Menggapai Rasa Yang Tersisa

Menggapai Rasa Yang Tersisa
BAB ~ 38. KEDATANGAN MAMA MERTUA


__ADS_3

Tiga hari kemudian, Kalisha kembali ke tanah air. Ternyata Shehzad tak main-main dengan perkataannya. Ia benar-benar meminta besannya untuk turun tangan. Bagai sebuah lawakan komedi, seorang pengusaha sukses yang handal menangani dunia bisnis namun harus meminta bantuan dalam menangani ketelitian rumah tangga anak dan menantunya.


Rani dan Shehzad serta Abimana menyerah menghadapi Sheila. Ketiganya tak tahu harus bagaimana menghadapi gadis itu. Tak ada alasan bagi ketiganya untuk memaksa Sheila karena gadis itu tak pernah menolak perlakuan mesra Abimana. Hanya saja jika sang suami meminta haknya, Sheila memiliki banyak alasan yang membuat Abimana tak berkutik.


Kini wujud nyata mama Kalisha telah berada di rumah Shehzad menunggu anak dan menantunya sambil bercengkerama sungguh berbeda dengan mertua Alisha jika berada di rumah mewah tersebut.


“Masalah mereka apa sih, kok memintaku pulang.” Ucap Mama Kalisha langsung pada intinya.


Mama mertua Sheila sangat penasaran dengan apa yang sedang terjadi. Shehzad memintanya pulang ke tanah air tanpa alasan yang jelas. Jangan di tanya bagaimana kesalnya pak Kuncoro yang harus di tinggalkan oleh sang istri. Sedikit informasi, pak Kuncoro tak bisa jauh dari istrinya dan ini untuk pertama kalinya.


“Pernikahan anak kita sudah berjalan tiga bulan tapi sampai sekarang putriku masih gadis.” Cerocos Rani tanpa tedeng aling-aling.


Duaaaarrr


Bagaikan terlambat petir disiang bolong mendengar kenyataan kehidupan pernikahan putranya. Kalisha mematung dengan berbagai dugaan menghiasi otaknya.


“Putramu normal, kan ?!”


Pertanyaan Rani sukses mendapatka delikan tajam dari sang besan. Bagaimana tidak, putra satu-satunya dan merupakan kebanggaannya sedang dipertanyakan keperkasaannya. Seandainya ia tidak memberikan pendidikan agama yang ketat pada Abimana, mungkin saat ini benih pria itu sudah berceceran dimana-mana karena selama ini Abimana hidup di luar negeri yang mayoritas menganut s**s bebas.


“Enak saja ,,, aku jamin seribu persen putraku lebih perkasa dari gatotkaca.” Balas Kalisha tak terima.


Jika saja ia tak mengingat jika wanita yang sedang mempertanyakan kualitas anaknya bukan istri dari sahabat suaminya, sudah pasti saat ini wanita yang sedang menatapnya itu lidahnya sudah menjulur keluar dengan bola mata melotot karena dicekik olehnya.


“Sudah ,,, sudah ,,, kita duduk bersama seperti ini untuk menemukan jalan keluarnya.” Shehzad terkekeh melihat perdebatan yang mulai memanas antara kedua wanita cantik pada jamannya.


“Dua hari lagi Abimana ulang tahun, kalian siapkan pestanya. Sisanya aku yang urus.” Ucap Kalisha meyakinkan.

__ADS_1


“Yakin berhasil ?!” Tanya Rani ragu.


“Untuk itulah aku disini, kan ? Kalian berdua cukup mendukung dan mengikuti. Mulai malam ini anak dan menantuku tinggal dirumah kami. Sementara itu kalian persiapkan pestanya. Ingat selama persiapan mereka tak boleh mengetahuinya.”


“Baiklah.” Kompak pasangan suami istri itu.


Pasangan suami istri yang tak pernah berselisih itu kini hanya bisa pasrah dan melakukan permintaan sang besan. Entah dimana sahabatnya itu menemukan wanita yang tak pernah kehabisan akal bahkan terkadang sangat licik. Shehzad dan Rani diam-diam mengagumi isi kepala Kalisha yang tak pernah kehabisan akal. Mungkin saat dalam kandungan orang tuanya selalu makan otak apa saja.


Kalisha lalu diminta istirahat sembari menunggu kedatangan anak dan menantunya. Sebuah kejutan untuk Abimana dan Sheila karena sejak ijab qabul koboi mereka, mama Kalisha dan papa Kuncoro kembali bertugas.


“Istirahat disini aja dulu, nanti malam baru pulang ke rumah sekalian dengan anak dan menantumu.” Ucap Shehzad dan langsung disetujui oleh Rani.


