Mengubah Takdir : Sang Dewi

Mengubah Takdir : Sang Dewi
Bab 47. Benar-Benar Jodoh


__ADS_3


"Jadi, ini sebenarnya ada apa Bu? Mengapa Ibu mengumpulkan kami semua di sini?"


Di ruang keluarga, Kartika sengaja mengumpulkan seluruh anggota keluarganya untuk membicarakan perihal wasiat sang suami. Wajah yang dibingkai oleh rasa ingin tahu tidak dapat dihindari. Menjadi rasa penasaran yang tiada bertepi.


Wiraguna juga nampak tidak sabar untuk mendengar penjelasan dari sang ibunda. Namun kesabarannya seakan diuji karena seseorang yang ditunggu tidak kunjung tiba. Siapa lagi jika bukan Hans, yang merupakan pengawal pribadi sang ibu.


"Tunggulah sebentar Wira. Hans sedang mengambil sesuatu di kamar. Dan sesuatu itu nantinya akan menjadi jalan masa depan untuk Arga."


Dewi, yang sedari tadi duduk di samping Bhumi, tidak terlalu memperhatikan apa yang diucapkan oleh Kartika. Wanita itu justru lebih tertarik memandang suasana yang ada di sekelilingnya. Desain rumah mewah bergaya Klasik Eropa yang membuatnya benar-benar terkesima. Sumpah demi apa, ini merupakan pengalaman pertama Dewi menginjakkan kaki dan memasuki sebuah rumah bak istana raja. Tidak heran jika sedari tadi wanita ini nampak takjub dibuatnya.


"Dew, ada apa? Mengapa sedari tadi kamu terlihat gelisah seperti ini?"


Tidak ingin sang kekasih merasakan ketidaknyamanan, buru-buru Bhumi melayangkan pertanyaan itu kepada Dewi. Sejatinya ia merasa bahwa wanita ini sedang merasakan hal asing. Bisa jadi, ia merasa tidak enak hati berada di kediamannya ini.


"Bang, ini benar rumah bang Bhumi? Mengapa besar sekali? Apa tidak lelah asisten rumah tangga yang bekerja di sini? Harus nyapu, ngepel rumah sebesar ini?"


Alih-alih ikut penasaran dengan kabar yang akan disampaikan oleh Kartika, Dewi justru malah tertarik mengadakan riset tentang asisten rumah tangga di rumah Bhumi. Tidak dapat ia bayangkan bagaimana lelah dan letihnya sang asisten rumah tangga jika harus mengurus rumah besar bak istana ini. Ia sampai berpikir jika sang asisten akan mengalami encok dini. Semua itu akibat tenaga yang diforsir dari pagi sampai malam hingga ke pagi lagi.


Bhumi melengkungkan senyum di bibirnya. Ada saja ucapan wanita ini yang membuatnya tertawa. Dengan seperti ini, ia semakin yakin bahwa hidupnya kelak akan terasa semakin berwarna. Wanita ini begitu lihai dalam mencairkan suasana.


"Apa kamu kurang kerjaan? Sempat-sempatnya memikirkan asisten rumah tangga di sini? Tidak perlu khawatir, karena ada sepuluh orang yang bekerja di rumah Oma ini."


"Hah? Sepuluh orang? I-ini rumah atau tempat laundry Bang?"


Bhumi hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat ekspresi wajah wanitanya ini. Seperti biasa, lelaki itu mencubit hidung milik Dewi agar wanita ini tidak mengatakan hal-hal aneh lagi. Mendadak Dewi kicep, seperti seseorang yang tengah sakit gigi.


Kartika yang melihat kedekatan sang cucu dengan Dewi juga hanya bisa terkekeh lirih. Ia yakin bahwa sang cucu akan hidup bahagia bersama wanita ini.


Hans berjalan tegap ke arah Kartika sembari membawa kotak kayu yang berhiaskan ukiran. Diberikannya kotak kayu itu kepada sang Nyonya.


"Ini kotak yang Nyonya minta."


"Terima kasih Hans. Sekarang, kamu boleh beristirahat. Atau jika kamu ingin keluar untuk mencari angin atau kekasih, aku persilahkan."


Hans hanya menunduk malu. Terlalu fokus kepada tugas dan kewajibannya menjaga Kartika, ia sampai lupa jika ia pun juga membutuhkan seseorang untuk menjaganya. Menjaga pandangan mata dan syahwatnya terhadap gemerlapnya dunia.


