


“Kan malam minggu ,,, masa iya aku biarkan suamiku kesepian.” Sheila langsung duduk di samping Abimana sambil tersenyum manis.


“So sweet banget sih, Yang ,,,” Timpal Abimana menatap mesra sang istri.


Sheila pura-pura meraih lembut tangan Abimana lalu mencubitnya sehingga pria itu meringis pelan. Untuk membalas perbuatan sang istri, Abimana menggunakan tangannya yang lain menarik tubuh sang istri agar merapat padanya dan memberikannya ci**an pada pucuk kepala Sheila. Sepintas mereka terlihat sangat mesra padahal yang terjadi adalah sebaliknya.


“Mesra-mesraannya sudah cukup, waktunya makan malam.” Ucap mama Rani


“Kalian makan aja, aku bersih-bersih dulu.” Sheila segera bangkit dan berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.

__ADS_1


“Jangan lama-lama, Yang ,,,” Ucap Abimana sebelum sang istri menjauh.


Tak ada tanggapan dari Sheila akan tetapi Abimana yakin pasti gadis itu mendengarnya. Abimana memilih tetap duduk di tempatnya dan tak mengikuti gadis itu ke kamar agar tak terjadi keributan. Walaupun kamar mereka tersendiri di lantai dua namun kali ini Abimana menjaga emosi Sheila mengingat perusahaannya butuh bantuan gadis itu. Hanya Sheila harapan satu-satunya bagi Abimana untuk masalah perusahaannya.


Akhirnya Sheila turun dengan baju santai dan wajah lebih segar. Dari jarak yang sedikit jauh, Abimana bisa mencium aroma segar dari sang istri. Hingga ketika Sheila kembali duduk di dekatnya tanpa sungkan Abimana langsung nyosor begitu saja.


“Iihhhh ,,, kakak romantis banget sih. Kelihatan banget jika kak Abi sangat mencintai kak Sheila. Padahal kan dijodohin.” Ucap Alisha sedikit iri dengan kemesraan kakak dan kakak iparnya.


Sejak Ferdy menikahinya, jarang sekali Ferdy bersikap mesra padanya. Bahkan terkadang Ferdy terlihat ragu untuk menyentuhnya. Sangat berbeda dengan Abimana padahal mereka sama-sama di jodohkan.


“Makanya kalian harus bicara dari hati ke hati. Bilang sama suamimu jika memiliki masa lalu maka buang jauh-jauh masa lalunya dan fokus pada masa depan.” Balas Sheila menatap Ferdy sekilas.


“Bener kata Sheila nak Ferdy ,,, jangan jadikan masa lalu sebagai penghalang untuk kebahagiaan dan masa depanmu. Bahagia itu berasal dari kita sendiri maka ciptakan kebahagiaan keluarga kecilmu dan segera miliki momongan agar ikatan rasa kalian semakin erat.” Timpal Shehzad bijak.


“Insya Allah pak,,,” Balas Ferdy menatap Sheila sejenak.


‘Mengapa Ferdy selalu menatap Sheila dengan tatapan seperti itu ? Apa dia mencintai istriku ?’ Ini tidak boleh dibiarkan, aku harus mencari tahu.' Batin Abimana curiga.


Abimana semakin mempererat pelukannya dan sukses mendapatkan demikian tajam dari sang istri. Sheila sengaja berdiri paling belakang bersama Abimana. Pria itu harus diberikan peringatan keras.


“Ingat kita hanya bersandiwara jadi jangan melewati batas.” Bisik Sheila tepat di telinga Abimana.


Postur tubuh mereka yang tak berbeda jauh membuat Sheila dengan mudahnya berbisik di telinga Abimana tanpa harus menyiksa diri dengan berjinjit. Pria yang sedang menahan rasa geli saat merasakan napas Sheila seketika memutar kepalanya sehingga bibir mereka bersentuhan. Sesaat Sheila mematung, jantungnya berdetak kencang hingga akhirnya meraih kesadarannya kembali.


Plaaakkk


“Sinting !!!” Sheila memukul lengan Abimana dengan keras untuk menutupi wajahnya yang memerah karena malu.


“Maaf Yang, gak sengaja ,,,” Ucap Abimana meringis kesakitan.

__ADS_1


“Makanya jangan suka memanfaatkan kesempatan.” Balas Sheila datar lalu mempercepat langkahnya.


Shehzad tersenyum bahagia melihat tingkah Abimana yang suka memanfaatkan kesempatan sementara Sheila selalu dingin dan datar tak bisa berbuat apa-apa.


‘Semoga kalian bahagia. Semoga hati Sheila tak lagi beku.’ Batin Shehzad penuh harap.


Saat mereka telah duduk dan mengelilingi meja makan, Sheila mengambil piring Abimana dan mengisinya dengan beberapa lauk. Abimana menatap sang istri dengan penuh cinta dan berharap semua ini bukan hanya sekedar melengkapi sandiwara mereka.


“Yang, kita makan sepiring berdua aja.” Ucap Abimana menghentikan tangan Sheila ketika akan mengambil nasi dipiringnya.


Abimana selalu tak terduga dan selalu menjengkelkan dimata Sheila namun demikian gadis itu tak bisa berbuat banyak karena situasi yang tidak memungkinkan baginya untuk menolak. Dengan berat hati Sheila terpaksa menuruti permintaan pria itu.


Ferdy yang masih memiliki rasa pada Sheila pura-pura tak melihat dan menyibukkan diri dengan makanannya. Selanjutnya mereka menikmati makan malam tanpa ada yang bersuara. Hingga makan malam tersebut tuntas.


“Maaf aku gak bisa bergabung, ada pekerjaan yang mendesak.” Ucap Sheila berjalan kearah ruang kerja sang papa.


“Lho, kak ,,, katanya mau bermalam minggu dengan kak Abi, malah ingat pekerjaan.” Alisha, mengomeli kakaknya yang gila kerja.


“Kami ngedate di ruang kerja aja, soalnya pekerjaan ini gak bisa ditunda.” Balas Sheila apa adanya.


“Papa boleh gabung ?”


“Boleh dong ,,,” Balas Sheila.


“Nak Ferdy mau ikutan bergabung ?” Ajak Shehzad pada menantu bungsunya.


“No pa, kalian aja. Jangan ajari suamiku gila kerja cukup kalian aja. Aku gak mau suamiku lebih memilih pekerjaan daripada aku.” Tolak Alisha sebelum Fersy angkat bicara.


Alisha terlalu manja membuat Ferdy sedikit tertekan. Namun begitu ia mencoba untuk mengerti dan mengajari sang istri pelan-pelan agar bisa memahami pekerjaannya.

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷


__ADS_2