Menggapai Rasa Yang Tersisa

Menggapai Rasa Yang Tersisa
BAB ~ 47. CK, GAK ADA MANIS-MANISNYA


__ADS_3

Mentari pagi kembali memancarkan sinarnya yang hangat menerpa seluruh permukaan alam semesta. Burung-burung pun berkicau tiada henti menyambut datangnya pagi. Satu per satu insan yang terlelap dibalik selimutnya yang hangat perlahan mulai mengumpulkan kesadarannya. Istirahat sudah cukup dan kini waktunya untuk beraktifitas kecuali pria yang semalam bertempur melepas keperjakaannya masih terlelap dan tak menyadari jika istrinya telah pergi dan hanya meninggalkan pesan tertulis.


Jam menunjukkan pukul 08.30, kala ponselnya berteriak meminta perhatian dari pria yang masih terlelap.


"Halo ,,,," Ucap Abimana dengan suara serak khas orang bangun tidur tanpa melihat ID pemanggilnya.


"Kenapa masih molor ? terlalu capek semalam ? Ayo bangun, waktunya kerja." Teriak suara dibalik telepon. Siapa lagi pelakunya jika bukan sang mama.


"Sudah bangun, kok. Ini mau mandi."


Abimana terduduk mengumpulkan nyawanya, ia belum menyadari jika wanita yang berbagi kenikmatan dengannya kini telah pergi. Saat matanya tanpa sengaja melihat secara kertas dekat ponsel yang baru saja ia letakkan, Abimana segera meraih kertas tersebut dan membacanya.


Mas,


Aku pagi-pagi ke perusahaan Ferdy untuk menyelesaikan masalah yang dilakukan tante Mega. Kalau sudah bangun cepat menyusul sama Alisha.


Sheila


"Ck, gak ada manis-manisnya. " Gumam Abimana meletakkan kertas tersebut dan berjalan dengan santai masuk ke dalam kamar mandi.


Meskipun kesal karena ditinggalkan begitu saja oleh Sheila namun tak urung Abimana bergegas mandi dan berpakaian rapi. Bias bahagia terpampang jelas pada wajah tampannya yang terlihat lebih tampan dari hari-hari sebelumnya. Melirik sekilas Wajahnya sambil menyisir rambutnya yang hitam kelam dan lebat. Abimana melenggang keluar dari kamar hotel.


"Mana imbalannya." Kehadiran mama Kalisha yang juga baru keluar dari kamarnya yang berhadapan dengan kamarnya dan Sheila membuat pria yang sedang berbahagia itu terlonjak kaget.


"Astaga mama ,,, kira-kira dong kalau nongol. Jangan tiba-tiba gitu bikin kaget aja." Abimana selalu saja dibuat kesal oleh mamanya tersayang.


"Hadiah apaan sih, ma ,,, aku yang ulang tahun tapi mama yang minta hadiah. Noh minta sama pak Kuncoro."


Plaaakkkk


"Dasar anak durhaka ! Pak Kuncoro itu papamu, pria yang membuatmu hadir di dunia ini dan melengkapi kebahagiaan kami."


Mama Kalisha dan Abimana asyik berdebat dan melupakan tujuan mereka keluar kamar. Perdebatan mereka seolah tak ada habisnya. Hingga pak Kuncoro pun keluar dengan pakaian rapi.


"Pasti kalian berdebat lagi, ya kan ?" Tebak sang papa dengan jitu.


"Hehehe ,,, papa tahu aja kebuasaan kita." Ucap mama Kalisha terkekeh.

__ADS_1


"Nak Sheila mana ? Apa ia kelelahan ?" Tanya pak Kuncoro yang mengerti dengan wajah putra tunggalnya yang terlihat berseri-seri.


"Berapa ronde ? Apa menantuku itu gak bisa jalan ? Kamu gak main kasar kan ?" Timpal mama Kalisha dengan wajah serius.


"Apa sih ma, pa, ngomong suka asal."


"Alaaa ,,, jangan menghindar sayang, ingat jika yang menyiapkan kamar kalian adalah mama yang hebat pengertian." Balas mama Kalisha bangga.


"Haaaa ??!! Jadi mama ,,," Abimana tak meneruskan ucapannya, matanya terbelalak menyadari satu hal.


Pantas saja semalam ia dan Sheila merasa aneh dengan wangi kamar mereka, rupanya semua ini ulah mamanya. Sementara Abimana masih terkejut memikirkan kelicikan sang mama yang tak terduga, Alisha keluar dari ka,ar dan mendekati mereka.


"Assalamualaikum semuanya ,,," Sapa Alisha sopan.


"Waalaikumsalam ,,," Balas ketiganya kompak.


