
Dewi berdiri di balkon sembari menikmati rasa sejuk belaian sang bayu ketika menerpa wajah. Kepalanya mendongak, melihat permadani langit yang nampak indah. Bintang dan rembulan bercengkerama hangat dalam satu kanvas alam yang nampak megah.
Dingin malam ini mulai merajai. Mencumbu kulit hingga menembus ke jantung hati. Menyisakan rasa sepi yang harus mati. Sampai pada saat sang surya datang kembali.
"Belum tidur Dew?"
Dewi menoleh ke arah sumber suara tatkala gelombang suara seseorang masuk ke dalam indera pendengaran. "Papa?"
Lelaki yang tak lain adalah Wiraguna itu mengulas sedikit senyum dan mendekat ke arah sang calon menantu. "Papa lihat pintu kamarmu masih terbuka. Oleh karenanya, Papa masuk ke sini. Apakah Papa mengganggu?"
"Tentu tidak Pa. Dewi hanya masih belum bisa memejamkan mata. Maka dari itu Dewi berdiri di sini terlebih dahulu."
Wiraguna turut menatap langit. Menatap ribuan bintang yang mengedipkan mata layaknya wanita yang tengah tersenyum genit. Membuat sudut bibir lelaki paruh baya itu terangkat sedikit.
"Sudah berapa lama kamu mengenal Arga? Apakah dahulunya kalian ini merupakan teman satu sekolah?"
"Bukan Pa. Dewi baru tiga bulan ini mengenal bang Bhumi. Dan kami saling mengenal di saat sama-sama tinggal di kampung kumuh."
"Ternyata Tuhan memiliki skenario yang indah dalam mempertemukan kalian. Dan Papa rasa, pertemuanmu dengan Arga banyak membawa perubahan dalam diri Arga."
Dewi tergelak lirih. Mendengar perkataan Wiraguna ini seakan menyeretnya ke dalam memory di saat-saat pertama ia bertemu dengan Bhumi. Seorang laki-laki yang minim ekspresi dan nampak dingin sekali. Wajah yang selalu datar sampai-sampai tidak dapat ia pahami sedang berada dalam suasana hati seperti apa lelaki itu. Sedang berbahagia, marah, atau bersedih, ia tetap saja menampilkan wajah datar.
"Dewi juga merasa seperti itu Pa. Baru beberapa bulan terakhir ini Dewi merasa bahwa bang Bhumi jauh lebih ekspresif. Dia seperti lebih mudah untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan."
Anggukan kepala Wiraguna seakan membenarkan apa yang diucapkan oleh Dewi. "Ya, aku sependapat denganmu. Sejak dulu ia memang terkesan dingin, cuek dan tidak banyak bicara. Papa baru sekali mendengar Arga panjang lebar, itupun saat kami terlibat pertengkaran hebat sebelum Arga pergi dari rumah selama enam bulan ini."
Ucapan Wiraguna sejenak terjeda. Ia menghela napas panjang dan perlahan ia hembuskan. "Sangat menyedihkan. Anak itu bisa berbicara panjang lebar namun dalam posisi bertengkar dengan Papa. Rasa-rasanya Papa menjadi orang yang jahat."
"Namun, untuk saat ini semua sudah kembali ke keadaan semula kan Pa?"
"Ya, mungkin itu semua bisa terjadi juga karena kamu. Pantas jika Arga begitu mencintaimu. Aku merasa sifatmu ini persis dengan mendiang ibu Arga. Dan bidang yang kamu tekuni juga sama dengannya."
Wiraguna menggeser sedikit posisi badannya untuk bisa menghadap ke arah Dewi. "Dew!"
"Ya Pa?"
"Bolehkah Papa memelukmu?"
__ADS_1
Dewi sedikit terkejut kala mendengarkan permintaan calon Papa mertuanya ini. Wiraguna yang sejauh ia kenal irit berbicara, kini seakan menjelma menjadi sosok seorang laki-laki yang penuh dengan kehangatan. Dewi sedikit ragu untuk menganggukkan kepala. Namun pada akhirnya...
Pukkkk....
