
Bulir-bulir peluh yang membasahi wajah, Dewi seka dengan penuh perasaan. Sembari ia edarkan manik matanya untuk menatap ke arah seberang jalan. Di mana, nampak gadis berkucir kuda yang bernama Sita itu tengah menghibur para pengendara kendaraan. Sesekali Sita nampak tersenyum ke arah Dewi, yang membuat rasa senang kian tak terbantahkan.
Senja mulai naik ke singgasana. Membiaskan rona warna jingga yang nampak memanjakan mata. Suasana jalanan pun semakin ramai saja dengan kuda-kuda besi yang membelai jalanan. Sebagai pertanda jika saat ini merupakan jam pulang kerja.
"Berapa banyak uang yang Kakak kumpulkan?"
Sita mendaratkan bokongnya di sebelah Dewi sembari mengeluarkan pundi-pundi rupiah yang ia dapatkan dari dalam gelas bekas air minum dalam kemasan. Gadis kecil itu mulai menghitung hasil yang ia dapatkan dengan seksama dan perlahan-lahan.
Dewi menyerahkan uang hasil ia mengamen ke arah Sita seraya mengulum senyum manis di bibirnya. "Kakak mendapatkan lima puluh lima ribu, Sita."
Sita yang sebelumnya sibuk berkutat dengan menghitung uang yang ia dapatkan, seketika ia hentikan. Gadis kecil itu bergegas menoleh ke arah Dewi yang masih memasang wajah manis yang ia tampakkan.
"Lima puluh lima ribu Kak? Kak Dewi sedang tidak bercanda kan?"
Sepasang mata yang membola milik Sita semakin menegaskan bahwa gadis kecil itu dilanda oleh rasa tidak percaya yang tak terbantahkan. Dewi yang baru satu jam ikut mengamen di jalanan mendapatkan hasil yang begitu lumayan. Sungguh hasil yang begitu mengesankan bagi orang baru yang ikut mengamen di jalanan.
Dewi menggelengkan kepala. "Tentu tidak, Sita. Memang lima puluh lima ribu yang dapatkan. Jika Sita tidak percaya, bisa Sita hitung sendiri uangnya."
"Tentu Sita percaya Kak. Suara kak Dewi memang merdu dan memiliki ciri khas tersendiri. Itulah yang membuat para pengendara kendaraan merasa terhibur dengan suara yang kak Dewi miliki. Mengapa kak Dewi tidak menjadi seorang penyanyi saja? Malah memilih menjadi pengamen jalanan?"
Pertanyaan polos yang keluar dari bibir Sita, sukses meremas seonggok daging yang bersemayam di dalam dada. Membuatnya terasa nyeri tiada terkira. Lagi-lagi buliran bening itu terjatuh dari kelopak mata. Yang seketika menghadirkan bayangan sosok sang ibunda.
Entah mengapa batinnya terlalu rapuh jika teringat akan wajah sang ibu tercinta. Ia yang berpamitan pergi ke ibu kota untuk menjadi seorang penyanyi sukses, yang terjadi justru sebaliknya. Saat ini hidupnya terombang-ambing di pinggir jalanan sembari menjalani pekerjaan sebagai pengamen untuk menyambung nyawa. Di dalam sudut hati terdalam milik Dewi, ia melangitkan sebuah pinta. Semoga sang ibu ataupun adiknya tidak pernah tahu akan kegetiran hidup yang ia jalani di ibu kota.
__ADS_1
"Kak Dewi merasa tidak pantas untuk menjadi penyanyi papan atas, Sita. Sita tahu sendiri bukan bagaimana keadaan kak Dewi yang seperti ini? Tidak ada penyanyi papan atas yang memiliki bobot tubuh seperti kak Dewi ini."
Saat ini yang dapat Dewi lakukan hanyalah mencoba berdamai dengan keadaan. Ia akan menerima segala ketetapan dari sang penulis skenario kehidupan. Pastinya sembari meminta agar kelak dirinya didekati oleh keajaiban dan keberuntungan. Keberuntungan yang akan menjadikannya seorang penyanyi papan atas yang dielu-elukan.
Sita memasukkan pundi-pundi rupiah ke dalam saku celana yang ia kenakan setelah menghitung seluruh hasil pendapatan. Gadis kecil itu bangkit dari posisi duduk masih sambil menatap lekat wajah Dewi.
"Ayo ikut Sita, Kak. Sita kenalkan kak Dewi dengan bang Bhumi. Semoga saja bang Bhumi bisa menjadi teman Kakak dalam bernyanyi. Bang Bhumi yang bermain gitar sedangkan kak Dewi yang bernyanyi."
Dahi Dewi berkerut. "Bang Bhumi? Siapa itu, Sita?"
"Nanti kak Dewi pasti juga akan kenal."
Tangan kecil Sita terulur untuk menarik tangan Dewi. Mau tidak mau, Dewi menurut apa yang dilakukan oleh gadis kecil ini. Mereka pun menepi. Mulai menyusuri jalan sempit yang dipenuhi oleh sampah di sisi kanan kiri. Pastinya untuk segera bertemu dengan lelaki yang bernama Bhumi.