Persahabatan Shehzad dan Kuncoro memang patut diacungi jempol. Sejak jaman kuda gigit besi mereka sudah bersahabat saling mensuport satu dengan yang lain walaupun mereka berkarir pada bidang yang berbeda.


Kalisha menurut saja, saat ini badannya memang sangat membutuhkan tempat yang nyaman untuk merilekskannya. Jika tubuhnya lelah maka otaknya pun tak dapat bekerja dengan baik. Jika hanya Abimana yang ia hadapi maka dengan mudah bisa ditangani. Kalisha yakin menantunya kesayangannya itu istimewa. Demi seorang cucu penerus keluarganya, Kalisha tidak akan menyerah. Masih ada waktu dua hari untuk menjajaki sang menantu.


Hari menjelang magrib kala sebuah mobil mewah memasuki pintu gerbang. Perlahan mobil tersebut berhenti dan terparkir dengan rapi. Sheila dan Abimana keluar dari mobil secara bersamaan. Tak ada aksi sang suami membukakan pintu untuk sang istri menandakan betapa mandirinya si wanita.


“Waalaikumsalam ,,,” Balas Kalisha yang sedang duduk diruang tamu.


“Mama ?!” Kaget Abimana melihat wanita yang melahirkannya.


Wajah Abimana berseri-seri menyambut kedatangan mama Kalisha. Begitupun dengan Sheila. Pasangan muda itu kemudian bergantian memeluk hangat wanita paruh baya itu. Setelah acara pelukan ala teletubies. Abimana dan Sheila pun ijin untuk bersih-bersih.


“Ma, Sheila ke kamar dulu.”


“Jangan lama-lama, mama masih kangen.” Balas Kalisha lembut.

__ADS_1


Abimana mengikuti langkah kaki Sheila. Kebahagiaannya tercetak jelas di wajahnya. Berbanding terbalik dengan yang dirasakan oleh Sheila. Bukan ia tak bahagia dengan kedatangan mertuanya, hanya saja ia merasa ada yang aneh dengan kehadiran sang mertua secara tiba-tiba.


Tiba di kamar, Sheila bergegas masuk ke dalam kamar mandi setelah mengambil baju santainya. Pikirannya masih menerka-nerka tentang sang mama mertua. Bukan tanpa sebab Sheila berpikiran seperti itu. Sejak peristiwa saat resepsi Alisha yang berakhir dengan pernikahan koboynya, Sheila sedikit menaruh curiga pada kedua mertuanya pun begitu dengan papanya. Sheila menaruh curiga jika mereka bersekongkol walaupun hingga saat ini Sheila belum bisa membuktikannya.


“Yang, jangan lama-lama ,,, kasihan mama menunggu kita.” Teriakan Abimana menyadarkan Sheila dari lamunannya.


Tak lama kemudian Sheila menyelesaikan ritualnya dan memakai pakaian lengkap lalu keluar. Ia tak ingin memberi kesan kurang baik pada Abimana.


Cup


“Maaf Yang, sebagai manusia, kita gak boleh menyia-nyiakan apa yang ada di depan mata.” Ucap Abimana membenarkan kelakuannya.


Setiap kali Sheila selesai mandi pasti Abimana selalu nyosor dengan alasan yang berbeda. Entah dimana pria itu belajar dengan segudang kosa kata. Walaupun Sheila tak lagi menolak setiap perlakuan manis sang suami namun terkadang ia kesal karena suaminya itu selalu pandai memanfaatkan kesempatan.


Sheila segera menghampiri kaca rias untuk menyisir rambutnya sebelum akhirnya turun untuk berkumpul bersama mama Kalisha.


“Kok papa Kuncoro gak ikut ma ?” Tanya Sheila seraya duduk di samping mama mertuanya.


“Papamu lagi sibuk, mungkin nanti nyusul. Kalian gimana kabarnya ?”


“Seperti yang mama lihat. Kami baik-baik saja.”


Rani dan Shehzad saling menatap kemudian menatap kedua wanita beda generasi itu saling berinteraksi.


“Nak Sheila masih dinas di rumah sakit ?”


“Gak lagi ma, terlalu capek. Apalagi om Roy sudah pensiun. Aku kasihan juga sama mbak Nia yang hingga hari ini belum juga memiliki pasangan.”

__ADS_1


Ada rasa kecewa dalam diri Kalisha karena menantunya ternyata lebih memikirkan asistennya daripada suaminya sendiri. Kalisha bisa memastikan jika menantunya itu belum menerima putranya secara utuh. Walaupun mereka terlihat bahagia namun perasaan seorang ibu tak pernah salah.


🌷🌷🌷🌷


__ADS_2