Menggapai Rasa Yang Tersisa

Menggapai Rasa Yang Tersisa
BAB ~ 36. DUGAAN ABIMANA


__ADS_3

Perlahan tapi pasti hubungan antara Abimana dan Sheila semakin membaik. Jika dulu mereka tampak sangat mesra hanya di depan keluarga karena sandiwara namun kini tak berlaku lagi. Sedikit demi sedikit Abimana mampu mencairkan kebekuan hati Sheila. Satu hal yang masih mengganjal pikirkan Abimana saat ini adalah tatapan Ferdy pada sang istri tak pernah berubah padahal mereka telah menikah selama tiga bulan.


“Yang, aku pengen nanya sesuatu, boleh gak ?” Tanya Abimana pelan.


Saat ini mereka sedang bersiap untuk tidur. Karena siang hari mereka sama-sama sibuk dan hanya menyempatkan diri makan siang bareng saat jam istirahat maka Abimana selalu mengajak sang istri berbicara banyak hal saat menjelang tidur. Salah satu cara pria tampan itu membangun komunikasi yang baik dengan istrinya.


“Tentang apa, kak ,,,”


“Kita menikah sudah tiga bulan, lho ,,, masa manggilnya kakak sih, kayak adik kakak aja.” Untuk kesekian kalinya Abimana memprotes panggilan sang istri padanya.


Pria itu tak nyaman dengan panggilan Sheila. Terkadang jika mereka sedang jalan-jalan, para pria menatap istrinya dengan tatapan memuja karena panggilannya pada Abimana sehingga mengira jika mereka adalah saudara.


“Maaf kak, belum terbiasa.” Balas Sheila jujur.


“Agar terbiasa, maka setiap kali memanggilku kakak maka akan ada hukumannya sebagai konsekuensinya.” Abimana tersenyum penuh arti.


“Suatu saat aku pasti akan terbiasa. Tadi katanya ada yang ingin ditanyakan ?” Sheila mengalihkan pembicaraan.


Sheila tak ingin membahas soal hukuman Abimana. Ia dapat membaca arti senyuman pria yang selalu memanfaatkan kesempatan saat dirinya lengah.


“Tapi kamu harus jujur, Yang ,,,” Abimana menatap Sheila intens.


“Tentu saja, bukankah selama ini aku selalu jujur ?” Balas Sheila sedikit was-was.


Perasaan Sheila tak enak, untuk pertama kalinya pria yang berstatus sebagai suaminya itu memintanya jujur. Bukankah selama ini tak ada yang disembunyikan diantara mereka ? Walaupun pernikahan mereka sangat tidak mengenakkan jika diingat-ingat.


“Tentang Ferdy.” Ucap Abimana masih menatap intens sang istri.

__ADS_1


“Ferdy ?! Ada apa dengannya ?!” Tanya Sheila membalas tatapan Abimana. Ia tak mengerti arah pembicaraan suaminya.


“Mas, terganggu dengan caranya menatapmu, Yang ,,, sejak hari pernikahannya dengan Alisha hingga hari ini tatapannya tak pernah berubah padamu.”


“Haaaa ?! Mas cemburu sama Ferdy ?!” Sheila sengaja mengubah panggilannya pada Abimana agar kecemburuan suaminya itu mereda.


Bagi Sheila, tak ada yang istimewa dari tatapan Ferdy. Ia pun tak pernah ambil pusing dengan iparnya itu. Sheila hanya diam-diam memantau perusahaan sang adik untuk menghindari kerugian yang bisa saja dilakukan oleh Ferdy.


“Mas yakin ada cerita diantara kalian dimasa lalu. “ Abimana ngotot dengan dugaannya.


Sheila menarik napas panjang sebelum bercerita. Ia tak ingin mengungkit lagi masa lalunya karena kini masa depannya bersama Abimana lebih penting. Akan tetapi Abimana adalah tipe pria yang tidak akan pernah diam sebelum rasa penasarannya terpuaskan. Dan agar suaminya itu tak salah paham kelak jika tahu yang sebenarnya.


“Mas pernah dengar jika dulu aku memiliki kekasih namun ditolak oleh orang tuanya karena dikiranya aku orang miskin ? Nah orang itu adalah Ferdy.” Ucap Sheila tanpa basa basi.


“Haaaa ?! Dan kamu membiarkan mantan kekasihmu menikahi adikmu sendiri ?”


“Maksudnya ?!” Abimana belum mengerti sepenuhnya cerita sang istri.