Dengan erat, Dewi memeluk tubuh lelaki paruh baya ini. Seketika, rasa hangat terasa mengaliri jiwanya yang hampa akan dekapan sosok seorang ayah. Dan kini, ia bisa kembali merasakan setelah lima belas tahun sang ayah pergi.
Penuh kelembutan dan kasih sayang, Wiraguna mengusap rikma hitam milik Dewi. Semua yang ada di dalam diri calon menantunya ini seakan kembali mengingatkan kembali akan sosok sang istri yang sudah lebih dulu pergi. Sosok yang sangat ia cinta dan selamanya rasa itu tidak akan pergi. Sudah terpatri di dalam hati dan tidak akan pernah terganti. Meski saat ini ada seseorang yang menempati posisinya, namun rasa cinta itu benar-benar tidak dapat dibagi.
"Terima kasih sudah hadir di dalam kehidupan putraku, Dew. Kehadiranmu benar-benar membawa kebaikan untuk kita semua. Dan semua terasa jauh lebih bermakna setelah ada kamu."
"Dewi juga berterima kasih kepada bang Bhumi dan keluarga. Dewi tidak menyangka akan mendapatkan sambutan sehangat ini, Pa. Dewi yang selama ini tidak pernah merasakan kebahagiaan diterima oleh banyak orang, ternyata di keluarga Papa dan Oma, kehadiran Dewi selalu disambut dengan kehangatan yang luar biasa. Dewi benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa lagi."
Wanita itu menangis tergugu di dekapan Wiraguna. Suasana seperti ini seakan mengingatkannya kepada sosok sang ayah. Dulu, sang ayah lah yang selalu mendekap erat tubuhnya sehangat dekapan sang calon Papa mertua ini.
"Kamu tidak perlu mengucapkan apapun Dew. Tugasmu hanya satu. Tetap dampingi Arga, apapun dan bagaimanapun keadaannya."
"Iya Pa, Dewi berjanji."
Wiraguna melerai pelukannya. Ia tatap intens netra milik Dewi dan ia seka air matanya. Lelaki itu tersenyum simpul dan menepuk lirih pundak milik Dewi.
"Ya sudah, sekarang tidurlah. Malam semakin larut. Istirahatkan tubuhmu."
Wiraguna mengayunkan tungkai kakinya untuk bersegera keluar dari kamar Dewi. Lambat laun, bayang tubuh lelaki paruh baya itu menghilang di balik pintu. Sedangkan Dewi, ia bergegas naik di atas pembaringan. Ia pejamkan mata dan mulai untuk merajut mimpi.
***
Runi, gadis belia itu nampak tengah sibuk membersihkan kamar yang sebelumnya dipakai oleh Dewi. Sudah menjadi kebiasaannya, setiap minggu pagi ia selalu menyempatkan diri untuk membersihkan kamar sang kakak. Namun hari ini pekerjaan yang ia kerjakan akan semakin berat, karena ia akan mengeluarkan beberapa barang yang ada di dalam kamar sang kakak. Menggantinya dengan furniture baru yang akan nampak jauh lebih nyaman jika dilihat.
Apakah hanya kamar Dewi saja? Tentu saja tidak. Selama satu minggu ini ada beberapa tukang yang bertugas merenovasi kediaman Ambarwati. Bangunan yang sebelumnya nanpak begitu sederhana, kini seakan disulap menjadi bangunan yang begitu memanjakan mata. Konsep bangunan sederhana kini berubah menjadi konsep bangunan dengan model Japanese. Tidak ada penambahan lantai, namun nampak jauh lebih luas dan tertata rapi. Semua dirombak, mulai dari tembok, atap, lantai, daun pintu, jendela semua diperbaharui. Dan kini di halaman milik Ambarwati dibuat sebuah taman minimalis dengan kolam ikan yang nampak semakin asri.
Satu minggu, nuansa rumah baru milik Ambarwati telah selesai di kerjakan. Kini waktunya mengeluarkan beberapa barang yang masih berada di dalam rumah dan menggantinya dengan furniture baru.
Pluk!!!
