
Alisha menatap nanar laporan diatas mejanya yang baru saja diantarkan oleh pegawai baru yang ditugaskan dari kantor pusat. Kepalanya mendadak pusing.
“Kok baru sekarang ketahuan sih, bu ,,, sejak kapan kejadian ini ? Tanya Alisha frustasi.
“Maaf bu, tapi aku baru beberapa hari ini ditugaskan di kantor cabang jadi tidak bisa memastikan kejadiannya. Hanya saja setelah laporan bulan ini aku periksa hasilnya seperti ini. Kalau terus-terusan begini perusahaan akan gulung tikar.”
“Kakak sudah tahu ?” Wajah Alisha memperlihatkan kekhawatiran yang teramat sangat.
“Entahlah bu tapi sepertinya bu Sheila sudah mencium ketidakberesan ini.”
Mendengar jawaban bu Lia yang merupakan salah satu karyawan senior yang sangat dipercaya oleh papa dan kakaknya membuat Alisha kelabakan.
“Ibu sudah menemukan siapa yang menggelapkan dana perusahaan ?”
“Bukan bermaksud menuduh bu, tapi ada sebuah rekening asing beberapa kali menerima transferan dana dari perusahaan kita dan setelah saya cross check ternyata rekening tersebut bukan salah satu rekening perusahaan yang bekerjasama dengan kita akan tetapi rekening pribadi." Bu Lia tak ingin memprovokasi wanita yang kini jadi atasannya.
“Haaaa ?! Kok bisa.”
Entah mengapa pikiran Alisha justru tertuju pada suami dan mertuanya sebagai pemilik rekening tersebut. Ia berusaha menepis dugaannya yang tak berdasar.
Baru saja Alisha akan meminta rekening yang dimaksud oleh bu Lia, ponselnya sudah berdering dan menampilkan ID pemanggil adalah sang kakak. Alisha menatap nanar ke arah bu Lia.
“Ha ,,, halo kak ,,, assalamualaikum ,,,” Sapa Alisha tergagap.
“Waalaikumsalam ,,, dek, kita harus bicara. Saat ini aku nginap di rumah mama Kalisha jadi kakak harap sekarang kamu kemari. Sendiri atau bareng bu Lia.” Titah Sheila tak ingin dibantah.
“Baik kak, aku berangkat sekarang.” Alisha memutuskan panggilan sambil meringis.
“Kita temui kakak, bu Lia ,,,” Ucap Alisha berjalan keluar meninggalkan ruangannya.
Alisha dan bu Lia berjalan beriringan keluar dari kantor cabang. Tak lupa bu Lia membawa semua yang dibutuhkan saat bertemu dengan direkturnya. Perlahan Alisha melajukan mobilnya keluar dari area parkiran perusahaan menuju rumah keluarga Abimana.
__ADS_1
Sementara di rumah mama Kalisha, Sheila berkali-kali menarik napas panjang melihat laporan cabang lain yang ikut terkena imbas akibat yang dialami cabang perusahaan milik Alisha.
“Sayang, bicarakan pelan-pelan dengan Alisha.” Ucap Kalisha lembut.
Kalisha lalu meninggalkan Sheila. Ia tak ingin mencampuri urusan sang menantu. Sebagai orang tua, ia hanya bisa menenangkan dan memberi saran. Apalagi menyangkut perusahaan keluarga mereka.
Untuk pertama kalinya Kalisha melihat kemarahan di wajah cantik menantu kesayangannya. Selama ini ia hanya melihat senyuman manis dan wajah tenang wanita itu. Sheila hanya menarik napas panjang berkali-kali untuk meredam emosinya.
Tak lama kemudian terdengar mobil berhenti di depan pintu dan menampilkan sosok Alisha dan bu Lia turun dari mobil. Pintu utama terbuka sebelum mereka mengetuk pintu.
“Masuk !” Sheila mempersilahkan keduanya dengan suara datar.
Itulah Sheila akan bersikap sesuai dengan situasi. Kali ini ia bukanlah seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya melainkan seorang direktur yang akan meminta penjelasan pada bawahannya.
“Ada penjelasan mengenai laporan ini ?!” Sheila menyodorkan map merah yang bau saja diantarkan oleh seseorang.
“Aku juga baru tahu tadi, kak.”