“Saat itu Ferdy ingin memperkenalkan aku pada mamanya yaitu tante Mega dan beliau mengatakan padaku bahwa dia telah menjodohkan Ferdy dengan anak seorang pengusaha yang bisa membantunya menaikkan citra perusahaannya dan tak mengharapkan menantu sepertiku yang hidupnya sederhana. Dan aku sama sekali tak tahu jika gadis yang mereka maksud adalah Alisha.” Sheila mengakhiri ceritanya dengan senyum manis tanpa beban.


Abimana terdiam mendengar cerita sang istri. Marah dan kesal dengan ucapan mama Ferdy yang merendahkan wanitanya namun sekaligus senang karena penolakannya itulah membuatnya bisa kembali bertemu bahkan bersama lagi dengan kekasihnya.


“Lho, kok bisa ? Jangan katakan jika penampilanmu saat bertemu dengan mamanya Ferdy masih sesederhana seperti dulu saat kita masih SMA.” Tebak Abimana dengan jitu.


“Bener, aku kan penggemar beasiswa dan tak mengandalkan fasilitas orang tua. Bagiku kesenangan dan kemewahan itu tak perlu dipelajari karena jika kita berhasil pasti diiringi dengan kemewahan akan tetapi yang perlu dipelajari adalah kehidupan yang sederhana karena dunia ini terus berputar dan kita tidak akan pernah tahu dititik mana nantinya kita berpijak.”


“Terima kasih Tuhan, engkau memberiku jodoh yang pintar dan bijak.” Abimana memeluk Sheila dengan penuh rasa syukur.

__ADS_1


“Besok aku akan bicara dengan Ferdy sebagai sesama pria. Agar ke depannya kehidupan rumah tangga kita dan Alisha bisa tenang.” Ucap Abimana mengurai pelukannya.


“Terserah mas ajalah, yang terpenting hindari keributan dan jangan sampai Alisha salah paham.”


Sheila tak ingin terjadi kesalahpahaman dengan Alisha. Adiknya itu terlalu manja dan terkadang tak bisa berpikir dengan logika. Itulah sebabnya Sheila memilih diam dan terus memantau pergerakan Mega, mama mertua sang adik.


“Tentu saja, Yang ,,, aku akan mengajak Ferdy keluar atau meminjam ruang kerja papa.”


“Sebaiknya meminjam ruang kerja papa saja, mas. Aku takut sesuatu terjadi padamu. Ferdy dan mamanya sedikit licik.”


“Jangan khawatir, Yang ,,, sebagai pebisnis tentunya aku telah mempersiapkan diri untuk mengatasi hal seperti itu.”


“Pokoknya jika kalian memutuskan berbicara di luar, kabari aku.” Sheila benar-benar mengkhawatirkan suaminya.


“Sekarang waktunya kita tidur. Jangan memikirkan sesuatu yang belum pasti.” Abimana perlahan membaringkan tubuhnya dan menepuk-nepuk lengannya sebagai isyarat agar Sheila menjadikan lengannya sebagai bantal.


Bagai gayung bersambut, tanpa penolakan Sheila menuruti permintaan sang suami. Abimana pun memeluk sang istri dan tangannya mulai memasuki baju tidur Sheila seperti biasanya walaupun secara sembunyi-sembunyi namun untuk kali ini Abimana tak ingin lagi mencuri kenyamanan.


“Massshh ,,,” Sheila tak kuasa menolak karena reaksi tubuhnya menerima dengan baik sentuhan sang suami.


“Aku gak akan meminta lebih, Yang ,,, mas tahu kamu belum siap tapi biarkan tanganku disini setiap kali akan tidur.” Bisik Abimana seraya memainkan tangannya pada sumber kehidupan anak-anaknya kelak.


“Tapi tangannya jangan digerakkan , mas ,,, aku geli.” Rengek Sheila menyembunyikan wajahnya pada dada bidang sang suami.


“Lama-lama juga terbiasa, Yang ,,,” Ucap Abimana tak menghentikan tangannya.


Walaupun merasa terganggu dengan gelombang rasa yang tiba-tiba dirasakan oleh Sheila namun ia tetap mencoba sekuat tenaga menutup matanya. Meskipun ia merasakan tangan sang suami semakin intens. Sheila mencoba menahan diri agar tidak mengeluarkan suara aneh, merasakan pergerakan sang istri, Abimana tersenyum miring.

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2