Terdengar suara sesuatu yang terjatuh dari atas almari pakaian milik Dewi. Manik mata Runi seketika tertuju pada sebuah buku kecil yang baru sekali ia lihat. Gadis belia itupun bergegas mendekat ke arah buku kecil itu.
Diaraihnya sebuah buku kecil yang sama persis dengan sebuah diary itu sembari berjongkok. Dahinya mengerut, karena diary ini nampak begitu asing, dan juga sudah nampak usang.
__ADS_1
"Diary apa ini? Apakah milik kak Dewi?"
Seakan tidak memiliki keberanian untuk membuka diary itu, Runi berniat untuk menghubungi sang kakak untuk memberitahukan perihal diary ini. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Sehingga ia memilih untuk meminta keputusan sang kakak akan diapakan diary ini. Tak selang lama, sebuah notifikasi di ponsel milik Runi berbunyi dan ternyata balasan dari sang kakak.
"Hah? kak Dewi meminta untuk menghanyutkannya ke sungai atau dibakar? Sebenarnya apa isi dari diary ini."
Runi sibuk bermonolog lirih. Ingin rasanya ia membuka diary ini. Namun ia merasa akan menjadi seorang adik yang sangat lancang jika ia sampai melakukan hal itu. Pada akhirnya, ia beranjak dan bergegas untuk pergi ke sungai seperti yang diperintahkan oleh sang kakak.
"Run, kamu mau kemana? Kok terlihat tergesa-gesa seperti itu?"
Ambarwati yang tengah berada di teras, menatap heran tingkah polah sang anak yang nampak begitu tergesa-gesa seperti itu. Sedangkan Runi, menghentikan langkah kakinya.
"Sebentar ya Bu, Runi keluar dulu, ada urusan. Tidak lama kok."
"T-tapi..."
Belum sempat wanita paruh baya itu menimpali, anak bungsunya itu sudah lebih dahulu melenggang pergi. Ambarwati pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
Dengan langkah kaki lebar, Runi menyusuri jalan setapak yang akan mengantarkannya hingga ke sungai.Langkah kakinya yang tergesa-gesa pada kenyataannya membuat seseorang yang melihat pergerakan Runi merasa curiga. Dengan cara sembunyi-sembunyi, ia pun mengikuti kemana perginya gadis ini
Selang sepuluh menit, pada akhirnya gadis itu tiba di sungai. Sedangkan seseorang yang mengikuti pergerakan Runi, memilih untuk bersembunyi di balik pohon besar yang berada di tempat ini.
"Aaahhh... aku rasa tempat ini sudah sesuai dengan yang diminta oleh kak Dewi. Aku lempar saja diary ini di sini!"
Runi melempar diary berwarna biru laut itu ke arah sungai yang tidak terlalu dalam dan alirannya juga tidak terlalu deras. Setelahnya, ia memilih untuk segera pergi dari tempat ini.
Melihat keadaan sudah aman, seseorang yang bersembunyi di balik pohon besar itu bersegera keluar dari tempat persembunyian. Ia melihat ke arah sungai, dan nampak sesuatu berwarna biru masih mengambang di atas permukaan air dan pelan mulai terseret arus sungai. Seseorang itupun berupaya maksimal untuk dapat mengejar benda itu.
Senyum seringai terbit di bibir. Menemukan diary ini, sama seperti mendapatkan durian runtuh. Ia meyakini sebentar lagi, ia akan ikut terkenal dan tenar melalui diary ini.
"Aaaahhh ... aku sungguh sudah sangat tidak sabar untuk bisa terkenal dan wajahku memenuhi layar televisi."
.
.
.
__ADS_1
Hai, hai, hai, kakak-kakak semua.... bagaimana kabarnya? Sehat? Semoga senantiasa sehat ya kak.. Terima kasih banyak masih mengikuti tulisan saya ini ya Kak... Dan terima kasih juga untuk semua bentuk dukungan yang kakak-kakak berikan. Mulai dari like, komentar, favorit, poin, koin, vote dan lain sebagainya❤️❤️❤️
Seperti biasa, saya mohon maaf karena belum bisa membalas satu persatu komentar-komentar kakak-kakak semua.. Tapi percayalah, saya membacanya... 😘😘😘