"Maaf kak Abi, sudah baca pesan kak Sheila kan ?"


"Tentu saja, yuk berangkat."


"Maaf ma, pa ,,, kami berangkat." Lanjut Abimana seraya mencium punggung tangan papa dan mamanya secara bergantian.


Mama Kalisha seolah tak puas menggoda putra tunggalnya. Pak Kuncoro hanya menggeleng-gelengkan kepalanya seraya menggandeng tangan sang istri menuju restoran hotel. Ia butuh kopi panas pagi-pagi sembari menunggu sahabatnya yang belum juga keluar dri kamarnya.


Abimana melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Karena ngobrol ngalor ngikut dengan sang mama membuatnya tertahan dan hampir melupakan pesan Sheila yang menyuruhnya le kantor Ferdy.


"Kamu baik-baik aja, kan dek ?"


"Iya kak, aku baik-baik aja bahkan sangat baik." Jawab Alisha tersenyum manis tanpa beban.


"Kakak yakin kamu bisa menghadapi dan menyelesaikan masalahmu. Kakak dan Sheila selalu mendukungmu. Dan satu hal yang harus kamu ingat bahwa Sheila sangat menyayangimu. Oh ya, kamu gak penasaran dengan cinta pertama Sheila ?"


Abimana memutuskan untuk menceritakan kisahnya bersama Sheila agar jika mamanya Ferdy menyinggung soal hubungan Ferdy dan Sheila dimasa lalu maka adik iparnya itu tak berpikir yqng aneh-aneh pada istrinya.


"Tentu saja aku masih penasaran, kak ,,, memangnya kak Abi kenal dengan pria itu ?" Tanya Alisha kepo.


Alisha sangat penasaran dengan pria yang berhasil menjungkir balikkan dunia sang kakak ketika pria itu pergi tanpa pesan.

__ADS_1


"Pria itu pergi bukan karena meninggalkan Sheila begitu saja akan tetapi dia berharap saat kembali nanti mereka bisa bersama dan siapa sangka ternyata mereka dijodohkan sejak mereka masih kecil bahkan dengan bodohnya pria itu pergi karena lari dari perjodohan yqng ternyata adalah kekasih dan cinta pertamanya."


"Maksud kakak, pria itu adalah kak Abi ?" Tanya Alisha antusias.


Kisah cinta kakaknya lebih menarik perhatian daripada persoalan yang menunggunya di kantor Ferdy dimana Sheila sudah disana lebih dahulu.


"Menurutmu ?" Balas Abimana terkekeh.


"Waahhh ,,, kak Abi benar-benar beruntung busa bersatu dan hidup bahagia bersama cinta pertamanya."


"Itulah takdir dek, tak ada yang bisa kita lakukan jika Sang Pemilik Takdir sudah berkata YA, sama seperti kisah kami dan kisah orang-orang diluar sana."


"Iya kak, aku paham."


Abimana terus melarikan mobilnya membelah jalan raya hingga tiba di area sebuah perusahaan yang tidak terlalu besar namun cukup lumayan untuk sebuah perusahaan. Alisha dan Abimana keluar setelah mobil terparkir dengan rapi. Tak ada yang menghalangi mereka ketika memasuki lobby perusahaan. Alisha melangkah ke arah lift dan diikuti oleh Abimana. Kedatangan mereka cukup menarik perhatian para karyawan karena penampilan rapi Abimana yang menunjukkan jika pria itu bukanlah orang biasa seperti yang selama ini mereka lihat.


Alisha menekan angka 3 setelah pintu lift tertutup. Tak ada rasa khawatir atau sejenisnya yang terlihat pada wajah wanita muda itu. Raut wajahnya terlihat biasa saja dan sedikit datar. Hanya matanya yang tajam menatap lurus ke depan.


Ting


Pintu lift terbuka dan keduanya keluar secara bersamaan. Sekretaris Ferdy berdiri menyambut istri bosnya dengan senyuman manis nan ramah.


"Selamat datang, bu ,,,"


Alisha hanya mengangguk dan tersenyum singkat sebagai balasan dari salam hangat sang sekretaris.


Braaakkkk


"Akhirnya kalian datang juga." Ucap Sheila lega.


"Gimana kabar uang perusahaanku ?" Tanya Alisha dingin.


Alisha menatap datar Ferdy dan mamanya bergantian. Tak ada kesan bersahabat diwajahnya.


"Kita bicarakan baik, dek ,,," Ferdy berusaha menenangkan Alisha.


"Tidak ada yang busa dibicarakan dengan baik-baik jika seseorang mencuri uang kita, apalagi milik perusahaan yang susah payah orang tuaku dirikan hingga sebesar sekarang."

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷


__ADS_2