***
Seorang laki-laki dengan postur tubuh tinggi dan tegap nampak berdiri di depan Sita dan juga Dewi. Pahatan-pahatan tatto bergambar kalajengking, ular dan buto ijo di sekujur badan semakin mengeluarkan aura mengerikan lelaki ini. Hal itulah yang membuat Dewi merinding dan bergidik ngeri.
Apakah ini yang bernama bang Bhumi? Jika memang iya, mengapa Sita begitu tega memperkenalkan aku dengan lelaki ini? Aku sungguh merasa takut berinteraksi dengan lelaki ini.
Dewi menundukkan wajahnya. Ia seperti seseorang yang kehilangan koin mata uang dan sibuk mencari keberadaannya. Bukan apa-apa, Dewi hanya merasa takut tiada terkira. Badan tegap dan penuh tatto di sekujur badan, seakan mengingatkan ia kepada penjambret yang merampas tas yang ia bawa. Wanita itupun sampai berpikir jika lelaki ini adalah orangnya. Namun buru-buru Dewi menepis semua prasangka. Mencoba ikhlas akan semua yang pernah dialaminya. Sehingga mendapatkan ketenangan jiwa di saat tinggal di ibu kota.
"Bang Codet jangan coba-coba untuk jahat dengan kak Dewi ya. Mulai hari ini kak Dewi merupakan keluarga kita yang tinggal di sini. Kalau sampai bang Codet mengusik dan menjahili kak Dewi, akan Sita laporkan kepada bang Bhumi. Dengan begitu, bang Codet tidak akan pernah mendapatkan jatah uang sembako lagi."
Lelaki bertubuh tegap itu hanya bisa berdecak dan menggeleng-gelengkan kepala. Ia pun nampak membuang napas sedikit kasar. "Baiklah, apa kata kamu saja Sita. Daripada nantinya jatah uang sembako dari Bhumi untukku dihentikan."
__ADS_1
"Nah, memang harus seperti itu." Sita menjeda ucapannya untuk kemudian ia angkat sedikit tangannya. "Tos dulu Bang!"
Lelaki dan gadis kecil itu nampak ber-tos ria. Pemandangan yang tersaji di depan mata Dewi ini sungguh hanya bisa membuat wanita itu terperangah tiada percaya. Gadis kecil seusia Sita, bisa begitu akrab dengan lelaki berperawakan preman seperti yang ada di depan matanya. Namun, dari sini suasana kekeluargaan begitu hangat terasa. Seakan mereka saling bahu membahu dalam menghadapi kerasnya ibu kota.
Satu hal lagi yang membuat Dewi merasa lega. Ternyata lelaki ini bukanlah Bhumi seperti yang diceritakan oleh Sita. Wanita itupun merasa semakin aman dan baik-baik saja. Karena tidak bisa ia bayangkan bagaimana jadinya jika setiap hari ia harus berinteraksi dengan lelaki yang mengundang rasa takut dalam dada.
"Nah, kak Dewi, perkenalkan. Ini adalah bang Codet. Bang Codet inilah salah satu orang yang selalu berdiri di barisan terdepan untuk melindungi kita semua jika diancam oleh para preman di luar wilayah kita ini."
Meski dengan perasaan takut dan gugup, namun Dewi tetap mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan lelaki bernama Codet ini.
"Saya Dewi Bang."
Codet hanya tersenyum simpul. "Aku Codet. Jika ada orang yang berbuat jahat kepadamu, langsung beritahu saja aku. Akan aku patahkan leher orang itu."
Kedua bola mata Dewi terbelalak sempurna. Tidak bisa ia bayangkan bagaimana bentuk seseorang yang dipatahkan tulang lehernya.
"B-Baik Bang. Saya akan langsung melaporkan kepada bang Codet jika saya mendapatkan sebuah ancaman."
Pada akhirnya, Sita kembali menggandeng pergelangan tangan Dewi untuk menuju kediaman seseorang yang bernama Bhumi. Setelah menempuh waktu sekitar lima menit, dua orang berbeda generasi itupun tiba di sebuah bangunan dari triplek yang jauh nampak lebih nyaman dari bangunan lain. Tak selang lama, nampak seorang pemuda tampan berusia kisaran tiga puluh tahun keluar, menyambut kedatangan Sita dan juga Dewi.
"Sita?"
Sita mengulas senyumnya kala Bhumi menyambut kedatangannya. "Bang Bhumi, Sita kemari bersama kak Dewi. Kak Dewi ini memiliki suara yang bagus sekali. Sita harap, bang Bhumi dan kak Sita bisa saling berkolaborasi. Pasti bisa terkenal seperti para penyanyi yang sedang terkenal saat ini."
Lelaki bernama Bhumi itu menatap lekat ke arah Dewi yang saat ini tengah menundukkan kepala. Ia pun mengulurkan tangannya yang sontak membuat Dewi tersentak seketika.
__ADS_1
"Aku, Bhumi!"
"A-aku Dewi, Bang!"