“Kamu tahu kemana dana perusahaanmu mengalir dengan bebas ?” Lanjut Sheila gemas melihat keteledoran adiknya.
Alisha hanya menggeleng sebagai jawaban. Salahkan kakaknya yang tiba-tiba menelepon menyuruhnya datang sehingga ia lupa menanyakan pada bu Lia rekening penerima.
“Buka dan lihat baik-baik rekening dan nama pemiliknya.”
Sheila menyodorkan map yang sejak tadi berdasarkan di hadapannya. Emosinya kini sedang terbakar mengingat kata-kata mamanya Ferdy saat itu. Ternyata wanita itu bukan hanya ingin mendompleng ketenaran dari keluarganya tapi juga menggerogoti uang milik keluarganya.
Mata Alisha terbelalak melihat nama pemilik rekening tersebut. Dugaannya tidak salah, seketika hatinya merasakan kekecewaan yang teramat sangat. Nama mertuanya tercetak dengan jelas disana. Bukan tidak mungkin suaminya ikut terlibat.
“Aku akan menyelesaikannya kak. Perusahaan kita tidak akan terpisah.” Ucap Alisha yakin.
“Apapun yang dikatakan oleh mertuamu nanti, tetap ingat jika semua yang kakak lakukan adalah karena kakak sangat menyayangimu. Dan selamanya akan tetap seperti itu.”
__ADS_1
Alisha menatap wajah cantik sang kakak seraya tersenyum. Ia tahu rasa sayang Sheila padanya melebihi apapun di dunia ini. Bukan hanya sekali dua kali mertuanya membandingkan dirinya dengan Sheila namun Alisha sadar setiap manusia dilahirkan dengan kelebihan masing-masing. Mungkin ia tak sesempurna sang kakak tapi dirinya pun pasti memiliki kelebihan.
“Baiklah kak, aku akan ke kantor mas Ferdy sekarang.” Ucap Alisha tak ingin membuang-buang waktu.
Inilah saatnya bagi Alisha untuk membuktikan perjanjian pra nikah mereka. Alisha sangat mencintai suaminya dan tak perduli dengan masa lalunya. Akan tetapi cinta juga harus memakai logika. Sebesar apapun cintanya pada Ferdy namun jika menyangkut kelangsungan perusahaan yang dipercayakan padanya maka akan lain lagi ceritanya.
Bersama dengan bu Lia, Alisha kembali meluncur ke perusahaan PT. Reksa Ganda milik Ferdy. Dengan kecepatan sedikit diatas rata-rata, Alisha tak sabar ingin segera sampai di tujuan.
“Pak Ferdy ada, kan ?!” Tanya Alisha tanpa basa basi.
“Ada bu, silahkan. “ Balas resepsionis yang sudah mengenal Alisha sebagai istri bosnya.
“Ayo, bu Lia ,,,” Alisha kemudian melangkah menuju lift yang akan membawanya ke lantai 3 dimana ruangan Ferdy berada.
“Sebaiknya aku menunggu di luar saja, bu.” Ucap bu Lia tak ingin mendengarkan apa yang seharusnya tak ia dengar.
“Baiklah, berikan padaku map tadi diberikan oleh kak Sheila.”
Ting
Lift berhenti di lantai 3 dan Alisha bersama bu Lia pun keluar. Sesuai dengan keinginan bu Lia maka hanya Alisha yang masuk ke dalam ruang kerja Ferdy. Dengan wajah memerah, Alisha langsung masuk dan duduk dihadapan Ferdy membuat pria itu kaget setengah mati.
“Lho, dek ,,, tumben datang gak bilang-bilang ?” Tanya Ferdy ditengah keterkejutannya.
“Aku meminta penjelasan terkait isi map ini, mas.” Alisha menyodorkan map yang ia bawa dengan wajah dingin.
Dengan sekuat tenaga Alisha berusaha meredam emosinya. Keterlibatan Ferdy belum jelas dan ia masih berharap pria itu sama sekali tidak terlibat karena jika yang terjadi adalah sebaliknya maka dipastikan semua akan berakhir.
Ferdy meraih map tersebut dan membukanya pelan. Satu per satu ia membaca huruf diatas kertas dan seketika wajahnya memucat membaca nama sang mama disertai dengan nomor rekeningnya berikut jumlah dana yang diterima.
🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1