Menggapai Rasa Yang Tersisa

Menggapai Rasa Yang Tersisa
BAB ~ 74. KETAK BERDAYAAN MAMA KALISHA


__ADS_3

Dua hari kemudian Abimana dan Shandy berencana mengajak istri masing-masing menemui dokter Desi. Kedua pria dewasa itu akhirnya mengikuti saran mama Kalisha setelah memperhatikan perubahan sikap istrinya yang semakin aneh dan menjadi-jadi.


Kemarin kakak beradik itu jalan berdua ke mall dan belanja gila-gilaan dengan menggunakan kartu suami masing-masing. Abimana tak mempermasalahkan jumlah uang yang dihapus oleh sang istri akan tetapi bukanlah sifat Sheila yang suka berbelanja apa saja yang dilihatnya. Sedangkan Shandy hanya bisa terdiam melihat belanjaan Alisha yang sedemikian banyaknya.


"Kalian mau buka toko ?!" Tanya mama Kalisha mewakili para suami.


"Gak kok ma, hanya saja tadi kami tergiur melihatnya. Pilih aja yang mama suka." Balas Sheila santai.


"Bener ma, setelah memilih kamipun akan memilih yang kami sukai, sisanya akan disumbangkan." Timpal Alisha duduk di samping Sheila.


"Whaaatttt ??!!" Abimana dan Shandy kompak berteriak.


Bukan mereka tak setuju jika istrinya dermawan karena memang kedua saudara itu sering melaksanakannya hanya saja yang membuat mereka terkejut adalah barang yang akan mereka sumbangkan adalah barang-barang branded dengan harga selangit.


"Kalian kenapa ??!! Gak terima ??!! Dasar pelit !!!" Sarkas Sheila dan Alisha kompak.


"Bukan gitu, Yang ,,," Ucap Abimana meringis


"Gak bermaksud seperti itu, honey ,,," Timpal Shandy dengan wajah panik.


Mereka bukan tipe suami takut istri akan tetapi efek dari ucapan para istri yang membuat kedua pria itu kelimpungan. Untuk itu Abimana dan Shandy sangat menghindari kesalahpahaman dengan istri mereka.


"Kenapa kalian ketakutan gitu ?!"

__ADS_1


"Bukan takut ma, tapi kami gak bisa sering-sering tidur terpisah dengan istri tercinta kami." Balas Shandy apa adanya.


"Iya itu bener ma, kami gak bisa fokus bekerja kalau malam tidurnya terpisah." Timpal Abimana tersenyum kecut membayangkan tidur di kasur yang walaupun empuk namun dingin dan tak nyaman.


"Dasar kalian !!" Geram mama Kalisha terkekeh.


Timbul ide jahil mama Kalisha untuk mengerjai Shandy dan Abimana. Sudah sekian lama ia sibuk dengan dunianya bersama baby Arsheno sehingga lupa menjahili kedua pria dewasa itu.


"Gimana rencana bulan madu kalian ?!"


"Gak ada kabar beritanya. Makanya kami belanja seperti orang kesurupan, ma. Cukup adil kan ?!" Kali ini Alisha yang memberi penjelasan dengan antusias.


Sheila yang sejak dulu lebih suka diam namun tetap menyimak dengan sepenuh hati. Kini pun tetap diam seribu bahasa.


"Maaa !! Jangan asal deh. Kalau mama ikut mereka, kasihan baby Arsheno dong." Abimana berusaha agar ucapannya terdengar masuk akal.


Baik Shandy maupun Abimana tak bisa membayangkan jika mamanya ikut kedua wanita muda itu berbelanja.


"Kan ada papa kalian yang bisa jagain baby Arsheno. Lagian mama belanja juga pakai duit sendiri kok, eh salah duit papa kalian. Sebagai seorang suami harus membahagiakan istri dong dengan cara memenuhi semua keinginan istri. Jika ada suami yang tak memenuhi permintaan istrinya maka bisa dipastikan jika kata SAYANG dan CINTA hanya dibikin saja." Ucap mama Kalisha memprovokasi Sheila dan Alisha dengan memberi tekanan pada kata SAYANG dan CINTA.


Abimana dan Shandy seketika kelabakan, takut jika kedua wanita itu terpengaruh. Namun ternyata nasib baik berpihak pada Abimana karena ternyata Sheila sepertinya tak terpengaruh sedangkan Shandy kelabakan dan panik melihat reaksi Alisha.


"Bener tuh ma, aku setuju pake banget. Iiihh ternyata mama adalah mertua yang asyik." Seru Alisha antusias.

__ADS_1


"Baru tahu ya ?" Timpal Sheila tersenyum manis.


Seketika Abimana merasa tak enak melihat senyuman manis istri tercintanya. Sheila adalah wanita yang sulit ditebak. Melihat senyuman wanita yang masih misterius dimatanya walaupun kini mereka telah memiliki putra.


"Kalian juga menantu terbaik yang mama miliki."


"Itu karena hanya kami menantu mama." Balas Sheila terkekeh.


"Gak gitu dong sayang, kalian menjadi menantu mama dengan proses dan cerita yang berbeda. Kelak akan menjadi sebuah kenangan untuk anak cucu kalian." Ucap mama Kalisha dengan wajah serius.


"Ma, sudah lama aku penasaran dengan pernikahanku ,,, kok bisa sih dalam sekejap penghulunya siap ?!"


Mama Kalisha kaget dan segera menguasai diri. Ia tak menyangka Sheila akan mengungkit hal yang telah lama berlalu. Satu fakta baru tentang Sheila yang tak mudah melupakan suatu kejadian. Ia pun tak mungkin berkata jujur, biarlah hal ini menjadi kebohongan yang akan tersimpan sampai akhir hayatnya.


Berbeda dengan Sheila yang menangkap keterkejutan mama mertuanya, walaupun berhasil menguasai diri namun Sheila bisa melihat perubahan tersebut.


"Gak usah dibahas, Yang ,,, takdir pernikahan kita memang seperti itu. Mau gimana lagi, semua sudah terjadi." Abimana berusaha agar Sheila berbesar hati menerima pernikahan mereka.


"Bukan seperti itu, mas ,,,, alangkah baiknya kalau kita mengetahui kisah dibalik pernikahan kita apalagi sedikit ekstrim bahkan terkesan pernikahan dibawah tangan. Jangankan persiapan bahkan dekorasi khas pernikahan aja gak ada." Kali ini Sheila ngotot karena yakin jika pernikahannya bukan hanya karena kesalahpahaman para orang tua saat itu.


Melihat Sheila yang ngotot, mama Kalisha memutar otaknya merangkai kata yang pas agar tak semakin menimbulkan kecurigaan menantu kesayangannya. Sheila wanita mandiri dan bukan sesuatu yang berat jika meninggalkan putranya karena kesalahannya dimasa lalu.


Mama Kalisha bagaikan makan buah simalakama. Mengatakan yang sebenarnya salah tak mengatakannya pun salah. Beruntung mama Kalisha secerdas Abu Nawas. Wanita paruh baya itu menjelaskan dengan sangat hati-hati sedangkan papa Kuncoro yang sejak tadi berusaha menahan tawa melihat ketidak berdayaan sang istri menghadapi menantunya. Kali ini mama Kalisha berhadapan dengan lawan yang tangguh.

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2