"Baik Nyonya. Saya akan keluar mencari angin. Barangkali nanti angin menerbangkan seorang wanita cantik dan jatuh tepat di hadapan saya."


"Hahahaha, itu jauh lebih baik Hans. Aku juga ingin melihatmu menikah sebelum aku pergi dari dunia ini. Jadi segeralah mencari pendamping."


Hans sedikit membungkukkan badan. "Kalau begitu saya permisi, Nyonya Sepuh, Tuan besar, Tuan muda."


Selepas kepergian Hans dari ruangan ini, semua mata tertuju pada Kartika. Mereka seakan menuntut wanita berusia senja ini untuk segera berbicara.

__ADS_1


"Ibu, ada apa sebenarnya? Wira benar-benar penasaran."


Kartika tersenyum penuh arti. Perlahan, ia membuka kotak kayu yang ada di dalam genggaman tangannya ini.


"Ini adalah wasiat almarhum opa. Opa pernah berwasiat jika nanti Arga sudah dewasa, Arga harus menikah dengan cucu dari sahabatnya. Dan aku rasa kamu juga sudah mengetahui akan hal ini, Wira."


Wiraguna menganggukkan kepala. Sejatinya ia sudah mengetahui perihal sang anak yang sudah dijodohkan semenjak ia kecil. Namun, ia tidak begitu paham apa hubungan antara perjodohan Arga dengan kotak yang dibawa oleh sang ibunda.


"Iya Bu, Wira sudah mengetahui perihal perjodohan itu. Namun apa hubungannya dengan kotak berisikan kalung emas putih ini?"


Berbeda dengan Wiraguna, Bhumi justru terperangah tiada percaya. Ia benar-benar terkejut akan berita yang dibawa oleh omanya ini.


"Oma, ini sebenarnya ada apa? Perjodohan apa maksud Oma? Arga benar-benar tidak paham. Dan Arga tidak ingin dijodoh-jodohkan. Arga hanya ingin menikah dengan Dewi, Oma. Bukan dengan yang lain."


Seakan paham ke mana arah pembicaraan sang Oma, Bhumi bersegera memberikan sebuah penolakan akan apa yang disampaikan. Setelah kehidupannya sempat terkekang atas keinginan sang Papa yang memaksanya untuk menjadi direktur utama, kini ia pun juga tidak ingin dikekang atas perjodohan. Ia merasa bahwa masih memiliki hak untuk menentukan dengan siapa ia akan mengarungi kehidupan berumah tangga.


Kartika mengulas sedikit senyum di bibirnya. Kini ia tautkan pandangannya ke arah Bhumi yang masih saja menggenggam erat jemari tangan Dewi. Baru kali ini ia melihat sorot mata Arga yang dipenuhi oleh binar cinta yang begitu kentara.


"Jika kamu menolak wasiat dari almarhum Opa, itu berarti kamu bukanlah cucu yang berbakti, Ga. Apa kamu tega melihat almarhum Opa menangis karena kamu tidak bersedia menjalankan wasiatnya?"


Bhumi menggelengkan kepala. "Bukan seperti itu Oma. Namun Arga sudah melabuhkan hati hanya kepada Dewi. Arga tidak ingin menikah jika tidak dengan Dewi, Oma. Arga tidak bisa."


Dewi hanya bisa tertegun melihat percakapan antara cucu dan neneknya ini. Hatinya turut berdenyut nyeri saat mengetahui lelaki yang ia cinta sudah terikat oleh perjodohan sejak kecil. Seketika mimpi dan angan untuk menjalani kehidupan berumah tangga dengan lelaki sempurna seperti Bhumi musnah, bak hilang ditelan bumi.


"Jadi, benar jika kamu tidak ingin menjalankan wasiat almarhum Opa, Ga?"


Bhumi kembali menggelengkan kepala. Tangannya masih erat menggenggam jemari Dewi. "Tidak Oma, Arga tidak akan menjalankan wasiat itu. Arga hanya ingin menikah dengan Dewi."


Dewi tersentak. Ia menyadari akan satu hal. Ia tidak ingin kehadirannya hanya akan membuat lelaki ini menjadi seorang cucu yang durhaka.


"Bang... jangan seperti itu. Aku tidak ingin jika kehadiranku justru membuatmu menjadi seorang cucu yang durhaka, Bang."


Bhumi menggelengkan kepala. "Tidak Dew, aku tidak bisa. Apakah kamu tidak ingin berjuang untuk cinta kita? Apakah kamu akan menyerah dengan membiarkanku menerima perjodohan itu?"


Bulir bening yang berkumpul di kelopak mata Dewi, menetes seketika. Ia menggelengkan kepala sembari menyekanya. Entah mengapa dadanya terasa begitu sesak.


"Bukan begitu maksudku Bang. Aku memang mencintai bang Bhumi. Namun jika ini sudah menyangkut wasiat seseorang yang sudah meninggal, aku minta Abang menerimanya. Kasihan almarhum kakek bang Bhumi jika Abang tidak menunaikannya."


Bhumi, lelaki yang sejauh ini nampak kuat dan tegar berdiri pada akhirnya menangis juga. Lelaki itupun seakan tidak dapat membendung kristal bening yang bergelayut manja di kelopak matanya. Badan lelaki itu menunduk dan ia menangis tergugu.


"Lalu bagaimana dengan kita Dew? Bagaimana dengan cerita cinta yang baru saja kita rajut ini? Aku tidak bisa Dew, aku tidak bisa..."


Drama percintaan dua sejoli ini sukse membuat Kartika dan Wiraguna tertegun bersamaan. Tiba-tiba saja mereka teringat akan pasangan masing-masing yang telah pergi mendahului mereka. Tak terasa dua orang itupun juga ikut meneteskan air mata.


Ehemmmm...

__ADS_1


Kartika berdehem untuk kembali menetralisir keadaan. Ia kembali menatap lekat manik mata cucunya ini. "Jadi benar bahwa kamu tidak akan menerima perjodohan itu Ga?"


"Oma... Arga tidak bisa. Arga tidak bisa menerima perjodohan itu," ucap Arga lirih sembari menegakkan tubuhnya kembali.


"Oma tanya sekali lagi. Benar, kamu tidak ingin menjalankan wasiat almarhum Opa?"


"Tidak Oma, Arga tidak biaa."


Dewi terperangah. "Bang .. aku mohon jangan bersikap seperti ini. Jalankan wasiat almarhum kakek, Bang."


"Tapi Dew..."


Dewi mencondongkan tubuhnya untuk menghadap Kartika. "Nyonya, saya mohon lanjutkan perjodohan bang Bhumi dengan wanita yang sudah dipilihkan. S-saya akan mundur, Nyonya."


Kartika tersenyum simpul. "Ga dengarlah, kekasihmu ini memintaku untuk melanjutkan perjodohan wasiat almarhum Opa. Seharusnya, kamu bisa memiliki pemikiran seperti kekasihmu ini."


"Oma ...."


Kartika menghela napas sedikit dalam dan ia hembuskan pelan. "Jika kamu tidak ingin menjalankan wasiat almarhum Opa, itu artinya selamanya kamu tidak akan pernah menikahi Dewi."


Bhumi dan Dewi sama-sama terhenyak. Keduanya saling melempar pandangan.


"M-maksud Oma apa? Arga sungguh tidak paham."


Kartika mengeluarkan kalung yang masih berada di dalam kotak kayu ini. Ia perlihatkan di depan Bhumi, Dewi dan juga Wiraguna.


"Lihatlah, kalung peninggalan almarhum Opa sama persis dengan kalung yang dipakai oleh Dewi. Itu artinya, Dewi memanglah jodoh yang sudah dipersiapkan oleh almarhum Opa untukmu, Ga."


Bibir Dewi dan Bhumi bergetar. Dalam dada mereka seakan ada sesuatu yang meletup-letup ingin keluar dari tempatnya bersemayam. Tak mampu lagi berucap, dua manusia itu saling memandang kemudian berpelukan erat.


"Bang ...."


Bhumi mengecup pucuk kepala Dewi dan mengusap lembut punggung wanita ini. "Ternyata Tuhan telah menjodohkan kita bahkan sebelum kita bertemu, Dew."


Kartika turut menangis haru. Air matanya pun tiada henti mengalir deras. Hatinya benar-benar lega, karena bisa menunaikan wasiat sang suami sekaligus mempersatukan sang cucu dengan wanita yang memang benar-benar ia cintai.


.


.


.


Mohon maaf jika banyak Typo ya Kak.. ini sedang ada di jalan. dan mohon maaf juga karena belum bisa membalas satu per satu komentar Kakak-kakak semua... 😊😊😊


Salam love, love, love ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2